Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 172


__ADS_3

Baru saja sampai di pintu depan rumah, Sarla dikejutkan dengan ibu mertua yang sudah ada di hadapannya, wanita tua itu memperlihatkan raut wajah sedihnya, " Sarla kamu mau kemana?"


Menundukkan pandangan, Sarla kini menjawab." Maafkan Sarla bu, Sarla mau izin pulang ke rumah papah. "


Mendengar perkataan Sarla, tentunya membuat Alenta terdiam. Di mana ketukan pintu dilayangkan oleh Gunawan,  Sarla mulai membuka pintu rumah Daniel. 


"Pak Gunawan?"


Alenta berusaha bersikap ramah terhadap besan,  ia menyuruh Gunawan untuk masuk ke dalam rumah. " Masuk dulu pak."


Gunawan melihat raut wajah anaknya yang sudah basah dengan air mata, di mana ia memberanikan diri untuk bertanya." Maaf sebelumnya, kenapa anak saya anda paksa untuk tinggal di sini?"


Deg …. 


Perkataan Gunawan membuat Alenta terkejut, di mana wanita tua itu menatap ke arah menantu keduanya. 


"Sa-ya. Merasa kasihan dengan Sarla jika dia tinggal sendirian  di rumah. " alasan yang tidak bisa membuat Gunawan percaya begitu saja. 


"Benarkah itu, tapi kenapa keluarga anda malah membuat anak saya menangis?" Tanya Gunawan kepada Alenta, di mana sosok wanita tua itu berat untuk menjelaskan semuanya. 


Sarla mencoba menarik tangan sang Papa untuk keluar dari dalam rumah Daniel, iya tak mau melihat perdebatan antara orang tua dirinya dan juga mertuanya. 


"Pah, sebaiknya ayo kita pulang dari sini. "


Gunawan melepaskan tangan anak pertamanya itu,  dimana lelaki tua itu berkata." Biarkan saja Papa di sini dulu untuk meminta pertanggungjawaban keluarga dan."


"Tapi pah, Sarla  ingin cepat pulang dari sini.''


Sarla berusaha menyuruh lelaki tua yang menjadi papanya Itu membawanya pergi. " Baiklah jika itu keinginanmu."


Alenta berusaha menahan Sarla agar tidak pergi dari rumahnya. " Sarla jangan pergi ibu masih membutuhkanmu. "


Sarla menggelangkan kepala dan berkata, " Maafkan Sarla bu, Sarla tidak bisa. Sarla akan pulang sekarang juga. "


"Sarla? Ayolah. Ibu ingin kamu ada di sini. " Air mata menetes secara perlahan dari kedua mata Alenta.


"Tidak bu, Sarla akan membesarkan anak ini di rumah papa, Sarla berharap ibu tidak menekan terus menerus Sarla. "


Alenta mencoba menahan tangan sang menantu, dengan harapan jika Sarah akan tinggal di rumahnya, " Sarla, kamu tinggal di sini saja, kandungan kamu sudah semakin membesar, dan sebentar lagi kamu akan melahirkan."


"Maaf bu, tidak bisa. "


Gunawan kini merangkul bahu anaknya, untuk segera naik ke dalam mobil, dimana Alenta berteriak memanggil manggil Sarla.


"Sarla."


Daniel mendengar suara sang ibunda berteriak memanggil nama Sarla. Begitupun dengan Wulan, " Ada apa bu?" tanya Daniel terlihat kuatir.


"Sarla pergi dari sini!" jawab Alenta menangis, dimana Wulan bergumam dalam hati, " baguslah kalau dia pergi, itulah yang aku harapkan dari kemarin. "


Daniel terlihat panik dengan kepergian Sarla, ia mulai berlari menyusul istri keduanya, sedangkan Wulan mengikuti langkah Daniel mencoba mencegah suaminya.

__ADS_1


Menarik tangan Daniel, lalu berkata, " mau kemana kamu?"


Daniel menantap ke arah Wulan, " aku mau menyusul Sarla, lepaskan tanganmu itu.


"Apa tadi kamu bilang, mau menyusul Sarla. Apa kamu lupa posisi kamu sekarang. "


Mendengar perkataan Wulan membuat Daniel perlahan sadar, ia lupa jika Sarla tahu bahwa dirinya hilang ingatan.


Mengusap kasar wajah, Daniel berusaha tenang dan menatap ke arah istrinya," kamu benar, untuk apa aku mengejar Sarla, karena dia tahunya aku hilang ingatan."


"Nah, itu kamu tahu sendiri, ya sudah apalagi coba ayo kita masuk ke dalam rumah."


Pada akhirnya Daniel hanya bisa pasrah, karena ia tak mungkin mengejar istri keduanya itu.


Alenta datang menghampiri Daniel, " kenapa kamu tidak mengejar Sarla, Daniel. Ayo kejar dia?"


Daniel menundukkan wajah, tak menjawab perkataan sang ibunda, ia pergi tanpa mengeluarkan satu patah katapun.


"Kenapa kamu tak menjawab perkataan ibu Daniel."


Wulan yang tak tahu jika ibunya sudah mengetahui, jika Daniel berpura pura amnesia kini berkata, " sudahlah bu, ngapain teman ibu itu dikejar, Daniel bukan siapa siapa dia."


Mereka melangkahkan kaki pergi dari hadapan Alenta, dimana Alenta kini mengungkapkan semua yang ia tahu. " Daniel, sudahlah jangan berpura pura."


Daniel terdiam, begitupun dengan Wulan, " apa maksud ibu kamu, apa dia sudah mengetahui kepura puraanmu?"


Tanya Wulan sembari berbisik, dimana Daniel menjawab. " Ibu sudah tahu semuanya dan dia tidak marah atau mengancamku. "


Daniel mencoba melepaskan tangan Wulan lalu melangkahkan kaki kehadapan sang ibunda. " Daniel. "


"Daniel, jika kamu menyusul Sarla. Jangan harap aku ada di rumah ini lagi."


Mendengar Wulan berkata seperti itu, membuat keraguan pada hati Daniel, ia kebingungan sendiri, membuat Alenta berucap. " Sudah Daniel kejar apapun yang menurut hati kamu."


Daniel tak bisa melakukan semua ini, dia pada akhirnya memilih Wulan, karena sudah cukup penolakan Sarla yang tak akan berarti bagi dirinya dan juga kehidupannya.


"Daniel? Kamu pasti memilihku." ucapan Wulan mampu membuat Daniel takluk kepadanya.


Daniel memegang bahu Wulan, ia pergi melewati sang ibunda. " Sepertinya aku sudah menyerah dengan Sarla bu. "


Mau tidak mau, Daniel harus mempasrahkan diri jika memang ia tak berjodoh dengan Sarla, dikejar sebagai manapun, tetap Sarla bukanlah Wanita yang gampang dibujuk, rayu.


Wulan senang dengan pilihan Daniel, bahwa dia sudah memilih Wulan untuk menjadikannya seorang istri. " Terima kasih kamu sudah memilihku Daniel. "


Daniel hanya tersenyum kecil, ia melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Sarla menatap ke arah belakang tak ada Daniel yang mengejarnya, dimana Gunawan mulai bertanya, " Apa yang sedang kamu kuatirkan Sarla sampai menatap ke arah belakang mobil."


Sarla menatap ke arah sang papa dengan kedua mata berkaca kaca, sesekali ia menyekah air mata yang sedikit sedikit jatuh.


"Apa kamu mencintai Daniel?"

__ADS_1


Pertanyaan sang papa membuat Sarla diam, ia hanya menundukkan wajah, memegang dada. Terasa ada yang hilang dalam hidupnya.


Lelaki tua itu memegang punggung tangan anaknya, berharap jika perkataan Gunawan mampu membuat Sarla menjadi lebih tenang.


"Jangan pernah memendam perasaan ungkapkanlah."


Perlahan demi perlahan perkataan Gunawan mulai membuat Sarla mengungkapkan isi hatinya.


"Semenjak mengandung anak dari Daniel, perasaan cinta itu tiba tiba saja tumbuh, aku merasa tersiksa, apa aku salah telah mencintai lelaki yang sudah beristri, kenapa keteguhanku malah membuat batinku tersiksa. "


Sang papah mengerti apa yang dirasakan anaknya itu dimana ia mengusap perlahan punggung anaknya lalu berkata," wajar seorang wanita mencintai lelaki yang sudah membuat dirinya nyaman, apalagi lelaki itu sudah sah menjadi seorang suami. Kamu tidak salah Sarla."


Hati Sarla merasa tenang saat sang papah menasehati dengan pelan," Sarla, papah tahu posisi kamu sekarang serba salah, papah menyesal sudah menikahkan kamu dengan pria beristri. Maafkan papah sudah membuat hatimu saat ini tersiksa. "


Sarla menatap ke arah Gunawan, raut wajah penyesalan selalu diperlihatkan lelaki tua itu dihadapannya.


"Sarla sudah memaafkan semuanya kesalahan papah. Sarla juga berusaha membuang jauh jauh perasaan cinta Sarla pada Daniel. "


"Maafkan papah ya sayang. "


Sarla menganggukkan kepala, semua sudah mengakui kesalahannya masing masing.


"Papah janji akan menjaga kamu. "


"Terima kasih pah. "


********


Dalam kehangatan Sarla, karena mendapatkan perhatian dari sang papah. Kini kehidupan Dera dan Lani berada diujung tanduk, mereka menderita karena tak mempunyai uang sepeserpun.


Lani terlihat pucat, karena jadwal pemeriksaannya sempat tertunda karena kekurangan biaya.


"Sampai kapan kita akan seperti ini, ma. Apa mama tidak menghubungi papah?" Pertanyaan Lani membuat Dera, menggenggam erat ponselnya, ia sengaja mematikkan ponselnya hanya untuk menjauhkan diri dari sang suami.


Dera berpikir jika dengan cara seperti ini, akan membuat Gunawan mencari keberadaanya.


Namun sampai sekarang, tak ada kepedulian Gunawan sama sekali pada Dera dan juga Lani.


"Mah. Kalau kita tidak menghubungi papah, kemungkinan besar papa tidak akan bisa menemukan keberadaan kita, " ucap Lani, tampak terlihat muram. Ia ingin pulang menemui Gunawan sang papah. Yang selalu memanjakan dirinya.


Dera memegang pipi anaknya, lalu berkata, " Lani mama mengerti apa yang saat ini kamu rasakan sayang, kamu rindukan dekapan papah kamu?"


"Iya, ma, Lani takut Lilia mengambil semua kasih sayang papah. " Keluh Lani, membuat Dera memeluk anak satu satunya itu.


"Mama mengerti apa yang kamu rasakan saat ini sayang, sekarang mama sudah tidak bisa menyewa orang lain lagi seperti kemarin untuk membuat Lilia hancur, " balas Dera, meluapkan kekecewaanya, karena uang tabungan semakin sering dipakai semakin cepat habis.


"Mah, apa kita pulang saja menemui papa," ucap Lani mengajak Dera untuk kembali pulang menemui Gunawan.


"Ayo ma, Lani sudah tak tahan dengan hidup serba kekurangan seperti ini, " ucap Lani, terus menerus mengeluh dihadapan sang mamah.


"Mama sebenarnya malas jika harus pulang menemui papahmu, tapi karena mama melihat kondisi kamu yang sedang tidak baik, besok kita pulang ke rumah papah. "

__ADS_1


Mendengar hal itu membuat Lani senang, ia bisa mengerjai sang kakak Lilia, membalaskan dendam karena sudah membuat sang papah membenci sang mama.


"Lilia tunggu aku pulang besok?" Gumam hati Lani


__ADS_2