Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 74 egoisnya Natasha


__ADS_3

" Natasha, cepat lepaskan tanganmu dari rambut Tasya."


karena datangnya sang ibu, pada akhirnya Natasha mulai melepaskan," Kenapa kamu menjambak rambut kakakmu sendiri?"


Pertanyaan sang ibunda membuat Natasha menundukkan pandangan, mana mungkin dia bisa melawan ibu di pagi hari seperti ini, karena ia takut melukai hati Sang Ibu dengan bentakan mulutnya yang kadang-kadang tak terkontrol.


Sang ibunda langsung menarik tangan Tasya, di mana pelukan hangat itu dilayangkan oleh sang ibunda dengan begitu erat dan penuh kasih sayang.


Natasha yang melihat pemandangan itu merasakan rasa iri. Di mana Tasya tersenyum lebar seraya memberikan kode tangan bahwa Natasha akan dimarahi oleh sang ibunda.


" Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian, Kenapa kalian bisa bertengkar seperti ini, dan kamu Natasha, tega teganya kamu menjambak rambut kakakmu sendiri."


Natasha mulai mencari pembelaan diri, bahwa dirinya tidak salah dari awal, " Karena dia sudah merusak alat make up ku dan masuk tanpa permisi."


Tasya memperlihatkan air mata kepura-puraan," mana mungkin Tasya melakukan hal seperti itu mah, Tasya kan baru pulang ke rumah."


Sang ibunda mengusap pelan kepala Tasya, " mama percaya kepada kamu Tasya, memang Natasha itu anak pemarah."


Natasha seakan tak terima dengan perkataan ibunya," Kenapa Ibu berkata seperti itu hah."


" Ibu berbicara sesuai kenyataan Natasha,"


" kenyataan bagaimana, Bu. jelas Ibu tidak ada di kamarku, dan lagi Ibu tak tahu kejadian yang sebenarnya, jadi jangan membela sebelah pihak, apalagi Ibu hanya melihat dalam satu sisi."


Perkataan Natasha tidak pernah didengar oleh ibunya, di mana penjelasan yang begitu panjang dan juga detail, tak dianggap sama sekali oleh ibunya sendiri.


" Ayo Natasha sebaiknya kamu bersiap-siap untuk pergi kuliah, ibu akan mengantarkan kamu hari ini juga."


Natasha yang mendengarkan perkataan sang ibunda, merasakan rasa sakit hati, karena tak bisa ia pungkiri, bawa hatinya sekarang sangatlah lemah.


" Bisa-bisanya Ibu memperhatikanmu Tasya sebegitunya. Apa sih yang spesial dari dia, jelas-jelas dia itu tukang fitnah dan seenaknya pada orang lain. Dasar kakak tidak tahu diri. "Natasha menggerutu kesal Tasya, ia mulai membereskan alat make up nya yang berada di atas lantai.


" Bisa-bisanya Ia memakai alat make up ku." Sarla menggerutu kesal dengan membereskan kamarnya.

__ADS_1


Natasha bergegas memakai baju, untuk segera pergi kuliah. Iya sudah terbiasa membawa mobil sendiri, tanpa diantarkan oleh ibunya.


*******


Tasya yang sudah sampai di tempat tujuan, kini mendekat ka arah Rafa, dimana sosok pria tampan itu tengah mencari seseorang.


"Hai Rafa, sedang apa kamu di sini? Bukannya sudah mulai masuk ke kelas?"


Rafa tak memperdulikan perkata Tasya, ia menatap jam, dimana jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi.


Natasha yang baru saja sampai tempat kuliahnya, melihat ke arah sang kakak yang bersama dengan Rafa," sedang apa Si Tasya itu, aku harus segera menghampiri mereka berdua?"


Terburu-buru keluar dari dalam mobil, pada akhirnya Natasha menghampiri kedua," Rafa, Tasya. Kalian sedang apa di sini."


Jangankan pertanyaan Tasya, pertanyaan Natasha pun tak dianggap oleh Rafa. Lelaki berkulit putih itu kini pergi meninggalkan keduanya, Di mana Tasya menyusul kepergian Rafa.


"Tunggu Tasya?"


Sang kembaran pun menghentikan langkah kakinya, ia mulai berjalan ke arah sang kembaran dan bertany, " ada apa? Tumben sekali kamu memanggil namaku?"


" Aku hanya ingin bertanya, apa yang sudah kalian obrolkan berduaan di depan kampus?"


pertanyaan Natasha membuat Tasya berpikir jerni, dimana ia sengaja membuat sang adik penasaran.


" Kamu mau tahu obrolan aku dengan Rafa?"


Natasha menganggukkan kepala, Iya sudah tak sabar ingin mendengar apa yang sebenarnya diceritakan Rafa dan juga Tasya.


"Iya ayo cepat katakan," pekik Natasha dengan kemarahannya. iya mengepalkan kedua tangan, bersiap-siap ingin membanting kakaknya itu.


" Sebelum aku menceritakan semuanya kepada kamu, nih." Tasya malah menyodorkan telapak tangannya di hadapan sang adik." Apa maksud kamu menyodorkan telapak tangan padaku?"


" Masa iya kamu tidak mengerti dengan kode kerasku ini, " ucap Tasya seakan memalak adiknya sendiri.

__ADS_1


Natasha pada akhirnya merogoh saku baju untuk mengeluarkan beberapa uang lembaran, dan ia memberikan kepada kakaknya sendiri.


"Nih."


menyodorkan uang itu, Tasya tampak senang dia menerima dengan perasaan bahagia. " uang saku kamu dari ibu. Ternyata banyak juga ya. "


" Sudah cepat jangan banyak basa-basi, ceritakan sekarang apa yang sebenarnya kalian obrolkan?"


Natasha tersenyum dengan perkataannya itu, dia ingin tahu apa yang diobrolkan sang kakak dengan Rafa, lelaki yang sangat ia cintai sampai sekarang.


Padahal Tasya sengaja mengerjai adiknya itu, agar Natasha sadar jika Rafa tidak pantas dengan adikya.


Tasya melakukan semua ini semata-mata demi melindungi sang adik dari rasa sakit, yang mungkin nantinya akan membuat Natasha depresi.


"Kamu harus tahu ya, Rafa itu tadi bilang sama kakak, tidak mau bertemu kamu lagi."


"Terus."


"Katanya dia sudah terlanjur sakit hati, apalagi perasaanya tetap mencintai Sarla, sekarang kamu pahamkan sayang?"


Perkataan Tasya membuat Natasha menundukkan wajah, antara percaya dan tidak percayanya, sebenarnya ia masih menaruh harapan besar bisa bersama dengan Pujaan Hati.


Sedangkan Tasya Ia hanya mengarang cerita entah benar atau tidaknya, karena dari raut wajah Rafa, lelaki berkulit putih itu benar-benar sudah tak ingin berteman lagi dengan sang adik.


Tasya memegang bahu Natasha, meyakini adiknya untuk tidak berharap lagi kepada sang Pujaan Hati," kamu ini cantik, masih banyak kau laki-laki di luar sana yang menginginkan kamu, ngapain coba kamu ngejar orang yang tak jelas, tak ada rasa kepada kamu. Yang ada hati kamu itu akan sakit."


Menggenggam erat kedua tangan, Natasha tetap tak menerima perkataan sang kakak," itu bukan urusanmu jadi jangan pernah menasehatiku seenaknya,"


"Ya sudah, Kakak hanya mengingatkan kamu. "


Tasya mulai meninggalkan adiknya dengan melambaikan tangan, ia tak mengerti kenapa Natasha bisa seperti itu, padahal kemarin Natasha itu benar-benar gadis yang polos dan baik hati, tapi sekarang semenjak ia mengenal kata cinta, dirinya menjadi egois dan juga pemarah.


" Tasya tunggu," mendengar teriakan Natasha yang memanggil dirinya, membalikkan badan dan bertanya," kenapa?"

__ADS_1


" Aku sudah mengingatkan kamu dari kemarin-kemarin. Jangan pernah menganggap bahwa aku ini adikmu di kampus ini lagi, apalagi sampai kamu mengatakan panggilan kakak di depan semua orang, sampai kapanpun aku tidak ingin mengakui kamu sebagai Kakakku sendiri, ingat itu Tasya."


kebencian sudah merasuki diri Natasha, hanya karena laki-laki dia tidak mau mendengarkan nasehat dan lebih baik menjauh dengan orang yang begitu dekat dengannya.


__ADS_2