
Deg ....
Tari membalikkan badannya menatap ke arah Lani yang bertanya kepadanya," eh, Nona Lani kok datang ke dapur, apa ada sesuatu yang dibutuhkan lagi?"
Tari melangkahkan kaki mendekat ke arah Tari, "kenapa raut wajah kamu itu terlihat ketakutan?"
"Mm, ketakutan? Ahk tidak kok, non. "
Tari berusaha menghindari tatapan Lani yang terus menatap dirinya.
Anak berumur 11 tahun itu kini mengerutkan dahinya," Jangan berbohong kepadaku, aku melihat kamu itu seperti malas melayani. "
Tari berusaha melemparkan senyuman kepada Lani, " Nona ini, saya kan hanya seorang pembantu, mana mungkin malas melayani seorang majikan."
"Hem, bagus lah. Jika kamu sadar diri. "
Lani pergi dari hadapan Tari begitu saja, di mana Tari berusaha mengontrol napasnya, ia seperti merasakan rasa sesak. Setelah melihat kedatangan Lani yang tiba-tiba saja berada di hadapannya.
"Untuk saja, aku berbicara dalam hati. " mengusap peran dada, Tari mulai melanjutkan hidangan yang akan ia buat untuk Lani.
Lani berjalan pelan, ia melihat suasana rumah itu tetap sama. Tak ada perubahan sedikitpun, perlahan mendekat ke arah foto yang memperlihatkan wajah sang mamah, membuat Lani mengambil album foto itu, mengusap pelan dengan berkata," akan kubalas perbuatan keluarga Gunawan. "
Sarla tak sengaja mendengar perkataan yang terlontar dari mulut adik tirinya itu, ia mengurungkan niatnya untuk menghampiri Lani.
"Apa maksud dari perkataan Lani. "
Sarla berusaha berpikir positif, tidak menyalahkan Lani dalam kehilangan Lilia.
Lani mulai menaruh album foto ibunya sendiri, Iya menyadari jika ada seseorang yang mengintipnya di balik tembok, berusaha mengalihkan ucapannya dengan berkata," orang yang sudah membuat Mama seperti ini, akan menerima akibatnya."
Anak berusia 10 tahun itu masuk ke dalam kamar tidur, menunggu hidangan yang tengah dibuat oleh pembantunya.
Setelah masuk ke dalam kamar, Lani merebahkan tubuhnya, ya mendengar suara langkah kaki di luar kamarnya." Aku harus berhati hati dengan Kak Sarla. "
Tari mendekat pada pintu kamar Lani, di mana ia melihat sosok Sarla tengah berdiri di depan pintu kamar adik tirinya.
"Nyonya." Sarla terkejut dengan kedatangan Tari, membuat ia berucap, " Tari."
"Nyonya sedang apa?" tanya Tari pada sang majikan, dimana Sarla melihat pembantunya itu membawa makanan dan minuman.
Pertanyaan yang tak mungkin dijawab oleh Sarla, " Nyonya. "
__ADS_1
"Ahk, iya. "
"Permisi."
Sarla berusaha menyingkir dari pintu depan kamar adik tirinya, " oh iya. "
Saat itulah Tari mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar Lani.
Membuka pintu kamar itu, " Nona, makanan sudah siap. "
Sarla masih berdiri menatap Tari yang mengantarkan makanan ke dalam kamar Lani.
"Taruh saja di atas meja. "
.
"Baik nona."
Lani terlihat tengah memainkan ponselnya, Tari yang menuruti perintah Lani, kini menaruh makanan di atas meja kamar.
Tari pergi begitu saja setelah mengantarkan keinginan sang Nona kecil. Sedangkan Sarla masuk ke dalam kamar tidur adik tirinya itu.
Dimana, Lani yang mendengar suara langkah kaki sang kakak kini berucap dengan nada ketus. " mau apa Kakak datang ke kamarku?"
"Kakak datang ke kamar kamu hanya ingin melihat keadaanmu!?"
"Untuk apa Kak Sarla peduli terhadap Lani, bukannya Kak Sarla itu lebih peduli pada Lilia daripada Lani yang hanya sebatas seorang adik tiri. "
Mendengar perkataan Lani, membuat Sarla selalu berusaha untuk bersikap sabar. " Tidak ada niat dari hati dan pikiran Kakak berpikir seperti itu. Kamu dan juga Lilia sama sama adik kakak."
Lani malah semakin benci saat jawaban lembut itu terlontar dari mulut Kakak tirinya.
"Lani."
Lani menghembuskan napasnya, dengan lancarnya anak berumur 10 tahun itu mengusir Sarla. " sebaiknya Kakak pergi dari kamarku. Aku tidak suka jika ada orang berpura-pura peduli kepadaku. "
Sarla berusaha memaklumi perkataan adik tirinya, yang memang terdengar keterlaluan. Padahal Sarla ingin menagih janjinya, setelah pulang dari pemakaman, Lani sudah berjanji akan mempertemukan Sarla dengan Lilia.
"Baiklah, Kakak akan pergi dari kamar kamu sekarang juga. Tapi kamu jangan lupa tentang janjimu yang kemarin, Kakak akan selalu menagih janji itu. "
Lani baru saja mengingat tentang janji yang ia ucapkan terhadap Kakak tirinya.
__ADS_1
Ia berusaha tidak memperdulikan tentang janji itu.
Sarla yang sudah pergi jauh dari hadapan Lani, kini menghampiri sang papa. " Pah. "
Gunawan perlahan membalikkan badannya menatap ke arah anak satu-satunya itu," Kenapa Sarla?"
"Sarla seakan mencurigai tentang cerita yang dilontarkan oleh Lani, seakan cerita itu hanyalah sebuah rekayasa Semata!"
Gunawan mendekat ke arah anak pertamanya itu," jangankan kamu Sarla, papah juga merasa janggal dengan cerita dari Lani. "
"Tuh kan, berarti pikiran kita sama pah, makanya aku ingin mencari tahu tentang Lani. "
Gunawan kini tersenyum kecil dengan perkataan anak pertamanya itu," sudah tak usah kamu cari tahu tentang Lani, dia hanyalah seorang anak kecil yang tidak tahu apa, bisa saja dia merekayasa cerita yang selalu dibaca di buku dongeng."
"Pah, ini bukan saatnya untuk bercanda, Sarla hanya ingin menyelidiki Lani, tentang cerita yang disampaikannya. "
"Mm, Sarla, untuk apa? semua itu hanya membuang-buang waktu kamu saja," ucap sang papah, yang berusaha mencegah sarla untuk tidak menyelidiki.
Karena bagi Gunawan anak sekecilan Lani. Mana mungkin bisa melakukan kejahatan yang selalu dilakukan oleh orang dewasa.
"Tapi pah. "
Gunawan berusaha menutup mulut anak pertamanya itu," Sudahlah Sarla kamu jangan terlalu berlebihan seperti itu terhadap adik tirimu. sekarang kamu fokus saja dengan masalahmu sendiri, biarkan masalah Lilia Papah yang selesaikan. "
Sarla seperti tak diberi peluang sedikitpun, untuk bisa mencari tahu tentang rencana yang dibuat oleh adik tirinya itu .
Karena jawaban sang Papa yang selalu menyepelekan setiap masalah yang ada.
"Ya sudah kalau begitu. "
Sepertinya Sarla tak perlu memberitahu kepada sang papah dan juga menceritakan semua yang ia curigai pada adik tirinya itu.
Karena respon dari papanya sendiri sangatlah mengecewakan, Gunawan tak ingin jika Sarla terlalu mencari tahu tentang masalah yang kini berada dihadapannya.
"Sarla, pergi dulu pah. "
Gunawan hanya menganggukkan kepala, setelah mendengar ucapan kata pamit dari anak pertamanya itu.
Terlihat dari raut wajah sang papah, jika saat ini lelaki tua itu tak ingin ada orang yang ikut campur dengan masalahnya, sampai anaknya sendiri disuruh untuk berhenti mencari tahu tentang Lani.
"Papah ini kenapa, makin ke sini makin aneh. " Gumam hati Sarla.
__ADS_1
Wanita bercadar itu berniat pergi ke gudang, untuk mencari barang yang ia butuhkan." sepertinya aku harus mengambil barang yang sudah aku taruh lama di dalam gudang. "
Berjalan dengan begitu cepat, Sarla belum tahu jika Wina ada digudang itu.