Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 169


__ADS_3

"Maaf bu, Wulan mau pergi keluar sebentar ada urusan mendadak!" jawab Wulan tergesa gesa pergi ke luar rumah. Saat berjalan ia menatap ke arah Sarla. " Ngapian kamu lihat lihat. "


Sarla kini menggerutu kesal, " Dasar cewek aneh. "


Wulan mulai menaiki mobilnya, untuk segera mencari keberadaan Angga, " sepertinya Daniel sudah menjebloskan Angga kepenjara, karena Daniel ketika marah salalu seperti itu. "


Wulan mulai mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi, untuk segera menemui Angga. Ia ingin memberi perhitungan pada lelaki b"rengs*k itu.


Sampai di kantor polisi, dugaan Wulan benar. Kini Angga sedang membekam di dalam jeruji besi.


Ia mempunyai info dari orang orang yang bekerja di kantor Daniel.


Menengok Angga, dimana lelaki itu tengah duduk dengan raut wajah muramnya.


" Angga. "


Angga yang mendengar panggilan dari Wulan kini berdiri, ia mendekat lalu berkata. " Wulan. "


Wanita yang pernah singgah di hati Angga, melipatkan kedua tangannya. " Kenapa kamu selalu bertingkah bodoh?"


Angga hanya diam, saat Wulan menyebutnya bodoh. Tangan Wulan mulai memegang jeruji besi," jeruji besi ini menjadi saksi bisu kebodohan kamu. "


Deg ....


"Bisa tidak kamu jangan menghina aku ini bodoh."


Wulan tertawa, ia mulai mempelihatkan kemarahannya.


"Wulan, aku tahu jika Daniel sekarang hilang ingatan, aku pastikan akan membuat dia mengingat semuanya. "


Wulan berusaha tetap tenang, tak terpancing akan perkataan Angga, " terserah kamu, Daniel tidak akan percaya dengan kamu. Dia lebih percaya denganku. "


"Betul begitu. "


Wulan terkejut dengan kedatangan Daniel tiba tiba. Tepuk tangan, terdengar keras.


"Daniel kamu di sini. "


Daniel semakin mendekat dan berkata, " ya, ini aku sayang, suami kamu Daniel. "


Wulan masih tak percaya dengan ke datangan Daniel ke penjara secara tiba tiba. " Sedang apa kamu di sini, bukannya kamu bilang tidak mengenal orang yang memukulku?"


"Daniel, ini tidak seperti yang kamu bayangkan. " Wulan berusaha mengelak, dimana Angga tersenyum lebar.


"Jangan dengarkan omong kosong istrimu Daniel, semua sudah terbukti bukan," timpal Angga, ikut campur.


"Apa maksud kamu Angga, " balas Wulan.


Daniel membulatkan kedua matanya," Angga, berati kamu mengenal dia. "


"Ee, dia!"


Kegelisahan dirasakan Wulan saat itu.


"Aku silingkuhan Wulan Daniel, asal kamu tahu." timpal Angga yang membenarkan semuanya.

__ADS_1


"Diam kamu, Daniel sayang jangan percaya dengan dia, " ucap Wulan mendekat ke arah Suaminya, ia memegang tangan Daniel.


"Daniel aku berterus terang, kalau aku memang selingkuhannya, kami sudah memiliki seorang anak, dan anak itu sudah mati. Saat kandungan Wulan tujuh bulan, akibat tejatuh. " jelas Angga, pada Daniel.


Menghempaskan tangan Wulan, lalu bertanya. " Benarkah itu, Wulan?"


Wulan hanya diam menundukkan pandangan. " Cepat jawab. " Urat leher Daniel semakin terlihat.


"Wulan."


"Aku."


Wulan berusaha membuat alasan, karena ia tahu jika Daniel hilang ingatan.


"Daniel, ingatan kamu sedang tidak baik baik saja. Sebaiknya kita pulang. "


"Ingatan apa?"


"Sayang kita ini baru menikah beberapa bulan, masa aku selingkuh dan mempunyai anak dari lelaki seperti dia!"


"Pernikahan kita sudah mengijak tiga tahu. "


Wulan terkejut saat mendengar perkataan Daniel.


" Jadi kamu. "


Tatapan tajam itu Daniel arahkan pada Wulan, " ya aku sebenarnya tidak hilang ingatan, aku hanya berpura pura saja, demi menjaga rumah tangga kita lebih baik ke depannya, aku sengaja melupakan Sarla, karena Sarla berulang kali menolakku untuk menjadi istri satu satunya dalam hidupku. Aku membuat drama semacam ini, memberikan kesempatan untuk kamu, agar menjadi istriku seutuhnya. Tapi kenapa kamu malah menemui selingkuhanmu lagi. "


"Daniel aku datang ke sini hanya ingin memusnakan dia dari muka bumi ini, tak lebih dari itu, aku ingin rumah tangga kita seperti dulu lagi. "


"Daniel."


"Ayo kita pulang. "


Daniel mulai menyuruh Wulan masuk ke dalam mobil, dimana dalam perjalanan menuju pulang Daniel membahasa tentang hilang ingatannya.


"Daniel, tadi kamu bilang kalau kamu ingin menjadikan Sarla istri satu satunya kamu. Lantas kamu akan menceraikan aku, jika Sarla setuju?"


"Ya, benar. Kenapa aku berniat seperti itu karena aku sakit hati, kamu sudah menghianatiku. Hamil benih lelaki lain. "


"Daniel, maafkan aku, sekarang aku jujur padamu, memang aku hamil anak Angga, dan itu tanpa aku sadari, Angga menuangkan obat pada minumanku. Sampai aku tertidur dan tak tahu kalau Angga memperkosaku. "


Lagi lagi Wulan menipulasi ceritanya, membuat Daniel kesal. " Kenapa ya wanita seperti kamu pandai sekali berbohong. "


"Daniel aku berkata jujur padamu."


"Aku belum puas dengan kejujuranmu itu, sudah berapa lama kamu bepacaran dengan Angga. "


Wulan tetap diam, tak menjawab satu patah katapun. " Ayo jawab. Atau aku turunkan kamu di sini. "


"Jangan."


"Makanya cepat kamu jujur padaku?"


"Baiklah, aku berpacaran dengan Angga, sudah dua tahun! "

__ADS_1


"Apa? Selama itu kamu menghianatiku dan baru jujur sekarang saat aku berpura pura hilang ingatan. "


Daniel memegang kepalanya, " Maafkan aku Daniel, maafkan aku yang baru saja membohongi kamu. "


"Entalah, Wulan. Aku bingung harus memaafkan kamu atau hanya diam seperti orang bodoh. "


"Daniel, aku tidak akan mengulangi itu lagi. Dan sekarang perselingkuhanku sudah kamu balas dengan kamu menikahi Sarla. "


Pandai sekali Wulai menipulasi ucapannya, sampai Daniel tutup mulut.


"Tetap saja, kamu banyak berbohong sedangkan aku terus terang. "


"Sudahlah tak usah berdebat lagi, tak akan menyelesaikan masalah. "


Mereka mulai pulang, dimana mobil sudah sampai di tempat tujuan.


Alenta menatap ke arah mobil Daniel, dimana Wulan keluar dengan raut wajah muramnya.


"Wulan, tunggu. "


Daniel mengejar istrinya itu. Sampai memegang lengan tangan Wulan. " Jangan bicara pada ibu jika aku hanya berpura pura. "


"Mm, kenapa, kamu takut jika ibumu itu kecewa, karena jika ia tahu kamu berpura pura. "


"Jaga mulut kamu, kalau kamu masih ingin bersamaku. "


Wulan melepaskan gengaman erat tangan Daniel.


Ia pergi begitu saja.


"Wulan."


Alenta melihat pemandangan tak terduga, dimana keduanya terlihat abis bertengkar.


"Wulan."


Wulan masuk menutup pintu dengan begitu keras.


Alenta mulai menahan anaknya dan bertanya. " Sebenarnya ada apa?" tanya Alenta pada anak semata wayangnya itu, Daniel tak mungkin memberitahu apa yang sudah terjadi dengan Wulan dan juga dirinya.


"Tidak apa apa kok, bu hanya masalah kecil saja!" jawab Daniel berbohong kepada ibunya, iya mulai menghampiri Wulan untuk mengobrol kembali.


"Tapi ibu lihat, Wulan seperti marah besar kepada kamu. Ayo katakan pada ibu, ceritalah. Apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian. Oh ya, wajah kamu Daniel kenapa?" tangan wanita tua itu memegang wajah Daniel.


Dimana Daniel kini memegang bahu Ibunya.


"Bu, ya sudah. Daniel akan mejelaskan semuanya, tapi ibu jangan marah ya. "


Alenta mengerutkan dahi, tak mengerti dengan apa yang dikatakan Daniel.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu?"


"Pokoknya ibu jangan marah ya!"


Karena rasa penasaran membuat sang ibu menjawab. " Baiklah. Coba ceritakan. "

__ADS_1


"Bu."


__ADS_2