
Gunawan mulai mendekati anak pertamanya itu, " Sarla. "
Raut wajah Sarla sudah basah dengan air mata, " kamu menangis. "
Wajah yang tertutup cadar itu menggelengkan kepala, berusaha baik baik saja di depan sang papah. " Sarla baik baik saja kok pah. "
"Jangan bohong Sarla, papah tahu kamu sakit hatikan, kedua matamu terlihat berkaca kaca, matamu merah, " ucap sang papah, berusaha menjadi penenang untuk anaknya.
"Pah, " panggil Sarla.
"Apa boleh Sarla, memeluk papah saat ini?" Pertanyaan Sarla membuat Gunawan menangis terisak isak.
"Tentu saja sayang, papah siap menerima kesedihan kamu, papah akan selalu menjadi benteng pertahanan kamu. Jangan bersedih Sarla, karena sedihmu adalah sebagian dari rasa sakit hati papah. " ucap Gunawan, memeluk erat anak pertamanya itu.
"Sarla, kenapa kamu tidak tegas tadi. Padahal kamu bisa saja mengambil anak kamu, karena kamu tahu sendirikan Daniel hilang ingatan, " balas sang papah. Mengusap pelan belakang kepala anaknya.
"Awalnya Sarla berpikir seperti itu pah, hanya saja Sarla berusaha bertanggung jawab, menepati janji dari surat penjanjian itu, " balas Sarla. Menangis terisak isak, seakan tak ridho jika anak yang ia lahirkan diasuh oleh Wulan.
Lilia datang melihat pemandangan yang menyakitkan, ia mendekat. " Lilia, kemari sayang. "
"Kak Sarla, kenapa kakak berpelukan dengan lelaki pembunuh ini, " hardik Lilia, ia amat sakit hati dengan sang papah. Karena Lilia juga korban pembunuhan papahnya sendiri.
Sarla memegang pipi camby Lilia dengan berkata, " jangan berbicara seperti itu sayang, bagaimana pun, papah ini adalah papah kamu. "
Perkataan Sarla ditepis oleh Lilia begitu saja. " Sudahlah kak, jangan mengakui lelaki ini sebagai papah lagi, Lilia muak. "
"Lilia sayang. "
Gunawan mengusap perlahan air matanya, berusaha tetap tenang, walau hatinya hancur akan perkataan anak keduanya.
"Jangan panggil sayang, Lilia tak sudi menjadi anak pembunuh seperti kamu. "
Sarla berusaha memeluk Lilia, menenangkan rasa sakit yang dirasakan adiknya, Sarla tahu jika Lilia tak bisa menerima kenyataan akan papahnya yang ternyata seorang pembunuh.
Dan Lilia sebagaian dari korban papahnya sendiri.
"Andai saja aku dan Lilia tidak tahu kenyataan pahit ini, mungkin keluargaku akan baik baik saja." Gumam hati Sarla.
Sarla benar benar mendapatkan rasa sakit yang bertubi tubi, mentalnya terasa terganggu. Hatinya begitu rapuh.
__ADS_1
"Sarla, Lilia."
Lelaki tua itu mulai mendekat pada Lilia, ia terlihat ingin memegang tangan anak keduanya.
Namun rasa takut itu diperlihatkan Lilia, pada akhirnya Gunawan melangkah mundur. Menjauh. " Sarla, Lilia. Jika kalian ingin melaporkan papah ke kantor polisi silahkan nak, papah sudah pasrah dan ikhlas. "
Lilia nampak menjawab perkataan lelaki tua itu, " Memang kita berdua akan melaporkan papah ke kantor polisi, agar papah membusuk di dalam penjara. "
Sakin sakit hatinya, Lilia berani mengatakan kekecewaanya dihadapan sang papah.
Sarla berusaha menasehati adiknya. " Lilia, kamu harus mengontrol emosimu, bagaiman pun. Papah adalah .... "
Belum perkataan Sarla terlontar semuanya, Lilia sudah memotong pembicaraan itu, " Sudahlah kak, Lilia muak dengar kakak terus menerus membela papah dari tadi. "
"Lilia, sayang kakak tidak membela papah sama sekali, kakak hanya ingin keluarga kita utuh. "
"Keluarga utuh, berarti sama saja kakak mengizinkan pembunuh ini bahagia. "
Lilia pergi dari ruangan Sarla, dimana sang kakak ingin mengejar anaknya, namun karena rasa sakit pada perut yang belum membaik.
Pada akhirnya Gunawan turun tangan, mengejar anak keduanya itu. " Sarla kamu istirahat saja, biar papah yang mengejar adik kamu.
Gunawan kini mengejar Lilia, terlihat ia terus mengeluarkan air mata, hatinya begitu rapuh.
Mendengar anak keduanya sudah tak mengakui dirinya sebagai seorang ayah.
Di dalam ruangan, Sarla begitu kuatir ia hanya bisa berdoa jika hati adiknya akan luluh dengan perkataan sang papah.
Gunawan berusaha mencari keberadaan anak keduanya itu, " Lilia. Lilia. "
Berteriak tapi tak melihat keberadaan Lilia, padahal baru saja Lilia berlari dari ruangan Sarla, dan sekarang ia menghilang.
Gunawan tak putus asa, ia takut jika Lilia bersembunyi. " Kemana Lilia?"
Gunawan kini bertanya pada orang orang yang berada di rumah sakit, dengan harapan jika Lilia ketemu.
Mengusap kasar wajah, tak ada satupun orang yang melihat Lilia, " Kemana Lilia?"
Gunawan kini berlari menuju ke ruangan Sarla. Dimana Sarla panik dan bertanya, " bagaimana pah, apa papah sudah menemukan Lilia?"
__ADS_1
Gunawan menggelengkan kepala. Dimana Sarla syok, " papah tidak berhasil menemukan Lilia, lantas Lilia pergi kemana?"
"Papah sudah menghubungi pihak rumah sakit dan juga cctv di sini, semoga saja Lilia dapat ketemu."
Gunawan menangis, perasaannya tak karuan, seakan penyesalan datang bertubi tubi. " Semua salah papah. " Berteriak menyakiti dirinya sendiri.
Sarla yang melihat tingkah gelisah sang papah, berusaha menahan tangan yang terus memukul pipinya sendiri berulang ulang.
"Hentikan pah. "
"Papah."
Seketika tangan itu terhenti saat Sarla terus menyuruh sang papah agar sadar dan tak melakukan hal yang malah menyakiti fisiknya sendiri.
"Sarla, papah benar benar menyesal. "
Mengusap punggung sang papah, lalu berkata. " Sarla juga tahu, papah menyesal dengan kesalahan papah, tapi papah tak harus menyakiti diri papah sendiri, apalagi sampai memukul mukul wajah seperti itu, semua tidak akan menyelesaikan masalah pah. "
"Sarla apa yang kamu katakan benar, sekarang papah harus cari keberadaan adik kamu lagi, " ucap Gunawan. Masih dengan kekuatirannya karena Lilia tak kembali lagi.
"Sebaiknya kita tunggu, pemberitahuan dari pihak rumah sakit. "
Menunggu, sampai seseorang datang dan berkata. " Pak Gunawan, saya melihat rekaman cctv, anak bapak dibawa oleh seorang wanita. "
Sarla dan Gunawan terkejut dengan pernyataan seorang satpam yang berjaga di rumah sakit, yang menunjukkan rekaman CCTV itu kepada Gunawan dan juga Sarla.
Dan terlihat orang yang membawa Lilia itu adalah Dera Mama tiri sarla. " Mama Dera, untuk apa dia membawa Lilia pergi. "
Gunawan mengusap kasar wajahnya, ia merasa kesal dengan kelakuan istri nya itu. " Dera. Apa tujuannya membawa Lilia. "
Gunawan mulai keluar dari ruangan sarla tanpa mengatakan satu katapun, sarlah yang merasa ikutan dengan bukti yang ia lihat pada rekaman CCTV.
Membuat wanita yang baru melahirkan itu berusaha mengejar sang papa, namun tenaganya yang belum stabil membuat ia terjatuh ke atas lantai.
Suster yang melihat sarla terjatuh dari ranjang tempat tidur dengan terburu-buru membantu pasiennya," suster saya ingin mengejar Papa saya tolong saya." Sarla meminta bantuan, namun sang suster berusaha menasehati Sarla.
"Ibu Sarla kondisi anda belum membaik, sebaiknya anda istirahat dulu, anda tidak boleh kemana-mana," perkataan suster membuat hati Sarla tak tenang.
"Tapi saya ingin mengejar Papa saya yang sudah pergi jauh." Kegelisahaan Sarla membuat suster berusaha menenangkan sang pasien.
__ADS_1
"Bu Sarla tenangnya, jangan gelisah seperti ini. saya takut jika nanti kondisi ibu drop. "