Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 48 Mencari sebuah kejujuran


__ADS_3

Di dalam ruangan rumah sakit, ketegangan mulai dirasakan Wulan, bagaimana tidak tatapan Daniel begitu mengisyaratkan ketidak ramah hanya kepada Wulan. 


"Aku tanya kepada kamu, bayi siapa yang kamu kandung itu?"


Pertanyaan Daniel semakin membuat Wulan kesal, terlebih lagi dia sudah menghancurkan ponselnya. 


"Wulan, kenapa kamu diam saja. "


Tatapan rasa kecewa diperlihatkan Daniel, " Wulan, apa kamu dengar pertanyaanku?"


Mengusap kasar wajah, dimana air mata ternyata jatuh tak terbendung lagi.  Menatap ke arah sudut mata masih mengisyaratkan kesedihan. 


"Aku tanya kepada kamu?"


Wulan seakan terbungkam mulutnya,  ketika ingin menjawab pertanyaan Daniel. 


Tangan kekar memegang erat pipi sang istri, berharap jika mulut itu terbuka dan mengatakan suatu jawaban. 


"Ayo jawab."


Pada akhirnya Wulan mulut, ia mengeluarkan suara ketidakadilan  dirinya juga." Kenapa kamu berpikir seperti itu, anak yang  ada pada kandunganku ini, anak kamu!"


"BOHONG."


Ketegasan diperlihatkan sang CEO, tatapan penuh kekecewaan Daniel kepada sang istri.


"Kenapa kamu menekanku, sedangkan saat aku mengetahui kamu menikah lagi aku diam saja. Seakan kamu …."

__ADS_1


Bibir tipis kini berhenti bersuara, saat jari tangan sang CEO ditempelkan.


"Stop jangan bahas itu lagi, bukankah aku sudah katakan, aku menikahi Sarla. Hanya karena ingin memiliki keturunan saja selebihnya aku akan tinggalkan dia. Anda saja kamu ini menurut kemungkinan besar aku tidak akan menikah lagi."


"Itu alasan yang tidak benar."


"Tidak benar apanya, hah. Asal kamu tahu, sebelum aku menikah dengan Sarla aku mengirim pesan padamu, meminta izin. Tapi kamu tidak membalas pesanku satupun. Andai saja kamu membalas pesanku dan mencegah, aku pastinya akan menurut."


Deg ….


Apa yang dikatakan Daniel ada benarnya, Wulan memang terlalu asik dengan kebersamaannya dengan Angga hingga ia lupa akan  kewajibannya sebagai seorang istri. 


"Kamu tahukan aku menikahi dia karena kontrak kerja, dan tak akan lama."


"Tapi semua itu menyakitkan Daniel. "


"Kalau semua itu menyakitkan kenapa kamu tidak peduli kepadaku?"


"Aku apa, sudah berhubungan badan dengan lelaki lain!?"


"Jaga ucapanmu Daniel. "


Wulan seakan tak menerima pada kenyataan dirinya sendiri, bahwa ia sudah berselingkuh sejak lama. Hingga membuahkan satu bibit anak dari Angga selingkuhan, yang ia percaya akan mencintainya selamanya.


Namun pada kenyataanya, Angga berkhianat, ia hanya  memoroti uang Wulan. Dan kini mengancamnya untuk terus menerus memberikan uang. 


"Kenapa aku harus menjaga ucapanku, bukannya pada kenyataanya benar."

__ADS_1


Wulan berusaha menutupi kebohongannya, ia tak mau jika rumah tangga yang sudah lama dibangun bersama Daniel hancur begitu saja. 


"Daniel cukup, bayi dalam kandunganmu ini anakmu."


Daniel berusaha tetap tenang," baik jika memang bayi dalam kandunganmu itu anakku. Pastikan setelah dia lahir, aku akan tes DNA anak itu."


Wulan berusaha tetap tenang, padahal dalam kenyataannya ia sangatlah ketakutan sekali, apalagi jika membahas tentang hasil DNA jika nanti anaknya lahir. 


"Kenapa kamu malah diam saja? Sudahlah mengaku Wulan, aku tahu kamu ini sedang berbohong dan membela diri sendiri."


"Terserah kamu mau berkata apapun, dia ini anakmu dan tetap anakmu." Wulan bersikukuh dengan kebohongannya, sembari menunjuk nunjuk perut dihadapan Daniel. 


Tetap saja Daniel acuh, tak mau mengakui anak dalam kandungan Wulan. 


Sebenarnya Daniel sengaja ingin mengetes kejujuran Wulan, tapi pada kenyataanya Wulan diam saja. Dan tetap menyembunyikan kebohongan nya sendiri padahal jika Wulan berkata jujur, sejelek apapun kelakuan dan seburuk apapun kesalahanya sebagai lelaki Daniel akan tetap mempertahankan Wulan, karena itu pilihannya. 


"Wulan apa kamu tidak akan menyesal karena mengatakan kebohongan, kamu tahu sendiri kan aku begitu membenci orang yang berbohong.  Dan tak akan memaafkan dia, memberi satu kesempatan lagi pun tak akan, karena orang yang berbohong itu, terus menerus membuat kebohongan lainnya dan itu akan merugikan diri sendiri. 


Wulan tak peduli akan ucapan Daniel, ia tetap pada pendiriannya, bahwa anak yang dikandung Wulan itu adalah anak kandung Daniel. 


Varel dan Bi Siti masih berjaga di luar ruangan, dimana mereka mencegah orang yang ingin melihat keadaan Wulan. 


Sudah setengah jam perdebatan antara keduanya  tak kunjung usai,  dimana Varel begitu lelah menunggu di depan pintu.


Varel begitu penasaran dengan masalah yang ada, yakini memberanikan diri bertanya kepada Bi Siti yang berada di sampingnya. 


"Memangnya masalah apa sih Bi?  Sampai begitu lamanya mereka berdebat."

__ADS_1


Bii Siti tak mungkin membicarakan sebuah rahasia kehamilan Wulan kepada orang lain. 


Hingga dimana?


__ADS_2