Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 231


__ADS_3

Wulan merasa tak tenang setelah mendapatkan balasan pesan dari suaminya, ia bangkit dari tempat duduknya, setelah membenahi diri untuk terlihat begitu rapi.


Menelepon Daniel berulang kali, namun tak dijawabnya sama sekali, pada akhirnya Wulan mengirim pesan untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.( Sudahlah jangan membuat sebuah teka teki yang bikin kepalaku pusing.)


Membaca balasan pesan dari istrinya, Daniel hanya menggelengkan kepala. " Wulan, benar benar tidak tahu diri, dia tidak tahu letak kesalahannya sendiri. "


Bi Siti mendengar kekesalan Daniel, membuat ia hanya menundukkan wajah, perasaanya tak menentu, ia ingin ikut bicara tapi apa daya hanyalah seorang pembantu.


(Kenapa waktu aku menyuruh kamu membelikan susu dan kebutuhan bayi Sarla. Kamu malah memberikan kebutuhan kamu sendiri, apa kamu sudah berniat ingin membunuh bayi Sarla.)


( Bukannya kebutuhanku itu lebih penting daripada kebutuhan bayi Sarla.)


Semakin Wulan dinasehati semakin Wulan memperlihatkan bahwa dia bukanlah seorang istri yang baik yang harus dipertahankan.


(Wulan, kenapa aku memilihmu, karena aku ingin mempertahankan rumah tangga denganmu, karena aku lebih menghargaimu dan kamu adalah cinta pertamaku, tapi kenapa kamu menjadi sosok yang begitu egois. )


(Alasan kamu saja, bicara yang jujur saja Daniel, aku pernah mendengar. Jika kamu memilihku, karena kamu sudah merasakan penolakan dari Sarla berulang kali, tapi jika kamu tidak mendapatkan penolakan itu, kemungkinan besar aku akan terbuang seperti sampah, kamu tahu kenapa aku menjadi sosok seorang yang jahat dan tega seperti ini, semua karena ulah dari perkataan kamu sendiri Daniel. Jangan karena kamu laki-laki, kamu sok berkuasa dan paling benar, sedangkan wanita adalah pelampiasan kesalahanmu sendiri.)


Setelah membaca pesan dari Wulan, Daniel berusaha menenangkan diri, merenungi apa saja kesalahannya selama ini.


Ia memanggil Bi Siti, membuat wanita tua itu mendekat, " ada apa, tuan. "


" Bibi itu begitu dekat dengan Wulan, apa bibi selalu melihat Wulan mengeluh tentang diri saya. "


"Ehh."


"Jawab saja dengan jujur, saya akan mendengarnya dengan baik. "


"Biaklah kalau begitu tuan, saya akan ceritakan semuanya. "

__ADS_1


Daniel mulai mendengarkan cerita yang terlontar dari mulut Bi Siti, tentang Wulan selama ini.


" Sebenarnya Nyonya Wulan itu sering mengeluh, ketika tuan tidak bisa bersikap adil, semalaman ia sering menangis, dengan harapan jika Tuan mau meninggalkannya tanpa harus menyakitinya. Iya pernah hampir menyakiti dirinya untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, namun saya yang selalu ada di samping Nyonya Wulan, bisa mengontrol hati Nyonya Wulan sampai Nyonya wulan mengurungkan niatnya. Dia juga menyesal sudah membuat tuan kecewa


berselingkuh dengan lelaki yang akan menjadikannya seorang model. Nyonya Wulan juga ingin berkata jujur, tapi sifat Tuan Daniel yang selalu berubah ubah dan keras kepada Nyonya Wulan, semakin membuat nyonya tertekan dan bingung. "


Bi Siti berusaha tenang, saat ia menyusun kata kata tentang Wulan, wanita yang ia anggap seperti anaknya sendiri.


"Dan saya juga bingung dengan sikap Nyonya Wulan yang sekarang, setelah kehilangan anaknya, dia malah menjadi jahat, saya hampir berpikir jika Nyonya Wulan depresi dengan nekad menyakiti bayi Sarla. "


Daniel tak sampai berpikir ke arah sana, yang ia pikirkan hanyalah dirinya sendiri, iya berpikir jika Wulan bahagia dengan caranya sendiri.


Daniel memang terlalu sibuk memikirkan kebahagiaannya, tanpa melihat tekanan yang dirasakan sang istri.


"Tuan Daniel, kemungkinan besar Nyonya Wulan itu hanya butuh perhatian, dan juga kasih sayang dari orang sekitar, yang di mana dia hanya percaya pada tuan saja. Namun kepercayaannya itu malah menjadikan luka pada hatinya, karena tuan seperti orang yang sudah tak membutuhkannya lagi, tak ada dukungan dan juga support atas keinginan Nyonya Wulan yang ia inginkan selama ini, tuan dan juga Nyonya Alenta hanya menekannya untuk menjadi sosok istri yang sempurna dan juga seorang menantu yang sempurna."


Tiba tiba saja Daniel tersedak dengan tutur kata yang terlontar dari mulut Bi Siti, " Ini tuan minum dulu. "


"Apa tuan baik baik saja. "


"Saya baik baik saja. "


Bi Siti mulai menceritakan lagi, keluhana Wulan selama ini, " kenapa saya berbicara seperti ini, Tuan, coba tuan renungkan, selama menikah. Apa tuan mengerti keinginan dan cita cita Nyonya Wulan, begitupun awal kesepakataan pernikahan kalian berdua. Mungkin Nyonya Wulan tidak akan melakukan perselingkuhan itu, jika tuan lebih berpihak pada Nyonya Wulan dan tak selalu membela Nyonya Alenta. Yang hanya memikirkan seorang cucu. Dan tuan bisa saja mengontrol diri tuan agar tidak keras dalam mendidik istri tuan sendiri. "


Daniel menundukkan wajah, memikirkan kesalahan yang baru ia sadari.


"Tuan. Andai tuan tahu, Nyonya Wulan juga sebenarnya tak mempermasalahkan jika Tuan menikah dengan Nyonya Sarla, karena ia menyadari jika Nyonya Wulan pantas mendapatkan hukuman atas kesalannya, dari sana Nyonya Wulan berubah, tapi perubahan itu hanya sementara, karena tuan sebagai suami, tak bisa bersikap adil. "


Tak terasa perkataan Bi Siti menyadarkan Daniel dari kesalahannya sendiri.

__ADS_1


Memijit kepalanya yang terasa berdenyut. " Tuan Daniel, jika memang dari awal tuan sudah merasa sakit hati dan tersakiti oleh Nyonya Wulan, ada baiknya tinggalkan, jangan mempertahankan atas dasar masih cinta. Karena Nyonya Wulan juga hanya manusia biasa punya rasa sakit dan bisa melakukan kesalahan. "


Menarik napas, dada terasa bergemuru hebat, Daniel berusaha menyadarkan punggung dengan perasaan tak menentu.


"Apa yang Bi Siti katakan memang benar bi, dulu harusnya saya meninggalkan dan menceraikan saja Wulan, tapi saya malah mempertahankan dia dan berniat balas dendam di saat dia benar benar ingin berubah, sebagai laki laki, saya juga merasa salah dengan semua yang saya lakukan. "


Bi Siti berusaha menenangkan sang majikan dengan berucap," nasi sudah menjadi bubur dan tak bisa kembali lagi. "


"Ya bi. "


Daniel berharap jika anak yang dilahirkan oleh Sarla, bisa kembali lagi sembuh, ia ingin mengendong bayi mungil itu dan memberi nama padanya.


"Tuan Daniel, harus sabar ya. Tetap berperasangka baik, saya yakin jika bayi Tuan akan sembuh. "


"Terima kasih bi. "


"Sama sama Tuan. "


******


Masih di dalam kamar yang sunyi tanpa seseorang disamping Wulan, ia menunggu balasan dari sang suami yang tak kunjung datang.


"Kenapa Daniel tidak membalas pesanku, apa dia tengah merenungi kesalahannya. Kamu lihat saja Daniel selama aku jadi istri kamu, aku tidak akan biarkan bayi Sarla hidup bahagia. "


Tring ....


Pesan datang, Wulan mengira jika pesan itu datang dari sang suami, namun pada kenyataanya pesan itu datang dari Sarla.


(Kenapa kamu ikar janji kepadaku.)

__ADS_1


Wulan hanya menyunggingkan bibirnya. Tak membalas pesan dari Sarla.


__ADS_2