Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 47


__ADS_3

Pintu kini terbuka, ternyata orang yang datang bukanlah Daniel, melainkan sang asisten.


"Bu Wulan, saya datang ke sini atas perintah Tuan Daniel. Untuk menjaga anda malam ini."


Wulan bernapas lega, ia mengira akan ada keributan di malam hari. Mengusap pelan dadanya, berusaha tidak mempelihatkan kegelisahan di hadapan Varel.


"Daniel kemana?"


"Dia tidak bisa menemani anda malam ini, Tuan Daniel pulang ke rumah Bu sarla!"


Deg ....


Mendengar jawaban terlontar dari mulut sang asisten, membuat Wulan sangatlah bersedih, saat ia berada di rumah sakit, Daniel tidak ada di sampingnya sama sekali. Ia malah pergi ke rumah istri keduanya.


Angga masih berdiri di hadapan Wulan, dimana Varel bertanya. " Anda siapa?"


Angga mulai memperkenalkan dirinya," perkenalkan namanya saya Angga, sahabat Bu Wulan."


Varel tak mencurigai kedekatan Angga dan juga Wulan saat itu, Iya hanya ditugaskan untuk menjaga bulan dan juga Bi Santi di rumah sakit.


Wulan kini menyuruh Angga untuk segera pergi dari ruangannya, ia terlihat risih dengan kedatangan lelaki yang sudah membuat dirinya dihadapi masalah besar.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini," usir Wulan, muak melihat wajah yang selalu mengancam dirinya.


"Oke. Aku akan pergi, semoga cepat sembuh," balas Angga, Melambaikan tangan pergi dari ruangan Wulan.


Lelaki itu sekilas menatap ke arah Varel, membuat sebuah senyuman sinis.


******


Daniel kini keluar dari kamarnya, di mana Alenta datang menghampiri anak semata wayangnya itu," Daniel akhirnya kamu keluar juga, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa saat ibu tanya kamu malah pergi begitu saja. "


"Maafkan Daniel, bu!"


Alenta mengerti akan situasi anaknya saat ini," kenapa kamu harus meminta maaf kepada ibu? Coba jelaskan sekarang gimana keadaan Wulan!"


"Wulan sekarang baik-baik saja, Iya hampir saja kehilangan bayinya, untungnya tidak terlabat Daniel membawa dia ke rumah sakit."


Alenta terkejut dengan pernyataan yang terlontar dari mulut anaknya," Wulan hamil?"

__ADS_1


Daniel menganggukan kepala, di mana Alenta sangatlah bahagia, ia memeluk anak semata wayangnya itu.


"Terus kenapa kamu tadi marah. Bukannya kamu itu harus bahagia, menemani Wulan saat ini.


kenapa kamu malah pulang ke sini."


Daniel tak mampu mengatakan hal yang sebenarnya, ia takut jika Alenta kecewa. Membuat penyakit jantungnya kambuh kembali.


" Maafkan Daniel, Bu. Daniel tadinya tidak percaya. Tapi saat dokter menjelaskan dengan detail baru Daniel percaya, Daniel marah karena Wulan tidak memberitahu.dari awal kalau dia hamil, makanya Daniel pergi dari rumah sakit memerintah Varel untuk menjaga Wulan. Agar dia sadar dari keegoisannya."


"Kamu ini gimana sih, jadi seorang ayah. Harusnya kamu itu lebih mengerti perasaan Wulan, cepat sana balik lagi."


Alenta yang begitu bersemangat setelah mendengar Wulan mengandung seorang bayi, memerintah anaknya untuk kembali lagi ke rumah sakit.


Namun secara langsung Daniel tidak menggubris perkataan Alenta, ia menjawab dengan memperlihatkan tubuhnya yang kelelahan."


sudah terlambat bu, Daniel sudah menyuruh Varel untuk menjaga Wulan dan lagi di sana ada Bu Siti, besok pekerjaan Daniel sangat banyak jadi Daniel tidak bisa menjaga Wulan."


Alenta tak suka dengan perkataan anaknya yang begitu banyak alasan, "Ya sudah kalau begitu Ibu saja yang menjaga Wulan saat ini. "


Dengan nekadnya, Alenta ingin pergi sendiri ke rumah sakit menemui menantu pertamanya.


"Mana bisa seperti itu, kamu ini seorang suami dan juga ayah dari anak yang dikandung Wulan, Kamu harusnya bertanggung jawab menjaga dia di rumah sakit, bukan malah menyuruh Varel."


Apa yang dikatakan sang ibunda memanglah benar, namun saat Daniel berada di sisi sang istri hatinya merasa sakit.


Daniel terpaksa menyembunyikan semuanya ia tidak mau rumah tangganya hancur apalagi melihat sang Ibu terluka.


"Cepat pergi temui Wulan, Jika kamu tidak mau pergi ke sana biar Ibu saja yang ke sana." Daniel tidak mungkin membiarkan ibunya pergi sendirian ke rumah sakit, mau tidak mau dia harus pergi ke sana.


"Ibu diam saja disini, sekarang juga Daniel akan pergi ke sana?"


Raut wajah Daniel memperlihatkan ketidakberdayaan, ia harus membuat sebuah drama bahwa anak yang dikandung Wulan itu adalah anaknya.


Sarla. Menundukkan wajah, mendengar obrolan itu merasa sedikit senang, karena jika Wulan hamil, otomatis dirinya akan pergi dan tidak dibutuhkan lagi.


"Sarla, akhirnya ibu dapat cucu juga," ucap Alenta, memperlihatkan raut wajah yang begitu bahagia di hadapan sarla.


"Ya bu, Sarla ikut senang dengannya," balas Sarla memeluk kembali tubuh mertuanya itu.

__ADS_1


******


Daniel mulai kembali ke rumah sakit dengan rasa malasnya, mengendari mobil berkecepatan tinggi, berusaha megontrol emosi.


(Daniel, kenapa kamu pulang?)


Pesan datang dari Wulan, (Daniel, kenapa kamu malah menyuruh Varel menunggu di sini?)


(Daniel, balas pesanku.)


(Daniel.)


Beberapa kali pesan datang dari istrinya, Daniel tetap saja tak membalas ia fokus mengendarai mobil untuk segera sampai di rumah sakit.


*****


Di rumah sakit, Wulan kesal dan tak sabaran akan pesan yang ia kirim tak kunjung dibalas oleh Daniel.


Langsung saja membantingkan ponselnya ke atas lantai, dimana Bi Siti terkejut, ia langsung berdiri melihat ke arah ponsel yang sudah terpecah belah, karena bantingan begitu keras.


"Daniel, dia tak membalas pesanku dari tadi, kenapa?"


Bi siti selalu ada di sisi Wulan, mengusap pelan punggungnya dan berkata." Nyonya, eling. Istigpar."


Napas Wulan bergemuruh hebat, terlihat dadanya naik turun menahan rasa sesak dan amarah.


Varel hanya bisa diam dan menatap Wulan dari kejauhan, "sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka, kenapa bisa Bu Wulan seperti itu." Gumam hati Varel.


Sosok Daniel kini datang ke arah Varel, dimana sang asisten menyapa." Pak Daniel, bukannya anda tidak akan datang ke rumah sakit?"


Pertanyaan sang asisten hanya membuat Daniel tersenyum kecil, lelaki bergelar CEO kini membuka pintu ruangan istrinya, dimana Wulan tengah merasakan kekesalan karena pesan yang tak kunjung dibalas.


Bi Siti melepaskan pelukannya saat menatap Daniel sudah berada di hadapan, " Pak Daniel."


Mendengar nama Daniel, Wulan menatap ke arah suami, ya kira jika di situ hanyalah bercanda. Namun pada kenyataannya Daniel sudah berdiri di hadapan mereka berdua, memberi kode mata agar Bi Siti keluar dari ruangan.


" Saya permisi dulu Nyonya tuan. "


Bi Siti kini keluar dari ruangan Wulan, dimana wanita tua itu sekilas menatap ke arah wulan Karena rasa khawatirnya.

__ADS_1


Wanita tua itu berharap, obrolan mereka tidak membuat keduanya bertengkar hebat. Karena jika Itu semua terjadi. Takut akan keadaan Wulan yang semakin depresi karena tekanan bertubi tubi.


__ADS_2