
"Bu Alenta."
Bi Siti tanpak syok, ia takut jika perdebatan kedua sepasang istri yang berada di dalam ruangan terdengar oleh Alenta. Apalagi membahas bayi dalam kandungan Wulan.
"Kenapa kalian berada di depan pintu, minggir. Saya mau masuk," ucap Alenta, menatap kearah Varel dan Bi Siti.
"An-u, Nyonya, " balas Bi Siti tampak ragu menahan Alenta sang manjikan rumahnya.
Varel tak mempedulikan Alenta, ia menatap ke arah Sarla yang berdiri dibelakang Ibunda Daniel, kedua mata yang menunduk, kerudung menutupi rambut dan baju syar'i. Tentulah membuat kedua mata Varel selalu terpesona, setelah mendengar kabar jika Wulan hamil, apa ada kesempatan untuk Varel mendekati Sarla. Wanita lugu yang begitu terlihat mempesona dihadapannya.
" Varel, kamu kenapa?Senyum senyum sendiri."
Alenta memukul asisten anaknya itu, dimana Varel menudukkan wajah diam dan kini membuka pintu ruangan Wulan.
Wulan terbaring di atas kasur, sedangkan Daniel berdiri menatap penuh kekecewaan pada istrinya.
"Wulan." Mendengar suara sang Ibunda Daniel terkejut, ia menatap ke arah wanita tua itu.
"Ibu datang ke sini? Bukanya Daniel sudah larang ibu! "
Alenta tak memperdulikan anaknya yang terus berbicara, ia kini mendekat ke arah Wulan. Memegang kedua pipi menantunya," Wulan, Ibu nggak menyangka, kamu hamil. Maafin ibu ya, selalu mengatai perkataan kasar kepada kamu."
Ketika Wulan hamil, perubahan ibu mertua begitu drastis berubah menjadi sosok wanita baik dan lembut. Wulan yang biasanya selalu tak diperdulikan, kini seperti mendapat kepedulian begitu istimewa dari sang mertua.
Daniel bingung, harus berkata apa? ia hanya bisa diam. Melihat pemandangan sang ibunda yang terlihat senang. Sudah lama ibundanya itu menantikan seorang cucu, tapi apa daya Wulan begitu keras kepala tak ingin memiliki seorang anak dan sekalinya memiliki seorang anak bukan darah daging Daniel.
"Wulan, untung saja kamu tidak kenapa kenapa, dan bayi kamu selamat."
Wulan tersenyum penuh bahagia, seperti inilah yang ia inginkan. " Iya bu."
Daniel kini meninggalkan ruangan, terlihat ia amat kesal, dan tak bisa mengatakan kejujuran yang sebenarnya.
"Daniel." Wulan mencegah Daniel pergi dari ruanganya.
"Wulan, kamu jangan terlalu memikirkan Daniel, dia emang begitu." Alenta berusaha menenangkan menantu pertamanya, ia tak mengerti dengan perubahan anaknya yang tiba tiba saja berubah, setelah Alenta hamil.
Sarla hanya berdiam diri di luar bersama Bi Siti dan juga Varel, dimana sosok pembantu tua itu berkata," siap-siap saja kamu dicerai."
Deg ....
Mengerutkan dahi, mendengar wanita tua itu berkata sedemikian, tentulah membuat Sarla tesenyum dibalik cadarnya.
__ADS_1
"Memangnya kalau aku di cerai kenapa?"
Wanita tua itu tak mengerti dengan perkataan Sarla, istri kedua majikannya bukanya marah tapi terlihat senang.
"Kalau belum tahu masalahnya, jangan suka ikut campur dan mengatai orang."
Perkataan Sarla, mampu membuat Bi Siti tediam, entah apa yang ada dipikiran wanita bercadar itu sampai Bi Siti tak menyangka akan jawaban Sarla.
"Wah, saya kira anda akan menangis?"
Pertanyaan yang membuat Sarla tertawa," menangis. Untuk apa?"
"Sudahlah jangan munafik, dibalik cadarmu itu. Hatimu pastinya dipenuhi kebusukan!"
"Apa saya tidak salah dengar dengan penilaian anda, jika anda menilai saya seperti itu, saya hanya berterimakasih sekali."
"Idih, dikatain bangga, dasar pelakor. "
Sarla hanya bisa menghelap napas, dan tersenyum lebar, ia tak peduli dengan penilaian orang kepadanya.
Daniel kini keluar dari ruangan Wulan, melihat Sarla, meraih tangan wanita itu dan membawanya pergi. Varel terkejut akan sikap Daniel, ia tak mengerti.
Sarla dibawa ke dalam mobil, dimana Wanita itu berkata," Kenapa anda malah menarik tangan saya, bukannya ada ibu dan istri anda."
Daniel tak bersuara, ia diam. Menyalakan mobil membawa pergi Sarla, "Anda mau bawa saya kemana?"
Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, Sarla berkata." Stoppp."
Mengerem mendadak, tentu membuat jantung Sarla tak beraturan. Takut dan cemas, " Kenapa anda melakukan semua ini, anda ingin membunuh saya."
Daniel seperti sengaja melampiaskan kekesalannya dihadapan Sarla, ingin melihat jika wanita itu peduli padanya atau tidak.
Berhenti di pinggir jalan sepi, Daniel kini berteriak, membuat Sarla terkejut akan reaksi sang Ceo. Memukul mukulkan kepala pada stir mobil, Sarla menatap dalam dalam suaminya.
"Anda menangis?"
Siapa yang menduga, jika Sarla akan melihat pemandangan itu, tetesan air mata mengalir keluar dari sudut mata sang CEO.
"Ahkkkk." Teriakan dilayangkan Daniel, Sarla mencoba memegang kepala sang suami, mengusap pelahan dan berkata." kenapa anda menangis."
Sifat dingin dan wajah jutek Daniel, tidak ada yang akan mengira jika dia juga mempunyai sisi lemah, tangan kekar sang CEO meraih tubuh Sarla, memeluk erat tubuh istri keduanya.
__ADS_1
"Izinkan aku seperti ini sebentar saja."
"Baik."
Sarla mengizinkan sang suami memeluk erat tubuhnya, tanpa alasan yang pasti dan tak jelas.
"Kontrak pernikahan kita sudah selesai bukan, anda sudah mendapatkan seorang anak dari istri anda sendiri, jadi tak usah susah payah harus mendapatkan keturunan dari saya."
Mendengar hal itu, Daniel melepaskan tubuhnya pada pelukan Sarla, ia mengendari mobil tanpa berkata satu patah katapun.
Mengendari mobil, Daniel tak menjawab perkataan Sarla sedikit pun. " kenapa anda diam saja tuan, padahal saya bertanya pada anda?"
Daniel tak suka dengan pertanyaan Sarla, ia malah diam seribu bahasa, mengendari mobil pergi kesebuah tempat.
"Kenapa anda membawa saya ke hotel?"
Sarla tak mengeri dengan pikiran Daniel, bukanyan berbahagia mendapatkan seorang anak dari istri pertamanya, dia malah membawa Sarla kesebuah hotel.
Membuka pintu mobil, Daniel menarik tangan istrinya. " Lepaskan. "
Daniel tak mempedulikan teriakan istrinya ia terus membawa Sarla, masuk ke dalam hotel.
Sarla berguman dalam hati," Dasar aneh. Ngapain dia bawa aku ke sini."
Daniel langsung memesan kamar hotel untuk ia tempati bersama Sarla. Sarla berusaha melawan, melepaskan tangan Daniel.
"Lepaskan tangan saya. Kalau tidak saya akan berteriak. "
Daniel memeluk tubuh istrinya mensucikan suatu perkataan," Jika kamu memang ingin berteriak, teriaklah sekarang juga, biar nanti orang-orang di sini akan menganggap kamu gila."
Sarla berdecak kesal, ia berusaha tetap tenang, setelah mendapat bisikan yang membuat dirinya ketakutan.
"Kamu tahu tidak, sala satu penghilang rasa pusing itu bermain di atas ranjang tempat tidur. "
Deg ....
Mendengar perkataan Daniel membuat jantung dan wajah Sarla ketakutan, bukannya baru kemarin Daniel melakukan hal itu kepada Sarla, dan lagi rasa sakit pada daerah sensitifnya masih terasa.
Daniel melepaskan jas yang masih ia kenakan, meleparkan jauh hingga suara teriakan Sarla dilayangkan.
"Ahkkkk."
__ADS_1