Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 70 kelaparan


__ADS_3

"Bu, sepertinya aman, apa sekarang Sarla keluar saja melihat situasi."


Alenta menggelengkan kepala, di mana ia memegang erat tangan menantunya," jangan kamu nggak boleh keluar, kalau kamu keluar bisa-bisa kamu diikat lagi oleh Daniel."


"Tapi bu, Daniel sepertinya sudah tidak ada di depan pintu."


Alenta tetap saja berada di samping Sarla, melindungi sang menantu dari kekejaman anaknya sendiri.


"Sudah, kamu jangan keluar dari kamar ini, Sebaiknya kita tidur saja ya. Biarkan besok kita lihat sifat Daniel, apakah masih kejam atau sudah berubah menjadi baik." Alenta menyuruh sarla untuk tidur di kasur.


" Baik bu."


Pada akhirnya, Sarla menurut, ia mulai merebahkan tubuhnya, untuk segera tertidur. Dimana perut wanita itu becadar bebunyi.


Ia merasa malu di depan sang ibu mertua, atas ketidak sopanan, ketika ingin tidur perut berbunyi.


"Sarla, apa kamu lapar?" tanya Alenta, mulai menyelimuti menantunya, kedua pipi Sarla memerah, " maaf bu, sebenarnya Sarla kalau di rumah terbiasa makan jam segini. "


"Jam malam begini kamu suka makan?" tanya Alenta tampak sok dengan perkataan menantunya, kerena ia heran, Sarla begitu doyan makan tapi badannya tetap langsing.


"Ya sudah, biar ibu bikini makanan buat kamu," ucap sang ibunda, mulai beranjak berdiri pergi ke dapur.


Sarla merasa tak enak hati, ia berusaha menolak perkataan ibunya." Jangan bu, tak usah, Sarla bisa tahan kok."


"Tahan bagaimana kamu ini, perut sudah berbunyi terus menerus kaya begitu, sudah nggak papa jangan kuatirkan ibu."


"Tapi bu. "


"Sudah tak usah tapi tapi. Tunggu dulu ya."


Sarla pada akhirnya menurut, dimana ia menganggukkan kepala dan duduk dengan tenang seperti anak kecil.


Sedangkan Alenta membuka pintu kamarnya, melihat Daniel masih berdiri dengan kemarahanya yang menggebu.


Mengunci pintu kamar Alenta, wanita tua itu langsung menjewer telinga anaknya dengan keras.


"Nih, rasakan."


"Aduhh, sakit. Bu. Aww."


"Siapa suruh tak bisa di atur, sok soan kejam sama bini. "


"Bu, Daniel hanya memberi pelajaran untuk Sarla agar dia menurut, ibu ini bagaimana sih. "


"Menurut apanya, yang ada di tersiksa."


Alenta terus mengiring Daniel menuju ke dapur, dimana Daniel terkejut, berusaha melepaskan jaweran ibunya yang begitu menyakitkan.


"Aduh bu, sakit. Coba lepaskan."

__ADS_1


"Coba coba, ihhh. "


Wanita tua itu semakin memutarkan telinga anaknya, hingga terlihat memerah.


"Ibu, kok kejam banget sih."


"Kamu bilang ibu kejam, nih rasakan lagi. "


Semakin dijewer semakin terasa menyakitkan. "Gimana sakit. "


"Ya bu, ampun."


Dihadapan Alenta Daniel begitu lemah, ia tak bisa melawan ataun pun memberontak, sifat kekanak kanakkannya terlihat begitu jelas.


Daniel hanya seorang lelaki tak punya nyali setelah sang pawang yang tak lain ibunya bersikap tegas.


"Ibu ngapain coba malah bawa Daniel ke sini?"


tanya Daniel, dimana wanita tua itu sudah melepaskan tangannya dari telinga Daniel.


Daniel terus mengusap ngusap telinga yang terlihat memerah itu, membuat ia meringis kesakitan terus menerus.


"Daniel. Cepat kamu masak, " perintah sang ibunda, tentulah membuat mulut Daniel menggagah, " Mana bisa seperti itu bu, Daniel tidak bisa masak."


Daniel mencoba melawan perkataan ibunya, tangan mengkerut Alenta mulai ia tempelkan lagi pada telinga anaknya," Aduh, sakit bu. "


"Mau menurut sama ibu atau, telinga ini Ibu putarkan lagi. "


Daniel begitu kebingungan, harus memulai dari mana saat memasak.


"Daniel tak bisa bu. "


"Masak. Cepat."


Karena bentakan sang ibunda Daniel menurut, wanita tua itu melipatkan tangannya di depan sang anak," Ibu hitung sampai 3 ya. "


"Iya bu. "


Daniel mencoba mencari makanan simple yang bisa ia masak, di mana ada beberapa bungkus mie instan yang ia lihat di dapur.


"Ini dia."


" Gimana kamu sudah memikirkan apa yang akan kamu masak?"


Pertanyaan sang ibunda membuat Daniel langsung menunjukkan jempol tangannya," sudah bu. "


"Bagus, Ibu kasih waktu kamu 10 menit saja," tegas Alenta, menunggu di hadapan Daniel.


Daniel. mulai menyalakan kompor, mengambil air pada panci, tak lupa memotong-motong sayuran untuk menambahkan toping. Agar mie instan yang ia buat terlihat menggoda.

__ADS_1


Alenta menatap ke arah anaknya saat membuat mie instan, kepandaian dalam memasak Daniel tak ada bagus bagusnya, sangatlah jelek. Tak sedap dipandang mata, itulah yang ada pada pikiran Alenta ibundanya sendiri.


"Daniel, kamu ini bisa masak tidak? Masa motong sayur seperti itu?" tanya sang ibunda menilai cara memasak Daniel.


"Ibu, bisanya ngomong saja, coba ibu pratekin cara motong sayur yang benar!" balas Daniel seakan menantang ibunya untuk maju ke arah Daniel.


"Ya elah, cara motong sayur begitu, GAMPANG." ucap sang ibunda terlihat angkuh dihadapan Daniel.


Wanita tua itu mulai memegang pisau, untuk segera memotong sayuran, memperagakan pada anaknya, bagaimana cara memotong sayuran yang benar.


"Nih, kamu lihat ya. "


Daniel mulai memperhatikan gerakan tangan ibunya yang memotong sayuran, dimana ia mengambil batang yang sengaja ibunya potong.


"Astaga, yang benar saja bu. Ini batangnya dipotong kaya begini. "


"Heh, tak apa apa, biar sehat. "


"Sehat dari mananya sih bu, yang ada keras dan pahit kalau dimakan."


Alenta mengambil batang sayur yang diambil anaknya, dimana ia meletakan pada air mendidih yang disediakan Daniel merebus mie.


"Daniel, cepat kamu tuangkan mienya."


Anak dan ibu itu terlihat kompak, mereka baru merasakan kebersamaan yang sudah lama tak pernah mereka rasakan, tawa dan canda, begitu pun amarah dilayangkan Alenta kepada anaknya.


"Gimana Daniel sudah matang, kasihan Sarla pasti dia nunggu kita."


Dengan kompaknya mereka menuangkan mie instan yang sudah matang ke dalam mangkok, tercium wanginya dan begitu menggoda.


"Sudah beres. "


"Akhirnya."


Alenta mengantarkan mie yang Daniel buat dan juga dirinya ke dalam kamar, untuk segera dimakan Sarla, " Sarla. "


Sarla duduk tersenyum menatap makanan sudah datang. " Baunya wangi sekali. "


Alenta memberikan mie instan itu pada Sarla, untuk segera dimakan.


"Ayo makan sayang," ucap Alenta pada Sarla.


Mengambil mangkuk hangat itu, dan kini Alenta mulai memakan mie nya dengan begitu lahap.


"Gimana enak, sayurannya?"


"Enak sekali!"


Daniel yang mengintip dibalik pintu kamar, melihat Sarla begitu menikmati masakanya, padahal dia sudah rasakan masakannya kurang enak, karena ada batang sayuran yang ibunya masukan ke dalam mie instan itu.

__ADS_1


"Cewek aneh, apa dia tidak merasa pahit, jelas ibu yang tak bisa memasak asal memasukan batang sayuran, belum lagi cabai yang aku tuangkan begitu banyak. " Menggelangkan kepala merasa heran dengan cara makan wanita bercadar itu.


"Kenapa kamu tak buka cadarmu saat makan Sarla, kan ada ibu ini, nggak ada yang lain." Ungkap sang ibunda.


__ADS_2