Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 232


__ADS_3

Bi Siti kini masuk ke ruangan UGD, dimana suster dan dokter dengan begitu cepatnya menangani Wulan, Bi Siti menatap keadaan Wulan yang mengenaskan berharap jika wanita yang dulu dekat dengannya masih sadar.


"Nyonya Wulan, apa anda tidak bisa menyadari kesalahan anda, ketika anda terkulai lemah di ranjang rumah sakit, Anda itu tengah diberi peringatan untuk sadar akan sikap serakah anda dan keegoisan anda. " Guman hati Bi Siti menatap pada jendela ruangan Wulan.


Air mata tak terasa menetes, membuat Bi Siti mengusap perlahan air matanya itu.


"Kenapa saya malah menangisi Nyonya Wulan, harusnya saya sadar jika Nyonya Wulan itu orang yang tak bisa berubah, dia hanya memanfaakan orang agar berpihak pada kejahatannya."


Suster keluar dari ruangan, dimana ia tampak terburu buru. " Kenapa Sus?"


"Saya sedang mencari keluarga Pasien Wulan!"


Bi Siti yang memang bukan keluarganya, kini berusaha mengakui, ia ingin tahu kenapa dengan sang suster yang terlihat begitu panik, apa sesuatu terjadi pada Wulan.


"Saya keluarga dari pasien. Apa ada sesuatu terjadi dengan pasien. "


"Syukurlah, pasien kini megalami pendarahan hebat. Dokter menyuruh keluarga pasien segera mendonorkan darahnya karena kebetulan stok darah di rumah sakit habis."


"Ya sudah, saya siap sekarang juga mendonorkan darah saya. Pada Pasien. "


"Baiklah, sebelum anda mendonorkan darah anda kami akan mengecek kecocokan darah anda dengan pasien. "


"Baik, sus. "


Bi Siti kini melangkahkan kaki mengikuti langkah sang suster yang begitu cepat, wanita tua itu berharap jika darahnya cocok dengan darah Wulan.


Setelah pengecekan selesai, Bi Siti dengan raut wajah penasarannya bertanya pada suster. " Bagaimana sus, apa darah saya cocok dengan Pasien Wulan. "


"Cocok bu, apa ibu ini ibunya Pasien Wulan?"


Pertanyaan suster membuat Bi Siti terdiam, " Bu. Bu. "


Panggilan sang suster, beberapa kali dilayangkan pada Bi Siti, sampai lamunan wanita tua itu membuyar.


"Iya sus, ada apa?"


Suster itu tersenyum tipis dan kini mengulang pertanyaannya lagi, " apa ibu ini, ibunya pasien Wulan. "


"Bukan, saya hanya kerabat dekatnya saja. "


"Owh."

__ADS_1


Setelah pengambilan darah untuk didonorkan pada Wulan, Bi Siti seperti memikirkan sesuatu.


Ia duduk dan berdoa untuk kesembuhan Wulan.


"Perkataan suster itu, membuat aku malah meduga duga, jika Wulan anakku, tapi mana mungkin anakku kan sudah mati. "


"Bi Siti. "


Daniel datang dengan mendorong kursi roda sang ibunda. " Tuan Daniel. "


"Bagaimana keadaan Wulan, apa dia bisa di selamatkan?"


Pertanyaan Daniel terdengar kurang menyenangkan saat didengar oleh Bi Siti. " Baru saja saya mendonorkan darah saya untuk Nyonya Wulan. Karena kata dokter Nyonya Wulan pendarahan hebat. "


Alenta yang medengar perkataan Bi Siti terlihat bersedih, ia tak menyangka jika Wulan kecelakaan.


"Mungkin ini semua teguran untuk Wulan Bi, dia itu terlalu jahat jadi orang. "


Bi Sitipun tadi berpikir sama seperti Daniel," mudah mudahan setelah kejadian ini, Nyonya Wulan sadar. "


Alenta yang tak bisa berbuat apa apa, hanya bisa mendoakan menantunya yang terbaik.


Bi Siti kini bertanya tentang ke adaan bayi Sarla. " Tuan, bagaiman keadaan bayi anda. Apa bayi mungil itu sekarang baik baik saja. "


"Tuan, kenapa?"


Ita memberi kode, dimana jari tangannya ia tempelkan pada bibir tipisnya. Berharap jika Bi Siti tak bertanya lagi.


***********


Suster dan dokter keluar dari dalam ruangan Wulan. Bi Siti yang terlihat begitu sangat menghuatirkan Wulan kini bertanya. " Bagaimana keadaan Pasien Wulan dok. "


Dokter itu tersenyum dan menenangkan Bi Siti, " Anda tenang saja, pasien masih bisa kita selamatkan. Untung saja kalian membawa pasien tepat waktu, sampai kita bisa menangani dan membuat pasien sadar kembali. "


"Sykurlah."


Bi Siti melepaskan kekuatirannya, ia merasa tenang jika Wulan kini baik baik saja.


*******


Di dalam ruangan, Sarla berdua dengan bayi mungilnya, ia perlahan menangis. Mengigat tamparan dari tangan mantan suaminya itu.

__ADS_1


Gunawan datang mengetuk pintu, dimana lelaki tua itu masuk dan berkata, " Sarla. "


"Papah."


Melangkahkan kaki mendekat dan bertanya, " bagaimana keadaan cucu papah?"


Pertanyaan Gunawan membuat Sarla tersenyum lebar." keadaan cucu papah sekarang baik baik saja. "


"Sykurlah."


Gunawan menatap bahagia bayi Sarla, dimana ia bertanya, " apa kamu sudah memberi nama bayi mungil ini?"


Pertanyaan sang papah, membuat Sarla sadar jika ia belum memberi nama bayi mungilnya dan juga Daniel tidak mengatakan apapun.


"Daniel. Bukannya dia yang harus memberi nama bayi Sarla, pah, dan lagi Sarla tidak berhak memberi nama ini karena hak asuhnya masih berada ditangan Daniel. "


Sarla merasa tak tega melihat bayi mungilnya ini belum diberi nama, karena Daniel masih dalam masalah.


Gunawan mengusap pelan bahu anaknya, Ya berusaha menasehati Sarla, " kasihan jika bayi kamu belum mempunyai nama. Dari pada menunggu lama Daniel memberikan nama pada bayi kamu ini, sebaiknya kamu berikan saja nama sesuai yang kamu inginkan untuk bayi yang sudah susah payah kamu lahirkan ini."


Apa yang dikatakan oleh sang papa, membuat Sarla terlihat memikirkan satu nama untuk bayi mungilnya ini.


"Baiklah, aku akan memberikan nama untuk kamu, bayi mungil. "


Gunawan tak sabar ingin mendengarkan nama yang akan di berikan oleh Sarla pada anaknya.


"Mama akan memberikan nama kamu, Rafael. "


Gunawan yang mendengar nama itu membuat dia tersenyum dan menjawab. " nama yang sangat bagus, Papa sangat setuju sekali dengan nama itu . "


" Tapi tidak dengan saya. Saya tidak setuju dengan nama yang diberikan oleh Sarla. " Terkejut dengan kedatangan Daniel yang secara tiba-tiba berada di hadapannya, bukannya lelaki itu pergi bersama ibunya. Tapi sekarang tiba-tiba sudah ada di depan mata.


"Apa maksud kamu tidak setuju dengan nama yang aku berikan pada bayi ku sendiri. Bukannya aku ini seorang ibunya, yang sudah melahirkan bayi mungil ini. Jadi aku berhak memberikan nama yang sudah aku siapkan untuk anakku sendiri. "


"Tetap saja Sarla, walaupun kamu wanita yang sudah melahirkan bayi ini, tetap saja yang berhak sepenuhnya bayi ini adalah aku sendiri."


Sarla terdiam setelah mendengar apa yang dikatakan oleh mantan suaminya itu, Gunawan yang mendengarnya terlihat murka," walaupun kamu berhak atas anak ini, tetap saja seorang ibu tidak pantas kamu jauhkan bersama anaknya."


"Maaf Pak Gunawan sebelumnya, anda sendiri yang sudah menandatangani dan menyetujui perjanjian dari awal. Aku menikah dengan Sarla anakmu sendiri, jadi setelah perceraian terjadi, sarla sudah tidak ada hak lagi atas anaknya."


Sarla menghembuskan napasnya, ia sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ia melontarkan sebuah nama untuk bayinya sendiri.

__ADS_1


"Baikalah, aku akan mengalah saat ini, sebelum aku membuat kamu masuk ke dalam penjara.'


__ADS_2