Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 131


__ADS_3

Daniel bangkit dari tempat duduknya, ia mencoba menyelidiki siapa orang yang sudah memberi tahu tentang benda kecil. Yang sengaja ia taruh di atas ranjang tempat tidur dan juga kamar mandi.


"Aku penasaran sekali, siapa yang sudah memberi tahu Sarla akan hal yang aku tutup tutupi selama ini. "


Ternyata tak butuh waktu yang begitu lama untuk menyelidiki siapa orang yang sudah membocorkan rahasia, tentang benda kecil yang di simpan Daniel sengaja di tempat yang pastinya tidak akan diketahui oleh Sarla.


Daniel menyelidiki kembali rekaman CCTV yang berada di ruang kerjanya, ia ingin tahu siapa orang yang sudah berani masuk ke dalam ruangan kerjanya.


Dan ternyata orang itu adalah Wulan, Iya datang ke ruangan Daniel, terlihat Wulan sedang memainkan laptop Daniel.


Saat rekaman itu di Zoom, Daniel melihat Wulan membuka folder yang sengaja ia simpan, beberapa kali Wulan salah mengetik kata sandi yang sengaja dipakai oleh Daniel.


Sampai pada akhirnya istri pertama Daniel itu berhasil membuka folder yang sudah terkunci, Wulan mengambil ponsel dalam satu celananya, mengetik beberapa pesan, " sedang apa Wulan dengan ponselnya. "


Hingga beberapa menit kemudian, Wulan seperti sengaja mengalihkan foto-foto yang disimpan Daniel pada ponselnya.


" Sepertinya yang memberitahu Sarla itu adalah Wulan. "


Memukul meja kerja, merasakan rasa kesal, Daniel mulai melihat pemandangan istrinya yang menelepon seseorang, entah siapa orang yang sudah ditelepon oleh Wulan.


"Apa Wulan menelepon Sarla."


Daniel hanya menebak-nebak saja, karena memang sekarang Sarla begitu murka kepadanya.


Bangkit dari tempat duduk, Daniel berencana untuk menghampiri sang istri. " Awas kamu ya Wulan. "


Melangkahkan kaki keluar dari ruang kerja, Daniel mulai mencari keberadaan sang istri, Iya memanggil-manggil nama istrinya itu.


"Wulan, dimana kamu?"


Wulan ternyata berada di dalam kamar, ia terlihat menikmati sebuah kasur empuk yang membuat tubuhnya malas bergerak.


"Wulan."


Daniel masuk ke dalam kamar, ia menarik tangan istrinya," Daniel, kenapa kamu tarik-tarik tangan*ku, sakit tahu. "


Daniel selalu memperlihatkan kemarahannya di depan Wulan, sudah lama Wulan tidak pernah melihat kelembutan dari sosok lelaki yang menjadi suaminya itu.


"Kenapa sih, setiap kali kamu menemuiku. kamu selalu marah-marah tak jelas, dan kadang membentakku . "


Daniel tak mempedulikan perkataan istrinya, karena ia berniat ingin bertanya kepada sang istri, tentang apa yang sudah dilakukannya saat masuk sembarangan ke ruangan kerjanya. " Siapa yang menyuruh kamu membuka laptopku."


Deg ....

__ADS_1


Wulan lupa saat ia masuk ke ruangan kerja tidak mematikan CCTV terlebih, harusnya ia lebih teliti. Sebelum Daniel menyelidikinya lebih jauh.


Lelaki berbadan kekar itu mencengkram lengan sang istri, " Ahk, sakit Daniel. "


"Cepat katakan?"


Daniel terus menekan sang istri agar berkata jujur, berharap jika Wulan mengatakan semua yang sudah ia lakukan dengan leptop Daniel.


"Ayo katakan, kenapa?"


Wulan merasa dirinya terancam, dia berusaha menghindar dari tatapan Daniel." aku tidak melakukan apapun pada laptopmu."


"BOHONG, kalau memang kamu tidak melakukan apapun pada laptopku. Kenapa pada rekaman CCTV Kamu terlihat jelas mengutak-atik laptopku?"


Wulan tak bisa berkutik lagi, pada akhirnya ia berkata jujur. " Daniel? Aku tidak berniat mengambil data dari laptopmu itu, Kebetulan sekali laptop itu menyala dan aku mulai mematikannya."


Wulan berpura pura kesakitan akan perutnya, ia tak mau jika Daniel terus menekannya akan sebuah pertanyaan yang pastinya tak bisa ia jawab.


"Aduuh, perutku Daniel. "


Terkejut, pada akhinya Daniel mulai membantu sang istri untuk bangkit. " Sakit Daniel. "


Membuat drama kesakitan, adalah hal yang mudah bagi Wulan, ia berusaha melakukan hal itu semurni mungkin.


Daniel merasa panik dengan istrinya, hingga pada akhirnya ia membopong tubuh Wulan menuju ke kasur, untuk segera menidurkan sang istri.


"Kamu baik baik saja."


Daniel mencoba berteriak memanggil pembantu di rumahnya, Karena rasa paniknya melihat Wulan kesakitan. Bi Siti yang selalu menjaga Wulan dengan begitu baik, datang mendengar teriakan majikannya. " Ada apa tuan?"


"Bi Sakit. " Wanita tua itu terkejut melihat majikan perempuannya tengah kesakitan.


"Entahlah, tadi aku marahin dia, lalu perutnya kesakitan. Coba urus dia bi."


Entah pikiran Daniel ada di mana, ketika istri kesakitan bukannya membawa ke rumah sakit, Iya malah menyuruh pembantunya untuk menangani sang istri.


"Tuan."


Daniel pergi setelah menyerahkan istrinya kepada pembantu di rumah, Bi siti yang melihat tingkah Daniel hanya menggelengkan kepala. "


"Tuan Daniel ini gimana sih, istri kesakitan malah diserahkan sama bibi. "


Bi Siti mulai menatap ke arah Wulan, ia kini bertanya, " Nyonya apa sakitnya parah. "

__ADS_1


Saat itulah Wulan mengedipkan matanya di depan Bi Siti, dimana wanita tua itu bernapas lega, " Jadi Nyonya?"


Wulan menempelkan bibirnya, berusaha menutup mulut sang pembantu agar tidak banyak bicara.


"Bi ngertikan. "


Bi Siti menganggukkan kepala dan ia mengerti sekali perkataan majikan perempuannya.


wanita tua itu langsung menutup pintu kamar, dimana Daniel yang sudah jauh melangkahkan kaki sekilas menatap ke arah belakang kamar sang istri.


Rasa penasaran terus menghantui hati Daniel, lelaki berbadan kekar itu melangkahkan kaki kembali ke kamar sang istri.


Wulan yang masih berada di dalam kamar bersama Bi Siti, kini membisikan suatu perkataan, " Bi Kita pura pura aja ke panik gitu, aku tahu pastinya Daniel tidak akan membiarkan aku kesakitan. "


Bi Siti tampak setuju, ia menganggukkan kepala menuruti perintah sang nyonya. Memperlihatkan jempol tangan lalu.


"Ahkkkk."


Daniel sudah kembali lagi di depan pintu sang istri, dia mulai menempelkan telinganya pada pintu kamar Wulan.


Terdengar suara teriakan yang mengejutkan dirinya seketika, Daniel merasa panik yang Mencoba membuka pintu kamar Wulan, melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Bi Siti kini menatap ke arah majikannya yang tiba-tiba datang, " Wulan."


Wulan meringis kesakitan saat d


Bi Siti memijatnya, ''Tuan ada apa?"


Padahal Daniel berusaha tidak memperdulikan istrinya, memberi pelajaran pada Wulan. Agar tidak menjadi sosok wanita yang manja.


Ada rasa malu menyelimuti hati Daniel, karena mendengar Bi Siti bertanya padanya.


"Saya hanya terkejut mendengar Wulan berteriak secara tiba-tiba, takut terjadi apa-apa dengan dia. Kalau pun terjadi nanti saya yang repot mengurusnya. "


Deg ....


perkataan Daniel begitu tajam. ia memperlihatkan ketidak peduliannya pada Wulan.


"Kamu jangan kuatir Daniel, jika aku mati bukan kamu yang menguburkanku, kamu tahu itu, " cetus Wulan merasa tak dihargai sebagai seorang istri dia berani berbicara seakan memojokkan Daniel.


" Memang bukan aku yang menguburkanmu tapi tukang gali kubur, dan lagi jika kamu mati. Aku yang repot karena mengurus kematianmu. "


"Jika kamu tidak mau repot, makanya ceraikan aku, jika tidak mau sekalian buang aku ke jurang kalau mati nanti. "

__ADS_1


__ADS_2