
Seorang wanita berkerudung hitam, sekilas menatap ke arah Rafa, wanita itu mulai bangkit dari hadapan mobil, lalu pergi dengan kakinya yang pincang.
"Tunggu." Teriak Rafa, wanita itu terus berjalan cepat, walau dengan kaki yang terluka.
"Bu, tunggu. "
Rafa hampir mengejar wanita itu, tapi dari belakang mobilnya banyak orang yang melaksoni Rafa pada saat itu.
Karena wanita itu sudah berlari jauh pada akhirnya Rafa masuk ke dalam mobil, untuk segera pergi dari kemacetan karena ulahnya.
Di dalam perjalanan Rafa mulai terpikirkan akan wanita yang tadi." Siapa wanita itu?"
Perasaanya benar benar kacau, hatinya tak karuan, Rafa terlihat tak bersemangat.
Sedangkan Daniel mencoba mengetuk pintu rumah, melihat keadaan istrinya.
Namun di saat ia melihat gordeng terbuka, kedua matanya mencoba mengintip, terlihat Sarla menangis di atas kursi seperti merasakan kesedihan yang amat menyiksa batinya.
Penasaran, Daniel mulai mengirim pesan.
(Apa ada sesuatu yang terjadi di rumah?)
Daniel berharap jika Sarla membalas pesannya, karena itu ia tak pergi dari depan pintu hanya menunggu balasan dari istri keduanya.
(Tidak ada.)
Jawaban yang benar benar simpel untuk Daniel baca, (Oke, jaga diri baik baik di rumah. )
Daniel mulai melangkahkan kaki, menuju ke pintu gerbang, dimana ia berucap pada satpam penjaga rumah." Jaga baik baik istriku, jangan sampai ada orang yang masuk ke dalam rumah.)
Satpam menganggukan kepala setelah mendengar perkataan sang majikan.
"Baik Tuan."
Daniel. Mulai mengambil kacamata dari saku bajunya, memasangkan dan masuk kedalam mobil, perasaanya kini tak karuan setelah melihat Sarla menangis sembari duduk di atas sofa.
"Kenapa kamu menangis, Sarla."
Memegang dada, merasakan rasa menyesal yang tak biasanya dirasakan Daniel, " ada apa dengan hati ini."
Daniel menghelap napas berusaha tetap tenang, tidak terlalu memikirkan perkataanya, yang malah membuat hidupnya tak karuan.
"Kenapa aku jadi seperti ini. "
**********
Bi Siti melihat keadaan sang majikan semakin hari semakin terlihat kurus, apalagi Wulan tengah mengandung. Setiap kali Bi Siti memberikan makanan kepada Wulan, tak ada satupun yang di setunya.
Kuatir jika Wulan tak makan dengan baik, kesehatan janin dan dirinya pasti akan terganggu.
__ADS_1
"Nyonya Wulan makan dulu ya, dari kemarin belum makan loh, biar bibi suapin ya."
Wulan menggelangkan kepala, seperti depresi dengan kehamilannya, " Nyonya, kok begitu. Nyonya enggak sayang sama janin yang nyonya kandung ini, dia anak kandung nyonya. Kasihan."
Wulan malah menatap ke arah pembantunya, dimana Bi Siti mengusap perlahan perut sang majikan.
"Tapi dia tak di inginkan. "
"Loh, Nyonya kok bicaranya kaya begitu, eling nyonya, walau bagaimana pun bayi dalam kandungan Nyonya itu tidak punya salah apapun."
Bi Siti terus ada di samping Wulan, ia takut jika terjadi apa-apa dengan Wulan.
"Tapi bi, Daniel tidak mau anak ini hadir di kehidupannya."
"Nyonya harus tenang walau Tuan Daniel tak menerima anak dalam kandungan Nyonya, tetap saja Tuan Daniel tidak menceraikan Nyonya, berarti Tuan Daniel Tetap Mencintai nyonya."
Wulan perlahan menatap kembali Bi Siti," Apa benar yang dikatakan bibi."
Hanya untuk menghibur sang majikan, wanita tua itu berusaha membohongi Wulan demi kebaikan anak dalam kandungannya.
Memegang tangan Wulan," Nyonya harus kuat demi anak yang di kandungannya."
Terlihat sekali, kata-kata Bi Siti mampu membuat Wulan sedikit tenang dan nyaman.
Sampai dimana, ponsel Wulan bergetar. Menandakan jika ada panggilan telepon masuk pada ponselnya," Halo."
Tawa terdengar dari sambungan telepon, Wulan sudah mengetahui siapa orang yang sengaja tertawa pada sambungan telepon.
"Hey, sayang. Aku mengira kamu tidak mengenali suaraku!"
"Ada apa?"
"Pelan pelan sayang jawabnya, kok sampai beremosi seperti itu!"
"Jangan banyak bicara, cepat katakan apa mau kamu?"
"Aku ingin uang sepuluh juta. Apa kamu bisa memberikannya sekarang kepadaku?"
Permintaan Angga membuat Wulan kesal, bagaimana bisa ia mendengar perkataan yang tak menyenangkan.
"Aku bukan siapa-siapa kamu, jadi jangan memerasku."
"Waw, kamu lucu sayang. Bisa bisanya berbicara jika aku bukan siapa siapa kamu, bukannya anak dalam kandungan kamu itu adalah anakku."
"Cukup jangan pernah membahas hal itu, aku tidak suka. Jika kamu mengakui anak dalam kandungan ini adalah anaknya."
"Menarik, tapi Memang pada kenyataannya bukan, anak dalam kandungan itu adalah anakku."
Orang mana yang tidak akan kesal, setelah mendengar perkataan Angga, yang selalu memancing emosi Wulan.
__ADS_1
Wulan yang tak tahan dengan perkataan Angga, kini berkata," Jangan pernah ganggu aku lagi, bukannya kemarin aku sudah mengirimkan uang kepada kamu, kenapa kamu malah meminta Lagi dan Lagi."
"Jelas aku mau minta lagi dan lagi, karena aku memang butuh uang itu. "
Wulan tak tahan dengan ucapan Angga, pada akhirnya mematikan panggilan telepon, iya tapi memperdulikan keinginan Angga, karena semakin dituruti, Malah semakin membuat Wulan terkekang olehnya.
"Siapa, Nyonya?"
"Dia!"
"Maksud Nyonya lelaki yang sudah menghamili Nyonya!"
"Iya, bi. Dia minta uang sepuluh juta kepada saya."
"Loh, bukannya baru kemarin di kirim."
"Iya, bi. Dia minta lagi."
Menggelengkan kepala, Bi Siti nampak kesal dan tak habis pikir dengan perkataan Angga, dimana ia malah semakin menjadi jadi, memoroti Wulan.
"Yang sabar ya, non. Mudah mudahan dia sadar tidak memoroti nyonya lagi. "
" Saya berharap seperti itu, bi. Tapi lelaki tidak tahu diri seperti dia. Mana mungkin akan sadar akan kesalahannya, yang ada dia malah semakin menjadi-jadi. "
Dalam percakapan antara Bi Siti dan juga Wulan, kini didengar oleh Daniel, di mana lelaki yang bergelar cewek itu tengah berada di balik pintu kamar istrinya.
"Bibi tahu sendirikan sekarang ATM dan juga kartu kredit ku sudah diambil semua oleh Daniel. Jadi aku tidak bisa menutup mulut lelaki bernama Angga itu. "
"Kok bisa non. "
Baru saja Wulan ingin menjawab perkataan pembantunya, Daniel langsung datang membuka pintu begitu saja," Daniel."
Siapa yang tak terkejut dengan penampakan Daniel tiba-tiba saja sudah berada di depan pintu kamar Wulan.
"Kenapa sayang, apa kamu terkejut melihat kedatanganku? Tanya Daniel mendekat ke arah istri pertamanya, memegang perut yang semakin membesar.
" Nggak kerasa anak kamu sudah besar, kapan papah ya datang ke sini?"
Deg ....
Perkataan Daniel yang membuat Wulan terkejut dan pastinya ketakutan.
"Loh sayang, kok kamu malah melamun sih saat aku tanya seperti itu?"
Wulan tersenyum kecil sembari Memegang perutnya," kamu ini ngomong apa sih, anak dalam kandungan ini itu, anak kamu. Malah tanya yang lain. "
Daniel mengerutkan alisnya, terlihat sekali ia tersenyum sinis di hadapan sang istri, seperti menandakan sesuatu yang tak diduga oleh Wulan, " loh memangnya aku tak boleh ya bertanya seperti itu, bukannya aku sebagai seorang suami juga ingin tahu siapa yang sudah menghamili kamu."
"Daniel, cukup jangan terus memojokkanku."
__ADS_1
Hening semua tanpa tak bersuara.