
Saat berjalan menuju ke gudang, Sarla bergumam dalam hatinya," sebelum kasus anakku, terlebih dulu aku harus mencari tahu tentang kasus mama tiriku. "
Sarla kini sampai di depan pintu gudang, dia mencoba membuka klop pintu ruangan gudang, untuk mengambil barang yang ia butuhkan saat ini.
Membuka pintu gudang itu, Tari tiba-tiba saja datang mengagetkan sang majikan, " Nyonya. "
"Tari, Kenapa tiba-tiba sekali kamu datang mengagetkan ku?" pertanyaan sarla membuat Tari menundukkan pandangan.
"Maaf, sebelumnya nyonya. Saya hanya berusaha menjaga nyonya, agar tidak dalam bahaya. "
Sarla yang mendengar perkataan Tari, kini mengerutkan dahinya.
"Kamu ini, ada ada aja Tari. Memangnya saya ini anak kecil harus ada pada penjagaan kamu."
Tari menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal, ya tersenyum lebar di hadapan Sarla, " Maaf nyonya ini atas perintah Papah Nyonya sendiri."
Sarla malah tertawa terbahak-bahak di hadapan pembantunya itu," Papa ini ada-ada aja. "
"Nyonya ngapain ada di depan pintu gudang sendirian lagi?" Pertanyaan Tari membuat Sarla menutup mulutnya.
"Kamu ini, banyak nanya. Oh ya, Kebetulan sekali saya ingin mengambil barang yang sudah lama tak terpakai di dalam gudang, jadi apa kamu mempunyai kunci cadangan?"
Tari terlihat gugup, berusaha mengatur napasnya beberapa kali, agar tidak membuat majikannya curiga.
Menggelengkan kepala dan menjawab, " tidak ada?"
Sarla merasa heran dengan raut wajah pembantunya itu, terlihat Tari seperti orang yang ketakutan.
"Tari, apa kamu baik-baik saja?" pertanyaan Sarla membuat Tari merasa gugup.
Ia berusaha mengalihkan pembicaraan, agar sang majikan tidak masuk ke dalam gudang, iya takut jika Sarla tahu, bahwa di dalam gudang itu ada Wina sang tante yang sudah lama dikurung oleh Gunawan.
"Tari dari tadi saya lihat kamu itu seperti orang yang gelisah dan nada bicaramu gugup sekali, apa tidak ada yang kamu sembunyikan dari saya saat ini?"
Sarla memang pintar dalam menebak ekspresi seseorang, bisa bisanya ia tahu jika Tari tengah menyembunyikan sesuatu pada dirinya.
"Tidak ada, nyonya. "
"Ya sudah, sekarang mana kuncinya. "
Sarla menyodorkan telapak tangan, ia tahu jika Tari mempunyai kunci gudang.
"Ayo sini kuncinya. "
"Nyonya biar saya saja yang mengambilkan barang yang nyonya butuhkan, jadi nyonya tinggal menunggu saja di depan."
Sarla tak suka dengan nada bicara Tari, " loh kok kamu jadi merintah saya. "
__ADS_1
Sarla mempelihatkan rasa kesalnya, " Ayo cepat, mana kuncinya. "
Pada akhirnya Tari menuruti perkataan Sarla, ia merogoh saku celana untuk mengambil kunci gudang.
"Ayo buka. "
Tangan bergetar Tari membuat Sarla semakin yakin jika pembantunya itu menyembunyikan sesuatu.
Ceklek ....
Dalam hati Tari hanya bisa pasrah, jika Sarla mengetahui keberadaan Wina yang disekap oleh ayah kandungnya sendiri.
Tari menutup kedua mata, tak ingin melihat kesedihan yang dirasakan oleh Wina saat dirinya bebas. Dan kini riwayat Tari habis, karena sudah membuka pintu gudang.
Gunawan pasti akan marah besar kepadanya.
"Gudang ini rapi, kamu padai membereskannya."
ucap Sarla, membuat Tari membuka perlahan kedua matanya yang menutup.
"Wangi sekali, " puji Sarla. Mencari barang yang ia butuhkan.
Tari terkejut, dia tak melihat keberadaan Wina sama sekali, padahal jelas jelas tadi siang Wina masih duduk di teras yang sudah ia rapikan.
"Kemana Mbak Wina. " Gumam hati Tari, ia mencoba melirik kesana kemari hanya untuk mencari keberadaan Wina.
Melihat Tari mondar mandir ke sana kemari, membuat Sarla bertanya?" kamu ini kenapa Tari?"
"Ahk, iya nyonya!"
Sarla sudah menemukan barang yang ia mau, kini menatap tajam kearah pembantunya seperti orang linglung.
"Kamu ini kenapa, dari tadi bolak balik kaya setikraan, nggak cape apa?"
Tari tersenyum sembari menundukkan wajahnya, " Iya nyonya maaf. "
"Sebenarnya kamu ini kenapa, ayo ngomong saja sama saya, apa kamu butuh uang?"
Tari melambai lambaikan tangannya, berusaha tidak menolak perkataan majikannya." tidak nyonya, saya hanya ingat sama ibu saya yang di kampung. "
"Mm, kenapa kamu langsung balik ke sini buru buru. Kalau ibu kamu belum membaik."
Menggaruk belakang kepala, Tari kini menjawab, " saya takut jika Nyonya Sarla kewalahan di rumah kalau saya belum pulang. "
Sarla tersenyum tipis dan menjawab, " kamu ini, di saat ibu kamu sakit, masih saja perhatian terhadap saya yang jelas jelas bukan keluarga kamu sendiri, sudah kalau kamu memang ingin pulang lagi, pulang saja. Biar saya ongkosin kamu pulang. "
Tari kembali menolak perkataan Sarla, " tak usah nyonya, saya tidak akan pulang kampung lagi. "
__ADS_1
"Tapi, ibu kamu?"
"Biar saya telepon nanti!"
"Ya sudah, kalau gitu kamu jangan nyesel ya. Kalau keadaan ibu kamu parah, karena saya tidak menekan kamu di sini. "
"Iya nyonya. "
Sarla pergi dari hadapan Tari, " ya sudah, kamu jangan lupa tutup pintunya. "
"Baik nyonya. "
Kepergian Sarla, membuat Tari berusaha mencari keberadaan Wina, ia penasaran kemana Wina pergi. Apa wanita tua itu kabur? Atau jangan jangan wanita tua itu dibawa oleh Gunawan?
Pertanyaan demi pertanyaan terus mengelilingi kepala Tari, ia mencari ke kamar mandi yang sudah ia bersihkan untuk Wina.
Saat membuka pintu kamar mandi, bertapa terkejutnya Tari, melihat Wina tengah menangis.
Dimana Gunawan menutup mulut wanita tua itu rapat rapat.
Tatapan mata Gunawan mempelihatkan kekesalan pada Tari, dimana ia mendorong tubuh Wina kehadapan Tari.
Brakkk ....
Cukup lumayan keras, Tari tak tega melihat Gunawan mempelakukan Wina dengan begitu keji.
"Kamu urus dia, jangan sampai Sarla tahu tentang keberadaan Wina yang ada di rumah ini, kamu mengerti. "
Menunjuk nunjuk wajah Tari, dengan membulatkan kedua matanya.
Tari hanya bisa menurut dan tak berani melawan, ia takut jika melawan hidupnya akan sama dengan Wina.
Gunawan menendang badan Wina dan pergi begitu saja, terlihat amarah Gunawan menggebu gebu.
"Mbak Wina, apa Mbak baik baik saja?" tanya Tari, menenangkan wanita tua yang terus menangis.
"Saya takut!" jelas Wina, dengan terisak isak.
Tari merasa tak tega dengan perlakuan Gunawan yang keterlaluan, membuat ia memeluk Wina dan mendekap erat dengan penuh kehangatan.
"Tari akan memikirkan cara untuk bisa membuat Mbak Wina keluar dari rumah ini."
Gunawan yang baru saja keluar dari dalam gudang, terkejut melihat sosok anaknya yang tiba-tiba menatap ke arahnya," pah, habis dari mana?"
Pertanyaan Sarla membuat Gunawan berusaha tidak marah, ya takut jika anak pertamanya itu mencurigai dirinya yang sudah menyembunyikan Wina di dalam gudang.
"Pah, kok papa malah diam saja. Jawab dong kalau Sarla bertanya." ucap Sarla melipatkan kedua tangannya di hadapan sang papa, menunggu jawaban yang akan dilontarkan mulut lelaki tua itu.
__ADS_1