Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 8 memerintah Varel


__ADS_3

Disaat atasannya ditangani oleh dokter, Varel memandangi kartu tanda pengenal seorang wanita bernama Sarla, ia tersenyum tak biasa. Melihat wanita berhijab dan cadar menutupi sebagian wajahnya, membuat hatinya penasaran.


Ia melihat sorot mata wanita bercadar itu begitu indah, memperlihatkan kesan berbeda. Mengusap kasar wajah, berusaha sadar.


"Kenapa aku malah memikirkan dia?" Memegang dada dengan telapak tangan, merasakan detakan jantung," Apa ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama." Varel tersenyum sendiri, hingga dimana ia dikagetkan dengan kedatangan seorang dokter.


"Pak Varel, apa anda keluarga dari pasein?" Pertanyaan dokter membuat Varel berdiri dan menjawab!" Saya hanya asisten pasien!"


Setiap kali dokter pasti akan menanyakan keluarga sang pasien, begitupun yang dialami Varel sekarang. Atasanya itu seorang CEO, dan memiliki seorang istri. Tapi di saat situasi genting seperti sekarang tak ada keluarga pasien yang peduli, apalagi istri seksinya.


"Jadi keluarganya?" Tanya sang dokter, berusaha membuat Varel beralasan agar sang dokter mengatakannya langsung saja padanya." kebetulan keluarganya menyerahkan pada saya atas kesembuhan pasien. Jadi dokter bisa jelaskan saja pada saya."


"Baiklah, pasien memiliki robekan dan sudah kami jahit dengan sepuluh jahitan, karena robekan yang besar membuat pasien mengalami pendarahan, kami sarankan untuk pasien di rawat selama sepuluh hari untuk penyebuhan normal."


Varel mulai menganggukkan kepala," Baiklah saya setuju."


"Anda bisa menandatangani lewat adminitasi, dan untuk gejala lainnya tidak ada, pasien hanya butuh istirahat yang banyak saja."


"Terima kasih, dok."


Dokter itu kini pergi meninggalkan Varel, dimana sang asisten melangkahkan kaki menuju ke ruangan Daniel.


Membuka perlahan pintu ruangan, dimana Daniel terkulai lemah di atas ranjang tempat tidur. Varel mencoba menghubungi Wulan istri dari atasanya.


"Halo, ada apa?" Suara Wulan terdengar tak bersahabat, Varel menelan ludah. Ia berusaha bersikap tenang dan tetap ramah.


"Maaf sebelumnya Bu Wulan, saya hanya ingin memberitahu jika Pak Daniel sedang di rawat di rumah sakit, karena mengalami luka robekan dibagian kepala!" Jawab Varel, berharap jika wanita bernama Wulan itu peduli dengan keadaan suaminya.


"Katakan nanti pada atasanmu itu, aku tidak akan pulang sebulanan ini, jadi tolong kamu urus saja dia." Ucap Wulan, tak enak di dengan oleh kedua pasang telinga Varel. Wanita seksi berbadan ramping itu tiba tiba jasa mematikkan sambungan telepon.


"Halo, Halo. Bu Wulan," berulang kali memanggil kembali nomor istri atasanya, tak kunjung di angkat, malah langsung tak aktiv.


"Masih ada istri begini jaman sekarang, udah di kasih enak, malah enggak tahu diri." Gerutu Varel memandangi layar ponselnya.


Dua puluh lima menit menunggu Daniel, kini lelaki bergelar CEO itu bangun. Raut wajahnya terlihat meringis kesakitan, tangan kekar dengan urat urat kasar yang menonjol. Mulai memegang kepala.

__ADS_1


"Ahk, dimana aku?" Daniel menatap seseorang di depannya, terlihat samar. Mencoba mengedipkan mata beberapa kali, hingga orang itu nampak terlihat di depan matanya.


"Varel."


"Pak Daniel, anda siuman. Jangan dulu bergerak, kepala anda masih dalam pemulihan."


Daniel menatap ke arah Varel sedikit mengerutkan dahi," Maksud kamu, kepala saya?"


"Ya, kepala anda mengalami pendarahan karena robekan besar, mengakibatkan dokter terpaksa menjahit bagian robekan itu!"


Berdecak kesal setelah mendengar perkataan sang asisten, Wulan begitu tega. " Wulan, dimana sekarang dia, setelah pemukulan itu dia pergi." Gumam hati Daniel


"Oh ya, Varel. Apa kamu sudah menghubungi istri saya, Wulan?" tanya Daniel, terlihat menahan sakit pada bagian kepala.


"Sudah, Pak. Hanya saja Bu Wulan mengatakan pada saya dia tidak akan pulang selama sebulan!" jawab Varel, tentunya membuat Daniel menggerutu kesal, bagaimana bisa seorang istri tega seperti itu kepada suaminya.


Sudah melukai bukanya peduli, malah berkata hal tidak menyenangkan.


"Apa ibu saya tahu soal ini?"


"Mm, bagus. Kamu memang asisten terbaikku Varel."


Daniel merasa betapa tak menyenangkan hidupnya sekarang, bagaimana bisa Wulan wanita yang ia cintai tega membuat dirinya terluka. " Varel, diluar jam kerja. Apa kamu mau membantuku?"


"Membantu apa, Pak!" Baru kali ini mendengar atasanya meminta bantuan di luar jam kerja.


Daniel menyuruh Varel datang ke tempat Pak Gunawan, untuk memberitahu dirinya tak bisa datang malam ini. Ia juga menyuruh Varel untuk membawa map, agar di tanda tangani Pak Gunawan saat itu.


Map berisi berkas perjanjian, jika ia akan menikahi anak gadis Pak Gunawan secara kontrak, saat anak gadisnya itu bisa membuat keturunan untuk Daniel. Walau terkesan kejam, tapi semua ini demi kebaikan keluarganya dan Wulan. Daniel tak mau ada perdebatan antara ibu dan istrinya lagi, karena masalah seorang anak. Apalagi Wulan sudah berubah semenjak Daniel selalu membahas tentang anak.


Varel menyetujui perintah atasannya untuk datang ke rumah Pak Gunawan, ia tak tahu jika datang ke rumah gadis bernama Sarla. Gadis yang ia kagumi saat ini, membuat rasa penasaran dalam benaknya.


Wanita yang menjadi cinta pertamanya.


**********

__ADS_1


Sarla baru saja pulang, ia memanggil kedua adiknya. "Lilian, Lani."


Panggilannya membuat sang papa datang, terlihat sekali. Lelaki tua itu begitu sibuk, menyuruh para pelayan menyiapkan makanan.


"Ada apa ini?"


Dari kesibukan itu, dua mata memandang ke arah Sarla, dimana sang mama tiri menyambut dengan senyuman tak biasanya.


"Hai, sayang. Akhirnya kamu pulang juga. Oh ya, mama sudah sediakan baju untuk kamu pakai."


"Baju? Maksud mama?"


Wanita tua itu berubah ramah, ia merangkul bahu Sarla, membawa anak itu ke kamarnya.


Bu Dera sudah menyiapkan semuanya, ia mangambil baju untuk memberikan pada anak tirinya itu.


"Ini baju sengaja mama pesan dari butik, coba kamu pakai, pasti akan terlihat cantik."


Sarla masih tak mengerti akan ucapan mama tirinya, " maksud mama apa ya? Coba jelaskan dengan benar."


"Baiklah kalau begitu, mama jelaskan sekarang ya. CEO Daniel malam ini akan datang."


Deg .... Seketika kedua mata membulat." Maksud mama pria beristri itu?"


"Ya sayang, siapa lagi coba. Kamu kan sebentar lagi menikah!"


Sang mama menarik tangan Sarla, memberikan baju itu pada anak tirinya," Kamu pakai ya, malah ini harus cantik agar CEO Daniel tertarik."


Tubuh Sarla kini mematung, ketika sang mama memberitahu akan kedatangan Daniel nanti malam.


Menepuk bahu anak tirinya, Bu Dera berkata." Jangan kecewakan keluarga kita."


Sarla hanya mengganggukkan ketika perkataan sang mama tiri terlontar.


Apa yang harus Sarla lakukan? Apa Sarla harus melakukan hal konyol untuk membuat lelaki bernama Daniel itu memutuskan pernikahan kontrak ini. Mana mungkin, yang ada keluarganya akan malu.

__ADS_1


__ADS_2