Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 128


__ADS_3

Gunawan mulai memegang tangan mungil anaknya itu, "Lilia, apa kamu membenci papa, sampai kamu mengungkit soal perasaan."


"Ya, perasaan dalam hati Lilia pada papah adalah perasaan benci, benci seorang anak kepada papanya kandungnya sendiri."


"Lilia."


"Papah, dari dulu lebih mementingkan Mamah Dera daripada Ibu Wulan, Papah tahu tidak dari kematian ibu Wulan ada deraian air mata yang menyakitkan karena ulah papa bersama mama Dera. Sekarang juga Papa seperti itu, tidak tegas lebih cenderung pada Mama Dera, padahal Papa tahu sendiri Papa sudah tahu kesalahan Mamah Dera. "


Rintikan air mata yang tadinya mengenang di sudut mata, akhirnya turun juga ke dasar pipi. Gunawan terlihat begitu malu pada dirinya sendiri, Iya langsung meminta maaf kepada Lilia dan memeluk anak kandungnya.


"Maafpin papah ya, nak. Papah dulu itu tidak bermaksud seperti itu?"


Lilia melepaskan pegangan tangan dari sang papah, " sudahlah pah, kata maaf papah sudah terlambat, Lilia sudah terlanjur benci dengan papah."


Mendorong tubuh Sang papa, Lilia mulai pergi untuk segera masuk ke dalam rumah Sarla.


"Lilia, kamu mau kemana?"


"Papah pulang saja sendiri, biar Lilia tinggal di rumah kak Sarla!"


"Lilia."


Gunawan merasa tak ingin jauh dari anak kandungnya, ia ingin jika Lilia tinggal bersamanya, untuk menebus kesalahan di masa lalu.


Sarla mulai menahan sang papah dengan berkata," Cukup pah, tolong berikan Lilia kesempatan untuk meredamkan emosinya."


Sang papa hanya bisa menghebuskan napasnya, terasa berat, jika melihat anak kandungnya terluka karena keegoisannya di masa lalu.


"Sarla, tolong jaga adik kamu ya, papa serahkan Lilia kepada kamu sementara waktu."


Sarla menganggukkan kepala lalu menjawab," papah tenang saja, Lilia aman dengan Sarla, yang sekarang Sarla minta. Papah bisa merenungi kesalahan Papah di masa lalu, agar Papa bisa diterima lagi oleh lilia."


"Papah juga berpikir seperti itu. Ya sudah papah pulang dulu ya."


"Iya pah. Hati hati." Gunawan mulai membalikkan badannya menuju ke mobil, ia mengusap kasar air mata yang sudah membasahi pipinya, rasa sesal terus menggebu dalam hati, apalagi setelah mendengar perkataan anak kandungnya sendiri.


Di dalam perjalanan menuju pulang, Gunawan teringat akan istrinya yang sudah meninggal dunia, yang tak lain ialah Wulan.


Wulan mati dengan keadaan jasadnya tak di temukan, yang orang-orang pikirkan jasadnya sudah terbakar habis dan hanya tersisa tulang belulang saja.


"Wulan, maafkan aku."


Tid ....

__ADS_1


karena lamunan Gunawan, membuat lelaki itu hampir saja menabrak mobil.


"Astaga, aku terlalu memikirkan Wulan."


Gunawan mulai turun dari mobilnya, perasaannya benar-benar tak karuan, ia mulai melihat mobil yang hampir saja ia tabrak.


Wanita itu terlihat mengenakan baju hitam," Mbak, apa mbak baik baik saja. "


Wanita tua Itu sekilas menatap ke arah Gunawan, wajahnya terlihat begitu hancur seperti sisa terbakar, ya terburu-buru menundukkan wajah,


di mana Gunawan mengajak wanita itu untuk berbicara.


"Mbak ...."


Wanita tua berpakaian hitam itu mengabaikan perkataan Gunawan yang menanyakan keadaannya, ya lalu pergi untuk Segera menaiki mobilnya kembali.


"Mbak."


Padahal Gunawan berniat baik untuk bertanggung jawab karena kesalahannya.


Mesin mobil sudah menyala, wanita tua itu pergi begitu saja. Padahal Gunawan belum sempat meminta maaf dan mengganti rugi mobilnya yang terlihat penyok.


"Malah pergi. "


Gunawan merasa heran dengan wanita tua itu, saat seseorang ingin bertanggung jawab ia malah pergi tanpa berbicara sepatah kata pun.


Setelah mengangkat panggilan telepon itu, ternyata Gunawan disuruh datang ke kantor. terlihat jatuh buru-buru menaiki mobilnya.


Wanita berpakaian hitam itu, berhenti di pinggir jalan. Iya mengepalkan kedua tangannya, menatap ke arah mobil Gunawan.


seperti ada sesuatu yang ia benci, siapa sebenarnya wanita tua itu?


*********


Sarla mulai berjalan menuju ke arah Lilia, ia memanggil-manggil nama adiknya, berharap jika sang adik bisa tersenyum lagi.


"Lilia?"


Tak ada jawaban sama sekali, saat Sarla terus memanggil nama Lilia, " Lilia."


Membuka pintu kamar, sang adik ternyata tengah menangis, dimana Sarla mendekat dan bertanya?" Ternyata kamu ada di sini sayang. "


Lilia memeluk erat sang kakak, lalu menangis kembali dengan suaranya yang terisak-isak.

__ADS_1


"Kak Sarla. "


"Lilia, kok kamu malah nangis sih."


"Lilia kesal sama papa."


Anak berumur sepuluh tahun itu memperlihatkan kekesalannya, dihadapan sang kakak, ia meluapkan semua amarah dan juga rasa bencinya terhadap sang papa.


Sarla tahu jika sang adik sangatlah membenci papanya sendiri, karena di Kejadian itu hanyalah Lilia yang melihat kematian sang ibunda.


Dan pengkhianatan sang papah.


"Lilia, harus tenang ya, papa itu memang seperti itu orangnya, dia itu plin-plan tak bisa tegas, jadi sering dimanfaatkan oleh orang lain."


Sarla hanya bisa menenangkan sang adik tanpa harus mengomporinya, sejahat apapun seorang papah, tetap mereka darah daging Gunawan.


"Gimana kalau kita pergi jalan jalan, hari ini?"


Sarla mencoba membujuk sang adik agar tidak menangis lagi, Iya ingin melihat senyuman dari raut wajah adiknya itu.


"Gimana mau gak, rayu kembali Sarla, dengan harapan jika adiknya mau di ajak jalan jalan."


Karena rayuan Sarla tidak pernah gagal, pada akhirnya Lilia mau pergi untuk jalan-jalan keluar sebentar.


Sarla menyuruh adiknya untuk bersiap-siap mengganti pakaian, dimana sang adik melihat benda kecil jatuh.


"Kak Sarla, lihat ini?"


Mendengar sang adik berucap, akhirnya Sarla membalikan badan menatap ke arah benda kecil itu," loh, ini kan?"


Ternyata CCTV berukuran mungil itu bukanlah disembunyikan di kamar Sarla saja, masih banyak tempat-tempat lain, yang sengaja ditaruh oleh Daniel.


"Apa itu kak?"


Sarla mengambil benda mungil itu, lalu mengantonginya pada saku baju. " sudah kamu tak usah tahu, jika kakak jelaskan juga kamu tidak akan mengerti. "


Lilia mengerutkan bibirnya setelah mendengar apa yang dikatakan Kakaknya sendiri," kakak ini pelit."


Sarla mencubit hidung mungil adiknya," kamu ini masih kecil banyak ingin tahu ya."


Lilia tertawa dengan kejahilan kakaknya sendiri. " Kakak tahu aja. Hehhe. "


Sarla menggelengkan kepala, lalu pergi dari hadapan sang adik, iya penasaran dengan CCTV yang baru saja ia temukan di kamar khusus untuk tamu yang akan datang ataupun menginap di rumahnya.

__ADS_1


Mengambil benda mungil itu dari kantong bajunya, Sarla memutar mutarnya perlahan, " apa sih maksud Daniel ini, sampai rekaman CCTV mungil Ini bisa berada di kamar khusus tamu."


Menggenggam erat benda kecil itu, sepertinya Sarla harus mencari lagi tempat dimana benda mungil itu di simpan. " sepertinya aku harus mencari lagi benda mungil ini, nanti malam waktu yang tepat, untuk mencari teman si mungil ini. Karena malam membuat lampu benda mungil ini menyala. "


__ADS_2