Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 65


__ADS_3

Sarla mulai merapikan kerudungnya, dimana ia berusaha tidak menangis kembali, dengan apa yang diperlakukan oleh Daniel kepada dirinya. 


Walau pada kenyataannya hatinya begitu sakit, Sarla harus tetap kuat, walau dirinya dihina sebagai wanita aneh dan diperlakukan tidak baik. 


Rafa yang berada di luar kamar mandi hanya menunggu Sarla keluar semakin membuat ia kuatir. " Apa Sarla baik-baik saja, di dalam?"


Tok …. Tok … . 


Ketukan pintu beberapa kali terdengar oleh Sarla, di mana wanita itu keluar membuka pintu menghadap ke arah Rafa. 


"Sarla, apa kamu baik-baik saja?".


Perhatian lembut Rafa, membuat Sarla menganggukan kepala,  dimana ia berusaha tak menangis lagi. 


Rafa tak berani menyentuh ataupun mengusap air mata, yang terus mengalir dari kedua mata wanita yang sangat ia cintai. 


" Sarla, hey. "


Memeluk tubuhnya pun ia tak bisa, karena ia tidak punya hak sebagai seorang lelaki untuk memeluk ataupun menyentuh wanita dihadapannya. 


"Aku baik baik saja, Rafa!"


Menarik napas, Sarla berusaha tetap tenang, Iya tak ingin Alenta melihat kesedihannya. 


"Apa kamu mau aku antarkan pulang," ucap Rafa  menawarkan tumpangan kepada Sarla. 


"Tak usah Rafa, aku bisa sendiri.  Jadi jangan terlalu mengkhawatirkan aku," balas Sarla, ia berjalan menuju ke meja makan, tetap memperlihatkan dirinya yang biasa saja. 


Daniel mulai duduk pada kursi, di mana wanita tua itu bertanya," Mana Rafa dan Sarla, mereka belum balik lagi ke sini?"


Wajah jutek Daniel ia perlihatkan kepada sang Ibunda, di mana wanita tua itu tak mengerti sifat yang selalu berubah-ubah pada diri Daniel. 


Tidak ada jawaban sedikitpun dari mulut Daniel, lelaki berbadan kekar itu hanya diam, tak menjawab apapun yang dikatakan anak semata wayangnya itu. 

__ADS_1


Pak Gunawan kini menimpa ucapan kedua anak dan ibu itu, " mungkin mereka tengah menikmati pemandangan di atas gedung, mereka kan sepasang Insan yang begitu cocok bukan."


Mendengar perkataan Gunawan membuat Daniel sedikit murka, ia sengaja menyenggol gelas di hadapannya. 


Bark. 


Alenta menyadari jika anaknya sedang tidak baik-baik saja, ia berusaha mengalihkan pembicaraan. " Pak Gunawan bagaimana kalau kita bersulang hanya berdua saja?"


Alenta berharap sikap  Gunawan tidak membuat anaknya murka kembali. 


Hingga beberapa menit kemudian, datanglah sosok seorang laki-laki tersenyum kecil kepada Daniel dan juga Alenta. Mereka berusaha menyembunyikan masalah yang terjadi antara kedua insan,  " Tuh Rafa dengan calon istrinya." Perkataan Gunawan membuat hati Daniel terasa sesak,  Kenapa bisa lelaki berbadan kekar dan egois itu bisa merasakan rasa api cemburu,  hanya karena mendengar perkataan Gunawan soal Sarla dan Rafa. 


Keduanya kini duduk, dimana tangan sarla di cengkram erat oleh Daniel, lelaki berbadan kekar itu menyuruh sarla untuk duduk di dekatnya. Rafa yang menyadari perlakuan pamannya  keterlaluan itu, kini menyuruh sarla untuk duduk di kursinya. 


Sedangkan ia duduk di dekat Daniel. 


"Sarla coba kamu duduk di sini."


Sarla yang mulai bangkit dari kursi, kini tertahan oleh tangan Daniel yang mencengkram erat tangannya, perlahan wanita bercadar itu menatap ke arah wajah sang suami. Tatapan yang begitu menyeramkan tak dapat Sarla pungkiri, " Kenapa makin ke sini Daniel semakin Kejam."


" Tak apa-apa Rafa, saya duduk saja di sini."


Saat itulah cengkeraman tangan Daniel mulai terlepas dari tangan Sarla, di mana wanita bercadar itu bisa leluasa menggerakkan tangannya kembali. 


Sedangkan Rafa merasa kuatir dengan perlakuan Daniel yang sedikit terlihat kasar, padahal Ia tahu bahwa pamannya itu tidak pernah melakukan hal yang mampu menyakiti fisik seorang wanita. 


Keluarga itu kini mulai menikmati makan malam di restoran, di mana Daniel tetap saja mengawasi gerak-gerik Rafa yang terus menatap Sarla. 


Daniel berpura-pura batuk, membuat Rafa, menundukkan pandangan. Kembali menghindar dari tatapan Daniel.


Selesai acara makan makan, Gunawan merasa heran dengan Rafa yang naik mobil sendirian, di mana sarla malah ikut dengan Alenta dan juga Daniel.


"Loh, bukannya sarla itu tunangan Rafa, Kenapa dia malah ikut dengan Daniel dan juga Bu Alenta. "

__ADS_1


semua nampak terkejut mendengar perkataan Gunawan, terlihat Daniel tanpa ragu dan juga Alenta.


Rafa mulai meluruskan perkataan Gunawan," Kebetulan sekali rumah Sarla itu searah dengan rumah paman Daniel. Jadi Sarla tunanganku tidak ingin merepotkanku. "


"Tunangan kamu itu sudah berhijab baik lagi, benar-benar sempurna."


Sarla merasa tak nyaman dengan pujian Gunawan, karena ada kedua mata yang memandang dengan kemarahan. "Terima kasih pujiannya, Pak Gunawan, doakan saja saya dan Sarla dimudahkan dalam pernikahan yang kami gelar nanti. "


"Amin, semoga kalian berjodoh sampai kakek, nenek ya. "


"Amin."


Daniel masuk ke dalam mobil, ia mencoba menahan api cemburu, yang terus menggebu-gebu dalam hatinya. Ia amat sangat kesal dengan perkataanmu Gunawan yang membuat darahnya seperti naik ke atas kepala.


Melaksoni mobil beberapa kali agar Sarla dan Alenta segera masuk ke dalam mobil.


Sarla mendengar klakson mobil itu langsung masuk ke dalam mobil, ia tak mau melihat dan mendapatkan amukan dari Daniel.


Gunawan melambaikan tangan kepada Alenta, tersirat dalam hati ada satu perasaan yang tak bisa dipungkiri.


setelah masuk ke dalam mobil, Daniel langsung menyalakan mesin mobil, disadari oleh Alenta dan juga Sarla. kecepatan mobil begitu tinggi, membuat Sarla tampak ketakutan, sedangkan Alenta mengerutu kesal pada anak semata wayangnya itu.


"Daniel, kamu ini apa apaan sih, bisa tidak jangan mengedarai mobil dengan kecepatan tinggi, kasihan istrimu ketakutan sekali dia."


"Sudahlah bu, berisik. "


Menggelangkan kepala heran dengan tingkah Daniel yang makin ke sini semakin berubah," kamu ini kenapa sih, bukannya tadi itu kamu baik baik saja, ada apa dengan kamu Daniel, mendadak berubah."


"Berisik bu, Daniel sudah bilang jangan banyak bicara," bukan Sarla saja yang terkena bentakan, sang ibunda juga mengalami hal yang sama, dimana Alenta menggelengkan kepala, merasa heran dengan tingkahnya.


"Sudah kalian, duduk manis saja, aku tidak akan sampai membuat kalian mati sekarang."


Deg .... perkataan menyeramkan yang terlontar dari mulut Daniel, bisa-bisanya ia mengatakan hal yang tidak pantas kepada ibu dan juga istrinya.

__ADS_1


"Daniel, ia emang agak gila bisa-bisanya berkata seperti itu," ucap Sarla dalam hati, Iya tak berani mengungkapkan kekesalannya, karena takut akan bentakan dan juga perlakuan kasar yang diperlihatkan oleh Daniel.


Semenjak Gunawan datang ke tempat meja makannya, perubahan Daniel benar-benar berbeda, Daniel lebih cenderung menjadi orang yang pemarah dan tidak bisa diajak mengobrol dengan baik, setiap pertanyaan yang keluar dari mulut Alenta ataupun Sarla seperti membuat dirinya kesal.


__ADS_2