
Wanita tua yang selalu menampakan dirinya, tiba tiba ada dihadapan Sarla, " Kamu. "
Wanita tua itu tersenyum, menarik tangan Sarla. Dimana ia berusaha menghempaskan tangan wanita tua itu.
"Apa maksud anda menarik tangan Saya."
Sarla berdiri berhadapan dengan wanita tua itu, ia tampak kesal dengan kemunculannya yang secara tiba tiba.
"Kamu mau saya antarkan pulang?" tanya wanita tua itu menawarkan tumpangan secara tiba tiba.
"Tidak usah, satpam saya nanti datang!" jawabku kepada wanita tua yang tak kukenal namanya.
"Baiklah kalau begitu. " Ia pergi, begitu saja, dimana aku berteriak memanggilnya.
"Tunggu?"
Ia tampak membalikkan badan, " ada apa?"
"Saya sebenarnya heran dengan anda. "
Wanita tua yang memakai baju serba hitam itu tersenyum kecil, " heran kenapa?"
"Ya heran saja, setiap kali saya berpergian anda selalu menampakan diri anda, dan sekarang anda tiba tiba muncul dihadapan saya, anda tahu tidak adik saya sampai ketakutan melihat wajah. Maaf saya tidak bermaksud mengatakan hal itu!"
Sarla berharap dengan ungkapannya, wanita tua itu dapat menjelaskan tujuannya.
"Mungkin secara kebetulan. "
Wanita tua yang memakai baju serba hitam itu, lalu pergi dengan mengatakan hal yang terdengar simpel pada telinga Sarla.
Sarla tentu saja terkejut lalu berkata dalam hati, " Secara kebetulan, kenapa dia? Ahk, sudahlah. "
Jam sudah menunjukkan pukul satu malam, sudah satu jam menunggu satpam itu tak kunjung datang.
"Kemana si Pak Satpam."
Perasaan Sarla kini tak menentu, kesal dan marah menjadi satu, bisa bisanya satpam di rumahnya mengabaikan akan perintah.
"Dia sudah nggak benar dalam bekerja. "
Sarla berusaha menenangkan hati, berusaha bersikap sabar. Menelepon kembali satpam itu, beberapa kali panggilan telepon tak diangkatnya.
"Sedang apa sih satpam ini, padahal aku sudah beri tahu dia untuk cepat cepat datang."
Sarla berjalan, melihat wanita tua itu berdiri, membuat rasa penasarannya menggebu. " Itukan dia, ngapain jam segini masih ada di luar hotel."
"Apa kamu berubah pikiran, untuk saya antarkan pulang?"
Pertanyaannya membuat Sarla menatap ke arah mobil, ia hampir berpikir negatip.
"Kamu tenang saja, saya tidak akan melakukan hal yang jahat kepadamu."
Sarla berusaha waspada, tapi hatinya ingin pulang saat itu, ia ingin melihat satpam di rumahnya menjemputnya atau tidak.
"Ayo, mau saya antar pulang?"
Sarla berusaha membuang perasaan buruknya, ia kini menganggukkan kepala untuk naik ke dalam mobil.
"Ayo naik?"
__ADS_1
"Baiklah!"
Sarla kini naik ke dalam mobil, terlihat mobil itu nampak biasa saja.
"Tak ada hal yang buruk sejauh ini." gumam hati Sarla.
"Kenapa, kamu tak usah takut, saya akan mengantarkan kamu sampai tujuan." Ucap wanita tua itu, wajahnya memang terlihat seram, tapi dalam bicaranya terdengar lembut.
Di dalam perjalanan tak ada obrolan apapun, Sarla dan wanita tua itu diam tanpa mengeluarkan satu patah katapun.
Perjalanan hanya menempuh setengah jam saja, Sarla sudah diantarkan pulang sampai ke rumah.
"Ini bukan rumahmu?"
Padahal Sarla tidak menunjukkan lokasi rumahnya, namun wanita tua itu sudah hapal dengan jalan menuju ke rumah Sarla.
"Kok, anda bisa tahu rumah saya?"
Wanita tua itu tersenyum lalu menjawab!" Asal menebak saja. "
Sarla berusaha tenang dengan perkataannya yang simpel dan tak masuk akal baginya, " baiklah sekarang saya turun. "
Saat Sarla turun, ia merogoh tasnya, memberikan lembaran uang pada wanita tua itu.
"Ini uangnya. " ucap Sarla menyodorkan lembaran merah kepada wanita tua itu.
"Tidak usah, saya ikhlas menolong anda, "
balasan wanita tua itu sangatlah mengejutkan bagi Sarla.
"Tapi, anda. "
"Aneh, dibayar dia tidak mau. "
Kini Sarla mulai membuka gerbang rumahnya, ia melihat satpam yang ia suruh menjemputnya ternyata tertidur.
"Pantas saja, satu jam menunggu untuk di jemput, dia masih saja tidur. "
Rasa kesal membuat Sarla membangunkan satpam yang bekerja di rumahnya.
"Bangun, bangun pak. "
"Ya nyonya saya akan menjemput nyonya sebentar lagi."
"Malah mengigau"
Sarla berusaha membangunkan lagi satpam di rumahnya, dimana satpam itu malah mengigau terus menerus.
Sudah habis rasa sabar Sarla, ia mulai menepuk keras satpam penjaga rumahnya, hingga lelaki itu bangun dan berkata. " Siapa sih, ganggu saja."
Satpam langsung terkejut, ia seperti orang yang salah tingkah melihat sang majikan sudah berada di hadapannya.
"Nyonya, sejak kapan ada di sini? Bukannya tadi Nyonya ada di?"
"Dimana? Saya suruh kamu menjemput saya, tapi kenapa kamu malah tidur?"
Sarla kesal dengan kelakuan satpam yang berleha-leha itu, ya lalu pergi untuk segera masuk ke dalam rumah. Sudah beberapa kali satpam itu melalaikan pekerjaannya.
" Sepertinya aku harus menelpon Daniel untuk mengganti satpam di rumah dengan satpam yang baru," Gerutu Sarla, merebahkan tubuhnya di atas kasur.
__ADS_1
Ia mulai menatap layar ponsel, melihat nomor Daniel, menghubunginya.
"Halo."
"Halo, Daniel. Tolong ganti satpam di rumahku dia sudah keterlaluan. "
"Apa maksud kamu menyuruhku."
" Tentu saja aku menyuruhmu Karena kamu suamiku. "
"Suami?"
Sarla berusaha menenangkan diri, baru saja ia tersadar dengan perkataannya.
" Astagfirullah aku lupa kalau Daniel itu hilang ingatan," gumam hati Sarla.
"Halo."
Sarla menjawab perkataan Daniel, " maaf salah sambung. "
Betapa malunya Sarla saat itu, karena rasa kesalnya membuat dia tak sadar jika sang suami mengalami kecelakaan mengakibatkan hilangannya ingatan.
"Bodoh kamu Sarla, karena terlalu mengandalkan Daniel hingga kamu lupa jika suamimu itu sekarang tidak mengingat kamu lagi sama sekali. "
Sarla merasa malu pada dirinya sendiri.
Dimana Daniel yang memegang ponselnya ini berucap dalam hati, " maafkan aku Sarla, ini yang terbaik untuk kita. "
Walau pun Daniel berpura-pura hilang ingatan, ia akan berusaha memantau Sarla, agar wanita yang menjadi istri keduanya itu baik-baik saja.
Daniel dari tadi menunggu kedatangan Rafa, sebenarnya ia ingin memberi pelajaran kepada anak muda yang menjadi keponakannya itu.
Ceklek.
pintu rumah sakit terbuka, Daniel menatap sang keponakan sebenarnya ia ingin sekali memukul wajah keponakannya itu.
"Ada apa paman?"
" Apa bisa malam ini kamu menemani saya di ruangan ini!"
Rafa menggerutu kesal dalam hatinya, " bisa-bisanya lelaki tua ini menyuruh aku untuk menjaganya,"
"Rafa, apa kamu masih ingat gadis yang memakai cadar itu?"
Pertanyaan Daniel membuat Rafa, menganggukan kepala lalu menjawab," ya, memangnya kenapa dengan wanita itu?"
Daniel yang sedang hilang ingatan Itu berusaha memanas-manasi hati keponakannya, " namanya itu Sarla bukan?"
"Iya, kok paman tahu!"
"Kan Oma Alena kasih tahu. "
"Oh pantas saja. "
Begitu cueknya Rafa menjawab perkataan Daniel. Sampai dimana Daniel berucap, " masa tadi dia menelpon aku, mengatakan bahwa aku ini suaminya?"
Deg ....
Rafa langsung membulatkan kedua matanya.
__ADS_1