Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 167


__ADS_3

"Apa maksud ibu, memberikan lembar kertas belanjaan?" tanya Daniel pada Alenta, dimana wanita tua itu tersenyum lebar, lalu mencubit pipi anaknya.


"Ini belanjaan untuk nanti persalinan Sarla!" jawab Alenta, membuat Daniel membulatkan kedua matanya.


"Loh, apa urusannya dengan Daniel, biarkan dia belanja sendiri, " ucap Daniel, menolak keinginan ibunya, ia memberikan lembar kertas itu pada Alenta.


"Daniel, istri kamu Wulan sedang promil, apa salahnya dong kamu belajar belanja dari sekarang, biar paham kalau nanti punya anak," balas Alenta, sengaja menyuruh Daniel untuk berbelanja, agar Sarla merasa bahwa dalam hidupnya masih ada orang yang peduli, apalagi Daniel suaminya sendiri.


Daniel mulai beranjak berdiri, memberikan lembar kertas itu pada sang ibunda. " Daniel mau mengajak Wulan jalan jalan. "


Alenta meraih tangan anaknya, agar tidak pergi begitu saja, " hanya berbelaja tapi kamu susah sekali disuruh. "


Daniel sengaja menolak keinginan sang ibunda, karena ia tak mau dekat lagi dengan Sarla, tak ingin merasakan penolakan untuk kedua kalinya.


"Bu, aku kan bukan siapa siapa dia, " ketus Daniel, memalingkan wajah.


Sang ibu ingin sekali mengatakan perkataan yang sejujurnya, namun takut jika perkataanya malah membuat Daniel drop seperti kemarin.


"Daniel ayolah, ibu hanya menyuruh kamu sekali ini saja, " pinta sang ibunda, berharap jika Daniel mau menuruti perintah Alenta.


Dengan rasa kesal yang menggebu pada hatiku, aku langsung mengambil kertas itu. " Satu kali ini saja ya. "


Menganggukkan kepala Alenta tesenyum, lalu pergi dari hadapan anaknya. "Kenapan disaat aku berpura pura amesia hanya untuk menjauhi Sarla, ibu malah membuat hal aku agar dekat dengan Sarla. "


Menggerutu kesal, akhinya Daniel mulai berangkat untuk segera membeli barang yang tercantum pada kertas putih itu.


Menaiki mobil, Wulan datang menghampiri, " Sayang kamu mau kemana?"


Menatap ke arah Wulan sang istri, Daniel menjawab dengan raut wajah kesalnya. " Ibu nyuruh aku untuk beli ini. "


Menunjukkan sebuah kertas, dimana Wulan membulatkan kedua matanya. " kenapa ibu malah menyuruh kamu berbelanja kebutuhan Sarla."


"Ibu itu aneh. Kamu mau ikut. "


Wulan menganggukkan kepala, dimana Daniel masuk ke dalam mobil.


Alenta yang melihat pemandangan itu hanya bisa, menghelap napas, " Daniel. Semoga ingatan kamu pulih. "


Di dalam perjalanan menuju ke supermarket. Daniel kini memulai obrolan. " Kenapa kamu malah membawa wanita itu ke rumah?"


Wulan terdiam, mendegar perkataan Daniel. Ia kebingungan sendiri. " Eeh, aku di suruh ibumu. Katanya dia kasihan terhadapan Sarla!"


"Ibu ada ada aja menolong orang sampai segitunya, " ucap Daniel, berusaha melakukan dramanya agar Wulan tak curiga dengan kepura puraanya.

__ADS_1


Daniel kini bergumam dalam hati," mau sampai kapan coba aku berpura pura membohongi semua orang atas kepura puraanmu dimana Sarla ada di rumah. "


Membeli barang yang tercantum pada kertas itu, Wulan sibuk memilih makanan yang ia suka.


"Sudah, ayo kita pulang. "


Beres membeli yang dibutuhkan Sarla, mereka pulang. Sampai di rumah, Daniel melihat Sarla tengah menyiram tanaman. Ia berusaha cuek dimana Wulan pergi masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.


"Sarla."


"Iya."


"Ini."


Sarla menatap ke arah kantong keresek berukuran besar itu, lalu bertanya. " Apa ini?"


"Kamu lihat saja nanti. " Daniel pergi setelah memberikan barang yang dibutuhkan Sarla.


Wanita yang tengah mengandung itu, mulai mematikkan air, ia beranjak masuk ke dalam rumah. Melihat barang belanjaan yang diberikan Daniel.


"Inikan kebutuhan ibu hamil, Daniel kok bisa perhatian padaku. "


"Hem."


Wulan tiba tiba saja datang, mengagetkan Sarla, dimana ia memegang bahu istri kedua Daniel.


Deg ....


Sarla mengira jika yang diberikan Daniel bentuk perhatiannya, " oh. "


Wajah muram kini diperlihatkan Sarla, dimana Wulan meraih dagu Sarla dan berkata. "sudah jangan muram begitu. "


"Siapa yang muram, hanya perasaan Mbak Wulan saja. "


Sarla meraih pelasitik berisi belanjaan, untuk dibawa ke dalam kamar.


Ia tiba tiba saja menangis, mengusap pelan perutnya. " Kenapa semenjak hamil aku jadi cengeng gini, ayolah Sarla. Ini hal yang bagus, untuk kamu, jangan sampai hatimu goyah. "


Menyemangati diri sendiri, berusaha tetap tenang tak memikirkan perkataan Wulan.


Daniel yang mengintip hanya bisa mengelus dada dan berkata, " maafkan aku Sarla. "


**********

__ADS_1


Tak terasa waktu berjalan, perut Sarla kini semakin membesar, terkadang ia hampir kewalahan mengambil barang apapun.


"Tak terasa kehamilanku sudah mau mengijak tujuh bulan, padahal berasa baru kemarin aku tinggal di rumah ibu Alenta. " Ucap Sarla, duduk di sofa ruang tamu.


Alenta datang lalu bertanya pada sang menantu. " Sayang, apa yang kamu pikirkan?"


Perkataan Alenta membuat Sarla tersenyum tipis lalu berkata, " tidak ada bu, hanya saja tak terasa kandungan Wulan sudah menginjak tujuh bulan. "


Alenta mulai mengusap perut Sarla, lalu tersenyum. " Dia nendang. "


"Ahk, iya. Dia nendang. "


Keduanya tertawa terbahak bahak, seperti merasakan kebahagiaan yang tak biasa. Daniel yang melihat pemandangan ibunya kini tersenyum, dimana ia juga ingin merasakan hal yang sama, mengusap bayi dalam kandungan Sarla.


"Daniel, kebetulan sekali kamu ada di sini, ayo sini. " Alenta menyuruh Daniel mendekat.


"Ada apa bu, " ucap Daniel, Alenta mulai meraih tangan kekar anaknya, lalu menaruh tangan itu pada perut Sarla.


"Gimana, kamu merasakan tendangan anak ini bukan?" tanya Alenta pada Daniel.


Daniel merasa bahagia, saat tangannya bisa merasakan tendangan bayi yang dikandung Sarla.


"Ya tendangan bayi ini kuat ya bu. "


Alenta menganggukkan kepala, dimana Daniel menempelkan telinganya pada perut Sarla, dimana ia berucap dalam hati. " Apa kabar sayang ini papah. "


Tendangan bayi dalam kandungan Sarla kini terasa kembali, Daniel tersenyum. Sedangkan Sarla menangis, ini yang ia rasakan saat sedang hamil.


Alenta melihat pemandangan suaminya melakukan hal yang membuat ia cemburu. Kini menarik tangan Daniel, agar menghindar dari hadapan Sarla.


"Kamu apa apaan sih, sayang. Nggak pantas banget. " Hardik Wulan. Ia mengerutkan bibirnya kesal, lalu menatap ke arah sang ibu. " Ibu lagi, membiarkan Daniel mengusap perut Sarla. "


"Ya maaf ibukan cuman ingin Daniel tahu gimana rasanya punya istri yang tengah hamil, biar nanti kan .... "


"Sudah sudah, ibu banyak alasan. " Wulan yang murka kini menarik tangan Daniel lagi, untuk segera menyuruh suaminya pergi bekerja. "


"Sayang kamu marah begitu, aku kan penasaran. "


"Ahk, tidak ada kata penasaran, sudah cepat pergi kerja. "


Daniel mencium pipi Wulan, lalu berkata, " kapan kamu hamil, aku juga ingin jadi seorang ayah."


"Sabar, aku kan lagi program hamil. "

__ADS_1


"Ya sudah aku berangkat bekerja ya. "


Menganggukkan kepala, Daniel masuk ke dalam mobil. Kepergian Daniel membuat Wulan mulai menghampiri Sarla dan juga ibu mertua.


__ADS_2