
Pada akhirnya Bi Siti hanya bisa menurut karena ia juga tak mau kalau sang nyonya malah membencinya, " baik nyonya, saya akan menurut. "
"Bagus. Ya sudah cepat buatkan saya salad buah." Perintah Wulan kepada Bi Siti.
Suara tangisan bayi itu benar benar membuat hati Bi Siti tak tega, ia merasa lemah saat itu, karena tak bisa menenangkan tangisan sang bayi.
"Malangnya nasibmu nak, maafkan bibi. "
Sedangkan Wulan yang memang menunggu Bi Siti membuat makanan, kini mengambil handset memasangkannya pada telinga kanan dan kiri. Ia mendengarkan musik kesukaannya.
Tak mempedulikan sama sekali suara bayi itu.
"Bi Siti, kaya dengar suara bayi?" tanya Ita, yang berdiri bersebalahan dengan Bi Siti.
"Itu anak Sarla nangis!" jawab Bi Siti, membuat Ita terkejut. " Loh, kok dibiarin nangis begitu bi, kasihan. Sebaiknya aku saja yang membuatkan nyonya salad buah, bibi pergi ke kamar bayi tuan, menenangkan bayi itu. "
"Tadinya, aku berpikir seperti itu sih Ita, tapi harus bagaimana lagi, nyonya melarangku. Untuk menyentuh bayi itu. Katanya biarkan saja, " balas Bi Siti terlihat raut wajah penyesalan ia perlihatkan pada Ita.
"Nyonya kok semakin ke sini malah keterlaluannya, padahal Sarla udah baik mau pisah dengan Tuan Daniel dan menyerahkan anaknya cuman cuman, Nyonya Wulan malah kaya orang jahat," ucap Ita, membuat Bi Siti sadar.
Wulan yang dulu adalah Wulan yang baik dan selalu mendengarkan nasehatnya, tapi sekarang sifat Wulan berubah. Semenjak Wulan sakit hati dengan perkataan Daniel, karena Daniel sekarang terpaksa mencintai Wulan.
"Ya sudah bi, Ita nggak tega kalau dengar bayi nangis terus, rasanya sakit hati. Kasihan nanti bayinya bisa bisa stres, " ucap Ita, mencuci tangannya, setelah memotong motong buah buahan.
"Ya sudah sana, kamu tenangin bayi itu. Tapi jangan sampai ketahuan nyonya, kalau sampai ketahuan habis kamu nanti sama nyonya di marahin. " balas Bi Siti, memberi tahu Ita. Agar tidak diketahui sang majikan.
Ita menunjukkan jepol tangannya lalu pergi. " Aku pergi dulu ya bi."
Keluar dari dapur, Ita melihat jika sang majikan sedang mendengarkan musik lewat ponselnya, jadi saat ia berjalan ke kamar bayi itu, ia tak akan ketahuan.
Mempercepat jalan, suara tangisan bayi itu masih terdengar pada telinga Ita. "Ya ampun sayang. Cup cup. "
Ita kini menggedong bayi itu pada pangkuannya, bayi itu langsung tertidur, " kasihan sekali kamu nak. "
Setelah bayi itu tenang, " Siapa yang suruh kamu menenangkan bayi itu?''
Ita tak menyangka jika majikannya sudah berada dihadapannya saat itu. " Nyonya. "
Bi Siti datang, berusaha membela Ita. Memberi kode agar Ita pergi.
__ADS_1
" Ita, cepat jawab. Siapa yang suruh kamu?"
Ita menelan ludah, dimana Bi Siti menjawab. " Saya nyonya. "
Wulan membalikkan badannya, menatap ke arah orang yang menjawab perkataannya. Di mana Bi Siti berdiri sembari membawa salad buah yang diperintah oleh Wulan. "
"Owh, jadi Bi Siti mengabaikan perkataanku, Bi Siti benar benar keterlaluan, saya nggak menyangka jika bibi adalah orang yang munafik yang aku kenal saat ini, " ucap Wulan, mengatakan kekecewaanya.
"Maafkan saya nyonya, saya tidak bermaksud seperti itu, " balas Bi Siti menundukkan wajah.
Wulan terlihat tak ingin berdebat, ia kini pergi dengan rasa kecewa dalam hatinya.
"Nyonya."
Tak ada jawaban sama sekali dari Wulan, Bi Siti seakan diabaikan begitu saja, seperti orang yang tak penting lagi dalam hidupnya.
"Nyonya."
Wulan tetap berjalan, ia menitihkan air mata, karena orang yang selalu dekat dengannya membuat ia kecewa.
Masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu kamar, Wulan duduk di rajang tempat tidur dengan berucap dalam hati, " Semua ini gara gara anak Sarla. "
Di dalam rumah sakit, Daniel masih menunggu jawaban dari dokter, yang belum pasti sama sekali. Karena melihat kondisi sang ibunda belum sadarkan diri.
Padahal rasa rindunya terasa menggebu, ia ingin melihat bayi Sarla yang sudah ada di rumah.
Walau mungkin ia masih merasa curiga dengan poto Sarla dan laki laki yang bersama istrinya itu, ia juga belum tahu pasti siapa lelaki itu.
Sampai mengirimkan pada Alex, agar mencari tahu tentang poto Sarla.
Pesan datang dari Alex, tak butuh waktu yang begitu lama, akhirnya Alex mengirim pesan.
(Itu bukan editan, itu asli. Tempatnya pun tak jauh dari daerah kamu.)
"Jadi Sarla juga tak jauh berbeda dengan Wulan. Sama sama wanita rendahan. "
Memijit kepala yang terasa sakit, akhirnya. Daniel berusaha membalas pesan Alex walau hatinya penuh keraguan.
(Apa kamu melihat tanda tanda jika istriku ini selingkuh. )
__ADS_1
Alex begitu lama membalas pesan dari Daniel, dimana lelaki itu begitu cemas sekali.
Dan akhirnya pesan datang lagi dari Alex. ( Menurut informasi yang aku dapatkan, sepertinya istrimu tidak selingkuh, dia seperti di jebak. Coba kamu lihat video yang aku dapatkan dari rekaman cctv rumah sakit.)
Daniel mulai membuka video yang dikirimkan oleh sahabatnya itu, ia melihat pada rekaman CCTV, jika istrinya itu digendong dengan keadaan pingsan.
Daniel juga melihat jika Sarla diletakkan begitu saja di atas kasur, wajah orang itu tertutup oleh kain. Sampai Daniel tidak melihat raut wajah lelaki yang berani membawa istrinya ke hotel.
Dalam rekaman cctv itu, lelaki itu malah berpose bersama dengan Sarla, yang tengah terbaring dengan kedua mata yang menutup.
Perlahan kekesalan mulai diperlihatkan oleh Daniel, di mana lelaki berbadan kekar itu mengepalkan kedua tangan. Ia melihat jika cadar Sarla dibuka begitu saja, melemparnya.
"Sialan, sepertinya sarla mendapatkan tindakan pelecehan."
selesai menonton video itu, dokter tiba-tiba datang menghampiri Daniel, memberitahu keadaan sang ibunda." keluarga dari ibu Alenta?"
Daniel mulai beranjak berdiri dari tempat duduknya." ya Dok saya sendiri, ada apa?"
sang dokter menyuruh Daniel untuk mengikuti langkah kakinya masuk ke dalam ruangan sang ibunda.
" Ibu anda mengalami kelumpuhan, karena mempunyai riwayat darah tinggi, sampai saat ia terjatuh membuat urat sarapnya tak berpungsi. "
"Apa dok, yang benar saja. "
"Tapi bapak tenang saja, jika pasien Ibu Alenta dapat menjalankan terapi, dan menjaga pola makan untuk hidup sehat, tidak mengalami perpanjangan, kemungkinan besar kelumpuhan itu bisa membaik walaupun belum sepenuhnya."
"Kalau memang masih bisa disembuhkan, Saya berharap Ibu saya cepat sembuh."
"Bapak tenang saja, saya sebagai dokter akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menyembuhkan ibu anda. "
"Terima kasih dok. "
Dokter mulai berpamitan untuk pergi dari ruangan Alenta, dimana Daniel mulai duduk pada kursi yang berdekatan dengan ranjang tempat tidur sang ibunda.
Terlihat hanya kedipan mata sang ibunda yang membuat Daniel tersenyum senang.
"Daniel tahu ibu pasti ingin berbicara kan. Untuk memarahi Daniel, karena Daniel yang membuat ibu jadi seperti ini. Maafkan Daniel ya bu, ibu harus semangat untuk sembuh. "
Tak terasa Alenta yang tak bisa berbicara sedikitpun, membuat dia hanya meneteskan air mata.
__ADS_1
...----------------...