
" Sampai kapanpun, aku tidak akan biarkan Bibi keluar dari rumah ini. Jika bibi keluar aku akan ikut bersama bibi."
Air mata menetes mengenai pipi wanita tua itu, Bi Siti merasa terharu akan perkataan Wulan.
Brakk ....
Pintu kamar Wulan tiba-tiba dibuka dengan begitu keras oleh Alenta, dimana wanita tua itu memperlihatkan kemarahannya di hadapan sang menantu.
"Dari tadi saya panggil, kamu tidak menjawab."
Wulan hanya diam, menatap kearah mata tajam yang mengisaratkan kemarahan padanya, "Ada apa?"
Dengan simpelnya Wulan hanya bertanya, sedangkan Alenta berusaha menenangkan hatinya agar tidak memarahi Wulan, " Kenapa mobil Daniel bisa ada bersama kamu?"
Pertanyaan Alenta, membuat Wulan mendelik kesal, " anda ingin tahu kenapa mobil anak anda ada bersama saya?"
Kata kata yang biasanya sopan dan memanggil sebutan ibu kini hilang dari mulut Wulan ketika ia sedang kesal dan tak ingin diganggu.
" Sudah jangan banyak bicara basa-basi cepat katakan di mana dan yang sekarang!" Tegas ibu mertua, membulatkan kedua matanya ke arah Wulan. Bibirnya tampak ia gigit, karena jijik saat melihat menantunya sendiri.
Wulan sekilas melihat ke arah Bi Siti, lalu menatap kembali ke arah mertuanya, menarik napas dan mengeluarkannya secara perlahan. " Anda pasti terkejut dengan perkataan saya."
Melipatkan kedua tangan, Alenta kini berdiri dihadapan Wulan, di mana ia terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah sang menantu," terkejut apa maksud kamu?"
Alenta tampak heran dengan perkataan sang menantu, ia mengerutkan dahi.
" Baikalah, saya akan jelaskan sekarang, karena anak anda itu tidak pernah adil terhadap istrinya, jadi saya beri dia pelajaran!"
Belum perkataan Wulan terlontar semuanya, wanita tua itu, tampak semakin mendekat, " Apa maksud kamu memberi pelajaran terhadap anak saya?"
Wulan mengira jika wanita tua yang selalu disebut nenek lampir olehnya, akan mengerti dengan perkataan yang tak harus ia ulang-ulang dan juga jelaskan.
" Cepat jelaskan daripada aku harus kebingungan seperti ini?"
"Makannya jika mau dijelaskan, jangan selalu memotong pembicaraan oke!"
Wulan seakan menganggap wanita dihadapannya itu seperti orang lain, dari nada bicaranya pun sudah terdengar jelas.
"Cepat katakan."
"Kebetulan sekali, saya melihat Daniel berada di rumah Sarla, anda tahu sendirikan, seharusnya Daniel itu berada di rumah ini, karena jatahnya saya bukan Sarla. Karena sudah melanggar jadinya anak anda saya beri pelajaran, saya tinggalkan di pinggir jalan."
__ADS_1
"Apah. Gila kami Wulan."
"Anda bilang saya gila, hey, saya ini masih waras."
"Sekarang mana kunci mobil, sini."
"Kunci mobil, maaf ya, semua saya sita."
Untung saja Wulan bergegas mengambil kunci mobil, ia menyita semuanya, karena wanita muda itu akan berkuasa di rumah Daniel, dan membuat peraturan baru.
"Jangan seenaknya begitu kamu Wulan?"
Menutup mulut, Wulan berusaha tidak tertawa dihadapan sang mertua." Saya tidak seenaknya loh, saya hanya menjalankan tugas saya sebagai istri."
Kini Wulan bangkit dari kelemahannya, ia tahu jika dirinya salah akan perselingkuhan yang terjadi dalam kehidupannya.
Namun ia juga wajib membela dan melindungi dirinya dari kejahatan dan balasan ibu mertua begitupun Daniel.
Karena dari perselingkuhan Wulan, Daniel juga menikah lagi, apa kurang adilkah Wulan.
Tapi kenapa Daniel ingin balas dendam, picik sekali Daniel seperti itu.
Egois, tak ingin tersalahkan.
********
Sedangkan Daniel masih dengan keraguannya, ia duduk bersebelahan bersama wanita tua itu. Merasa tak enak hati, perasaannya tak karuan, ada rasa takut dan Kuatir.
"Kenapa kamu bisa ada di pingir jalan dekat hutan, apa kamu korban pencopetan?" Wanita tua itu bertanya pada Daniel, dimana ia terlihat gugup.
Sekilas wanita tua yang mengendarai mobil, menatap ke arah Daniel, tampak ia terkejut lalu berkata," kenapa apa kamu takut dengan wajah saya. Maafkan saya, karena menampilkan wajah seperti ini."
"Mm, tidak kok, Bu." Daniel berusaha tenang, agar tidak membuat wanita tua itu merasa sakit hati karena tingkahnya.
"Jangan bohong, karena banyak sekali orang yang bilang bahwa saya ini menjijikan, karena itu saya takut kamu jijik sama seperti mereka yang mengatai dan menghina saya."
Ada rasa kasihan dari diri Daniel, setelah mendengar keluhan wanita tua itu," itu hanya perasaan ibu saja, saya justru senang bisa mengenal anda. "
"Terima kasih, kalau begitu, nak."
"Sama sama."
__ADS_1
Daniel menunjukkan arah jalan menuju ke rumahnya, wanita tua itu nampak licah dalam mengendari mobil, membuat Daniel takjup.
"Ibu hebat dalam mengendari mobil."
Wanita tua itu tersenyum dengan pujian yang terlontar dari mulut Daniel, ia kini sampai mengantarkan Daniel sampai ke rumahnya.
"Tunggu sebentar di sini, saya mau mengambil dompet yang ketinggalan."
"Tak usah, saya mau berangkat lagi."
"Please, tunggu dulu ya bu. Ada hadiah kecil, saya sudah berniat memberikannya pada ibu."
Wulan mendengar suara Daniel sudah pulang, ia kini menghampiri suaminya itu.
"Daniel, dia bisa pulang?" Guman hati Wulan.
Wanita tua itu menatap ke arah Wulan, tatapan yang begitu tak biasa, membuat Wulan melirik dan tak mengenalnya.
"Kamu pulang dengan siapa, mas?"
"Itu bukan urusanmu!"
Daniel tampak marah sekali dengan pertanyaan sang istri, ia pergi mengambil dompet.
Sedangkan Wulan merasa penasaran dengan orang yang sudah mengantarkan suaminya pulang. "Permisi, apa anda bisa pulang sekarang juga."
Wanita tua itu tampak menitihkan air mata, setelah melihat Wulan, sedangkan Wulan tak mengenalnya sama sekali.
"Halo, apa anda dengar saya bicara."
Alenta menahan anaknya, ingin bertanya dengan apa yang sudah dilakukan Wulan kepada Daniel. " Daniel, akhirnya kamu pulang juga sayang."
Daniel tak menjawab perkataan ibunya sama sekali, ya malah diam dan terburu-buru keluar dari dalam kamarnya.
"Daniel. Ibu tanya malah nyelong aja."
Terburu-buru Daniel langsung pergi keluar rumah untuk segera menebus jasa wanita tua yang sudah rela menolongnya, saat dia keluar dari dalam rumah. Mobil wanita tua itu ternyata sudah pergi dari depan rumahnya, Daniel mulai menatap ke arah Wulan yang berdiri sembari memandangi mobil itu,yang sudah melaju jauh dari hadapannya.
" Wulan." Panggil Daniel dengan kemarahannya, Wulan kini menatap ke arah sang suami, di mana Wulan terlihat sampai saat menghadapi Daniel.
" Ada apa Daniel?" tanya Wulan seperti tak menyadari akan kesalahan yang sudah ia lakukan terhadap Daniel.
__ADS_1
Daniel menunjuk-nunjuk istri pertamanya itu, lalu mengatakan satu hal yang membuat Wulan terkejut," Apa yang sudah kamu lakukan, kenapa kamu biarkan orang yang berada di dalam mobil itu pergi begitu saja. Betapa berharganya dia."
Wulan langsung tertawa terbahak-bahak, setelah ia terkejut mendengar perkataan suaminya itu.