Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 55


__ADS_3

(Kamu tenang saja, ibu akan kasih tahu dia.) balas Alenta, berpura pura peduli padahal ia sudah tahu semuanya.


Wulan tanpa tersenyum bahagia setelah ia mengadu kepada mertuanya, karena ia tahu sang mertua tidak tahu perselingkuhannya. Maka dari itu, ia mencari kesempatan lewat mengadu domba antara mertua dan juga madunya.


"Berhasil, mungkin dengan cara ini, aku bisa mendapatkan lagi perhatian dari Daniel."


"Nyonya, kelihatan bahagia sekali?"


"Tentu saya bahagia sekali! Saya akan berusaha mengambil Daniel kepelukan saya lagi!"


Bi Siti tampak senang dengan perkataan sang Nyonya, " Syukurlah jika Nyonya sudah kembali ceria, saya begitu senang melihat kecerian anda."


"Terima kasih ya, bi. Memang bibi orang yang terbaik saat saya tengah kesulitan."


Mereka kini tertawa bersama, merasakan indahnya kebersamaan walau sebagai majikan dan juga pembantu.


Alenta kini mengirim pesan pada Daniel.


(Daniel, apa kamu pergi meninggalkan Wulan di rumah sakit?")


Pesan terkirim dimana Daniel membuka pesan datang dari sang ibunda, ia menggenggam erat ponselnya, kesal akan pernyataan Alenta.


"Wulan, pasti mengadu pada ibu," gerutu Daniel terlihat kesal dengan pesan yang dibacanya.


Suara panggilan telepon dari sang ibunda, dimana wanita tua itu menelepon. " Ada apa, bu!"


"Kenapa kamu lama sekali membalas pesan dari ibu?" tanya Alenta dalam sambungan telepon.


"Mm, aku sibuk bu!" jawab Daniel terdengar cetus.


"Kenapa kamu tidak ceraikan Sarla? Bukannya sekarang Wulan sedang mengandung anak kamu?" tanya sang ibunda, membuat Daniel geram, ia paling malas jika membahas tetang perceraian, apalagi membahas tentang Sarla.


"Sudahlah, ibu jangan terlalu ikut campur dalam masalahku!" balas Daniel kesal, ia kini mematikkan panggilan teleponnya.


(Ibu sudah tahu semuanya.)


Kedua mata membulat setelah membaca pesan dari Alenta. (Maksud ibu.)


(Kamu ragu akan anak yang dikandung Wulan? Karena dia sudah berselingkuh dengan laki laki lain.)


Deg ....


Padahal Daniel berusaha menyebunyikan rahadia itu, rapat rapat. Namun pada kenyataanya, rahasia itu diketahui juga oleh sang ibunda.


(Ibu bisa tahu?)

__ADS_1


(Jangan tanya kenapa ibu bisa tahu hal ini, ketika Kalian sedang mengobrol di rumah sakit.


Ibu tak sengaja mendengarkan obrolan kalian berdua, dimana kalian membahas tentang seorang anak yang kini tengah dikandung Wulan.)


(Jadi ibu tidak syok mendengar hal itu, padahal Daniel berusaha menutupi semuanya, karena Daniel takut penyakit jantung Ibu kambuh lagi setelah mendengar kenyataan yang begitu pahit yang diberikan Wulan kepadaku.)


(Tidak Daniel, Ibu tidak merasa syok, Ibu tidak mau menuntut kamu lagi untuk memiliki seorang anak cepat cepat. Maafin ibu Daniel.)


(Ibu tidak salah, Daniel terlalu egois, tak bisa membuat ibu bahagia.)


(Daniel, kenapa kamu berbicara seperti itu, ibu bahagia kok sekarang, karena kamu sudah menjadi sosok lelaki dewasa.)


Kedua pipi Daniel, memerah setelah mendengar pujian dari sang ibunda, ia tersenyum senang, sekarang tak ada rasa kekuatiran yang harus ia takutkan, semua sudah jelas.


(Apa kamu akan menceraikan, Wulan?)


(Entahlah bu, menceraikan seorang wanita yang Daniel cintai terasa berat sekali, walaupun Wulan menyakiti Daniel, hati Daniel begitu berat kepada wulan.)


(Ibu tahu kamu mencintai Wulan apa adanya, tapi kenapa kamu tidak mau menerima anak dalam kandungan Wulan?)


(Daniel mencoba menerima anak itu, tapi setiap kali Daniel ingin memegang perut Wulan, seakan bayangan rasa sakit itu terbayang dalam pikiran Daniel, apalagi melihat video tak pantas yang Daniel lihat.)


(Alangkah baiknya, kamu harus menerima anak itu.)


(Daniel akan berusaha.)


Ketika membahas nama Sarla, membuat Daniel selalu terbayang akan wajah manisnya.


(Ibu tahu sendirikan, Sarla adalah wanita tegas, jadi Daniel hanya bisa menikahi dia sampai kontrak selesai.)


(Apa semua itu tidak akan menyakiti hatimu, ibu melihat kamu ada rasa pada Sarla. Walau pun awalnya kamu terlihat main main, tapi makin ke sini, kamu semakin nyaman dengan Sarla.)


Seorang ibu pasti akan tahu apa yang anaknya rasakan saat ini, dimana Daniel terdiam, berpikir sejenak.


(Apa pernikahan kontrak itu bisa dibatalkan, jadi kamu menikah dengan Sarla tanpa unsur keinginan.)


(Bisa saja, bu. Bagaimana pihak dari Sarla, apa mau meneruskan atau tidak.)


(Jadi kamu tidak punya wewenang lagi?)


(Tidak bu, karena semua sudah ditanda tangan rapi dalam berkas dan disetujui kedua belah pihak.)


(Ibu padahal berharap sekali, kamu bisa menikah lama dengan Sarla, bukan karena perjanjian kontrak.)


(Tak ada harapan dengan hal itu bu, ibu tahu sendirikan aku menikahi Sarla karena awal keterpaksaan, jikapun aku menikahi dia tanpa keterpaksaan dia pasti akan menolakku mentah mentah. Mana ada wanita terhormat menikahi pria beristri.)

__ADS_1


(Apa yang kamu katakan benar, Sarla pasti sudah menolakmu mentah mentah. Padahal ibu suka sekali dengan Sarla. )


(Sudahlah bu, jangan bahas Sarla. Dia tak mungkin mencintaiku,)


(Tapi jika berharap, ada kemungkinan dia mencintaimu Daniel.)


(Kemungkinan, ya masih jauh dari kata iya.)


Begitulah percakapan antara anak dan ibu, begitu hangat, tak ada perbedaan pendapat, keduanya saling memahami satu sama lain.


Alenta bahagia, dengan anak semata wayangnya, yang selalu meminta pendapat kepadanya, seakan ia ibu yang paling beruntung, karena sudah jarang sekali komunikasi yang hangat antara ibu dan anak dijaman sekarang.


Menatap ke arah poto, dimana ada sosok lelaki yang sudah pergi jauh meninggalkannya.


"Terima kasih, kamu sudah menitipkan seorang anak yang begitu menganggap jika ibunya begitu penting dan berharga."


(Bu, malam ini. Sarla mau menginap di rumah ibu.) Pesan dari Sarla yang selalu membuat hatinya tenang.


(Ya sudah ibu tunggu kamu pulang kuliah ya.)


(Iya bu.)


Pertama kali bertemu dengan Sarla, Alenta begitu nyaman, sikap lugu dan sopanya membuat ia seakan dihargai sebagai orang tua.


Tak ada keluhan selama menikah dengan Daniel, Sarla selalu mempelihatkan senyuman manisnya.


Jujur saja dalam hati yang paling dalam, Alenta akan memilih Sarla menjadi pendamping hidup anaknya selama lamanya.


Namun, semua itu tak mungkin, karena posisi Wulan bagaimana pun tak akan tegantikan dihati Daniel.


Terkadang Alenta berpikir, kenapa anaknya begitu bucin terhadap Wulan yang jelas jelas tak memperlihatkan pribadi yang baik dan tingkah barbar.


Serta rasa hormat dan menghargai orang tua dan orang lain begitu kurang sekali.


Apa mungkin ini namanya musibah untuk Daniel, Alenta terkadang ingin memisahkan Wulan dan Daniel, namun itu tak mungkin, sama saja ia berbuat keji kepada sesama wanita.


Menarik napas, menaruh kebali poto almarhum suaminya.


(Bu, mau Sarla bawakan apa?)


Sebuah tawaran dari sang menantu, membuat Alenta tersenyum senang, ia seakan diperhatikan dengan penuh kasih sayang oleh Sarla.


(Tak usah.)


(Nggak papa bu.)

__ADS_1


(Ibu bingung, Sarla. Kamu saja yang pilihkan untuk ibu.)


(Baiklah, hati hati ya nak.)


__ADS_2