Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
211


__ADS_3

Tok .... Tok .... Tok.


Bukan dengan ketukan pelan yang dilayangkan oleh Wina, tapi wanita tua itu malah sengaja mengetuk pintu dengan begitu keras tentulah membuat Gunawan semakin tak bisa mengontrol diri, ia bangkit dan memukul mukul lagi tembok kamar.


Terlihat urat tangan menonjol, membuat emosinya tak bisa terkendali lagi. Gunawan sudah dirasuki amarah dan penyesalan, membuat ia membuka pintu kamarnya.


Barrkkkk ....


Pintu kamar dibuka dengan begitu keras membuat Wina terjatuh karena dorongan kuat dari pintu kamar Gunawan.


"Berani kamu membangkitkan amarahku, bukannya sudah cukup apa yang aku katakan, aku ini berubah dari penyesalanku. Tapi kenapa kamu malah sengaja membuat bara api yang padam ini bangkit lagi. "


Wina tak tahu jika Gunawan akan semarah itu, hingga tubuhnya terlalu lemah melawan seorang lelaki yang tengah marah dihadapannya.


Kedua mata Gunawan membulat mempelihatkan urat leher yang menonjol, kedua tangan mencekram. Wina berusaha menjauh dari hadapan Gunawan yang terus mendekat ke arahnya.


"Mau apa kamu?"


Wina berusah bangkit dari atas lantai, namun tenaganya tak cukup kuat, ia benar benar ada di posisi mencekramkan.


"Jangan mendekat lagi, jika kamu berani mendekat lagi, aku pastikan akan berteriak sekarang juga. "


Senyum menakutkan itu kini layangkan Gunawan dihadapan Wina, saat perkataan Wina yang menegaskan Gunawan untuk tidak mendekat.


"Sekali lagi, kamu medekat, aku akan beri perlajaran. Pergi kamu. "


Gunawan terlihat begitu santai menanggapi semuanya, ia seakan tak peduli. Bagi dirinya saat ini ia ingin meleyapkan seseorang yang sudah membangkitkan amarahnya.


"Kenapa kamu ketakutan seperti itu, bukannya ini yang kamu inginkan Wina. "


Wina tak menyangka jika kemarahanya, akan berdampak tidak baik, malah membuat Gunawan bertambah jahat.


Meraih sebuah lakban yang tak jauh dari hadapannya, kini Gunawan menempelkan lakban itu pada mulut Wina agar tak berucap terus menerus. Apalagi sampai berteriak.


Gunawan memegang kedua tangan Wina, " mm. "


Wina berusaha memberontak, namun tenanganya begitu lemah, ia benar benar tak berdaya saat itu.


"Siapapun itu, tolong bantu aku. " Wina hanya bisa bergumam dalam hati, tak bisa melawan apa lagi kabur dari cengkraman Gunawan.


Dari sisi lembur sang ayah, Gunawan juga mempunyai sisi kejam dan tega. Kepada orang lain, jika orang itu terus menganggu metalnya dan merusak pertahan hati agar tetap tenang.

__ADS_1


Tak segan segan, Gunawan menarik tangan Wina. Hingga tubuh yang tadinya berdiri terjatuh lagi. Tanpa rasa kasihan sedikit pun Wina akhirny di perlakukan tidak baik. Ia di sered paksa menuju ke gudang, wajahnya memerah. Terlihat ia menangis mencoba mencari cara untuk bebas.


Sampai Wina sadari, Tari tengah mengintip dirinya dibalik tembok. "Itu Tari kah. Tari apa kamu bisa menyelamatkanku, tolong beri tahu Sarla. " Gumam hati Wina. Ia tak bisa berteriak, karena lakban yang ditempelkan Gunawan begitu kuat merekat.


Lelaki tua itu memasukkan Wina ke dalam gudang, memperlakukannya tidak baik.


"Mm. Mm. "


Gunawan tersenyum kembali, ia merasa senang melihat wanita tua yang sudah menghancurkan kehidupannya kini lemah tak berdaya. Terlihat Wina tak bisa berbuat apa apa, dia hanya duduk dengan tangan yang sedang diikat oleh Gunawan.


Mencoba memberontak, namun tenanganya sudah melemah, " kenapa, kamu lemas. Karena aku menyeredmu dari depan kamarku hingga ke gudang ini. "


Gunawan tertawa, lalu memegang pipi Wina, perlahan demi perlahan, hingga ia mencekram dagu Wina dengan keras.


Wanita tua itu hanya menangis, air matanya terus jatuh hingga mengenai kedua pipi.


"Wah, hahahhha. Kamu menangis," ucap pelan Gunawan, Wina ingin sekali melepaskan genggaman tangan Gunawan yang mencekram pipinya. Dengan penuh emosi.


"Akan aku biarkan kamu di sini mati kelaparan dan Zasadmu membusuk dan dilupakan begitu saja. Agar semua yang aku miliki sampai saat ini tidak bisa kamu ambil begitu saja."


Gunawan mengambil berkas asli itu, dari tangan Wina, " aku akan ambil berkas ini. "


"Mm."


Jantungnya terasa tak karuan, perasaanya saat ini begitu bimbang, "Kenapa Tuan Gunawan membawa Mbak Wina ke dalam gudang. "


Tari melihat Gunawan keluar dari gudang itu, dan menguncinya. " Kasihan Mbak Tari, gimana ini. "


Terlihat Tari kebingungan dengan apa yang ia lihat dari awal hingga akhir, ia berusaha duduk saat Gunawan hampir saja melihatnya.


Tangan bergetar, mulut tak bisa berucap apa apa. Tari ketakutan sekali, " Selamatkan Tari Ya Allah. "


Perlahan, Tari mulai bangkit. Ia berusaha melihat situasi kesana kemari, mengusap pelan dada bidangnya, Gunawan sudah tidak ada di depan pintu gudang.


"Sepertinya Tuan sudah pergi, aku harus menyelamatkan Mbak Wina. "


Membalikkan badan, Tari terkejut karena ia kini berhadapan dengan Gunawan. " Tu- Tua-n. "


Tari menundukkan wajah dengan perasaan takutnya, " maaf Tuan, sa-ya tidak .... "


Gumawan mulai menghampiri Tari, lalu mendekat dan berbisik. " kamu mau nasibmu sama dengan wanita tua tadi?"

__ADS_1


Tari menggelengkan kepala, tubuhnya bergetar ketakutan hingga keringat dingin bercucuran.


"Maafkan saya tuan, saya janhu tidak akan memberi tahu siapapun tentang kejadian ini. "


"Bagus. Kalau sampai orang lain tahu hal ini, orang yang akan aku salahkan pertama kali yang tak lain adalah kamu, paham. "


Tari menganggukkan kepala lagi dan berkata. " Baik tuan, saya paham."


"Bagus kalau begitu, awas saja kalau kamu mengikari janjimu, aku pastikan kamu tidak akan ada di dunia ini. "


Menelan ludah, jantung Tari terasa berdetak karuan, perasaanya tak menentu. " Baik Tuan. "


"Cepat kamu menyingkir dari hadapanku,"


"Ba-ik tuan. "


Tari terburu buru pergi dari hadapan sang tuan, ia berlari hingga. Tubuhnya bertabrakan dengan Sarla.


"Ampun tuan, ampun."


Teriakan Tari membuat Sarla berusaha menenangkan pembantunya itu.


"Hey, Tari kamu kenapa?"


Tanya Sarla memegang bahu pembantunya itu, terlihat Tari menundukkan kepala menutup wajahnya dengan kedua tangan. Membuat Sarla heran.


Tari yang mendengar suara Sarla membuat dia langsung membuka telapak tangannya, tersenyum lebar dan berkata. "eh Nyonya saya kira hantu. maklum tadi saya mimpi buruk."


Mendengar jawaban yang terlontar dari mulut pembantunya itu, membuat Sarla merasa heran. Karena kalau memang mimpi buruk seharusnya Tari berlari dari kamarnya, tapi sarla malah melihat Tari berlari dari gudang menuju ke kamarnya."


"Maaf Nyonya . Saya permisi dulu. " Berpamitan ingin segera tidur melupakan kejadian yang Tari lihat.


"Oh ya sudah," balas Sarla, namun baru saja setengah perjalanan, Sarla kini memanggil Tari kembali. "Tari tunggu. "


Tari mengehentikkan langkah kakinya, membalikan badan dan menjawab. " Ada apa nyonya?"


"Kalau tidur, kamu jangan lupa baca doa terlebih dulu. "


"Iya nyonya, terima kasih sudah mengigatkan saya. "


Sarla menganggukkan kepala, dimana Tari masuk ke dalam kamar dengan pintu terdengar keras saat menutupnya.

__ADS_1


"Kenapa si Tari ini. "


__ADS_2