Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 233


__ADS_3

Terlihat raut wajah kebencian diperlihatkan oleh Sarla dihadapan Daniel, dimana dia pergi melangkahkan kaki untuk menjauh dari mantan suaminya itu.


Namun, tidak disangka, tangan Alenta bergerak menahan tangan menantunya itu. Sarla berhenti ia membalikkan wajah melihat Alenta menangis di hadapannya.


Daniel berusaha melepaskan tangan sang ibunda yang memegang tangan mantan istrinya itu.


"Bu, biarkan Sarla pergi. "


Alenta memaksakan dirinya untuk berbicara, sampai di mana nada bicaranya itu terdengar oleh orang-orang yang berada di dalam ruangan bayi Sarla.


"Sarla, jangan pergi. "


Langkah kaki yang tadinya diteruskan oleh Sarla, tiba-tiba berhenti kembali. " Sarla jangan pergi, Ibu di sini membutuhkan kamu nak. "


Dengan nada bicara yang terdengar belum jelas sepenuhnya, Daniel bersyukur sekali jika mendengar suara yang dilayangkan ibunya itu.


"Ibu, ibu bisa bicara. "


Tetesan air mata menetes pada kedua mata Daniel, kebahagiaan yang tadinya hilang kini kembali lagi tumbuh dalam diri Daniel.


Sang ibu yang memperlihatkan kesembuhannya. " Daniel. Jangan biarkan Sarla pergi, ibu sangat menyayangi dia seperti anak ibu sendiri."


Daniel memegang punggung tangan sang ibunda, menciumnya beberapa kali. " Bu, jangan pernah memaksa Daniel untuk bersatu dengan orang yang tidak menginginkan Daniel sama sekali. Percuma Daniel mempertahankan Sarla, jika salah terus menolak Daniel. "


Sarla tak menyangka jika Daniel berterus terang dihadapan ibunya sendiri, " Daniel. "


"Iya bu. "


"Tetap pertahankan Sarla untukmu, Ibu tahu jika Sarla mencintaimu. "


Deg ....


Sarla yang mendengar perkataan Alenta, kini berusaha tetap pada pendiriannya.


"Bu, Sarla mohon pada ibu, Jangan pernah memaksa orang yang tidak akan pernah menyatu."


"Sarla, kenapa kamu mengatakan hal itu, jelas-jelas kamu itu begitu mencintai anakku. "


"Aku memang mencintai anak ibu, tapi aku tetap menghargai diriku sendiri dan perjanjian yang dibuat anak ibu."


Mendengar hal itu, Daniel tampak malu pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Sarla, perjanjian itu bisa dihilangkan. "


"Tidak ada perjanjian yang bisa dihilangkan begitu saja Bu, karena perjanjian yang ditulis oleh anak ibu dalam kertas dan di setujui antara dua insan harus ditepati."


Sarla berusaha pamit terhadap keluarga Daniel, iya sudah malas membahas tentang perjanjian dan juga rasa cintanya terhadap Daniel.


Yang Sarla pikirkan saat ini adalah kebahagiaan anaknya dan juga dirinya sendiri.


"Sarla, tunggu nak. Apa kamu tidak mau memberi kesempatan pada Daniel satu kali saja. "


Sarla terlihat berjalan menggandeng tangan Gunawan, iya pergi dari hadapan Alenta yang terus mengharapkan dirinya untuk bisa bersama dengan Daniel.


"Sarla."


Alenta berusaha mengejar Sarla, dengan tenaga yang iya punya, beranjak bangkit dari kursi roda, Alenta malah terjatuh ke atas lantai.


Daniel yang melihat Alenta terjatuh, bergegas membantu sang ibunda. Ia menitihkan air mata, tak terima dengan perlakuan Sarla yang mengabaikan ibunya.


"Sarla, apa bisa kamu menggunakan adab dan tidak mengabaikan ibuku. Bukannya kamu tahu sendiri jika ibuku ini tengah sakit, di mana perasaanmu ini, sebagai sesama wanita." tegas Daniel dihadapan mantan istrinya.


Sarla berusaha tidak mengandalkan emosi, ia kini berucap dengan nada pelan, " bukannya dari tadi, aku sudah memberitahu ibu kamu dan juga kamu, Daniel, apa belum cukup perkataanku dari tadi. "


Sarla kini mendekat ke arah Daniel, " cukuplah rasa sakit ibumu itu, menjadi alasan untuk aku mengasihi kalian, karena prinsipku tetap menjadikan kamu hanya sebagai masa lalu. "


Setelah mendengar apa yang dikatakan mantan istrinya, Daniel hanya bisa menuruti semua perkataan yang terlontar dari mulut Sarla.


Alenta yang sudah duduk di atas kursi roda, kini memegang tangan Daniel, menatap ke arah wajah anaknya itu.


"Daniel, apa kamu akan menjadi pengecut setelah kehilangan Sarla, kejarlah dia."


"Tidak bisa bu, maafkan Daniel, sudah cukup pengorbanan Daniel sampai di sini saja untuk Sarla. "


" kenapa kamu malah menyerah begitu saja, Sarla itu wanita yang baik."


Sarla terus berjalan sembari menuntun tangan sang papah, terlihat raut wajah Sarla sangat sedih.


Ada perasaan yang begitu berat dirasakan oleh anak pertamanya itu, Gunawan tahu jika anaknya itu masih mengharapkan Daniel.


Lelaki yang tak mungkin bisa dimiliki Sarla, karena lelaki itu sudah beristri.


Gunawan mulai merangkul anak pertamanya itu, ia kini berkata pada Sarla, " papah tahu apa yang kamu rasakan itu sangatlah sakit."

__ADS_1


Sarla menghentikan langkah kakinya setelah mendengar apa yang dikatakan sang papa, kedua matanya terlihat berkaca-kaca, perlahan Sarla berusaha tetap kuat menghadapi semua yang terjadi.


"Orang yang kini mengerti Sarla hanya papah."


Sarla merasa aman dekat dengan Gunawan yang selalu menenangkan hati dan juga pikirannya.


"Terima kasih, Papa sudah membuat hati Sarla tenang. "


"Kamu tenang saja, papa akan selalu menjagamu dan juga Lilia."


Setelah Gunawan membahas tentang Lilia, dari sanalah Sarla mulai menanyakan, " apa kata Mama Dera, apa besok dia akan menemui kita dengan Lilia, memberikan Lilia."


"Papah juga belum yakin dengan hal itu, karena Mamah Dera terlihat begitu licik,ia malah menjual sertifikat rumah. "


Sarla mengusap pelan air matanya yang tiba-tiba saja jatuh," Mama Dera memang licik dari dulu pah, dia itu ingin selalu untung. "


"Papah juga baru tahu hal ini, Papa menyesal dengan apa yang sudah saya lakukan. Maafkan Papah yang tidak bisa menjadi Papah yang baik untuk kalian berdua."


Pelukan Gunawan kini dirasakan oleh anak pertamanya, betapa Gunawan menyayangi kedua anak-anaknya itu.


******


Dera sudah keliling ke sana kemari, tetap saja tidak menemukan Lilia, terlihat ia nampak frustasi dan juga kelelahan, apalagi Lani yang hanya mengandalkan tongkat. Membuat badannya seketika amruk.


Mereka berjalan menelusuri setiap pinggir jalan, harap jika Lilia dapat ditemukan.


Lani terlihat begitu kelelahan, karena berjalan dengan memaksakan diri," Lani cape mah. "


Lani mulai duduk untuk segera merehatkan badan, sang Mama yang melihat kelelahan anaknya itu, merasa tak tega.


Mengusap pelan kepala rambut Lani, Dera seperti menyesali apa yang sudah terjadi, ia tak tahu akan menjadi seribet ini.


Mereka berdua duduk, untuk segera meminum air dalam botol yang baru saja mereka beli.


Lani tampak memperlihatkan keluhannya di hadapan samamu, dengan memijit-mijit kedua kaki yang terasa begitu pegal.


Dera selalu sabar menghadapi sifat anak satu-satunya itu, berusaha keras menyemangati dan juga meyakini, jika hari ini mereka berdua dapat menemukan Lilia dan menyerahkan anak gadis itu terhadap Gunawan dan juga Sarla.


Setelah habis meminum air dalam botol itu, Dera tampak kesal, karena Lilia dari tadi pagi tidak ditemukan sama sekali.


Dera berusaha bersikap positif, jika anak tirinya itu tidak kenapa-napa. Bolak-balik ke sana kemari hanya menunggu kabar dari suaminya.

__ADS_1


__ADS_2