Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 62


__ADS_3

"Ibu, Daniel. Kenapa kalian melihat Sarla seperti itu?" tanya Sarla kepada keduanya, dimana mereka masih memandangi wajah cantik Sarla.


"Kamu cantik Sarla, padahal hanya memakai cadar saja kecantikanmu sudah terlihat, Aura yang kamu tampilkan itu menenangkan jiwa kami berdua!" jawab sang ibu mertua memuji menantu keduanya dengan penuh kelembutan.


Sarla tersipu malu kedua pipinya memerah setelah mendapat pujian yang berlebihan dari ibu mertuanya, Iya melangkah mendekat ke arah Alenta dan juga Daniel. " Terima kasih atas pujiannya ibu. "


Daniel yang kini berada di samping istri keduanya, ingin sekali melepaskan cadar dari wajah Sarla, namun apa daya, sang Ibu tetap melarang anaknya untuk bisa menghargai penampilan sang istri.


" Apa tidak ada pakaian lain selain memakai baju syar'i seperti ini?" perkataan Daniel yang membuat Sarla, dimana wanita bercadar itu menjawab." sebaik-baiknya Seorang Istri harus bisa menjaga aurat dan dirinya sendiri, dari pandangan lelaki yang bukan muhrimnya. "


Bukan jawaban itu yang diinginkan Daniel, lelaki berbadan kekar dengan gelarnya sebagai CEO. Hanya ingin tahu seberapa menurutnya sang istri kepada dirinya sendiri.


"Kamu dengar itu Daniel, Sudahlah jangan terlalu mementingkan penampilan, bagi ibu penampilan Sarla itu begitu anggun." timpal sang ibu mertua masuk ke dalam obrolan kedua anak-anaknya.


Alenta kini meraih tangan menantunya untuk segera naik ke dalam mobil, dimana Daniel menggerutu kesal dalam hati, ya lalu menyusul dari belakang.


Naik ke dalam mobil, sang Ibu langsung berkata," Sarla, Lihat bibir suamimu tiba-tiba saja memaju sampai 3 cm begitu."


Daniel menatap sinis ke arah ibunya, seperti anak kecil. Jika menginginkan sesuatu tidak pernah terpenuhi.


lelaki berbadan kekar itu langsung menjalankan mobil untuk pergi ke sebuah restoran yang mereka, keduanya nampak senang.


"Sarla, jika suamimu memerintah kamu untuk melepaskan cadar atau kerudung. Jangan mau ya sayang." ucap ibu mertua membuat Daniel mandelik kesal.


"Baik ibu, Sarla juga tak ingin. Jika wajah ini terlihat oleh laki laki lain," balas Sarla, Alenta begitu senang dengan perkataan lembut Sarla.


*****


sampailah di sebuah restoran, Daniel turun dari dalam mobil, tanpa menunggu sarla ataupun ibunya. Ia nampak berjalan sendirian seperti orang yang tak membawa siapa-siapa ke dalam restoran.


"Daniel, daniel. Dia emang begitu kalau ada maunya. "

__ADS_1


"Sudah biarkan saja bu, sebaiknya kita menyusul saja di belakang."


Alenta menganggukkan kepala, terlihat Sarla begitu sabar menghadapi sikap suaminya.


" Apa kamu tidak sakit hati melihat tingkah Daniel seperti anak kecil itu, apalagi dia selalu jutek terhadap kamu?" pertanyaan sang ibunda membuat Sarla menggerutu kesal dalam hatinya," ya aku kesal sebenarnya dengan anak ibu."


Sebagai seorang istri kedua Daniel, ia harus menghargai tingkah dan perlakuan suaminya itu, bagaimanapun itu.


" untuk apa Sakit Hati, semua itu hanya membuang-buang waktu dan energi untuk saya, bu." Sarla berusaha bersikap bijak di depan mertuanya.


Walau sebenarnya, dalam hati menggebu-gebu ingin rasanya menendang bokong lelaki yang sudah lebih dulu masuk ke dalam restoran.


Sarla harus tetap sabar, setelah ia bisa memberikan sebuah anak untuk Daniel. Ia berharap jika hatinya tetap sama seperti sekarang, berusaha tidak mencintai ataupun memiliki perasaan kepada suaminya itu.


Daniel sudah duduk di kursi, ia langsung memesan makanan tanpa menoleh ke arah ibu dan juga istrinya, " Daniel, Kamu ini nggak sopan banget ya jadi, paket tinggal tinggal begitu saja."


Daniel meletakkan buku menu makanan di atas meja, Iya langsung melirik ke arah ibunya, " Siapa suruh jalan kalian lemot jadi aku tinggalkan."


Sarla menggelengkan kepala, tidak pantas rasanya terdengar oleh kedua telinga Sarla. " Daniel. Jika kamu berbicara kepada ibumu turunkanlah nada bentakkanmu itu, rasanya tak pantas kamu memperlakukan ibumu, yang sudah rela berjuang melahirkanmu hingga mengurusmu sampai kamu bisa sukses seperti ini"


" Di sini saya tidak membela siapapun, saya Hanya mengingatkan kamu saja."


Sekarang perkataan Sarla jauh berbeda dari sebelumnya, biasanya ia selalu bersikap sopan dan berkata lembut, tapi sekarang perkataannya begitu tegas.


Tepukan tangan dilayangkan oleh Daniel, di mana lelaki itu langsung menghampiri istrinya, " Sarla."


Alenta kini menyuruh Daniel untuk segera menyingkir dari hadapan istrinya, di mana wanita tua itu menyuruh Sarla untuk segera duduk.


"Ayo Sarla, kamu duduk, jangan terlalu memperdulikan Daniel, nada bicaranya memang seperti itu. Menyebalkan sekali. "


Sarla menurut apa yang dikatakan Alenta, mereka langsung duduk dan memesan beberapa makanan kepada para pelayan.

__ADS_1


Sedangkan Daniel masih pada posisinya yang berdiri, melihat kedua wanita yang berada di hadapannya begitu akur.


Padahal Daniel sengaja melakukan hal itu hanya ingin tahu sifat asli yang akan ditunjukkan Sarla ketika bersama ibunya.


Alenta menatap ke arah anaknya yang masih berdiri, " Kenapa kamu berdiri Daniel, cepat duduk. "


Printah sang ibunda, membuat anak semata wayangnya langsung duduk dan kini memesan kembali makan.


Sarla dan juga Alenta sudah memesan makanan Keinginan mereka berdua, tinggal Daniel yang membuat wanita di hadapannya.


"Daniel, Kenapa kamu lama sekali hanya memesan makanan saja. "


Daniel diam, tak menjawab perkataan ibunya, dimana Sarla langsung memesankan makanan kesukaan sang suami, " Sarla, kamu tahu makanan suami kamu sendiri."


"Iya bu, kebetulan Sarla sering memasak jadi Sarla tahu keinginan Daniel itu apa."


Mendengar perkataan sarla tentulah membuat Daniel tampak begitu senang sekali, " kamu ternyata hebat juga ya Sarla, bisa mengingat kesukaan suami kamu.Bagaimana nantinya kalau kalian sudah lepas dengan kontrak, apa kalian berdua akan saling Kehilangan, atau cuek begitu saja. "


keduanya tak berani menatap satu sama, Ketika sang ibunda mengatakan hal yang tak biasa mereka dengar.


"Sudahlah Bu. Jangan membahas hal itu, kontrak tetap saja kontrak tidak akan berubah sampai kapanpun. "


Sarla mendengar ketegasan Daniel hanya menundukkan pandangan, atau berani sedikitpun ia membantah ataupun menjawab perkataan mertuanya.


" Tapi bisa saja kan dari kontrak bisa menjadi suami istri selamanya. "


"Tidak mungkin bu. "


Daniel begitu tegas membalas perkataan ibunya, dimana Sarla merasa tetap tenang, tak memperdulikan percakapan ketika membahas tentang kontrak pernikahan.


" Ya. Ibu hanya mengira-ngira saja, karena dari tatapan kalian berdua itu terlukis cinta dan benih-benih asmara yang sebentar lagi akan melonjak menjadi kenyataan. "

__ADS_1


Mendengar hal itu, malah membuat Daniel tertawa tebahak bahak, ia seakan menganggap perkataan ibunya sebuah lelucon.


" Mana ada seperti itu, Bu, sampai kapanpun Daniel tidak akan mencintai Sarla, karena bagi Daniel. Cinta yang sesungguhnya hanyalah kepada Wulan, jadi Sudahlah Ibu jangan membahas lagi masalah pernikahan kita berdua.".


__ADS_2