
Mana sanggup Natasya melakukan hal seperti itu, yang ada hatinya pasti akan terluka. hiduplah seperti tiada arti lagi.
"Sarla lagi Sarla lagi, Rafa kenapa semenjak hadirnya wanita itu, kamu berubah menjadi orang yang berbeda dari yang aku kenal, sejak kita masih kecil tak ada permusuhan terjadi."
Rafa mendekat ke arah Natasya, dimana ia menatap tajam pada wajah yang ditutupi cadar itu, " Memang dulu aku tidak seperti ini, karena dulu kamu tidak jahat dan munafik, tapi sekarang kamu berbading balik. Jadi jangan salahkan aku atas perubahan sikapku yang sekarang, karena kamu yang sudah merubah semuanya."
Perlahan kedua mata Natasha mengeluarkan rintikan air, membasahi cadar. " Rafa."
Lelaki berkulit putih itu, berjalan pergi mengabaikan teriakan Natasya, " Rafa."
Terlihat sekali keegoisannya ditunjukkan oleh Rafa, tak ada celah sedikitpun untuk Natasha bisa meluluhkan hati sang sahabat.
"Kenapa, aku yang kini selalu tersalahkan."
"Kenapa kamu menangsi."
Natasya terkejut dengan Tasya yang menghampirinya, " kamu lagi, semua gara gara kamu."
Hampir saja Natasya mencekik leher Tasya, membuat kedua sahabat yang seperti Bodyguard itu menahan tangan Natasha.
"Lepaskan tanganku."
Tasya mendekat, mencekram pipi Natasya," hai hai, saudara kembarku. Aku tak menyangkan dibalik kerudungmu itu tersimpan dendam."
" Cukup jangan pernah mengaku bahwa kamu itu saudara kembarku. "
" Memang dari dulu kamu tidak pernah berubah, selalu menganggap aku sebagai sahabatmu, dan selalu kamu khianati begitu saja."
"Karena aku tak suka mempunyai saudara kembar seperti kamu, aku tak sudi menganggap kamu bagian dari keluargaku. Makannya selalu menganggap kamu seperti orang lain."
"Mm, adikku ini memang susah diatur ya. Coba kalau cadar kamu ini bisa aku tarik, kemungkinan besar wajah kamu itu akan terlihat oleh para mahasiswa dan mereka pasti terkejut, kamu tahu karena apa? Wajah kamu itu persis dengan wajahku, Natasha."
"Lepaskan tanganmu itu, walaupun wajah kita sama, tetap saja aku tidak akan mengakui dirimu sebagai kakakku. "
Tasya semakin erat mencengkram kedua pipi adiknya itu," pasti selalu kamu menganggap aku sebagai sahabat, kadang kamu menganggap aku sebagai musuh kamu, atau orang yang baru mengenalmu."
"Cukup, bukannya kita sudah mempunyai perjanjian bahwa kita tidak akan mengakui satu sama lain, kamu anggap aku ini sahabat yang baru kamu kenal saja."
Natasya begitu mudahnya mengatakan hal seperti itu, Iya begitu egois dengan dirinya sendiri, tidak dengan Tasya yang selalu peduli pada dirinya.
__ADS_1
"Natasya, berubahlah dan demi dirimu sendiri."
"Tidak akan."
Natasha melepaskan tangan Tasya yang menggenggam kedua pipinya, mendorong tubuh Tasya lalu pergi dari hadapannya.
"Natasya memang labil."
********
Di dalam perjalanan menuju ke rumah Alenta, Daniel kini bertanya kepada istrinya di dalam mobil, " Oh ya, tadi saya melihat kamu mengobrol dengan keponakan saya?"
Sarla terkejut dengan pertanyaan suaminya, " ya, anda tahu sendiri kan saya dan Rafa itu berteman."
" Saya mengira kalian itu mempunyai hubungan spesial."
"Maksud anda?"
"Kamu tidak mengerti ya!"
Sarla menggelengkan kepala dengan pertanyaan suaminya," ya saya tidak mengerti arti kata spesial. "
"Arti dari kata spesial itu bisa jadi seorang pacar. "
"What, jadi kamu tidak benar-benar mengenal namanya laki-laki di masa muda kamu ini."
"Sebagai seorang wanita, ada baiknya berjaga jarak dengan lelaki yang bukan muhrim, aku tidak terbiasa dengan laki-laki, apalagi berteman dengan mereka hanya sekedar kenal saja."
"Jadi dalam hidupmu, tak ada sentuhan sedikitpun dengan laki laki?"
"Tidak ada!"
Daniel merasa bangga pada dirinya sendiri, Iya bisa menyentuh sosok wanita yang tak pernah disentuh oleh laki-laki lain.
"Kenapa anda bertanya seperti itu?"
"Saya penasaran saja. "
"Owh."
__ADS_1
Sarla menggerutu kesal dalam hatinya, padahal sudah berulang kali ia mengatakan bahwa dia tidak pernah pacaran, tapi Daniel terus bertanya dengan hal itu.
" sebelumnya saya boleh meminta sesuatu pada anda!"
"Sesuatu apa?"
"Selama menikah. Apakah anda bisa memperlakukan saya sebagai seorang istri."
Deg ....
Permintaan yang baru pertama kali didengar oleh Daniel," Bukanya saya selalu memperlakukan kamu sebagai seorang istri. "
"Tapi, Saya tidak merasa anda memperlakukan saya seperti seorang istri, Anda seperti memperlakukan saya seperti orang asing. "
"Mm, baiklah. Karena pernikahan kita hanya sebatas kontrak, selama kamu masih bersamaku aku akan memperlakukan kamu sebagai istriku sepenuhnya. "
Sarla, begitu senang dengan perkataan Daniel, dibalik cadarnya itu, ada senyuman merekah indah, yang tak dilihat oleh suaminya. Karena ia tidak akan menyia-nyiakan waktunya sebagai seorang istri.
Pertama kalinya, Daniel mulai memegang punggung tangan istrinya di dalam mobil, " jika aku bersama istriku, aku selalu memegang punggung tangannya."
Sarla mulai merasakan indahnya sebagai seorang istri, maka saat perceraian terjadi, Sarla tidak akan penasaran dan tidak akan bertanya tanya dalam hatinya, bagaimana rasanya menikah.
Karena ia memutuskan setelah cerai dengan Daniel, tidak akan menikah lagi. Walau terdengar konyol. Tapi itu semua adalah perinsipnya, menikah sekali, walau tidak sampai mau memisahkan.
Daniel memegang stir dengan satu tangan. " Padahal kita tak perlu melakukan hal ini, toh nanti juga setelah kita bercerai kamu akan mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku, lelaki yang bisa membahagiakan kamu sampai hari tua kamu bersamanya."
" Itu mungkin pikiran anda, tapi tidak dengan pikiran saya. Saya hanya ingin menikah satu kali dalam hidup saya. "
Deg ....
Sarla berkata seperti itu dengan tersenyum menatap ke arah kaca mobil, " gila apa kamu."
"Saya tidak gila, memang ini semua prinsip hidup saya, jadi tidak ada yang bisa mengubah prinsip dalam hidup saya, jika Iya saya akan lakukan Iya jika tidak saya akan lakukan tidak."
Menggaruk belakang kepala yang tak terasa gatal, Daniel seakan enggan meninggalkan dan menceraikan istri keduanya itu. Ia seperti terpesona akan ucapan dan juga paras wajah cantik Sarla, apalagi keramahnya selalu diperlihatkan, apalagi ketika Daniel pulang dari rasa penat dan juga rasa lelah setelah bekerja, Sarla selalu memperlihatkan senyumannya, membuatkan sebuah teh hangat dan juga menyediakan air hangat untuk Daniel mandi.
" Entar lah, jangan bodoh kamu jadi wanita. Memangnya kamu tidak ingin memiliki kebahagiaan bersama seorang laki-laki dan juga memiliki seorang anak, kamu ini masih muda setelah menikah denganku kamu bisa menikah dengan laki-laki manapun yang kamu suka, jika pun kamu tidak bisa menemukan laki-laki itu biar saya carikan untuk kamu sendiri. "
Perkataan Daniel, sebenarnya tidak seperti apa yang dirasakan hati sang CEO itu.
__ADS_1
"Stopp."
Tiba-tiba saja Sarla menghentikan mobil Daniel, dimana Ia turun dari dalam mobil, membuat Daniel panik.