Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 96


__ADS_3

Bi Siti melihat Alenta, menaruh kebencian pada Wulan, wajahnya sudah terlihat amat kesal, mungkin karena pecakapan di rumah sakit terdengar olehnya. Sampai ia tahu kelakuan busuk Wulan.


Setelah Alenta pergi, Wulan langsung menghampiri sang nyonya.


"Nyonya, apa nyonya baik baik saja?"


Wulan diam, ia tak menjawab perkataan Bi Siti, seperti merasakan rasa syok berat akibat perkataan dari mertuanya, " nyonya."


Lamunan Wulan kini membuyar setelah mendengar apa yang dikatakan Alenta kepadanya," Apa yang nyonya pikirkan?"


"Tidak ada bi," ucap Alenta, ia pergi dari hadapan pembantunya, tak ingin mendengar pertanyaan yang malah membuat hatinya sakit.


Bi Siti sudah mulai kuatir dengan keadaan Wulan, yang semakin hari semakin tidak baik baik saja, dimana Wulan sering melamun dan memikirkan nasibnya kedepan akan seperti apa? Setengah jam berlalu, Wulan keluar dengan pakaian bumilnya, terlihat ia sudah bersiap siap pergi dengan membawa tas.


"Loh, non. Mau kemana?" tanya Bi Siti, melihat Wulan berjalan ke luar rumah.


Wanita bermata sipit itu, menatap kearah pembantunya.


"Wulan, mau keluar dulu sebentar bi."


"Keluar kemana?"


Bi Siti tampak kuatir dengan keadaan Wulan, dimana ia takut jika terjadi apa apa diluaran sana." Nyonya jangan pergi, Bibi kuatir."


Bi Siti terlihat tak ingin Wulan berpergian, karena perasaanya tiba tiba tak tenang, " Nggak papa, bi. Bibi tenang aja, Wulan nanti di antar sama Pak Sopir kok."


"Tapi, non, bibi tetap kuatir sekali dengan keadaan Nyonya, takut malah ada orang jahat nantinya. "


Wulan memegang bahu wanita tua itu dengan menjawab." Sudah tak apa, saya Wulan akan berhati hati kok bi, jadi jangan kuatir lagi. Ya."


Alenta tiba tiba saja datang, dengan raut wajah tak nyaman saat di pandang, dimana ia berkata," Bi Suci ngapain harus peduli dengan wanita seperti dia?"


Deg .... Bi Siti seakan tak menerima dengan perkataan majikannya, " maaf non, saya peduli, karena Nyonya Wulan orang baik."


Melipatkan kedua tangan, Alenta seakan tak suka dengan perkataan pembantunya itu," baik, dari mananya dia baik?"


Wulan perlahan menatap ke arah mertuanya, tak menerima dengan perkataan yang kurang menyenangkan itu, " Kenapa kamu menatap saya seperti itu Wulan?"


Mengepalkan kedua tangan, Wulan sudah tak kuat dengan perkataan yang tak menyenangkan dari mulut wanita yang menjadi orang tua suaminya.


"Saya tak habis pikir dengan sifat anda yang berubah-ubah itu, Ketika anda mendengar saya itu sedang hamil anda begitu antusias membela saya menyayangi saya dan juga memanjakan saya tapi setelah anda mendengar perkataan dari ...."


"Dari mana?"


Alenta menghentikan perkataan menantunya itu," Kenapa kamu langsung diam seperti itu?"


Bi Siti. sudah menduga jika awalnya akan seperti ini, " Nyonya, mobil sudah siap."

__ADS_1


Pembantu itu berusaha menghindarkan pertengkaran antara menantu dan juga mertua, ia tak ingin melihat keduanya bertengkar dan terus bertengkar lagi. Wulan yang tak mempunyai banyak waktu kini berjalan melewati sang mertua, tak ada perkataan pamit dari mulut Wulan kepada mertuanya.


"Wulan, apa sebagai seorang menantu kamu tidak diajarkan sopan santun, oleh kedua orang tuamu?"


Pertanyaan Alenta membuat Wulan semakin kesal, bagaimana tidak kesalnya dia, sang mertua selalu membuat perkataan yang menyakitkan pada hati Wulan.


Mengabaikan perkataan sang mertua Wulan kini pergi dari hadapannya.


"Dasar menantu tidak tahu di untung."


Wulan membalikan badan lalu menatap ke arah mertuanya, ia berjalan dan mendekat, lalu meraih tangan yang sudah mulai menua.


Tatapan sinis Alenta kini ya perlihatkan di hadapan sang menantu.


Wulan mulai mencium punggung tangan mertuanya," Wulan pamit dulu. Bu."


Wulan berusaha menahan amarahnya saat ia mencium punggung tangan sang mertua, melanjutkan langkah kakinya untuk pergi menaiki mobil.


Alenta hanya tersenyum dan berkata, " begitu dong kalau jadi menantu."


Deg ....


Bi Siti yang mendengar perkataan Alenta hanya menggelengkan kepala, ia tak habis pikir bisa-bisanya sang mertua berkata tidak baik kepada menantunya.


Wulan mulai masuk ke dalam mobil, di mana sang sopir mulai mengantarkannya, tapi Wulan malah menyuruh Sopir itu untuk turun.


"Tapi Nyonya, bukan Nyonya sedang hamil, Saya takut dengan keadaan Nyonya takut kenapa kenapa. "


Wulan merasa senang banyak yang memperhatikan dirinya, walau hanya seorang pembantu dan juga para sopir.


" sudah tak usah kuatir saya bisa kok."


"Yang benar non?"


Wulan menganggukkan kepala lalu meminta kunci mobil kepada sopirnya, " mana kunci mobilnya biar saya saja sendiri yang bawa."


Sopir itu lalu memberikan kunci mobil yang berada di dalam saku celananya," ini nyonya."


Wulan pergi, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dimana Bi Siti berlari keluar rumah.


"Nyonya"


Terkejutnya Bi Siti melihat sang sopir, masih berdiri di depan rumah. "Loh, Nyonya pergi sendiri?"


Pertanyaan di Siti membuat sopir itu menganggukkan," iya bi, orang Nyonya Wulanya yang minta. "


Bi Siti menutup mulutnya lalu berkata lagi," Kenapa nggak ditahan lagi?"

__ADS_1


"Ya habisnya, nyonya kaya begitu? Tetep nggak mau saya antar nolak terus dari tadi!"


Bi Siti semakin kuatir sekali dengan keadaan Wulan yang tengah mengandung, ya takut terjadi apa-apa dengan sang nyonya.


"Ya ampun, gimana ini?"


Alenta mendekat dan bertanya?" Gimana apanya.


Bi Siti menatap ke arah Alenta, " anu, itu. Nyonya Wulan pergi sendirian, takut jika terjadi apa-apa dengan dia. "


Alenta yang mendengar perkataan pembantunya itu hanya tersenyum kecil, " hanya masalah seperti itu, Ya sudahlah sih Bi. Orang dia yang mau sendiri. "


"Tapi kan .... "


Alenta mulai beranjak pergi dari hadapan pembantunya itu, " Sudahlah bibi itu terlalu berlebihan. "


Bi Siti tak mengerti dengan sifat orang tua seperti Alenta, walau bagaimanapun Wulan tetap menantunya yang harus ia akui, kesalahan apapun yang dilakukan Wulan, Alenta harusnya menerima, bukan malah bersikap seperti itu.


"Saya tak habis pikir dengan Nyonya Alenta, bisa-bisanya ia berkata seperti itu, seharusnya sebagai orang tua. Dia itu harus mengayomi kedua anaknya agar tidak bertengkar dan membuat kerisuhan, apalagi saling balas dendam, jika namanya rumah tangga itu tidak ada ujian rasanya mustahil, di sisi lain peran sebagai orang tua harus lebih kuat. Apalagi sebagai seorang suami, jika memang tak sanggup. Kenapa tidak ditinggalkan daripada harus membuat satu pasangan menderita karena sudah melakukan kesalahan, itu benar-benar keterlaluan sekali. "


Bi Siti menggerutu kesal dalam hatinya, melihat tingkah laku orang tua Daniel yang seperti anak kecil, tak bisa bersikap tegas ataupun dewasa dalam satu masalah anak-anaknya.


"Bi Siti."


Lamunan pembantu itu kini membuyar setelah sopir bertanya kepadanya.


"Bibi kenapa melamun terus dari tadi. "


Bi Siti kini meluapkan kekesalannya kepada sopir yang selalu mendengarkan ceritanya," Bibi tak habis pikir dengan Nyonya Alenta bisa-bisanya ia bersikap seperti itu kepada menantunya sendiri. "


" Biasanya Nyonya Alenta itu orang yang sangat baik, tapi jika kebaikannya itu disakiti dia bisa berubah menjadi orang jahat, sepertinya Nyonya Wulan melakukan kesalahan hingga Nyonya Alenta marah besar."


Bi Siti tak suka dengan perkataan yang terlontar dari sopir di hadapannya," ah kamu mah kalau ngomong bikin saya jadi tambah kesal."


Bi Siti pergi dari hadapan sopir, untuk segera masuk ke dalam rumah karena sang Nyonya terus memanggil-manggil namanya.


"Bi Siti. "


"Ya Nyonya. "


****


Mobil sudah melaju dengan kecepatan tinggi, bulan kini berniat pergi ke suatu tempat, di mana ia menangis sembari menggerutu kesal dalam mobil, " Kenapa sih kamu malah ada dalam perutku?"


Memukul-mukul perutnya sendiri, lalu Wulan mengingat perkataan dan juga nasehat yang terlontar dari Bi Siti, " anak dalam kandungan Nyonya itu tak bersalah, jadi jangan sakiti dia."


Gara-gara nasehat itu Wulan kini mengurungkan niatnya untuk memukul-mukul lagi perutnya sendiri. Dimana ia mulai pergi ke suatu tempat yang mungkin bisa melegakan hatinya, begitupun meluapkan semua kekesalan

__ADS_1


Kemana kah Wulan pergi?


__ADS_2