
Tangan yang sudah terlihat mengkerut itu kini memegang bahu Wulan, dimana Wulan terkejut. " Bibi. "
"Nyonya, ngapain melamun di sini. Ayo tidur lagi?"
Bi Siti mengajak sang majikan untuk masuk ke dalam kamar, karena waktu yang masih pagi.
"Ya."
Saat Wulan berjalan, Bi Siti merasa janggal dengan tingkah majikannya yang melamun seperti memikirkan sesuatu, " Nyonya coba duduk dulu di sini. "
Wulan mulai duduk di atas ranjang tempat tidur, dimana Bi Siti ikut duduk di sampingnya, " kenapa dari tadi teh wajah Nyonya Wulan kaya sedih dan bimbang."
Wulan menundukkan wajah, memijit kepalanya dengan kedua tangan. " Ada yang sakit."
Menggelengkan kepala," Lalu kenapa atuh Nyonya teh?"
Pada akhirnya Wulan mulai mengungkapkan kegundahan hatinya, " sebenarnya Wulan itu, takut Bi!"
"Loh, takut kenapa? Coba cerita sama Bibi. "
Wulan mulai menceritakan di jam tadi pagi, di mana sang mertua seperti mengetahui rahasianya, Bi Siti membulatkan mulutnya, Iya tanpak terkejut, " kalau Nyonya Alenta sampai bicara seperti itu, sepertinya Nyonya Alenta sudah curiga dengan Nyonya Wulan. "
Deg ....
Wulan memegang punggung tangan wanita tua itu, " Terus apa yang harus aku lakukan bi. "
Sang pembantu hanya bisa menenangkan Wulan, " Nyonya tenang saja ya, kita juga kan belum tahu pasti mereka itu sudah mengetahui rahasia nyonya sampai mana. "
"Iya juga sih bi. "
" Makanya saat hamil Nyonya Wulan jangan terlalu memikirkan hal-hal yang mengganggu kesehatan nyonya, selama bayi ini belum lahir, Nyonya bisa tenang-tenang saja, tapi setelah anak ini lahir, kita bisa melakukan rencana yang dikatakan pada nyonya."
Mengusap pelan dada, dimana Wulan kini kembali menghilangkan rasa kekuatirannya," gimana perasaan Nyonya sekarang. Tenangkan. "
"Memang ya, Bibi yang selalu mengerti Wulan saat ini. "
Pelukan dari arah samping kini dilayangkan oleh wanita tua itu, " Nyonya jangan khawatir apapun Bibi akan lakukan demi nyonya. "
"Terima kasih ya, bi."
*********
Saat Daniel keluar dari rumahnya, banyak pasang mata yang memandangi penampilannya saat itu. Para tetangga yang biasa tak ia sapa, kini ia sapa, membuat mereka tercengang kaget.
Karena CEO Daniel terkesan jutek dan tak ramah dengan siapapun, apalagi dirinya yang sombong selalu membuat orang orang enggan dekat dengannya.
Datang ke sebuah mesjid yang sudah lama berada di daerahnya, membuat ia malu, kemana selama ini dirinya, setelah menikah dengan Sarla baru sadar dengan setatusnya sebagai hamba Allah yang lalai menjalankan printah.
__ADS_1
"Pak Daniel."
Sapa orang orang yang sudah menjalankan ibadah salat subuh.
Daniel berusaha tersenyum," Iya."
Mereka yang menyapa Daniel sangatlah terkejut, dimana Daniel kini bertanya," oh ya, ini mesjid sudah lama tidak di perbaiki?"
"Kebetulan dana kami kurang untuk mempebaiki mesjid ini!"
Mendengar hal itu, membuat Daniel kini berinisiatif untuk menyumbangkan uangnya.
"Ya sudah besok saya transfer dana pembangunan masjid ini, tolong segera perbaiki agar terlihat nyaman. "
" Alhamdulillah, baik Pak Daniel. "
Semua orang tampak senang dengan perkataan Daniel yang akan menyumbangkan uang pada mesjid.
Saat Daniel pulang, suara ponselnya berbunyi.
(Apa anda sudah menjalankan ibadah salat subuh?)
Betapa senangnya Daniel mendapatkan pesan dari Sarla, padahal tadi malam iya nampak kesal, karena Sarla menasehatinya.
(Sudah.)
Daniel mencoba mengirim pesan kembali kepada istri keduanya, (Lagi apa?)
Pesan yang ia kirim seperti anak muda yang baru berpacaran.
(Masak.)
(Memang si bibi nggak masak?)
(Saya hanya ingin masak sendiri!)
Pesan antara Daniel dan Sarla terdengar kaku, dimana mereka saling bertanya satu sama lain.
Daniel masuk ke dalam rumah, dimana Wulan sudah menyiapkan sarapan untuknya.
"Kamu pulang sayang, aku sudah siapkan sarapan untukmu."
"Oh."
Daniel hanya membalas seadanya, terlihat sekali ia benar benar mempelihatkan sifat cuek kepada Wulan.
Lelaki berbadan kekar itu kini duduk di atas kursi, terlihat ia begitu santainya mengambil makanan sendiri.
__ADS_1
"Biar aku saja." Wulan mulai mempelihatkan perubahan sifatnya, dimana ia menjadi istri yang terlihat begitu penurut dan mau melayani suami dengan sepenuh hati.
Daniel tetap tak melirik Wulan sedikit pun, ia hanya cuek dan berusaha tetap tak peduli, walau Wulan memanjakannya saat itu.
"Apa ada tambahan lagi."
"Sudah."
Wulan tetap memperlihatkan senyumannya di hadapan sang suami, di mana Alenta datang dan langsung duduk untuk segera memakan sarapannya.
"Biar Wulan ambilkan untuk ibu. " Betapa terkejutnya Alenta, ketika Wulan mengambilkan beberapa makanan untuk sarapan Ibu mertuanya.
"Silahkan mah, dimakan. "
Alenta mulai melirik ke arah Wulan yang tiba-tiba saja berubah drastis, menjadi sosok ibu rumah tangga yang baik.
"Tumben sekali?" Tanya Alenta kepada Wulan, di mana Wulan yang tadinya menundukkan pandangan, kini menatap ke arah mertuanya," Wulan ingin belajar lagi menjadi istri yang baik."
Alenta mengerutkan dahinya setelah mendengar apa yang dikatakan sang menantu.
"Wulan.Jika kamu ingin berubah, berubahlah sesuai hatimu. Jangan berubah karena pura-pura ingin diakui oleh kita semua di sini."
Deg ....
Perkataan Alenta mampu menusuk hati Wulan, bagaimana bisa wanita tua itu tahu jika dirinya sedang berpura-pura, Padahal dia berusaha menutupi kekesalannya di hadapan Daniel dan juga orang-orang yang berada di rumah.
"Wulan, apa yang dikatakan ibu itu benar, kamu jangan hanya pura-pura saja menjadi orang yang baik. "
Wulan tampak kesal sekali mendengar jawaban yang terlontar dari mulut suaminya, dimana ia berusaha tetap tenang dan menanggapi perkataan mereka berdua. " Wulan tidak sedang berpura-pura, Wulan benar-benar ingin berubah."
Alenta menatap ke arah anaknya, memberikan suatu kode untuk Daniel, menjawab perkataan sang istri.
" Jika kamu tidak sedang berpura-pura, apa semudah itu keluarga kami menerima Kamu Wulan? "
Pekataan Daniel membuat Wulan benar-benar tak menyangka, di suatu posisi sedang hamil Wulan mendapatkan perkataan yang tidak menyenangkan dari mertua dan juga suaminya.
"Maksud kamu?"
Wulan berusaha tetap tenang, tidak terpancing akan emosi karena mendengar perkataan Daniel.
" Aku tahu kok, kamu itu banyak sekali berdrama, agar bisa menyembunyikan rahasia yang sudah kamu simpan sejak lama."
Wulan tentunya terkejut dengan perkataan Daniel sang suami, di mana ia berusaha tidak mengerti apa yang dikatakan suaminya itu, "apa maksud. kamu Daniel, aku benar-benar tak mengerti kenapa kamu malah mengatakan bahwa aku menyembunyikan sebuah rahasia. Rahasia apa bukannya selama ini menikah denganmu tidak ada yang aku sembunyikan sama sekali."
"Sudahlah jangan berbohong, Wulan aku sudah tahu sifat aslimu dari dulu, kamu ini adalah wanita yang licik dan bisa melakukan cara apapun, demi menuruti keinginan kamu."
"kalau memang kamu masih berpikir seperti itu, kenapa kamu tidak langsung menceraikan aku saja saat ini juga. "
__ADS_1
"Bagaimana mungkin aku menceraikan kamu dan membebaskan kamu, sedangkan dendamku belum terbalas semuanya. "