
"Sayang kamu tahan dulu ya, pasti ini menyakitkan sekali. " Dengan beraninya Dera mengambil pecahan kaca yang mengenai kakinya secara perlahan.
"Ahk sakit mah." Lani meringis kesakitan, terlihat raut wajahnya pucat.
"Yang sabar ya sayang," Dera berusaha menenangkan anak semata wayangnya itu dari rasa sakit yang ia rasakan.
Sedangkan Tari nampak tersenyum senang, melebarkan bibirnya lalu berucap dalam hati, " rasain tuh, kualat kayanya, sok soan sih. Datang datang bikin rusuh orang. "
Dera yang melihat pembantu baru yang berdiri dibelakangnya kini menatap tajam, " heh ngapain kamu masih berdiri disini beresin tuh cepat beling beling kaca yang berserakan, takut terkena anakku lagi."
Printah Dera pada Tari, tak segan segan Dera membentak pembantu baru itu. Ia menunjuk nunjuk pecahan kaca dari atas lantai.
"Baik, nyonya. "
Tari mulai melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Dera, ia mulai memunguti pecahan kaca dari poto Lilia dan juga Gunawan.
"Ada ya manusia kaya begitu, ih amit amit deh. " Gerutu hati Tari.
Selesai membereskan semuanya, Tari bergegas menjauh dari hadapan mereka, sampai dimana langkah Tari terhenti. " Tunggu. "
Tari memajukan bibirnya, dimana ia berusaha tenang menghadapi sang nyonya rumah.
"Iya, kenapa nyonya. "
"Tolong masakin aku makanan sekarang juga." Perintah Dera dengan semena mena kepada Tari.
"Maaf sebelumnya nyonya, makanan sudah tersedia di atas meja, sudah saya hangatkan." balas Tari, Dera malah mempersulit pembantu baru itu, menyuruhnya untuk membuatkan nasi goreng.
"Aku tidak mau, pasti makanan itu bekas Sarla dan juga Lilia, cepat buatkan aku nasi goreng saja," balas Dera kepada sang pembantu.
Tari hanya bisa menurut apa yang dikatakan sang nyonya, ia kini berucap," baik nyonya. "
Melangkahkan kaki, rasa kesal kini dirasakan Tari, bagaimana bisa wanita tua itu begitu gampangnya menyuruh.
Tari kini membuatkan nasi goreng untuk sang nyonya, " Sepertinya aku harus beri dia pelajaran deh."
Tari menyungingkan bibirnya, memikirkan hal yang tak terduga untuk sang nyonya yang mempelakukannya tidak baik.
"Siap siap, wanita sombong itu akan menerima akibatnya."
Nasi goreng telah selesai, waktunya Tari menghidangkan pada sang nyonya yang begitu angkuh dan sok berkuasa.
"Ini nyonya. "
Mengambil nasi goreng itu, Tari tersenyum kecil, " ngapain kamu ada di sini, hah?"
__ADS_1
Dera seperti tak suka dengan Tari, setiap kali Tari ada di dekatnya ia selalu mengusir dan membentaknya tanpa alasan.
"Sayang, ayo makan. Mama suapin ya. "
Lani tampak murung, ia diam terus menerus dari tadi, tak mengatakan satu patah katapun.
"Sayang, kamu dari tadi pagi belum makan, ayo dong makan ya. "
Dera mencoba membujuk anaknya, ia begitu khuatri dengan keadaan Lani yang tiba tiba saja marah marah tak jelas.
"Apa yang sudah membuat kamu jadi emosi seperti ini sayang. Ayo katakan pada mama?" tanya Dera, berharap jika anaknya mau mengungkapkan kesedihannya itu.
"Cerita ayo sama mama, " Dera terus membujuk anaknya agar mau mengeluarkan segala unek unek yang dirasakannya.
Menarik napas, lalu menjawab. "Lani benci sama Lilia, bisa bisanya dia memajang poto dirinya dengan papah."
Kini kekesalanya terungkap dari Lani, dimana gadis manis itu iri dengan kedekatan Lilia dan juga sang ayah, membuat Lani berpikir jika kasih sayang sang ayah akan diambil oleh Lilia.
Mengusap pelan bahu anaknya, Dera kini memeluk Lani lalu menjawab." Mama pastikan, akan membuat papah sayang lagi sama Lani, mama bakal berusaha membuat posisi Lilia tersingkirkan."
Mendengar hal itu Lani tampak senang, ia tersenyum lalu memeluk sang mama dengan begitu erat. " Makasih mama."
"Sama sama sayang."
"Mereka itu kemana sih, jam segini belum pulang?" Gerutu hati Dera.
Pembantu yang bernama Tari itu menguping pembicaraan Dera dan juga anaknya, dimana ia berucap. " oh jadi begitu rencana mereka, awas aja nanti aku akan kasih tahu sama Nona Lilia dan juga Tuan Gunawan. "
Tari mulai berjalan, ia tak sabar mengadukkan semua perkataan Dera dan juga Lani.
*********
Lilia dan juga Sarla, tengah berbelanja sepuasnya, mereka tampak bahagia. "Enaknya kalau nggak ada Mama Dera dan juga Lani, papah itu jadi baik sama kita. "
Sarla mengusap pelan rambut adiknya, lalu berkata lagi, " karena tidak ada yang menghasut pikiran papah, coba aja kalau mereka ada di rumah. Pasti papah bakal mengabaikan kita. "
"Ya, papah nggak adil sama kita kalau ada Mama Dera, apalagi si Lani yang manja itu, Lilia kesal dengan mereka semua. " Keluh sang adik, membuat Sarla memeluk kesedihan yang dirasakan adiknya.
"Lilia, Sarla, sudah bebelanjanya?"
Tanya sang papah, membuat mereka langsung melepaskan pelukan.
Lilia mengambil barang apa yang ia mau, begitupun dengan Sarla. " Sudah pah!" jawab Sarla.
"Ya sudah, waktu sudah mau malam sebaiknya kita cepat pulang, " balas Gunawan melihat jarum jam pada tangannya.
__ADS_1
Mereka bertiga mulai pulang, terlihat keduanya nampak begitu gembira bebelanja sepuas yang mereka mau.
"Gimana, seru tidak?" tanya sang papah pada kedua putrinya.
Sarla dan Lilia menganggukkan kepala, mereka tersenyum karena merasakan kebaikan sang papah.
Setelah sampai di rumah, Dera mendengar suara langkah kaki, terdengar suara Lilia dan juga Sarla yang tengah mengobrol.
"Mereka sudah pulang? Waktunya memberi perhitungan pada Gunawan!"
Dera bangkit dari tempat duduknya, setelah ia menikmati nasi goreng yang dibuatkan Tari.
"Owh, jadi begini ya, kalau tidak mama di rumah, semua orang happy happy berbelanja. Sedangkan istri dan anaknya diabaikan." Ucap Dera, membuat Sarla dan juga Lani saling menantap satu sama lain, mereka berdua tampak risih karena sang mama yang tiba tiba saja marah marah tak jelas.
Gunawan tak meduga jika istrinya akan pulang dengan sendirinya.
Dera kesal dengan kedua anak Gunawan yang terlihat begitu ceria, ia merebut barang belanjaan Lilia lalu berkata, " sini, ini semua milik Lani. "
Sarla kesal melihat sang mama tiri yang selalu membuat keributan. Ia kini merebut barang Lilia dan berkata, " jangan semena mena pada adikku. Anda paham. "
Dera menyunggingkan bibirnya, ia lalu menjawab. " Papah. "
Panggilan Dera malah membuat Gunawan kesal, ia mendekat dan berkata, " jangan membuat anak anakku bersedih atau marah. "
Mendengar hal itu, Lilia dan Sarla tersenyum lebar mereka senang jika sang papah pada akhirnya berpihak pada mereka berdua.
"Papah kenapa papah jadi berubah, mama ini ingin mengajarkan mereka. "
Semakin Dera berucap semakin kesal Gunawan. " Diam, aku tidak butuh kamu mendidik anak anakku, karena mereka bukan anak kecil lagi. "
Bentakan itu membuat hati Dera sakit, ia ingin pergi dari rumah Gunawan, namun tak kuasa karena hidupnya sudah tak memiliki apa apa.
Gunawan mulai melangkahkan kaki, pergi dari hadapan sang istri, terlihat sekali jika Gunawan sengaja untuk tegas, agar Dera sadar dari kesalahnnya.
"Papah."
Dera mencoba untuk berbicara pada sang suami, dimana ia mengikuti langkah kaki Daniel.
Lilia muali mengajak pergi sang kakak untuk melihat kembali barang barang yang mereka beli. " Sudah kak, jangan hiraukan nenek lampir itu, mending kita masuk ke dalam kamar yuk. Lilia mau menunjukkan barang yang Lilia beli."
Sarla tersenyum lebar lalu menjawab." Oke deh. "
Lani yang memaksakan diri untuk melihat sang mama menghadapi suaminya, membuat ia kesal karena sudah menatap Sarla dan Lilia tengah bahagia.
"Mereka, awas saja. "
__ADS_1