Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 73 Jambakan rambut.


__ADS_3

"Tasya, kenapa kamu malah keluar dari kamar adikmu?" pertanyaan sang ibunda mengagetkan Tasya saat itu, terlihat wajah gugupnya ia perlihatkan di depan sang ibunda.


Mana mungkin Tasya akan menjelekkan adiknya di depan sang ibunda, " kebetulan di kamar Natasha kurang nyaman Bu, gimana kalau Tasya tidur di kamar Ibu saja!"


" Ide yang bagus juga, kebetulan Ibu juga ingin punya teman ngobrol malam ini," ucapkan ibunda kepada anaknya.


" Wah benar begitu Bu, cocok dengan Tasya. Tasya juga butuh teman mengobrol nih malam ini."


"Ya sudah ayo."


Sang ibunda mulai merangkul bahu anak pertamanya, membawa Tasya masuk ke dalam kamar untuk tidur bersama.


Sedangkan Natasha yang sudah berhasil mengusir kakaknya. Masih memikirkan cara untuk bisa dekat lagi dengan sarla," aku harus mencari ide."


Semalaman Natasha tidak bisa tidur, karena memikirkan ucapan Rafa, di mana Iya harus bisa mengambil hati sahabatnya yang sudah ia kecewakan.


" Bagaimana aku bisa mengambil hati Sarla sedangkan dia sudah tidak menganggapku sebagai sahabat, semua ini gara-gara kembaranku."


karena terus memikirkan perkataan Rafa, pada akhirnya Sarla mulai melebahkan tubuhnya, di mana ia benar-benar tak bisa terlelap untuk segera tidur, pikirannya kacau perasaannya sudah tak karuan.


Antara mengirim pesan atau tidak kepada sahabatnya itu." bagaimana ini."


Tasya yang sekarang tidur bersama ibunya, mengirim pesan kepada kembarannya, ( aku tahu pasti kamu telah memikirkan sahabatmu itu kan.)


Menggenggam erat ponsel setelah membaca, pesan dari Kakaknya sendiri," Kenapa dia selalu tahu apa yang aku rasakan."


( Adikku sayang. Sudahlah kamu tak usah munafik di belakangku, sebagai kembaranmu aku pastinya tahu perasaan yang kamu rasakan saat ini.)


Menggigit jari jemari, di mana Natasha tetap tak menerima jika Tasya mengetahui isi hatinya,


( Jangan sok jadi peramal kamu Ini Tasya, aku tetap tidak suka dengan kamu.)


Tasya memaklumi balasan pesan dari adiknya itu, karena ia tahu kesalahan kemarin, pastinya membuat rasa kesal masih menumpuk pada hati adiknya itu.


Apalagi Tasya Sudah berani memecah belahkan hubungan antara Rafa dan juga Natasha.


( Terserah kamu. Jika kamu memang tidak suka denganku, tetap saja aku akan menghalangi niat jahat kamu kepada orang lain.)

__ADS_1


Balasan yang semakin membuat Natasha murka, ingin sekali ia melempar ponselnya saat itu juga, namun apa daya, hanya ponsel satu-satunya yang bisa membuat perasaan Natasha sedikit tenang.


Natasha berusaha untuk tidur tidak membalas pesan dari kakaknya sendiri, ia berusaha melupakan amarahnya kepada Tasya, agar tidurnya malam ini sangatlah nyenyak.


karena besok akan ada rencana yang sudah ia susun, ia berharap jika sarla datang kuliah pada besok hari.


Menarik selimut menutup seluruh tubuhnya, saat itulah Natasha mulai terlelap tidur dengan mengeluarkan dengkuran suara keras.


Ia terlihat begitu kelelahan, karena terus-menerus mengatur emosi.


Tasya yang kini berada di samping sang ibunda, mulai merebahkan tubuh untuk segera tidur, karena esok akan ada sesuatu yang menarik untuk dirinya.


Iya tahu jika adiknya akan melakukan hal jahat lagi kepada Sarla, agar bisa mendapatkan Rafa.


*******


Natasha kini terbangun dengan kedua bola mata yang begitu memerah, raut wajah yang berantakan, bawah mata menghitam seperti panda, ia berusaha bangkit dari tempat tidur. Untuk menjalankan rutinitasnya.


Badan terasa lemas, tidak ada gairah hidup dalam diri Natasha saat itu, pikirannya nampak berantakan, karena semalaman terus memikirkan rencana yang akan ia susun untuk bisa dekat dengan Sarla lagi.


Natasha mulai menatap ke arah cermin di kamar mandinya," wajahku benar-benar berantakan sekali."


"Kamu Tasya, cepat sana pergi ngapain kamu ada di kamarku?" pertanyaan dan juga bentakan Natasha ya lontarkan kepada kakaknya.


Tasya malam tertawa dengan bentakan itu, terlihat sekali ia malah memajukan kedua bibirnya," aku suruh pergi, pergi dari sini."


Telunjuk tangan Natasha mengarah ke arah pintu, memberi kode keras kepada kakaknya untuk segera keluar dari kamar.


Dengan napas tak beraturan, dada naik turun, melihat Tasya masih santai santainya," cepat keluar dari sini."


Tasha benar-benar tak memperdulikan perkataan adiknya itu, ia malah mengambil lipstik dan juga bedak yang selalu dipakai sama adik, memoleskan pada wajahnya sendiri, dengan rasa kesal yang menggebu dan tak bisa terkendali lagi.


Pada akhirnya Natasha menarik make up yang dipegang oleh kakaknya.


" Ini milikku kamu jangan sembarangan memakai hak milik orang lain. Dasar kakak tidak punya adab. " Hardik Natasha.


"Adikku sayang dan manis, kamu kan pakai cadar, ngapain coba pakai alat make up seperti ini, tetap saja tidak akan terlihat oleh orang lain."

__ADS_1


Tasya Mulai mengambil kembali make up yang dipegang oleh adiknya," itu bukan urusan kamu."


Natasha kini mencubit adiknya yang tidak memakai cadar itu," kamu memang adikku yang lucu Natasha."


Semakin geram dengan perkataan Tasya, Natasha mulai menarik tangan sang kakak, menjambak rambut panjangnya itu. " Rasakan ini, dasar kakak tidak tahu. "


"Aw, sakit."


"Sakit, nih rasakan?"


Semakin rasa sakit itu semakin membuat Tasya meronta ronta berusaha menyelamatkan dirinya dari cengkraman sang adik.


"Kamu ternyata pandai juga menyakiti orangnya," ucap Tasya mulai menjambak kembali rambut panjang adiknya yang masih terurai setelah mandi.


"Ahk."


Pertarungan mereka terus menerus dilakukan, tanpa ada pemisah." berulang kali aku sudah peringatkan kamu, jangan pernah datang lagi ke kamarku. Tapi kenapa kamu malah ngeyel dan kini merusak alat make up ku."


"What, sejak kapan aku merusak alat make up mu itu. Jelas kamu yang menjatuhkannya sendiri."


Natasha semakin menarik rambut panjang kakaknya itu, hingga Tasya meringis kesakitan, " nih, rasakan bagaimana enakan?"


"Kurang ajar kamu," Tasya kini semakin kasar saat menjambak rambut adiknya.


"Gimana sakit. "


Sepertinya Natasha juga ikut kesakitan, saatnya jambakan kuat dilayangkan oleh Tasya.


" Aku tidak akan kalah dengan jambakanmu itu." Natasha ternyata menantang kakaknya, untuk saling bertahan dengan jambakan rambut dari tangan mereka.


" Yang benar kamu tidak akan kalah dengan jambakanku ini." Tasya semakin meremas rambut adiknya itu, hingga di mana suara langkah kaki ibunya datang ke kamar sang adik, Tasya mulai berdrama seakan dirinya yang tersakiti.


Tasya melepaskan tangannya dari rambut yang baru saja ia jambak, di mana ya berpura-pura berteriak kesakitan," baru segitu kamu sudah lemah."


Pintu terbuka sang Ibu langsung murka kepada Natasha, " Natasha Sedang apa kamu?"


Tasya mengeraskan suaranya dengan meringis kesakitan," Aduh sakit Natasha, hentikan."

__ADS_1


Sang ibunda langsung mendekat, di mana wanita tua itu berusaha melepaskan tangan anak keduanya.


__ADS_2