
Sarla mengintip terlebih dahulu pada kaca rumahnya, dimana Alenta ikut serta bersama menantunya. Takut jika yang datang itu adalah orang jahat, di mana wajahnya kini menampakan diri pada kaca rumah.
"Hai, bu."
" Astaghfirullahaladzim, ternyata kamu Daniel."
Sarla mulai membuka pintu rumah, sosok berwajah dingin itu kini masuk ke dalam rumah.
Namun tiba-tiba tertahan oleh tangan lembut Sarla, di mana ia sebagai seorang istri mencium punggung tangan suaminya, Alenta melihat pemandangan keduanya merasa senang. Enak dipandang.
Mendekat dan berkata." Kalian cocok."
Daniel masih memperlihatkan wajah juteknya, ya seperti sosok yang tak peduli terhadap istri keduanya itu.
"Daniel, bukannya kata kamu mau menginap di rumah Wulan ya?"
Daniel terlihat gugup saat pertanyaan dilayangkan oleh ibu kandungnya sendiri," Mm, ya. Aku datang ke sini sengaja mencari barang yang lupa aku bawa."
Sarla kini bertanya kepada suaminya," emang barang apa? Biar aku carikan sekarang?"
"Tidak usah, aku bisa cari sendiri kok."
"Oh."
Alenta sedikit mencubit bahu anaknya," kalian ini masih pengantin baru kok pada jutek begitu. Nggak ada so sweet, so sweet ya."
kini keduanya saling menatap satu sama lain, seperti salah tingkah.
"Alah, Sudahlah tak perlu berlagak manis, toh aku menikahi dia hanya untuk memiliki keturunan."
Deg ….
Perkataan yang begitu menyakitkan hati, membuat Sarla diam tak bersuara.
Alenta mendekat berusaha menenangkan, menantu keduanya itu.
Wajah dingin itu mulai melangkahkan kaki menuju ke dalam kamar, entah barang apa yang akan dibawa oleh Daniel. Sampai Iya bolak-balik ke sana kemari, seperti orang yang kebingungan.
"Kalau bukan karena kuatir kepada Sarla, mungkin aku tidak akan datang ke sini melihat keadaannya, berpura-pura mencari barang yang ketinggalan." Gumam hati Daniel.
Setelah mengambil barang yang ia butuhkan, Daniel mulai duduk di sofa. Sarla melihat suaminya itu langsung membuatkan minuman hangat.
Siapa yang tak terpesona dan kagum akan kepekaan seorang istri kepada suaminya, Sarla seperti sosok bidadari yang ditunggu Daniel selama ini.
Daniel kini mengambil gelas dan meminum teh hangat buatan istrinya.
__ADS_1
Alenta mendekat dan bertanya?" Bukannya kamu datang ke sini untuk membawa barang yang ketinggalan, kok malah santai-santai begini. Bilang aja mau di rumah sarla. Bisa bisanya bikin alasan."
Daniel berusaha menyembunyikan rasa malunya itu, agar tidak terlihat jika ia begitu peduli terhadap Sarla.
"Ibu ngomong apa?"
Bukan pada Sarla saja wajah dingin itu diperlihatkan, Daniel juga memperlihatkan kepada ibunya sendiri.
Sebenarnya Daniel masih betah di rumah sarla, Namun karena sindiran sang ibunda membuat ia malu dan kini berpamitan pergi, menuju ke rumah Wulan.
"Daniel pergi dulu."
Sarla mulai mendekat, dan kini mengambil punggung tangan suaminya, menciumnya kembali.
Siapa yang tak suka dengan perlakuan sarla, begitu memanjakan suami.
Berat rasanya Daniel meninggalkan Sarla bersama ibunya, padahal hanya ingin menemui Wulan.
Alenta terus menyindir anaknya sendiri, karena ia tahu sifat asli Daniel. " berat yang ninggalin istri kedua mana lagi sayang sayangnya."
Kedua pipi Daniel memerah. Berusaha tetap tenang tidak memperlihatkan bahwa dirinya memang masih menginginkan tinggal bersama Sarla.
Daniel kini mengendarai mobil sendirian, di dalam perjalanan isi kepalanya dipenuhi dengan bayangan wajah dan kata-kata manis istri keduanya.
Daniel menggerutu dirinya sendiri kesal akan pikirannya yang terus memikirkan Sarla, ada rasa bersalah telah mengatakan hal yang menyakiti hati istri keduanya itu.
Mengacak rambut, Daniel Kini harus tetap fokus pada tujuannya sendiri, ya harus mempertahankan hatinya hanya untuk Wulan, tidak berpaling ke lain hati.
Pesan datang dari ponselnya beberapa kali.
(Sayang, aku dari tadi nungguin kamu. Kok belum pulang-pulang juga, apa keadaan kamu baik-baik saja.)
Sebenarnya Wulan juga tak kalah perhatian seperti Sarla, wanita berbadan seksi dengan tubuhnya yang bohay. Selalu memuaskan dalam segala hal, hanya saja kekurangannya selalu melawan dan membantah.
Terkadang membuat Daniel geram, dan selalu leluasa ingin memukul wanita yang sangat ia cintai. Karena perkataan Wulan ketika sedang marah selalu merendahkan Daniel.
(Sayang. Kenapa kamu dari tadi tidak membalas pesanku, aku khawatir sekali dengan kamu sayang. )
Daniel mulai membalas pesan dari istrinya. ( Iya sayang aku sebentar lagi akan datang ke sana, apa sekarang keadaanmu baik-baik saja.)
(Agak mendingan sayang, Walau terasa badan begitu lemas. )
( Ya sudah kamu istirahat dulu saja sebentar lagi aku datang.)
Ada rasa senang dan juga sedih ketika Daniel memilih Wulan, di mana lelakinya itu lebih banyak memberikan waktu untuk Wulan.
__ADS_1
Ada rasa sesal yang mendera pada hati Wulan, jika dirinya sudah berkhianat dan mengandung anak dari selingkuhannya.
Wulan kini menangis sembari memukul-mukul perutnya, Ingin rasanya ia mengeluarkan anak yang tak inginkannya, di mana Bi Siti datang menghentikan aksi Wulan.
"Nyonya, jangan lakukan hal seperti itu, bahaya buat Nyonya sendiri."
Wulan menangis terisak-isak, yakini berucap, " Aku tidak mau anak ini, Aku ingin mengeluarkan anak ini saat ini juga."
" Nyonya jangan ngomong begitu, bagaimanapun anak itu adalah anugerah yang diberikan Allah untuk Nyonya. "
"Anugrah bagaimananya Bi, anak ini bekas hubungan gelapku bersama lelaki yang tidak bertanggung jawab."
" Bibi tahu apa yang dirasakan Nona saat ini, sebaiknya Nyonya bersabar dulu biar besok kita pergi menuju dukun beranak."
Wulan berusaha menenangkan dirinya walau sebenarnya pikirannya kini diselimuti dengan rasa kesal, dan penyesalan yang terus menghantui dirinya.
"Nyonya, minum ini dulu ya biar nanti tuan tidak curiga dengan kehamilan nyonya."
Bi Siti memberikan sebuah ramuan yang entah Wulan tidak tahu itu apa, karena tercium dari wanginya sangatlah menyengat.
Ingin rasanya Wulan muntah saat itu juga, namun ia berusaha tahan, karena Bi siti yang terus menekannya untuk segera meminum jamu itu.
"Ayo Nyonya minum segera, sebelum Tuan datang dan mencurigai kita berdua. "
"Tapi bi, wanginya nggak enak banget, Aku nggak suka."
" Sudah Nyonya paksakan saja, Jangan cium aromanya."
Mau tidak mau Wulang langsung meminum ramuan yang diberikan oleh pembantunya itu, setelah meminum ramuan itu ia berusaha atau memuntahkannya lagi. menahan bau yang menyengat begitupun rasa yang amat pahit.
Bi Siti memberikan air minum kepada Wulan, " Ayo Nyonya cepat minum ini."
setelah selesai meminum air putih suara klakson mobil Daniel terdengar, Wulan tergesa-gesa turun dari ranjang tempat tidur untuk segera menemui suaminya.
"Itu Daniel bi. "
Bi Siti berusaha menahan terlebih dahulu Wulan, Iya mengelap mulut Wulan agar tak nampak jika Wulan sudah meminum ramuan jamu.
"Sudah bi. "
"Sudah."
Wulan berlari menuruni anak tangga, hingga dimana ia.
"Ahkkk."
__ADS_1