
Pertemuan Sarla dan Wulan malah menjadikan sebuah perdebatan di antara mereka berdua, apalagi dengan Wulan yang terus memancing-mancing Sarla untuk kesal dan memarahinya.
"Kenapa? kedatanganmu malah membuat Kepalaku pusing?"
Sarla kini memijit kepalanya, merasakan rasa pusing yang semakin menjadi-jadi, ia mendekat ke arah Wulan, menarik tangan Wulan membuka pintu dan mengeluarkannya begitu saja.
" Jika kedatanganmu hanya membuat Kepalaku pusing, sebaiknya kamu pulang saja aku malas meladeni orang yang selalu memancing-mancing perdebatan dan tidak punya sopan santun ketika datang ke rumah orang." Sarla langsung mengusir Wulan begitu saja, di mana wanita yang tengah hamil itu memukul-mukul pintu rumah.
"Alah, ngomong saja kamu takut denganku dan tak berani melawanku."
Sarla yang mendengar teriakan Wulan, menggelengkan kepala sembari memijit mijit jidatnya, " bisa-bisanya aku berhadapan dengan wanita itu?"
Menarik napas, berusaha untuk tetap tenang, mengeluarkan secara perlahan. " Sarla, buka pintunya kalau kamu memang tidak ada niat merebut suamiku. "
Padahal Sarla sudah menjelaskan semuanya apa adanya, kepada Wulan istri pertama Daniel, tapi penjelasannya itu malah dianggap remeh, Wulan malah menghina Sarla dan mengatai Sarla sebagai pelakor.
Sarla menelepon satpam di rumahnya untuk segera mengusir Wulan dari depan rumah, " halo nyonya?"
"Pak, Tolong segera usir wanita tadi yang datang ke rumah. "
"Baik, Nyonya."
Sarla mulai menutup panggilan telepon, ia kembali merebahkan tubuhnya, untuk segera mengerjakan tugas kuliahnya.
"Kenapa dijaman sekarang ada model cewek ke tadi, ahk. Pusingg." Sarla meluapkan kekesalannya, di mana Daniel ternyata tertawa.
Tanpa Sarla sadari suaminya tengah memandangi Sarla dari rekaman cctv yang terhubung dengan leptotnya.
" Aku tanya menyangka jika Wulan dengan nekatnya datang ke rumah sarla, lihat saja nanti akan ku beri dia pelajaran."
Daniel menutup laptopnya lalu mengerjakan pekerjaan yang semakin hari semakin menumpuk," tidak ada apa pekerjaan menyenangkan dalam hidup ini, semakin hari pekerjaanku semakin sibuk, hingga aku tidak bisa mengontrol kedua istri-istriku."
...****************...
Wulan yang baru saja pulang dari rumah sarla Kini menggerutu kesal di dalam mobil, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, mengingat perkataan yang terlontar dari mulut madunya.
"Bisa bisanya, Daniel menikahi wanita seperti dia, apa tidak ada wanita lain lagi apa?"
__ADS_1
Mobil Wulan kini mengerem mendadak, ia melihat Angga menghentikan mobilnya secara tiba-tiba, " apa, itukan Angga, ngapain dia ada di tengah jalan."
Sarla mulai keluar dari dalam mobilnya untuk segera menghampiri Angga, " Angga, kamu."
Tepuk tangan dilayangkan oleh lelaki yang menjadi selingkuhan yaitu, dimana Angga memegang dagu Wulan dan berkata," Apa Kabarmu Sayang?"
Wulan menghempaskan tangan Angga, " Jangan pernah sentuh aku. Karena kamu bukan siapa-siapa aku lagi. "
"Aw, aw, kenapa harus seperti itu sayang."
Angga malah sengaja memegang pipi Sarla dengan penuh kemesraan, dimana ia tersenyum senang dan juga tertawa.
" Aku sudah ingatkan kamu. Jangan pernah menyentuhku lagi. "
Angga malah semakin sengaja, ia kini memegang perut wulan." Kenapa kamu malah melarangku untuk memegang perutmu ini apalagi pipi manismu ini sayang, kamu tahu sendirikan aku ayah dari anak ini."
"Cukup. Aku tak suka jika kamu mengakui anak ini, sebaiknya sekarang juga. Kamu pergi dari hadapanku, cepat." Wulan mengusir Angga secara terang-terangan, ia tak mau jika ada yang melihatnya saat bersama Angga.
Lelaki berotot itu kini memegang tangan Wulan, lalu mencium punggung tangannya dan berkata. "Baiklah aku akan, pergi tolong jaga anak kita. "
Angga kini menghindar dari amukan Wulan, Iya bergegas pergi menaiki mobilnya, lalu melambaikan tangan, memberi kode bahwa dia akan datang lagi di hadapan Wulan jika waktunya sudah tiba.
"Tunggu aku sayang, aku akan datang lagi menjemputmu setelah anak itu lahir. "
Wulan Memegang perutnya berusaha melindungi diri dari ancaman Angga, ia tak mau jika berakhir sia sia ditangan bekas selingkuhannya.
Ponsel berbunyi, membuat Wulan terkejut, terburu-buru masuk ke dalam mobil untuk mengecek panggilan telepon.
Daniel ternyata menghubungi Wulan," tumben sekali Daniel menghubungi, biasanya aku yang selalu mulai duluan untuk menghubungi dirinya."
Wulan perlahan menenangkan dirinya, sebelum mengangkat panggilan telepon dari Daniel, sebenarnya ia malas sekali mengobrol dengan suaminya itu.
"Halo,"
"Halo, Wulan, Kamu ada di mana sekarang?"
Nada bicara Daniel terdengar sedikit jutek. Membuat Wulan enggan menjawab perkataannya.
__ADS_1
"Halo, Wulan."
wanita yang menjadi istri pertama Daniel kini mematikan panggilan telepon.
Membiarkan ponsel terus menyala, " palingan kamu menanyakan aku yang sengaja pergi ke rumah Sarla. "
Wulan sudah menyadari. Jika di rumah Sarla banyak terpasang CCTV, makanya ia males jika Daniel menelponnya, apalagi sampai bertanya kenapa dirinya bisa pergi ke rumah Sarla.
( Kenapa kamu mematikan panggilan teleponku? cepat angkat panggilan teleponku sekarang juga. Ada yang ingin aku bicarakan kepada kamu Wulan. )
Wulan benar-benar mengabaikan pesan dari Daniel, apalagi panggilan telepon darinya.
Ia sudah tidak mau ambil pusing masalah tentang sarla, yang ternyata wanita itu bukanlah wanita sembarangan yang bisa dikalahkan oleh Wulan.
( balas pesanku sekarang juga.)
Beberapa kali hanya menatap dan membaca sekilas, kini Bi Siti langsung menelepon Wulan.
"Halo, bi. "
"Halo nyonya, ada dimana? Bibi khawatir sekali dengan keadaan, apa Nyonya di sana baik-baik saja?"
Wulan merasa senang jika pembantunya itu selalu peduli dengan keadaannya saat ini, merasa tak sendirian Wulan pada akhirnya menjawab, " Wulan baik-baik saja Bi, bibi jangan mengkhawatirkan Wulan ya."
"Iya, non. Bibi rasanya tak tenang jika Nyonya Wulan pergi sendirian apalagi dalam keadaan sedang hamil. "
Bi Siti dari dulu selalu perhatian terhadap Wulan, seperti orang tua Wulan sendiri.
" Terima kasih ya Bi sudah mengkhawatirkan Wulan. "
"Sama sama Nyonya. "
Panggilan telepon pun kini dimatikan sebelah pihak, Wulan mulai melajukan mobilnya untuk segera pulang ke rumah.
Perasaannya sedikit bernapas lega, Wulan terlihat tidak bersedih lagi karena Bi Siti begitu peduli padanya.
" jika tidak ada Bi Siti. Entahlah bagaimana kehidupanku selanjutnya, kemungkinan besar aku akan bunuh diri saat itu juga, karena Daniel benar-benar tak menerima anak dalam kandunganku ini. Apalagi sekarang dia tidak mau menceraikanku terlebih lagi Sarla juga seperti itu, jika aku menggugat bukanlah kesenangan yang aku dapatkan, yang ada kesengsaraan karena Daniel bukanlah lelaki sembarangan yang bisa melepaskan wanitanya begitu saja. Aku menyesal karena telah berselingkuh dengan Angga, andai saja dulu aku sadar akan kesalahanku sendiri bahwa berselingkuh itu bukanlah cara yang baik untuk menghilangkan kekesalan dan rasa jenuh dalam diri."
__ADS_1