Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 229


__ADS_3

Suara perdebatan itu terdengar dari kejauhan, saat Wulan berjalan mendekat pada ruangan bayi mungil yang sudah ia buat menderita.


"Aku seperti mendengar suara Sarla dan juga Daniel. "


Rasa penasaran itu semakin menggebu-gebu pada hati kecil Wulan, ia mendekat dan semakin dekat, hingga mengintip di balik tembok.


Membulatkan kedua mata, melihat keduanya tengah berdebat hebat, " jadi benar, Sarla menuntut Daniel atas penganiayaan bayi mungil itu. "


Mengerutkan dahi, Bi Siti menyadari jika Wulan tengah mengintip di balik tembok. " Itu Nyonya Wulan. " Gumam hati Bi Siti.


Sarla dan juga Daniel masih fokus dengan perdebatan mereka berdua. Tanpa sadari jika Wulan tengah mengintip, Bi Siti kini mencari cela agar perdebatan Daniel dan Sarla berhenti.


Ia menghampiri Wulan, menarik tangan wanita itu. " Nyonya Wulan ayo sini. "


Bi Siti berusaha menarik paksa Wulan untuk keluar dari persembunyiannya, " Bi Siti. "


Wulan menempelkan telunjuk jari tangannya pada bibir dengan berkata, " Bi Siti, Hussst. Husttt. "


Bi Siti malah sengaja menarik paksa Wulan, sampai Daniel dan juga Sarla menatap ke arah Wulan yang terjatuh akibat tarikan tangan Bi Siti.


Keduanya kini menatap ke arah Wulan, " Kebetulan ada Nyonya Wulan."


Wulan berusaha bangkit, setelah Bi Siti menyindirnya habis habisan. " Nyonya Wulan datang, jadi kita di sini bisa menyelesaikan masalahnya. "


Wulan tampak gugup setelah mendengar perkataan Bi Siti, ia menatap tajam ke arah wanita tua itu.


Dimana Sarla mendekat dan berkata, " aku tak menyangka jika seorang Wulan berani datang ke sini. Apa kamu mau mengakui kesalahanmu sekatang, Wulan. "


Deg ....


Mata Wulan melirik ke sana kemari, seperti ketakutan akan perkataan Sarla yang terdengar sedikit menekan.


"A-ku datang ke sini. Hanya ingin melihat keadaan anakmu, " ucap Wulan dengan penuh keraguan, perasaanya tak menentu hatinya kini bimbang.


Daniel mengusap kasar wajahnya, ia malas jika ada Wulan datang ke rumah sakit.

__ADS_1


"Jadi sekarang kamu mau mengakui kesalahanmu itu. " balas Sarla, wanita bercadar itu kini melipatkan kedua tangan semakin mendekat kearah Wulan.


"Mm, aku tidak bersalah. Karena aku tidak memberikan susu sembarangan pada bayi kamu Sarla, yang memberikan itu Bi Siti ini, " ucap Wulan menyalahkan orang yang sudah membantunya sampai sejauh ini.


Bi Siti sontak terkejut, ia membulatkan kedua matanya, merasa sakit hati dengan pengorbanannya yang tak dihargai sama sekali.


"Bi Siti, bisa bisanya kamu menyalahkan aku atas bayi Sarla yang masuk ke rumah sakit, " ucap Wulan membuat sebuah drama dihadapan Daniel, seakan ia tersakiti.


"Wulan, Wulan. Bisa bisanya kamu menaruhkan kesalahanmu padaku yang selalu ada didekatmu, senan tiasa menghiburmu, membantumu. Sampai kamu bisa sejauh ini dengan Daniel. Dimana Daniel tidak menceraikanmu, dan Sarla mengalah untukmu, " gumam hati Bi Siti, mempelihatkan raut wajah kekecewaannya.


Kedua mata wanita tua itu berkaca kaca. Mendengar kesaksian, dari mulut Wulan.


" Nyonya Wulan, saya tak menyangka jika anda sepicik ini, saya sudah merasa jika perubahan anda sudah benar benar keterlaluan dan di luar batas. "


Wulan terlihat masa bodoh dengan perkataan Bi Siti, karena ia sudah merasa tak butuh lagi wanita tua itu. Bagi dirinya Bi Siti sudah tak berguna.


Daniel mendekat dan bertanya lagi secara baik baik pada Bi Siti. " Apa benar bi."


Air mata pada akhirnya tumpah kembali, mengenai kedua pipi Bi Siti, dimana Wulan hanya tersenyum dan menunggu jika Daniel akan berpihak lagi padanya.


Teriakan Ita mengejutkan semua orang berada di rumah sakit, "Ita, untuk apa kamu ada di sini?"


Bi Siti berusaha menyuruh Ita pergi dan tidak ikut campur akan urusan Wulan, " sebaiknya kamu jangan ke sini, sekarang urusannya lagi tidak baik. "


"Bi Siti, aku ingin menyelamatkan bibi dari kemunafikan Nyonya Wulan. "


Ita dan Bi Siti saling berbisik satu sama lain, " Sudah tak usah, mungkin semua sudah menjadi nasib saya. "


"Nasib bagaimana, tetap Bi Siti tidak salah. "


Ita terus menyakini Bi Siti untuk tidak menjadi orang yang lemah di hadapan Wulan," Bi Siti harus bisa melawan, jangan jadi pecundang disaat Bi Siti tak dibutuhkan Nyonya Wulan. "


Bi Siti terlihat ragu dengan nasehat yang terlontar dari mulut Ita, perasaannya tak karuan, yang menatap ke arah orang-orang yang tengah melihatnya.


Wulan yang merasa dirinya itu tidak bersalah dengan bayi Sarla yang masuk ke rumah sakit, kini menekan Bi Siti dengan berkata. " Heh kalian, ngapain kalian pakai acara berbisik segala, apa kalian sengaja ingin menjebloskan aku dalam masalah ini. "

__ADS_1


Wulan memperlihatkan bahwa dirinya benar-benar tidak bersalah, begitu percaya dirinya, sampai Bi Siti menghindar.


Namun Ita berusaha menyakini Bi Siti untuk berkata terus terang.


Daniel melihat jika Ita ingin mengatakan sesuatu kepada dirinya," Ita, Kenapa kamu datang ke sini? Apa semua ada kaitannya dengan kamu?"


Mendengar pertanyaan dari Daniel, membuat Bi Siti berusaha membungkam mulut Ita.


Namun Ita tak ingin menjadi pecundang di hadapan Wulan," saya datang ke sini, untuk mengungkapkan kebenaran. Siapa yang bersalah atas kasus bayi Nyonya Sarla. "


"Jadi kamu ada bukti. " balas Daniel. Masih menatap ke arah Ita, sedangkan Wulan dengan begitu santainya menyandarkan bahu pada tembok, ya tahu jika para pembantu itu tidak dapat membuktikan bahwa dirinya yang bersalah.


"Bodoh, mana mungkin bisa mereka berdua mengalahkanku," gumam hati Wulan.


Ita mulai merogoh tas yang ia bawa, mengambil ponsel mencari barang bukti yang akan ia


tunjukkan pada sang majikan.


Wulan yang tadinya terlihat begitu bersantai, tampak panik setelah melihat Ita memperlihatkan ponselnya.


"Tuan Daniel, semua bukti ada di sini. Jadi anda bisa menilai siapa yang salah dan juga siapa yang tidak bersalah. "


Wulan terlihat begitu gelisah, saat Ita menekan tombol rekaman suara percakapan Wulan dengan Bi Siti.


Daniel berusaha mendengarkan percakapan dari ponsel Ita. " apa bisa volume suara kamu besarkan sedikit, biar kita yang berada di rumah sakit ini mendengar percakapan dari rekaman ponsel kamu itu."


"Baik Tuan. "


Ita mulai memperbesar volume suara dari ponselnya, hingga rekaman suara itu terdengar begitu jelas.


Wulan berusaha mengambil ponsel yang tengah digenggam oleh pembantunya itu, namun sayangnya Ita lebih cerdik, ia mampu menghempaskan tangan Wulan, hingga tangan Wulan tak mampu meraih ponsel yang masih memutar rekaman suara percakapan antara dirinya dan juga Bi Siti.


Percakapan itu pas sekali, saat Wulan membahas tentang bayi Sarla yang terus menangis. Dimana ia tidak memberikan uang sepeserpun kepada Bi Siti, dan menyuruh di Siti untuk memberikan susu kental manis saja pada bayi Sarla.


Dan bukan itu saja, masih banyak rekaman suara yang akan diperlihatkan Ita pada semua orang yang berada di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2