
Sarla terjebak akan ucapannya sendiri, membuat ia malu dan tak bisa membalas, " kenapa bisa dia membalikkan perkataanku. Kalau bukan karena kebangkrutan papah dan biaya berobat Lani rasanya malas sekali, harus menikah kontrak dengan dia." Gerutu Sarla dalam hati.
Pak Gunawan kini menarik tangan anaknya dan berpamitan untuk pulang. "Kami mau permisi pulang dulu ya, Pak Danie."
Daniel tersenyum kecil, membalas perkataan calon mertuanya," kenapa buru buru sekali? Kitakan belum membicarakan tanggal pernikahan."
Kedua mata Sarla semakin membulat, seakan ingin keluar dengan sendirinya. " Tanggal penikahan?"
Gadis bercadar itu, sedikit membenarkan jiblab panjangnya yang tiba tiba melorot menutupi mata, " Iya, kenapa. Terkejut, saya pastikan istri saya tahu soal pernikahan ini. Jadi kamu tenang saja."
Menelan ludah, Pak Gunawan mulai munutup mulut anaknya. "Pak Daniel, apa bisa kita bicarakan tanggal pernikahan dalam sambungan telepon saja."
"Bisa saja, cuman saya mengiginkan waktunya penempatan tanggalnya sekarang. Oh ya, untuk biaya repsepsi dan lainnya, anda tenang saja. Biar saya tanggung semuanya."
Siapa yang tak tergiur akan ucapan Daniel, apalagi Bu Dera wanita mata duitan itu, ia langsung saja menyenggol legan suaminya, mengedipkan kedua mata, meyampingkan bibirnya.
"Mama, kenapa sih. Kaya orang struk gitu," ucap Pak Gunawan, melepaskan tangan Sarla.
"Papah ini, ih. Nggak peka sekali."
Sarla melihat pemandangan itu, merasa kesal. Ia sudah tahu jika mama tiri tergiur akan tawaran Daniel.
"Sudah aku tebak, dasar matre." Gerutu Sarla dalam hati, hanya bisa meluapkan kekesalan dengan cara bersabar.
Berusaha tetap menjaga emosi agar tidak membuat diri malu sendiri.
"Kenapa tidak ke KUA saja."
Kedua mata Bu Dera membulat apalagi Pak Gunawan, lelaki tua yang memiliki perusahaan besar tidak mengadakan acara pernikahan dengan mewah rasanya itu memalukkan.
"Oh tidak bisa, Sarla mana mungkin kamu seorang gadis hanya menikah di KUA saja," timpal sang mama tiri, tak setuju akan perkataan Sarla.
Sarla tetap menampilkan rasa tenangnya, tidak berpacu emosi yang malah merusak mentalnya, " Kenapa, apa bedanya gadis dengan janda sama sama saja wanita. Nikah di KUA sama sama sah, apalagi nikahnya hanya nikah kontrak saja."
Varel yang masih berdiri tetap menguatkan hati, agar tidak ikut campur urusan sang CEO . Ia takut jabatannya sebagai asisten sirna hanya karena salah berucap.
__ADS_1
Terlihat sekali dari kedua bola mata coklat itu, menaruh rasa kesal. Daniel melirik sekilas dan berpura pura tak peduli.
"Jadi gimana Pak Gunawan?"
Daniel lebih menanyakan semua acara dan perjanjian pernikahan pada Pak Gunawan dari pada anaknya, entah kenapa. Daniel ingin sekali membuat gadis yang akan ia nikahi marah.
"Sebaiknya acaranya di meriahkan saja, walau hanya nikah kontrak!"
Balasan sang papah, membuat Sarla semakin kesal. Darah seketika naik ke atas kepala, dari balik cadar yang menutupi wajahnya, ada kemarahan tak bisa diungkapkan.
"Baiklah, jika itu keinginan anda. Oh ya, boleh saya melihat wajah anak anda yang tertutup cadar itu. Saya ingin memastikan wajahnya tidak ada jerawat atau bopeng atau bisul." ucap Daniel, bersikukuh dengan keinginannya melihat raut wajah Sarla.
"Bagaimana?" Pertanyaan kembali dilayangkan Daniel.
"Masalah itu!"
Terlihat Pak Gunawan kebingungan sendiri, ia tidak tegas dalam mengambil keputusan. Terlalu banyak berpikir.
Sarla menegaskan akan hal itu," tunggu. Masalah bopeng, atau jerawat saya tidak punya. Dan untuk mempelihatkan wajah saya, saya tidak bisa. Sebelum anda menikahi saya."
Menyebalkan bagi Sarla setelah mendengar perkataan CEO, masih ada di zaman sekarang lelaki mengurusi penyakit kulit seorang wanita.
" Percaya atau tidaknya itu terserah anda, saya sudah berkata jujur." balas Sarla, seakan giginya rontok jika terus meladeni Daniel, yang tiada henti menanyakan apakah Sarla mempunyai penyakit kulit sampai tubuhnya tertutup rapi oleh kain.
Jika Sarla membahas tentang wajibnya seorang wanita memakai baju tertutup itu tidak akan ada habisnya. Apalagi yang mendengarnya pria seperti Daniel, sampai berabda abad tahun pun ia tetap mengelak, karena sudah terbiasa melihat wanita seksi dengan baju kurang bahan.
"Baik jika kamu berkata jujur, saya akan menerimanya. Tapi jika kamu tidak berkata jujur awas saja, saya akan beri kamu sesuatu, " balas Daniel. Mempelihatkan wajah dinginnya
Sarla yang mendengar perkataan Daniel malah membuat buluk kuduk merinding, bisa bisanya ada acaman dan tatapan menyeramkan dari CEO itu.
"Jadi kapan tanggal pernikahan kita Pak Gunawan?"
"Baiklah saya dan istri baru saja berunding, tanggal pernikahan akhir bulan ini saja agar, Sarla bisa mempersiapkan dirinya!"
"Masih ada waktu dua minggu untuk kesembuhan kepalanya saya. "
__ADS_1
Daniel menatap sinis ke arah Sarla, terlihat Sarla mendelik kesal dan malas sekali membahas akan pernikahan, yang ujungnya tidak dibatalkan sama sekali.
Daniel begitu isengnya bertanya pada Sarla." Apa kamu setuju dengan tanggal itu, Sarla."
Mendengar nama Sarla di sebut oleh Daniel, malah membuatnya enek, ingin sekali memuntahkan isi dalam perutnya.
Baru kali ini Sarla bisa kesal dengan sosok seorang lalaki, yang akan menjadi suaminya.
Sarla mencoba tetap mempelihatkan harga dirinya sebagai wanita." Ya saya setuju, asalnya istri anda tahu pernikahan ini."
"Oke."
Varel dari tadi berdiri, kini menyandarkan punggung pada dinding. Kedua lututnya terasa lemas karena dari tadi berdiri, hatinya terasa remuk dan terbelah, pernikahan itu terjadi.
Padahal dari tadi Varel menunggu keajaiban sang ilahi, akan pebatalan pernikahan keduanya. Namun siapa sangka semua berakhir menyedihkan untuk Varel.
"Nasib ya nasib, cinta pada pandangan pertama sudah menjadi milik CEO Daniel. Hah, bagaimana bisa aku mengalahkan dia, jelas jelas aku hanya rempenyek raginang yang mekar dan jika di injak akan berhamburan kemana mana. " Garutu hati Varel, terlihat pasrah dengan semua keadaan.
Keluarga Sarla mulai keluar dari ruangan Daniel, begitupun dengan Varel.
Sarla kini berjalan bersejajar dengan Varel, dimana Varel memulai obrolan.
"Saya kira kamu mengiginkan pernikahan ini, ternyata karena keterpaksaan kedua orang tua."
Deg .... Sarla mendengar ucapan Varel kini berhenti sejenak, ia masih dalam posisi kedua mata menunduk.
"Hem, memangnya kamu anggap wanita berhijab itu seperti apa, sampai berpikir seperti itu."
"Ehh, bukan begitu maksud saya."
"Sudahlah semua lelaki sama saja." Sarla mulai melangkahkan kakinya lebih cepat, ia sudah malas mendengar omong kosong semua lelaki yang menganggap wanita berhijab seperti Sarla adalah wanita aneh.
"Sarla, bukan saya bermaksud seperti itu, kamu salah paham. " Teriak Varel, dimana Sarla mengabaikan teriakannya, tak mempedulikan asisten sang CEO yang berniat baik kepadanya.
Bagaimana perjalanan Sarla?
__ADS_1