
Keluar dari dalam kamar, Lani berpura pura tak tahu apa apa, dia duduk melihat sang papah dan kakaknya tengah berbincang.
"Sepertinya jebakanku berhasil." Gumam hati Lani.
Anak berumur sepuluh tahun itu tersenyum tipis, ia tak sabar jika Lilia yang akan menjadi targetnya saat ini.
"Lani." Panggilan dari Sarla, membuat Lani menatap sayu kearah sang kakak.
"Ahk, iya kak Sarla, ada apa?" tanya Lani masih dengan wajah polosnya.
"Apa kamu mau ikut bersama kami, untuk melihat para preman yang sudah membuat ibumu meninggal dunia?"
Pertanyaan Sarla tentunya membuat Lani mempelihatkan kesedihannya, " ahk, mana mungkin Lani ikut ke sana, yang ada hati Lani malah akan terluka. "
Sarla yang mengerti akan perkataan Lani, kini memaklumi perkataannya. " Baiklah kalau begitu, kakak mengerti apa yang kamu rasakan saat ini. "
"Syukurlah kalau kakak mengerti. "
Sarla dan juga Gunawan mulai duduk untuk segera menyantap makanan, tak ada rasa curiga sedikit pun pada Lani, terlihat mereka menikmati makanan yang dihidangkan Tari.
"Bagus, sepertinya mereka akan mendapatkan kabar yang mengejutkan, ahk, rasanya aku tak sabar mendengar kabar itu, akan seperti apa jadinya ya. " Gumam hati Lani, terlihat ia tersenyum tipis.
Tari yang melihat Lani, merasa curiga, seakan terjadi suatu perubahan pada wajah anak itu setelah menatap Sarla dan Gunawan.
"Kok, aku merasa curiga ya. Kalau Nona Lani seperti merencanakan sesuatu. Tapi mana mungkin, Nona Lani kan masih kecil. "
Tari berusaha membuang perasaan negatifnya, ia tak mau jika pada akhirnya ia malah memfitnah anak kecil itu.
Meneruskan pekerjaannya, Tari berusaha menenangkan hati yang terasa tak karuan.
Nona kecil tiba tiba mendekat, setelah menghabiskan makanannya di atas piring.
"Mbak Tari, kok aku curiga ya. "
Deg .....
Bisa bisanya anak kecil itu mengatakan hal yang membuat Tari terkejut, " Maaf Nona Lani, apa maksud dari perkataan Nona ya?"
Lani mendekat menarik tangan Tari, ia kini berbisik, " kamu menyembunyikan seseorang di dalam gudang. "
__ADS_1
Deg ....
Tari berusaha bersikap tenang dan membalas bisikan itu, " Ahaah, tidak ada. Siapa yang saya sembunyikan. "
Sarla dan Gunawan masih menikmati makanan mereka, dimana Lani sekilas melihat keduanya tengah fokus, sedangkan ia mencoba mendekatkan diri pada Tari.
"Jangan bohong, bisa bisa aku beberkan masalah ini pada Kak Sarla."
Perasaan Tari semakin tak karuan, ia berusaha tetap tenang, agar Lani tidak mengatakan hal yang malah mengundang masalah.
"Kenapa anak ini selalu menyebalkan, apa sih keinginanya, ingin rasanya aku jitak saja kepalanya, bisa bisanya dia tahu jika di dalam gudang ada orang yang sengaja Tuan Gunawan sembunyikan." Gumam hati Tari.
"Sudahlah berpihak padaku, dan aku akan menyimpan semua ini rapat rapat, dan lagi Mbak Tari juga bersekongkol kan sama papah?"
"Ehhh, annnu. "
"Alah pake acara gerogi segala santai saja, Lani ini bersahabat pada orang yang pandai menyimpan rahasia. "
Sarla tiba tiba datang dihadapan keduanya terlihat ia penasaran dengan percakapan keduanya yang terdengar begitu serius, " sepertinya seru, lagi ngobrolin apa nih. "
Lani melihat Sarla, kini tersenyum lebar pada Tari, " eh kakak, aku lagi ngobrolin tentang makanan kesukaanku, jadi aku ingin Mbak Tari itu nanti beli. "
Lani tiba tiba saja terlihat sok baik, mendekat ke arah kakaknya, " tidak ada kok kak, Lani hanya butuh teman mengobrol saja. "
Sarla tersenyum lebar, sampai dimana ponselnya tiba tiba berbunyi.
"Kakak pergi dulu ya. "
Lani melepaskan tangannya yang memegang tangan sang kakak. Terlihat Sarla menjauh, ia tak ingin orang tahu masalahnya saat ini.
"Kamu lihatkan tadi Mbak Tari, Kak Sarla sampai penasaran dengan apa yang kita obrolkan. "
"Iya Nona. "
"Jadi bagaimana kalau Mbak ikuti perintah saya, atau .... "
. Tak ingin mendengar lebih detail ucapan Lani, pada akhirnya Tari menjawab. " Iya non, saya akan lakukan apa saja demi rahasia saya tidak terbongkar dan diketahui oleh Nyonya Sarla. "
Tari tersenyum dan berjingkat, " bagus. Jaga ucapan Mbak Tari. "
__ADS_1
Lani tak suka banyak berbicara, ia pergi setelah mendapatkan apa yang ia mau.
"Bagus, pembantu di rumah ini sudah berpihak padaku, jadi kalau ada apa apa aku pasti tenang. "
Melihat punggung Lani, membuat Tari menggelengkan kepala, ia tak mengerti dengan akal pikiran anak sekecil Lani, bisa bisanya mempunyai niat yang jahat dan bisa mengacam orang lain.
"Sifat anak itu tak jauh berbeda dengan mak lampir, bisa bisanya ia mewarisi sipat jelek ibunya sendiri. " Gerutu Tari. Sampai dimana Gunawan mendekat dan bertanya, " kenapa dengan anak itu, apa yang dia katakan pada kamu?"
"Ah, tidak ada tuan!" Tari berusaha menjawab dengan menenangkan hati dan perasaanya sendiri, ia takut jika menampilkan rasa gelisah dan gugup akan membuat sang tuan rumah curiga.
"Syukurlah kalau begitu, saya takut jika anak itu mengetahui keberadaan Wina di dalam gudang, dimana ia malah mengatakan semuanya pada Sarla. "
Bukan hal itu saja yang memang sekarang dipikirkan Tari, ia juga takut jika suatu saat nanti, dirinya akan bernasib sama seperti Wulan.
Menunjuk wajah Tari, kini Gumawan mengancam dengan berkata, " Awas saja kalau dia tahu semuanya, yang tersalahkan adalah kamu."
Tari mengadu ngadu kedua tangannya, berusaha tetap santai mendengarkan perkataan sang majikan.
"Anda tenang saja Tuan. "
Gunawan pergi dengan raut wajah tak nyaman dipandang, sampai Tari menundukkan pandangan.
Setelah kepergian Gunawan, Tari mengusap lembut dada bidangnya yang terasa berdebar, ia yang menyimpan kegelisahan itu kini berusaha duduk tenang, perkejaan yang tadinya begitu banyak terbengkalai sudah.
"Bisa bisanya aku masuk dikeluarga yang penuh masalah ini, ahk sialan. " Gerutu Tari, memegang pisau tajam yang membuat ia kini memotong motong sayuran dengan rasa kesalnya. "
"Ahk, tahu begini kemarin jangan pulang dulu ke sini, tinggal aja di kampung selama sebulan, ahk. Tapi kalau aku seperti itu, mungkin Mbak Wina akan mati kelaparan karena Tuan Gunawan mengabaikan begitu saja. "
Tari bolak balik kesana kemari hati sudah tak tenang, " apa maksud dari bocah tengik itu mengajak aku bekerja sama, sebenarnya apa yang sudah ia lakukan, kenapa membuat aku penasaran sekali. "
"Tari, Tari. "
Panggilan dari Lani membuat Tari berlari dan menghampiri Nona kecil itu.
Lani berkacak pinggang mempelihatkan dirinya yang sok berkuasa, " sepertinya papah ketakutannya, sampai aku lihat papah mengacam kamu Mbak Tari. "
Tari seakan malas membalas perkataan Lani yang terlihat sombong dan meagul agulkan diri. "
"Mbak Tari." pertanyaan Lani membuat lamunan Tari kembali membuyar, karena banyak tekanan membuat Tari tak bisa berpikir jerni.
__ADS_1
"Ahk, iya ada apa Nona?" Tari malah melemparkan pertanyaan dari Lani, ia seakan enggan membalas perkataan dari anak Dera.