Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 120


__ADS_3

Sarla tak membalas lagi pesan dari suaminya itu, ia kini mematikan ponsel untuk menenangkan hati dan juga pikirannya.


" Jalan satu-satunya untuk menenangkan hati dan pikiranku ya memang beginilah, mematikan ponsel agar tidak ada orang-orang yang mengganggu kenikmatan yang aku rasakan saat ini, bersantai sendirian tanpa gangguan orang lain. "


Namun tak bisa dipungkiri baru saja merehatkan lagi tubuh untuk tidur tanpa gangguan orang lain, suara ketukan pintu terdengar, padahal Sarla sudah berpesan kepada satpam di rumahnya, agar ia tidak menerima tamu.


Dengan raut wajah malas dan tubuh tidak vit, Sarla beranjak bangun dari tempat tidurnya, langkah kakinya gotai, terasa tak bersemangat.


Sampai di pintu rumah, Sarla memastikan jika orang itu bukanlah Daniel, " Lilia?"


Segera mungkin membuka pintu setelah tahu ternyata yang datang itu sang adik membuat, Sarla tampak senang," Lilia?"


Pelukan mendarat pada badan Sarla, terlihat ia tampak bahagia dengan kedatangan Lilia.


"Kamu datang dengan siapa?"


Sarla menatap ke arah tangan sang adik yang menunjuk ke arah mobil, dimana ia menunjukkan sang papah dan mama tirinya turun dari dalam mobil.


Sarla berdiri, menyambut kedatangan keluarganya. Ia mencium tangan punggung sang papah, begitupun dengan ibu tirinya.


"Loh, tumben kalian datang ke sini?"Masih terlihat dari gelagat mama tirinya, ia masih kesal dengan Sarla, tatapan sinis tak bisa dipungkiri wanita tua itu hanya diam. Dan yang menjawab sang papah." Kami datang ke sini, rindu dengan kamu Sarla."


Kata kata yang baru saja terucap dari mulut sang papah tak mampu membuat Sarla tersenyum, ia sudah tahu jika sifat papanya hanya sementara baik saat ia butuh pertolongannya saja.


"Tumben sekali, papa berbicara seperti itu,"


Gunawan yang terlihat merogoh saku celananya, menatap kearah anak pertamanya itu, " kenapa kamu meragukan perkataan papah kamu ini."


Sarla berusaha tak membalas, ia menyuruh kedua adik adiknya untuk masuk ke dalam rumah."


Ya sudah ayo masuk, biar aku panggilkan pembantu untuk menyiapkan air minum. "


Dera menatap pemandangan pada rumah anak tirinya yang begitu mewah, membuat rasa iri muncul dari benaknya. " Enak banget ya kamu punya suami yang sudah beristri di jamin hidupnya."


Sarla berusaha tak meladeni perkataan mama tirinya, ia lebih baik diam, dan menghidangkan kue yang tadi pagi ia buat bersama pembantu.


"Ayo duduk."


Mereka mulai duduk di atas sofa yang terasa begitu empuk, membuat rasa nyaman pada diri wanita tua itu.


"Sarla, harusnya kamu banyak banyak bersyukur dan berterima kasih kepada papah kamu sendiri."

__ADS_1


Perkataan Dera membuat Sarla tersenyum sinis lalu mengerutkan dahinya, menatap sekilas ke arah Dera yang bergelar sebagai mama tirinya itu.


" Berterima kasih untuk?"


Sarla berpura-pura tak mengerti akan perkataan sang mama tiri. " Ya ampun kamu berpura-pura sok polos lagi, bagaimanapun itu kamu harus bangga dengan papah kamu yang sudah menikahkan kamu dengan laki-laki kaya, yang walaupun sudah beristri. "


Mendengar hal itu, bagi sarla tidak ada yang harus dibanggakan, wanita bercadar kini membalas perkataan sang mama tiri," Maaf sebelumnya? Dibanggakan dari segi apanya ya? soalnya aku merasa bahwa papah tidak pantas aku banggakan. "


Deg .... Semua mata tertuju pada Sarla, " Sarla, sombongnya kamu?"


Sarla rasanya ingin tertawa setelah perkataan sombong itu terucap dari mulut Dera. " Sombong, aku merasa tidak ada yang aku sombongkan."


"Setelah kaya kamu lupa jasa papahmu."


Sarla muak dengan perkataan mama tirinya itu, " jasa, bangga. Apa sih yang kamu katakan mak lampir?"


Sang Papah tampak marah besar saat Sarla mangatai mama tirinya, sebagai mak lampir.


"Jaga ucapanmu Sarla, kami datang ke sini secara baik baik?"


"Papah, bukannya Sarla juga menyambut kalian secara baik baik, tapi kenapa Mak Lampir ini terus memancing emosi Sarla!"


Sarla geram, ingin rasanya ia memberi pelajaran pada nenek lampir yang menjadi mama tirinya itu.


"Tahan, tahan. Sarla jangan balas dengan kegilaanmu, lebih baik kamu kerjain dia saja."


Ucap hati Sarla, berusaha menenagkan diri dari emosi yang menggebu gebu.


"Sarla, cepat minta maaf pada mama kamu?"


Perkataan sang papah membuat Sarla ingin sekali membuang ludahnya pada wajah Dera, namun itu tak mungkin yang ada dia sama sama gila seperti ibu tiri.


"Baiklah"


Dera melipatkan kedua tangannya, seakan ia menang dalam perdebatan, " Ayo, kenapa kamu malah diam?"


Dera dengan lancangnya menyuruh nyuruh sang anak tiri agar takluk kepadanya.


"Ayo, lakukan."


Saat pembantu datang membawa air minum dan kopi untuk kedua orang tuanya, saat itulah kesempatan bagus ada di depan mata Sarla.

__ADS_1


"sepertinya aku harus mengerjai mama tiriku yang songong ini," gerutu hati Sarla.


"Kamu dengan gak apa yang papah kamu katakan."


Secara bersamaan pembantunya itu mendekat ke arah Dera begitupun dengan Sarla yang terus diperintah oleh Mama tirinya untuk mendekat.


Dengan senyuman sinis, Sarla menyenggol kopi panas yang akan diletakan oleh pembantunya itu di dekat sang mama tiri.


"Ahkk, panas. Panas." Sarla menyaksikan hal itu hanya tersenyum dalam hati, ia ingin sekali tertawa di hadapan Mamah tiri dan juga papah kandungnya sendiri.


"Rasakan itu." Gumam hati Sarla.


Pembantu yang bekerja di rumah Sarla, seakan panik dengan apa yang terjadi pada tamu majikannya, dengan terburu-buru pembantu itu mengambil kain untuk membersihkan kopi panas yang menyembur pada badan Dera.


"Panas, pah. Kopinya mengenai wajahku."


Sarla ikut berlari menemui pembantunya itu, untuk mengambil kain membersihkan bekas kopi yang jatuh pada badan Mamah tirinya.


"Bi, jangan pakai kain itu?"


Sarla menyuruh pembantunya untuk menyimpan kain lap yang bersih itu ke tempatnya kembali.


"Loh, Nyonya. Tapi kan?"


Sarla menempelkan Jari tangan pada bibir pembantunya itu, " sudah sekarang Bibi dengarkan perintahku saat ini."


Dalam percakapan antara pembantu dan juga majikan, teriakan sang papa terdengar nyaring, membuat pembantu itu panik.


"Nyonya, teriakan papah Nyonya?"


"Sudah jangan di dengarin, nanti kita sama sama ke sana! "


Salra membisikan suatu perintah kepada pembantunya itu, berharap jika pembantunya itu mau melakukan apa yang ia perintahkan, tanpa rasa takut terhadap kedua orang tua Sarla.


Karena wewenang yang bisa mengatur pembantunya itu hanyalah salah sendiri," cepat bi lakukan, biar nanti aku yang akan mengerjakan semua rencanaku ini. "


"Baik Nyonya, kalau itu keinginan nyonya saya hanya bisa menurut saja."


" Bagus kalau Bibi berpihak kepadaku, sudah cepat bi, ambil kain lap yang lain. "


Perintah itu kini mulai dilaksanakan oleh pembantunya, dimana wanita tua itu berlari tergopoh-gopoh mengambil lap yang dimaksud oleh sang majikan.

__ADS_1


__ADS_2