
"BERISIK."
Teriakan kini dilayangkan oleh Wulan, wanita berkulit sawo matang itu, menutup rapat-rapat kedua telinganya, dia merasa terganggu dengan tangisan anak Sarla yang setiap malam selalu menangis.
Amarah semakin menggebu-gebu, membuat ia melangkahkan kaki menuju kamar bayi mungil itu. Membuka clop pintu, bayi itu masih saja menangis.
"Dasar bayi si@lan."
Wulan menatap tajam ke arah Bayi mungil yang terus saja menangis, kedua tangannya ingin sekali mencengkeram leher kecil itu, namun tiba-tiba saja Ita datang membawa botol susu.
"Nyonya."
Panggilan Ita membuat Wulan mengurungkan niatnya, ia bergegas membenahi tangan yang hampir saja mencekik bayi mungil itu.
Ita mendekat, ia kini menyodorkan botol susu itu pada mulut bayi mungil Sarla, di mana suara tangisan bayi itu terhenti.
"Kamu bawa saja bayi ini ke kamar kamu, jangan biarkan dia sendirian di ruang ini," printah Wulan, sembari pergi meninggalkan Ita yang masih memegangi botol susu.
"Baik nyonya, " balas Ita, menundukkan pandangan.
Wulan menatap Kedua telapak tangannya, yakini mengepal kan kedua tangannya sendiri, hampir saja ia membunuh bayi yang tak berdosa itu, karena menuruti hawa napsu dan juga amarah.
Bayi mungil yang sudah minum susu itu, mulai dibawa oleh Ita menuju ke kamarnya, Bi Siti yang melihat Ita menggendong bayi mungil itu. Kini bertanya. " Loh, Ita, mau kamu bawa ke mana bayi mungil itu?"
Ita perlahan menatap ke arah wajah bayi yang sedang ia gendong, lalu menjawab perkataan Bi Siti. "Nyonya Wulan, menyuruh saya membawa bayi ini ke kamar saya. "
Bi Siti mengerutkan dahinya setelah mendengar apa yang dikatakan Ita, " tumben sekali, bukannya tadi siang dia marah-marah tak jelas ya menyuruh kita untuk tidak memberi susu kepada bayi itu."
Ita meninggikan bahunya, " entahlah Bi, saya juga tidak mengerti pola dari pikiran Nyonya Wulan, harusnya dia itu menyadari akan kesalahannya sendiri, dan merubah sikap untuk bisa menerima bayi mungil ini, bukannya dia juga pernah merasakan bagaimana rasanya mengandung, walau mungkin bayi dalam kandungannya itu tak selamat, setidaknya dia juga harus bisa menyayangi bayi mungil Ini, menganggap bayi ini sebagai anaknya sendiri."
" Apa yang kamu katakan memang benar, tapi kita hanyalah seorang pembantu, jika kita menasehati Nyonya Wulan, bukan malah menyadari sikapnya yang salah, Nyonya Wulan malah tidak terima Dan menganggap kita itu sok bijak dan sok benar."
" Sebenarnya saya geram sekali dengan Nyonya Wulan, dia itu tetap saja egois, berubahnya pun hanya sebentar-bentar, nantinya balik lagi seperti awal jahat lagi,"
"Husst, kamu jangan ngomongin dia terus. Nanti kalau dia tahu omongan kamu bisa berabe kamu ini di sini. "
kita menutup bibirnya, tersenyum lebar sembari menundukkan pandangan," hehe."
Bi Siti mulai mendekat ke arah Ita, iya kini menggendong bayi mungil yang berada di tangan Ita. " Sini, biar bibi saja yang mengurus bayi ini. "
__ADS_1
Ita langsung menyodorkan bayi mungil itu pada Bu Siti, Iya sesekali menguap, merasakan rasa kantuk." Dari tadi kamu belum tidur. Ayo cepat tidur. "
"Iya bi. "
Ita langsung saja masuk ke dalam kamar untuk segera merebahkan tubuhnya, Iya terus mengucap-ngucek kedua matanya, merasakan rasa perih karena dirinya yang belum tidur.
Bi Siti yang berada di luar kamar Ita, kini bergegas pergi untuk segera menidurkan bayi itu di kamarnya.
Ada kesedihan yang menyelimuti hati Bi Siti karena yang diberikan oleh Sarla, malah disia-siakan oleh Wulan yang baru saja kehilangan anaknya.
Bayi mungil itu kini tertidur pulas, di mana Bi Siti merebahkan tubuhnya di samping sang bayi.
*******
Daniel yang masih berada di rumah sakit, sudah tak sabar ingin segera pulang menemui bayi Sarla. Hatinya merasa tak karuan, Iya ingin melihat bayi yang dilahirkan oleh Sarla.
Namun keadaan sang ibu yang berada di rumah sakit, tak memungkinkan Daniel segera pulang ke rumah.
Daniel mulai menghubungi orang-orang di rumah, di mana ia langsung menelepon sang istri, dengan harapan Wulan langsung mengangkat panggilan telepon yaitu.
"Halo sayang. "
"Mana bayiku, Wulan. Aku ingin melihat keadaannya sekarang."
keinginan Daniel membuat Wulan kesal, ia mengira jika Daniel menanyakannya terlebih dahulu, tapi pada kenyataannya bayi Sarla lah yang lebih penting.
Mengepalkan kedua tangan, berusaha menahan emosi, Wulan kini berusaha tersenyum di hadapan sang suami." kamu tenang saja bayi itu sekarang sedang tidur nyenyak. "
Wulan berpura-pura menguap, bahwa dirinyalah yang semalaman menunggu bayi mungil itu.
" kalau begitu aku ingin melihat bayiku sendiri, cepat tunjukkan bayi itu kepadaku. "
Menyunggingkan bibir, di saat Wulan tidak bertatapan lewat Ponsel dengan suaminya sendiri.
"Wulan."
Wulan berusaha bersikap ramah di depan sang suami, ia tak memperlihatkan kebenciannya terhadap bayi mungil itu.
"Iya sayang, kenapa?"
__ADS_1
"Aku minta kamu. Tunjukkan bayi Sarla sekarang juga, aku ingin melihat keadaan bayi mungil itu. "
Wulan menghembuskan napasnya, pada akhirnya ia berjalan menuju ke kamar pembantu.
Daniel yang melihat pergerakan Wulan lewat video call, membuat ia merasa heran." Wulan. Bukannya kamu menjaga bayi Sarla semalaman, tapi kenapa kamu sekarang malah berjalan ke arah kamar pembantu?"
Pertanyaan Daniel membuat Wulan beralasan, " Kebetulan aku tadi mau mandi jadi aku titipkan bayi itu ke kamar pembantu di rumah ini. "
Wulan berharap jika suaminya itu dapat mempercayai perkataannya yang penuh dengan kebohongan," Wulan kalau memang kamu kerepotan dan menitipkan bayi itu kepada pembantu, jangan sampai bayi itu tidur di kamar pembantu,"
Wulan tak tahu jika Daniel ribet itu, " Ya ampun Sayang nggak apa-apa toh biar bayi itu bisa dekat dengan para pembantu."
"Sedekat apapun, aku tetap tidak suka, dia itu anak aku. "
Wulan mengira jika Daniel tak mengakui anak sarla, sebagai anaknya sendiri.
"Sayang, please deh jangan parnoan gitu."
Daniel tetap pada pendiriannya, jika ia tak suka tetap tak suka.
"Mana bayi itu. "
Wulan ini membuka pintu kamar pembantu, dimana Bi Siti, Tengah mengayun-ayunkan bayi mungil itu pada pangkuannya.
Dengan sigap, Wulan mengambil bayi dalam gendongan Bi siti, tinggal di mana bayi itu tiba-tiba saja menangis.
"Tuh kamu lihatkan dia?"
Bayi mungil itu malah semakin kencang menangis, membuat telinga Sarla terasa terganggu dengan tangisan bayi mungil itu.
"Sayang, sudah dulu ya bayinya menangis, aku mau mengayun-ayunkan dia agar cepat tidur."
Daniel mengerti dengan perkataan Wulan, ia langsung mematikan sambungan video call bersama istrinya.
Sambungan telepon yang terputus sebelah pihak, membuat Wulan langsung memberikan bayi itu pada pangkuan Bi Siti.
"Nih, bi. Malas sekali aku gendong bayi itu, keenakan sekali dia mau aku gendong. "
Bayi mungil itu tetap saja menangis, setelah mendapatkan perilaku yang tidak baik dari ibu tirinya sendiri.
__ADS_1
"Aku mau sarapan dulu, Bibi urus bayi itu dengan benar. " Printah Wulan, Bi Siti melihat perubahan Wulan merasa dirinya kini terasingkan. Padahal dulu Bi Siti begitu dekat sekali dengan Wulan, tapi sekarang Wulan, membuang Bi Siti seperti barang yang tak berguna.