Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 93


__ADS_3

Sarla selesai menjalankan salat malamnya, ia mulai merapikan mukena begitupun dengan Alquran yang baru saja ia baca, perlahan berjalan untuk menuju ke ranjang tempat tidur.


Sarla mulai melihat ke arah layar ponselnya yang berkedip, mengambil ponsel itu dan membaca pesan yang datang. Bukan malah senang, Sarla terlihat sekali kesal, rasanya ingin melemparkan ponsel pada tangannya saat itu juga.


Namun apa daya, ia harus tetap sabar setelah tugasnya berhasil. Hanya memiliki seorang anak dari Daniel, Sudah 3 bulan lebih tetap saja Sarla tidak hamil-hamil.


Ia merasa heran dengan perutnya," Kenapa kamu begitu lama hadir di rahim ibu nak, Ibu sudah ingin mengandung kamu agar bisa terbebas dari lelaki bernama Daniel itu."


Entah apa yang dipikirkan Sarla saat itu, bisa-bisanya ia berucap tanpa menyadarkan dirinya sendiri.


Ting ....


Pesan kini datang dari Daniel. ( Apa kamu sudah tidur? )


Sarla kebingungan sendiri, jika ia tidak membalas pesan dari Daniel, ya takut jika nanti Daniel malah menghukumnya, pada saat itulah Jari tangannya mulai membalas pesan dari sang suami.


(Aku belum tidur. Ada apa?)


Daniel yang bergulang guling ke sana kemarin, tak bisa menutup kedua matanya karena selalu terbayang akan wajah Sarla. Kini merasa bahagia melihat balasan dari istrinya, bangkit dari tempat tidur sembari menatap layar ponsel.


"Apa yang harus aku balas."


Daniel perlahan mulai mengetik keyboard dalam ponselnya,( tidak aku hanya ingin memastikan kabar kamu sekarang. )


Lelaki berbadan kekar, nampak tak sabar ingin melihat jawaban dari sang istri. " Apa ya jawabanya. "


Sarla yang melihat pesannya dibalas oleh Daniel, kini menggelengkan kepala dan berkata," bisa-bisanya di jam malam begini, Daniel sempat-sempatnya mengirim pesan kepadaku, apa dia tidak bisa menghargai istri pertamanya yang sedang mengandung."


Menarik napas mengeluarkan secara perlahan, Sarla berusaha tidak tersudut akan emosinya.


(Apa istri anda sudah tidur, sampai anda mengirim pesan kepada saya.)


Daniel membulatkan kedua matanya, bukan ini yang ia dengar dari istri keduanya.


(Kenapa kamu malah menanyakan istri pertama saya.)


( Jelas saya menanyakan istri anda, seharusnya anda itu sebagai seorang suami lebih mementingkan istri pertama daripada saya, karena istri pertama anda itu sedang hamil, tolong hargai dia, karena saya dan juga istri pertama anda itu sama-sama wanita.)

__ADS_1


Jawaban yang tak disuka oleh Daniel, dia mulai menaruh ponselnya dengan amarah yang menggebu dalam hati.


"Bisa bisanya dalam situasi saat aku rindu kepadanya, ya malah menasehatiku seperti ini."


Daniel berusaha tetap tenang, di mana Pesan datang lagi. (Paman, aku berharap kamu tidak curang ya.)


Ternyata pesan dari sang keponakan.


"Apa maksud Rafa?"


kini sang keponakan langsung menghubungi Daniel, di mana lelaki berbadan kekar itu langsung mengangkat panggilan telepon dari keponakannya.


"Halo, ada apa? Kenapa kamu berbicara seperti itu?"


Pertanyaan Daniel membuat sang keponakan kini menggerutu kesal," Sudahlah Paman jangan berpura-pura, aku tahu tadi siang kamu tidak memperbolehkan Sarla datang ke kampus kan?"


Daniel tertawa terbahak-bahak, " kenapa kamu malah mempertanyakan hal seperti itu, Bukannya itu hak aku!"


"Aku bertanya seperti ini, Aku ingin bersaing denganmu secara sehat, bukan secara licik seperti tadi siang. "


" Sudahlah Rafa menyerah saja. Jangan memikirkan apa yang aku lakukan, menurut saja, toh Sarla tidak akan memilih kamu ketika dia menjadi janda nanti."


" Wah kamu sebagai keponakanku ternyata berusaha berkata bijak,"


Daniel malas berbasa-basi dengan Rafa, pada akhirnya ia mematikan panggilan telepon yang masih terhubung.


" Kenapa anak itu malah menjadi pengganggu dalam Rumah tanggaku, seharusnya dia itu duduk manis menyaksikan apa yang kulakukan pada Sarla, tapi sekarang ia malah menjadi sosok pahlawan, dan berusaha menjadikan aku musuhnya."


Daniel, Sudah malas memikirkan hal itu lagi, yakini merebahkan tubuhnya, menutup kedua mata untuk segera tidur, karena esok akan ada pekerjaan yang menumpuk menantinya di kantor.


*******


Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi, di mana Daniel memakai peci begitupun dengan sarung, perlahan demi perlahan ia mulai menjadi sosok seorang lelaki yang berubah.


Karena kebiasaannya tinggal di rumah istri keduanya, membuat ia terbiasa bangun lebih awal dari adzan subuh.


Wulan bangun karena merasakan haus dalam tenggorokannya, saat ia menutup pintu kamar, ke dua matanya membulat melihat pemandangan di hadapannya saat itu. Daniel tersenyum, di mana Wulan membalas senyumannya.

__ADS_1


"Daniel, apa tidak salah Kamu memakai peci dan juga Sarung ini?"


Pertanyaan Wulan membuat Daniel menganggukkan kepala, " ya."


Wulan menutup mulutnya, Iya rasanya ingin tertawa melihat penampilan sang suami yang seperti orang ingin disunat.


"Kenapa? Apa ada yang aneh dengan penampilanku?"


" Jujur saja aku melihat penampilanmu itu, serasa tak pantas dan tidak memperlihatkan kharismamu sebagai Daniel. "


jawaban Wulan pasti akan seperti itu, Daniel sudah tahu jika tipe lelaki yang ia cintai bukanlah memakai peci ataupun sarung.


"Ya, Kebetulan sekali Aku mau salat subuh,"


Wulan tak menyangka dengan perkataan suaminya, bisa-bisanya ia mendengar hal seperti itu.


"What, apa tidak salah kamu berkata seperti itu Daniel?"


Pertanyaan Wulan membuat sang ibunda datang, di mana Alenta sudah berada di hadapan mereka, " Kenapa? kok kamu seperti itu bicaranya Wulan, Harusnya kamu senang lah melihat perubahan Daniel semenjak menikah dengan Sarla.


Wulan malah tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan dari mertuanya," yang benar aja Bu. Daniel yang dulu itu tidak seculun ini."


"Kamu bilang apa?"


Daniel menatap ke arah bola mata istrinya itu," kamu bilang aku yang mau ke masjid ini culun."


Wulan menganggukkan kepala, " iya mas, kayak anak yang mau disunat. Tahu nggak kamu mah. "


Alenta menggelengkan kepala setelah mendengar menantunya berkata seperti itu," Harusnya kamu senang dengan perubahan Daniel yang mau menjalankan ibadah salat, berarti Sarla berhasil membuat Daniel berubah, tidak seperti kamu yang sudah menyakitinya dan juga menyelingkuhinya.


Apa kamu tidak tahu itu?"


Deg ....


Wulan langsung menatap ke arah mertuanya itu, " Apa maksud Ibu kenapa ibu malah berkata seperti itu?"


Alenta sudah tak tahan dengan rahasia yang ia tutup-tutupi bersama dengan Daniel, " Percuma saja jika Ibu bahas lagi. Kamu tidak akan mengaku, oke. "

__ADS_1


Alenta pergi dari hadapan Wulan, di mana wanita yang tengah mengandung anaknya itu menundukkan wajah, ia mengepalkan kedua tangan merasa kesal dengan ucapan mertuanya.


"Apa ibu mertuaku sudah mengetahui semuanya, sampai ia tega-teganya berbicara seperti itu, bukannya kemarin Iya begitu baik kepadaku dan juga merasa senang dengan kehadiran anak ini, tapi kenapa sifatnya sekarang bisa berubah drastis, apa Daniel mengatakan semuanya, hingga ibu percaya. " Gumam hati Wulan.


__ADS_2