
Tentu saja penampakan orang itu membuat Dera terkejut," Papah. "
Sosok sang suami yang harusnya pulang sore tiba-tiba saja ada di rumah, tanpa Dera sadari.
Gunawan mulai menatap ke arah anak ketiganya itu, mengusap perlahan rambut yang menutupi kedua mata Lani. " Sayang Kamu ini kenapa kok malah lari-lari sih, nanti kalau kamu jatuh bagaimana. Kamu kan masih menggunakan tongkat, Papa takut terjadi apa-apa dengan kamu."
Nasehat lembut Gunawan membuat Lani menganggukkan kepala lalu memeluk tubuh Papanya itu, terdengar suara tangisan Lani membuat Gunawan mengusap perlahan punggung anaknya.
"Kamu kenapa, kok nangis. "
Lani mulai menatap ke arah sang papa, dimana Gunawan melihat anak kandungnya itu dengan penuh rasa kasih sayang, " Ayo cerita sama Papa apa yang sudah dilakukan Mamah kamu?"
Mendengar Gunawan bertanya kepada Lani, membuat rasa takut pada hati Dera," Ayo katakan pada papah kamu jangan takut. "
Dera berusaha mencairkan suasana, agar Lani tidak mengadu kepada Gunawan.
"Lani."
Dengan menangis, Gunawan berusaha mengusap perlahan air mata yang terus jatuh pada kedua mata anaknya sendiri.
"Tenangkan dulu hati kamu, nanti kalau sudah tenang baru kamu bercerita kepada papa oke."
Lani akhirnya menganggukkan kepala, di mana Gunawan langsung memanggil istrinya sendiri. " temui aku nanti di ruang kerja."
"Baik, pah. "
Dera hanya bisa menuruti perkataan Gunawan, Karena sekarang sang suami tidak mempercayai diri, Gunawan lebih percaya pada anak pertamanya itu.
*****
Gunawan mulai membawa Lani untuk sekedar menghirup udara di luar rumah, terlihat wajah muram Lani diperlihatkan kepada sang papa.
" Dari tadi papa liat wajah kamu murah terus, apa yang sedang kamu pikirkan sayang."
Dera yang melihat kepergian anak dan juga suaminya membuat hatinya tak tenang, ya takut jika Lani mengadu tentang cincin yang ia jual.
Di taman.
__ADS_1
"Lani, ayo cerita apa yang kamu pendam saat ini."
Sebagai sosok seorang ayah, Gunawan selalu peduli terhadap anak-anaknya, ya selalu mendahului keinginan anak-anaknya daripada keinginan sang istri.
"Ayo cerita pada papah, kenapa?"
Karena Lani kesal terhadap sang mama, pada akhirnya ia mengatakan kekesalannya itu terhadap Gunawan. " Papa lihat jari Lani sekarang."
Lani menunjukkan jari tangannya yang tak memegang cincin, " yap. Kenapa dengan jari tanganmu ini saya, kamu merasakan rasa sakit."
"Bukan itu, Lani kesal pada mama. "
Gunawan mengkerutkan dahinya, masih tak mengerti dengan pembicaraan Lani, " maksudnya."
"Papah, masih Ingatkan cincin pemberian Papah di saat Lani berulang tahun?"
Pertanyaan Lani, membuat Gunawan berusaha mengingat-ingat hadiah yang ia berikan kepada Lani.
"Owh ya, Memangnya kenapa dengan cincin itu, apa Lani tidak menyukai cincin itu sampai tidak memakainya. "
Lani mencoba menjelaskan panjang lebar terhadap sang Papah yang tak mengerti," bukan itu maksud Lani papa."
Gunawan yang begitu gemas terhadap anak ketiganya, mencubit kedua pipi Lani selalu menjawab, " Lantas apa dong sayang, papa kan nggak ngerti "
Memajukan kedua bibir, Lani mulai mengadu Jika cincin pemberian dari Gunawan dijual oleh mamahnya sendiri.
"Cincin yang papa berikan untuk Lani, dijual oleh Mama!" terkejut dengan jawaban anak ketiganya itu, Gunawan mulai bertanya lagi," Loh kok bisa, kenapa?"
Lani mulai menceritakan semuanya di hadapan sang papa, " Mama menjual cincin itu agar kita berdua bisa pulang ke rumah Papa. "
"Mm, memangnya uang tabungan mama kamu habis ya saat kalian jauh dari papa?"
Hampir saja Lani mengatakan jika uang tabungan mamanya sendiri habis membayar para suruhan.
Gunawan menatap kembali ke arah wajah anak ketiganya itu, " lo Papa tanya lagi sama kamu Lani, tapi kenapa kamu malah melamun?"
" Lani sedih, Lani ingin cincin itu kembali lagi. Karena Lani sayang banget pada cincin itu, Siapa tahu sendiri kan Lani begitu menyayangi papa!"
__ADS_1
mendengar alasan dari anak ketiganya itu, Gunawan kini tersenyum lalu menjawab, " Ya sudah kalau begitu, sekarang juga kita pergi membeli cincin baru!"
Jawaban yang pastinya membuat Lani bahagia, " beneran Pah, Papa mau mengganti cincin yang dijual mamah. "
Gunawan menganggukkan kepala melihat anak ketiganya itu begitu bahagia," Iya dong."
Lani mulai beranjak berdiri dari tempat tidurnya, Iya tak bisa berkata-kata lagi hanya menarik tangan sang papa, untuk segera pergi ke toko perhiasan untuk segera Membeli cincin baru. "
Lilia yang melihat pemandangan itu, kini mendekat pada keduanya," Lani dan Papa mau pergi ke mana?"
Lani yang melihat Lilia, buat hatinya tentulah kesal, ya tak mau jika Lilia mengacaukan kebahagiaannya dengan sang papa.
" Kebetulan sekali ada kamu sayang, sebaiknya kamu ikut sama papa sekarang juga"
Mengerutkan dahi setelah mendengar perkataan yang terlontar dari mulut sang papah. " Memangnya Kalian berdua mau pergi ke mana?"
"Ke toko perhiasan, untuk membelikan cincin Lani yang dijual oleh mamanya!"
jawaban dari sang Papa membuat Lilia tentu saja kesal, ya tidak mau menyia-nyiakan momen yang berada di depan matanya.
"Jadi mau ikut nggak?" tanya Gunawan pada anak keduanya.
"Mm, tentu saja Lilia mau ikut pah. Lilia juga ingin Papa membelikan kalung emas buat Lilia, " ucap Lilia, tersenyum di hadapan Gunawan.
Lani kesal setelah mendengar perkataan dari Lilia, ia menggerutu pada hatinya, " Kenapa juga dia mau ikut, pergi ke toko perhiasan denganku dan juga Papa, mengganggu momen-momen kebahagiaanku saja. "
Lilia melihat sang adik tampak tak suka jika ia ikut dengan sang papah, dengan sengajanya Lilia bertanya kepada Lani." oh ya Lani. Apa kamu tidak keberatan Kalau kakakmu ini ikut bersama kamu dan juga Papa ke toko perhiasan?"
Ingin sekali Lani menjabat rambut Kakak keduanya itu, menjawab terang-terangan jika ia memang tidak ingin Lilia ikut bersama dirinya.
" Ehh, Lani tidak keberatan kok Kak, malahan Lani senang kalau Kakak Lilia bisa ikut bersama kami berdua ke toko perhiasan!" jawaban yang terdengar terpaksa dari mulut adik tirinya itu.
Gunawan mulai menyuruh kedua anak-anaknya untuk masuk ke dalam mobil," Ya sudah kalian cepat masuk ke dalam mobil. "
keduanya mulai masuk ke dalam mobil dengan tatapan, rasa kesal dan saling tak suka satu sama lain.
"Hahaha. Akhirnya aku bisa mengganggu kesenangan mereka berdua, siapa suruh pergi ke toko perhiasan. Keenakan si Lani, banyak maunya. "
__ADS_1
"Owh ya, sebelum kita pergi ke toko perhiasan. Bagaimana kalau kita makan dulu di restoran seafood. " Ajak Lani, sengaja ingin membuat Lilia celaka.
"Ide yang bagus tuh. Kebetulan sekali Papa juga sudah lapar, sebelum kita jalan-jalan, kita isi perut kita ini yang keroncongan ini. "