
"Apa maksud kamu itu, hah. kamu berani mengatai saya?"
Lilia menggelengkan kepala, berdiri di hadapan wanita tua itu." mama harus tahu, saat kejadian itu, masih ada nyawa yang terselamatkan."
Lilia mulai membalikan badannya untuk pergi dari hadapan sang mama tiri, Dera mencoba mencerna perkataan anak tirinya, " apa maksud dia?"
Langkah kaki Lilia tiba-tiba terhenti begitu saja, di mana Dera bertanya?" Apa maksud yang kamu katakan itu. "
Lilia tak mau memperpanjang masalah, dia ingin sang Mamah tiri yang menyadari semuanya, tanpa harus ia kasih tahu.
"Pikirkan saja sendiri. "
Lilia mulai fokus berjalan pergi dari hadapan Dera, ia sengaja melakukan hal itu, hanya ingin membuat Mama tirinya sadar, jika yang sepenuhnya salah itu adalah sang Mamah tiri dan juga papah kandungnya sendiri.
Menggerutu kesal, Dera berusaha berdiri, tanpa bantuan orang lain. Ingin rasanya ia mengejar sang anak tiri. Namun apa daya tubuhnya begitu terasa lemah. Dera hanya bisa berjalan berjingkat jingkat, karena merasakan rasa sakit pada daerah kakinya.
********
Sarla baru saja sampai di dalam kamarnya, ia berusaha mengambil CCTV yang dikatakan oleh pembantunya itu, ia ingin membuktikan ucapan pembantu di rumahnya. Benar apa tidaknya.
Dan benar saja, memang terbukti, banyak CCTV kecil yang terpasang di kamar Sarla, wanita bercadar itu menepuk kepalanya." Dia gila apa?
Lalu Sarla mulai menyusuri kamar mandi, Ya kembali mencari CCTV. Sampai lumayan cukup lama, karena ternyata si seperti itu di simpan di sebuah alat sabun.
"Kurang ajar sekali Daniel. "
Sarla melirik pada tubuhnya sendiri, " Berarti semenjak aku tinggal di sini, aktivitasku sedang diawasi oleh Daniel, apalagi saat aku tengah mandi dan juga tertidur."
"Gila benar si Daniel ini?"
Sarla begitu murka, ia berusaha menghancurkan CCTV yang berukuran mungil itu," rasakan ini, seenaknya dia."
Satu pesan datang.
( Sarla, banyak rekaman video aktifitas kamu di leptot Daniel.)
Deg ....
Pesan itu ternyata dari Wulan, betapa malunya Sarla saat ini, kenapa bisa sang suami mempermalukan dirinya.
Ia juga tak menyangkan jika Wulan begitu baik memberi tahu.
(Apa aku bisa meminta tolong pada kamu untuk menghampus aktifitas memalukkan itu.)
Berharap jika Wulan mau mendengarkan perkataan Sarla,( Baiklah.)
Tenangnya perasaan Sarla saat ini, jika Wulan mau menolongnya, ia lalu mengucapkan kata. (Terima kasih.)
__ADS_1
Mengusap dada, Sarla duduk dengan memandangi beda kecil yang berada ditangannya, " apa yang harus aku lakukan dengan benda ini ya."
Sarla berusaha mengerjai balik Daniel. Memberi sebuah pelajaran, agar lelaki itu tidak semena-mena kepadanya," aku harus membuat dia kapok."
Senyuman yang tertutup cadar itu terukir begitu nyata, Sarla mulai bangkit dari tempat tidurnya, Iya terlihat begitu bahagia, setelah merencanakan sesuatu dalam pikirannya.
"Semoga saja dia kapok setelah ini."
Melangkahkan kaki keluar rumah, Sarla kini berpapasan dengan Mamah tirinya. " Sarla."
Perlahan kedua matanya menatap ke arah sang mama tiri, " iya ma. Kenapa?"
Telunjuk tangan menunjuk ke arah Sarla," semua ini gara-gara kamu?" Sarla mengerutkan dahinya. Setelah mendengar apa yang dikatakan Dera.
"Loh, apa maksud mama, kok mama malah marahin Sarla sih!" perkataan Sarla malah membuat kemurkaan dalam diri Dera.
Ia menarik kerudung dan cadar Sarla, berusaha keras membuat pertahanan Sarla melemah.
"Kamu ini tak jauh berbeda dengan mamamu. "
Sontak Gunawan datang karena mendengar sebuah keributan di luar rumah, lelaki tua itu terkejut melihat anaknya sudah tidak memakai kerudung dan juga cadar.
"Sarla? "
Sarla menatap tajam ke arah Dera, mengambil kerudung lalu pergi dari hadapan orang-orang yang melihatnya.
Palkkk ....
Tamparan keras dilayangkan Gunawan kepada istrinya.
"Papah."
Dera terlihat meringis kesakitan, di mana Gunawan menunjuk-nunjuk istrinya sendiri," aku tak habis pikir dengan akal sehat kamu ini. Bisa bisanya kamu membuat anakku malu. "
"Malu apa sih pah, hanya menarik kerudungnya?"
"Itulah perkataan yang aku tak suka dari kamu! Sebagai seorang istri harusnya kamu sadar diri. "
Dera merasa sangat sakit hati, hanya karena perkara kerundung Sarla yang terlepas, Gunawan begitu marah besar.
Dera pergi menuju ke dalam rumah untuk mencari keberadaan anaknya Lani, " Dera, berhenti."
Dera tak menjawab perkataan suaminya sama sekali, ia berjalan cepat sembari memanggil manggil nama Lani.
Pembantu yang tadinya mengunci pintu, terburu buru membukannya, ia lalu pergi.
"Lani, nak kamu dimana."
__ADS_1
Gunawan mencoba mengejar sang istri, ia kini berhasil meraih tangan Dera, dimana wanita itu berkata, " lepaskan mas, jangan pegang tanganku."
"Dera, kamu mau ke mana, hah. Aku belum selesai berbicara."
Hanya perdebatan di atara keduanya, tak ada kemesraan sedikit pun yang terlihat. Karena itulah yang diinginkan Lilia, melihat kedua orang tuanya bertengkar.
Lilia mengigat kejadian dimana ibu kandungnya pernah merasakan hal yang sama, karena Dera. Maya dan juga Gunawan selalu bertengkar.
Dan sekarang semua terbalik, dimana hukum karma sedang berjalan.
Melepaskan tangan Gunawan, kini Dera memanggil anaknya kembali.
Lani baru saja menyadari jika pintu kamar sudah terbuka, ia terburu buru pergi untuk mencari keberadaan sang mama.
setelah keluar dari dalam kamar, Lani mendengar suara sang mama memanggil namanya.
"Lani?"
Teriakan itu terdengar jelas sekali, Lani berjalan lebih cepat dengan tongkat kayunya, ingin segera menghampiri sang mama.
"Mama? "
"Lani, dimana kamu, nak?"
Akhirnya mereka bertemu juga, Dera langsung memeluk Lani dengan begitu erat," kamu ke mana saja sayang mama dari tadi cariin kamu?"
Lani melihat ke sekeliling orang-orang dengan menatapnya dengan begitu tajam, Iya tak berani mengungkapkan bahwa dirinya sudah dikurung di dalam kamar.
Apalagi dengan kode Lilia, yang terlihat begitu mengancam.
"Mama, kita pulang yuk. "
Lani merasa sudah tak nyaman dengan rumah sarla, ia ingin pulang untuk segera menenangkan hatinya. " Ya sudah ayo. "
Gunawan mulai mencegah mereka berdua," tunggu, Kalian berdua mau ke mana?" Dera terlihat kesal, ia menatap tajam ke arah suaminya itu, lalu menjawab." Bukan urusan kamu. "
Siapa yang tak menduga jika hal ini akan terjadi pada Dera, ia pergi bersama Lani tanpa menaiki mobil Gunawan.
"Tunggu Dera. "
"Apa lagi sih mas, bukannya dari tadi kamu memarahi aku terus menerus, kenapa sekarang malah menahanku. "
" sebaiknya kalian berdua pulang menaiki mobilku. "
Dera menolak perkataan Gunawan, ia melepaskan tangan suaminya yang memegang erat tangannya," sebaiknya kamu urus saja kedua anak-anakmu itu, jangan pedulikan kami berdua. "
Dera tampak murka sekali dengan Gunawan, setelah mendapatkan tamparan keras dari suaminya sendiri, ya tak terima dengan kekerasan yang dialami dirinya. Hanya karena perkara masalah kerudung Sarla lepas oleh Dera.
__ADS_1