
Namun karena ketidakpercayaan Sarla, pada akhirnya Lilia langsung menatap ke arah depan kaca mobil, " Awas kak. "
Hampir saja Sarla menabrak mobil seseorang yang tengah diam, di tengah jalan. " Tumben ada mobil, untung saja kamu langsung berteriak, de."
Mereka berdua langsung turun dari dalam mobil, untuk segera mengecek mobil yang tiba-tiba saja berhenti. Sarla yang penasaran dengan mobil itu, kini dikejutkan secara tiba-tiba.
"Mbak."
Membalikkan badan, lalu melihat ke arah orang itu, wajahnya sedikit menyeramkan, wanita yang sudah pernah di temui oleh Daniel dan juga Wulan.
Begitupun Gunawan, Lilia menyadari tatapan wanita menyeramkan itu, ia berusaha bersembunyi dibalik badan Sarla.
"Mbak, apa ada yang terluka. "
Wanita tua itu tak berkata satu patah katapun, ia hanya menundukkan pandangan pergi.
"Mbak, tunggu. "
Wanita berpakaian serba hitam itu melirik ke arah Sarla, lalu sekilas menatap ke arah Lilia dengan tatapan benggis dan menyeramkan.
Pergi lagi, membuat rasa bingung pada hati Sarla.
Mobil yang ia kendarai terlihat penyok, namun wanita itu tetap diam saja. Setelah kepergiannya yang sudah jauh. Lilia lalu berucap," tuh kak, wanita itu yang dimaksud Lilia."
"Wanita itu. " Mengerutkan dahi, Sarla juga merasa ada yang heran dengan rona wajah menyeramkan wanita tua itu.
Lilia menarik tangan Sarla, " Ayo kak, kita pulang."
"Baiklah!"
Mereka mulai menaiki mobil untuk segera pulang karena waktu sudah menujukkan pukul tiga sore.
"Kak, kakak lihat tadi kan, wajah dan tatapan matanya menyeramkan. "
"Mm, ya. Kakak juga berpikir seperti itu, dia menyeramkan!"
Dalam perjalanan menuju pulang ke rumah, Sarla dikejutkan lagi dengan pemandangan yang tak biasa. Rumah yang tadinya rapi kini berantakan, membuat ia berteriak memanggil para pembantu dan satpam.
Mereka berkumpul dan membuat aku bertanya?" Kenapa rumah seperti kapal pecah?"
Mereka saling menatap satu sama lain, lalu menjawab, " tadi ada orang yang masuk secara tiba tiba, membuat keganduhan di rumah!"
"Siapa?" Sarla penasaran dengan orang yang diceritakan para pembantu dan juga satpamnya.
"Kami kurang tahu Nyonya, tapi orang itu malah menghancurkan barang barang di rumah!"
"Sekarang orang itu ke mana?"
"Orang itu melarikan diri saat kami mau membawnya ke kantor polisi!"
Lilia memegang tangan Sarla lalu berkata," apa jangan jangan wanita tua tadi?"
__ADS_1
"Mana mungkin Lilia, dia kan baru bertemu dengan kita di jalan, dan tak mungkin dia tahu alamat rumah kita dan mengacaukan rumah diwaktu yang tepat saat kita tidak ada!"
Lilia tampak ketakutan sekali, ia merasa jika dirinya kini dikelilingi orang orang yang akan berniat tidak baik.
"Ya sudah kalau begitu, saya akan mengecek cctv nanti, melihat siapa orang yang sudah membuat keganduhan di rumah ini."
"Baik Nyonya."
Semua bubar, tinggal Sarla berjalan menuju kamarnya mengecek cctv yang terhubung di rumah.
Saat ia mulai membuka leptop, Daniel menelepon.
mau tidak mau Sarla langsung mengangkat panggilan telepon dari suaminya.
"Halo."
"Sarla, apa kamu baik-baik saja di sana. Aku melihat seseorang masuk ke rumah kamu dan merusak barang-barang di rumah. "
"Jadi selama ini kamu memantau aktivitasku lewat CCTV yang kamu. Sambungkan dengan laptopmu itu."
Daniel terdiam saat Sarla mengungkapkan kekesalannya karena CCTV, " ee. "
"Kenapa, jawab saja?"
Saat itulah Daniel mulai berkata jujur," Baiklah aku akan berkata jujur kepadamu."
Sarla menunggu penjelasan dari suaminya, CCTV di rumah yang selalu di pantau. " sebenarnya."
Suara Lilia mengagetkan Daniel, dimana ia mencari sebuah alasan. " Ada adik kamu."
"Daniel sebentar dulu, aku mau berbicara dengan Lilia."
"Mm, baiklah kalau begitu. "
"Jangan matikan dulu sambungan teleponnya, karena obrolan kita belum selesai."
Sarla sepertinya mempertegas perkataannya di depan Daniel, membuat lelaki itu menurut.
"Lilia, ada apa? "
"Malam ini Lilia tidur di kamar kakak ya, " ucap Lilia memohon dengan raut wajah memelas.
"Tumben, padahal kakak sudah sediakan kamar kamu. "
"Ya tapi, pokoknya Lilia ingin tidur bersama kakak."
Sarla tidak bisa menolak keinginan adik kecilnya itu, " Baiklah kalau begitu. "
Lilia tampak bahagia setelah mendengar perkataan sang kakak, " terima kasih kak."
"Ya sudah, sekarang kamu mandi dulu ganti baju dengan baju tidur. "
__ADS_1
Lilia menurut dan menganggukan kepala dihadapan Sarla, ia langsung mengambil handuk dan bersiap-siap untuk segera mandi di kamar mandi kakaknya sendiri.
Sarla mulai melanjutkan obrolannya, iya mulai bertanya lagi kepada Daniel, " obrolan kita belum selesai. "
Daniel masih dalam sambungan telepon.
"Cepat katakan sekarang juga. Apa maksud kamu menaruh CCTV di kamar tidur dan juga ruang mandi. "
Daniel mengerutkan dahinya, ia tak menyangka jika sang istri mengetahui akan CCTV kecil yang ia Simpan dengan rapat-rapat.
"Dari mana kamu tahu?"
"Dari mana aku tahu, jelas aku menemukannya tanpa sengaja, aku tak menyangka jika suamiku sendiri berotak mesum."
"Tunggu jangan salah paham dulu, aku hanya ingin .... "
Sarla dengan rasa kesalnya kini memotong pembicaraan sang suami, " membuat aku malu. Apa dengan cara ini kamu akan mengancamku suatu saat, jika kontrak pernikahan kita sudah selesai. "
"Bukan maksudku seperti itu. Aku hanya ingin .... "
Daniel berbicara begitu terdengar terbata-bata, membuat Sarla pastinya kesal, " sudahlah ungkapan kejujuranmu. Jangan berbicara omong kosong lagi."
"Sarla, aku tidak berbicara omong kosong. Aku berbicara apa adanya. "
Sarla merasa muak dengan tingkah suaminya, walau bagaimanapun, pernikahan mereka hanyalah di atas sebuah kertas dalam sebuah perjanjian kontrak.
"Sarla."
Daniel malah diam, seperti tak berani mengatakan kejujuran, raut wajahnya nampak tak tenang.
"Kenapa? Apa kamu memikirkan perkataanku, apa kamu tidak ingin memberi alasan yang jelas."
Daniel memang sudah berencana menyimpan sebuah video yang direkam dari CCTV, agar dirinya menjadi seorang pemenang saat bertarung dengan Rafa untuk mendapatkan Sarla.
"Ayo jawab. "
Daniel kini mematikan sambungan telepon, ia terlihat gelisah saat itu, karena terus menerus di rendungi sebuah pertanyaan yang bertubi tubi.
"Daniel?"
Sarla sudah diambang rasa kesal, ia tak menyangka jika Daniel malah lari dari pertanyaanya, membuat dirinya seperti orang gila.
"Bisa bisanya ada lelaki seperti Daniel ini. "
Sarla mencoba menelepon kembali suaminya, ia ingin tahu kejujuran dari mulut suaminya itu.
Beberapa kali menelepon tetap saja Daniel tidak menjawab panggilan telepon dari sang istri.
"Kenapa dengan si Daniel ini. Bisa bisanya dia lari dari pertanyaanku, awas saja kalau dia pulang ke rumah ini, akan kubuat dia mengaku. "
Mengirim pesan pada sang suami. ( Awas saja kalau nanti kamu pulang, aku tak segan segan akan memberi kamu pelajaran. )
__ADS_1
Daniel membaca pesan dari istrinya, ia seperti tak menyesali perbuatannya, hanya menatap layar ponsel dan tersenyum kecil.