Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 138


__ADS_3

" Kenapa nyonya? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Bi Siti terlihat ia mengkhawatirkan Wulan, setelah mendengar namanya disebut oleh sang nyonya.


"Wulan pendarahan!" mendengar jawaban dari sang Nyonya membuat Bi siti terkejut. " Apa?"


"Entahlah, Saya pusing kalau mikirin dia, sudah dibilangin diam di rumah jangan ke mana-mana ataupun lari-lari, dia tetap saja ngeyel kayak anak kecil, jadinya kan seperti itu. Sekarang pendarahan, pastinya dia terjatuh gara-gara mendengar Daniel kecelakaan. "


Gerutu Alenta, dari dulu memang dia tak suka dengan Wulan. Apalagi setelah mendengar isu perselingkuhannya dengan seorang lelaki miskin yang hanya memeroti uangnya saja.


" kemungkinan besar Nyonya Wulan terjatuh karena panik," ucap Bi Siti yang terdengar membela Wulan.


Alenta kini menatap ke arah pembantu yang berada di samping, kedua matanya membulat, " Kenapa sih Bi Siti selalu membela dia?"


"Saya tidak membela Nyonya Wulan, nyonya, bukannya seorang istri akan panik setelah mendengar suaminya kenapa-napa. "


Menghelap napas, Bi Siti bisa saja membalas perkataan Alenta, hingga wanita tua itu kesal. " tapi tak harus membuat diri terjatuh dan mengakibatkan kejadian yang patal seperti sekarang. Memang Wulan itu ceroboh, sudah selingkuh, dapat anak dari selingkuhannya sekarang ehh malah pendaraan. "


Bi Siti hanya diam tak bisa membalas ocehan yang terlontar dari mulut majikannya itu, setiap perjalanan menuju ke rumah sakit untuk segera menjenguk Daniel.


Alenta mengoceh membahas tentang menantunya itu, " dasar memang si Wulan itu tidak punya harga diri sebagai wanita, memalukkan."


Bi Siti hanya menggelengkan kepala, mendengar ocehan sang majikan yang membuat kepalanya sakit.


sang sopir mulai memberhentikan mobil, rumah sakit yang dituju ternyata sudah sampai, " sudah sampai nyonya. "


"Syukurlah, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anakku Daniel. "


Alenta turun dari dalam mobil, mencari ruangan anak semata wayangnya itu. Membuka pintu kamar yang ditunjukan suster, ia melihat Daniel terbaring di rajang tempat tidur dengan keadaanya yang menghuatirkan.


"Daniel, nak. Bangun. "


Suster kini memberi tahu ke adaan Daniel yang kritis, dimana lelaki berbadan kekar itu mendapatkan sebuah benturan di kepalanya, sontak Alenta yang mendengar penjelasan suster membuat ia menangis.


di situ yang berada di belakang punggung sang nyonya, terus memikirkan keadaan Wulan. Ia begitu kuatir terjadi apa-apa dengan bayi Wulan.


"Bi Siti. "


"Bi Siti. "

__ADS_1


Beberapa kali Alenta Memanggil nama pembantunya itu, Bi siti terlihat melamun memikirkan sesuatu. Alenta yang melihat hal itu langsung menepuk bahu pembantunya.


"Bibi kenapa sih?"


"Ah. Iya, nyonya kenapa?"


"Dari tadi saya panggil, tetap bibi gak nyaut nyaut, kenapa sih!"


Bi Siti tampak ketakutan dengan amarah yang dilayangkan Alenta, ia kini meminta maaf," bibi ini mikirin apa sih?"


"Anu Nyonya, saya tak mikirin apa apa?"


"Jangan bohong bi, kelihatan dari tadi Bibi banyak melamun, atau jangan-jangan Bibi itu lagi memikirkan si Wulan ya. "


"Ehh, tidak. "


"Sudahlah bi, Jangan berbohong saya juga tahu bahwa bibi itu dekat sekali dengan Wulan. "


Bi Siti hanya menganggukkan kepala ia tak berani lagi membantah perkataan majikannya," Kenapa diam saja Bi, jawab saja yang jujur. "


"Tidak kok Nyonya, oh ya saya izin dulu ke toilet ya."


"Bi Siti, Bi siti bisa bisanya dia."


Wanita tua itu, terburu-buru pergi keluar ruangan Daniel, dia mulai menghubungi Ita, untuk mendengar kabar Wulan.


Namun beberapa kali menghubungi Ita, tak ada jawaban sama sekali, sampai pada akhirnya. Bi Siti duduk dengan kekhawatiran yang begitu menggebu-gebu.


"Nyonya, semoga anda baik baik saja. "


Perasaan tak menentu, terkadang membuat wanita tua itu cemas dan tak bisa tenang. Apalagi saat memikirkan Wulan, Bi Siti sudah menganggap Wulan seperti anak sendiri.


******


Ita sudah sampai di rumah sakit, ia menyuruh para suster untuk segera menangani Wulan, " Suster, dokter. "


Wulan masih dengan rasa sakitnya, ia tak tahan lagi, sampai dimana Wulan jatuh pingsan. Membuat kepanikan pada diri Ita bertambah.

__ADS_1


Ita tak menyadari jika ponselnya terus bergetar, menandakan beberapa panggilan datang pada ponselnya, " Nyonya Wulan semoga anda baik baik saja. "


Setelah sampai di ruangan UGD, Wulan bangun dari pingsannya, ia sadar dan terus meringis kesakitan, di mana suster berusaha menenangkan sang pasien.


"Nyonya tenang saja ya."


Ternyata Wulan dengan sekuat tenaga menahan rasa sakit, dan tidak lemah untuk mempejuangkan anak dalam kandungannya.


******


Ita terus bolak balik ke sana ke mari, membuat ia mengecek ponsel, beberapa panggilan tak terjawab dari Bi Siti.


Menghubungi kembali Bi Siti, " Halo bi, ada apa?"


"Bagaimana keadaan Wulan Ita!? "


"Nyonya Wulan sedang ditangani oleh para suster dan juga dokter di ruangannya!"


" syukurlah kalau begitu, saya benar-benar mengkhawatirkan Nyonya Wulan, jika ada kabar apapun. Tolong hubungi saya secepat mungkin. "


"Baik bi. "


Sambungan telepon pun kini dimatikan sebelah pihak, Bi Siti merasa heran dengan Ita yang tiba-tiba saja berubah menjadi baik, seakan sifat aslinya yang dulu itu kembali lagi.


"Ita sebenarnya kemarin apa yang sudah membuat kamu berubah menjadi orang yang berbeda sekali seperti yang sekarang," gerutu hati Bi siti.


Alenta baru saja keluar dari ruangan Daniel, ia terkejut melihat Bi Siti sudah duduk di kursi, padahal seingat Alenta jika Bi Siti itu meminta izin kepadanya untuk pergi ke kamar mandi.


Alenta melihat Bi Siti tengah melamun sendirian, membuat wanita tua itu mendekat lalu duduk di samping sang pembantu," Sudahlah Bi Siti pasti sedang memikirkan keadaan Wulankan. "


Bi siti mengusap pelan air matanya yang ternyata jatuh dari tadi, ia berusaha tak memperlihatkan kesedihannya. " Nyonya, ada di sini. Saya kira Nyonya ada di dalam ruangan bersama dengan Tuan Daniel."


" Sudahlah jujur saja kamu dari tadi melamun pasti memikirkan Wulan. Kenapa sih Bi Siti selalu membela dia jelas-jelas dia itu banyak salah, Sebenarnya saya juga sebagai mertua si Wulan, saya itu sangat menyayangi dia Tapi setelah saya mendengar jika Wulan berselingkuh dan mendapatkan anak hasil perselingkuhannya. Saya benar-benar kesal terhadap dia. "


" Nyonya apa Nyonya tidak sadar hanya karena satu kesalahan, anda begitu membenci anak yatim itu.


" saya tahu dia anak yatim, makanya saya begitu kasihan terhadap dia, mengizinkan Daniel menikah dengan dia, tapi apa balasan dia

__ADS_1


dia itu seperti orang yang tidak tahu caranya berterima kasih. Bi Siti tahu sendirikan dari dulu dia itu tidak punya malu selalu membentak saya. "


Bi Siti hanya menatap sekilas ke arah sang Nyonya, tak berani membalas perkataan majikannya itu, karena tetap saja mata Alenta Wulan tetap salah.


__ADS_2