
Alenta yang menunggu Daniel untuk datang kembali menemui Wulan tanpa sibuk menghubungi anaknya sendiri.
"Si Daniel ini kenapa ya, susah sekali dihubungi, untuk apa coba dia pergi."
Alenta kesal dengan kelakuan anaknya, yang tiba-tiba saja berubah, di mana Daniel lebih sibuk dengan sarla daripada Wulan istri pertamanya.
"Bu, ibu sedang apa?"
Pertanyaan Wulan mengagetkan sang ibunda.
"Ini Ibu lagi menghubungi Wulan!"
Jawab Alenta, raut wajahnya terlihat begitu kesal.
Beberapa kali menghubungi anaknya tetap saja tidak ada jawaban sama sekali, Alenta mulai mengetik beberapa pesan kepada Daniel.
(Daniel, Kenapa kamu belum kembali lagi ke rumah sakit?)
Wulan berusaha menenangkan Ibu mertuanya," bu sudah biarkan saja jangan ganggu mereka berdua."
"Kamu ini, bagaimana bisa berbicara seperti itu, jadi istri malah membiarkan mereka berduaan sedangkan kamu di rumah sakit loh, sedang mengandung dan juga kesakitan saat ini. "
Alenta begitu perhatian terhadap Wulan, ia tak ingin melihat Wulan bersedih.
Wanita tua itu belum tidur semalaman karena menunggu kesembuhan menantunya.
Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 malam, di mana Daniel tetap saja tidak membalas pesan dari ibunya sendiri.
Wulan yang tak tahan menahan kantuk, pada akhirnya tertidur juga, dimana Alenta terkejut dengan menantunya itu. Yang sudah terlelap tidur sedangkan ia masih terjaga.
"Mm, dia ternyata sudah tidur, Wulan, wulan."
Karena rasa penasaran jika Daniel tidak mengangkat panggilan telepon dari Alenta pada saat itulah Alenta mulai menghubungi sarla. Untung saja wanita tua itu menyimpan nomor Sarla. Jadi ia bisa menghubungi menantu keduanya
******
__ADS_1
Di dalam kamar hotel yang terkesan begitu mewah, Sarla masih mendekat pada pelukan Daniel terlihat sekali ia begitu nyaman berada di dekat suaminya.
Ponsel Sarla bergetar, di mana Daniel mulai menatap ke arah sumber suara itu, dia mengambil ponsel istrinya, melihat siapa yang menelepon?
Daniel sudah menduga jika ibunya akan menelpon terus menerus. sang ibunda menelepon ke nomor Sarla untuk bisa menghubungi Daniel.
Sarla yang masih terlelap tidur membuat Daniel mematikan ponsel istrinya itu, ia tak mau ada pengganggu di hari hari ceriannya ini.
Alenta berdecak kesal," bagaimana bisa Sarla mematikkan ponselnya, bukankah sudah jelas dia hanya sebagai istri muda saja.
Wanita tua itu, kini menaruh ponsel pada tasnya, ia segera menghampiri Wulan. Dimana Wulan mencoba meraih tangan yang sudah terlihat mengkerut itu, " bu, sudahlah tak perlu menghubungi mereka berdua. Biarkan saja."
Alenta mengusap pelan rambut panjang Wulan, dan berkata," kenapa bisa Daniel begitu kepada kamu."
Wulan hanya bisa menampilkan senyuman, di mana hatinya begitu rapuh, ia tahu letak kesalahannya sendiri, kenapa Daniel langsung pergi bersama istri keduanya itu.
Hanya saja ibu mertua tidak tahu, Daniel sengaja menyembunyikan rahasia dimana anak yang dikandung Wulan bukanlah anaknya sendiri.
Karena ia tak rela harus meninggalkan Wulan begitu saja, karena cintanya yang amat besar, bisa menghilangkan rasa ego dalam dirinya.
"Memaklumi bagaimana maksud kamu? Jelas bagaimana pun kalau istri lagi hamil suami harus tetap menemani."
wanita tua itu tetap bersiku kepada pendiriannya, Iya tidak tahu saja jika Wulan sudah mengkhianati anakmu sendiri, kemungkinan besar jika sangat tua tahu,dia juga tak akan sudi datang ke rumah sakit melihat keadaan Wulan.
Akan ada cacian dan hinaan yang diterima oleh Wulan dari sang mertua, begitupun kata talak yang akan terlontar dari mulut dan Daniel.
Namun, Daniel begitu baik ia memberi beberapa kali kesempatan untuk istrinya. Karena rasa cinta yang tulus tak mungkin mudah meninggalkan begitu saja, hanya saja sekarang Wulan takut, jika Daniel akan berpaling darinya, di mana ia sudah mendapatkan kenyamanan dari Sarla.
"Apa yang kamu pikirkan sekarang, Wulan. Kenapa kamu terlihat begitu bersedih."
Wajah yang menunduk itu perlahan terangkat oleh tangan sang mertua," tidak ada. Wulan tidak bersedih kok Bu, itu hanya perasaan Ibu saja."
" kamu jangan berbohong kepada Ibu Wulan, ibu melihat dari ujung kedua matamu itu ada bulir bening yang kamu tahan," tegas ibu mertua ingin tahu perasaan menantunya itu..
"Tidak ada bu," balas Wulan, di mana wanita itu berusaha menahan tangisan agar tidak terlihat oleh ibu mertua.
__ADS_1
"Wulan."
Karena desakan sang ibu mertua, pada akhirnya Wulan menangis berteriak memeluk wanita tua itu, Iya berusaha melampiaskan amarahnya hanya dengan menangis.
"Ibu tahu apa yang kamu rasakan saat ini, Wulan. Pastinya kamu bersedih karena tidak ada Daniel di sini."
Perkataan sang metua, membuat Wulan menganggukkan kepala, walau pada kenyataannya bukanlah seperti itu. Wulan seakan hidupnya tiada arti, apalagi sekarang ia harus menanam benih Angga dan membesarkannya.
" sudah jangan bersedih lagi, di sini kan ada ibu, jadi kamu tak usah khawatir dengan Daniel yang seperti itu kepada kamu. Apalagi sampai takut kehilangan dia, kamu tahu sendiri kan Daniel menikahi sarla itu hanya dalam perjanjian kontrak yang sudah ditandatangani kedua orang tuanya begitupun dengan Sarla."
Wulan mengusap pelan air matanya yang terus mengalir ke dasar pipi, di mana ia hanya menganggukkan kepala dan tetap tegar menghadapi semua cobaan yang menimpa dirinya itu.
" Terima kasih ya bu, sudah ada di samping Wulan dan menenangkan hatimu Wulan."
Wanita tua itu terus mengusap perlahan rambut panjang menantunya, membenahi dengan benar hingga ia mengikat rambut panjang yang terurai begitu indah.
" Jangan khawatir dengan perasaan Daniel. Walaupun dia seperti itu, dia begitu mencintai kamu karena setiap kali Daniel bercerita pasti akan menyebut namamu, bagi Daniel Kamulah belahan jiwanya tidak ada lagi wanita yang lain."
"Tapi bu, pada kenyataannya Daniel menikah lagi dengan seorang gadis bercadar."
" kamu harus memaklumi semua itu, Daniel terpaksa karena kemarin kamu tidak mau menurut denganmu, andai saja kalau kamu menurut Mungkin wanita itu tidak akan dinikahi Daniel. "
"Apa yang dikatakan Ibu memang benar, aku terlalu menurut egoku padahal suamiku begitu baik, aku menyesal, bu."
"Tak ada rasa sesal yang abadi di dunia ini, sekarang tinggal kamu memperbaiki kesalahan kamu sendiri, menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa membuat Daniel bahagia kembali."
Apa yang dikatakan sang ibu mertua membuat satu motivasi untuk merubah diri Wulan, menjadi pribadi yang lebih baik lagi, tidak seperti anak kecil yang terus menuruti keinginannya sendiri.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat lagi ya. Wanita hamil itu tidak boleh cape-cape, harus Banyakin istirahat, menjauhi hal-hal yang membuat pikiran menjadi stress, kamu harus tetap menjaga pola tidur kamu agar bayi dalam kandungan kamu ini sehat."
"Iya bu."
Sedangkan Angga masih berada di rumah sakit, sengaja menunggu, orang yang berjaga diluar ruangan Wulan.
Entah apa yang akan ia lakukan.
__ADS_1