Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 207


__ADS_3

"Bagaimana pah, apa mama membalas pesan papa?" tanya Sarla, mereka masih dalam perjalanan menuju pulang.


Gunawan menggelengkan kepala, menggerutu kesal sembari menatap layar ponselnya. " Mama tiri kamu ini apa maunya sih, bisa bisanya dia tak membalas pesan dari papah. "


"Coba papah ancam saja Mama Dera, dia takut apa tidak, " ucap Sarah, memberi saran pada sang papah.


"Benar juga apa yang kamu katakan, coba papah kirim pesan pada mama kamu dengan sebuah acaman, " balas Gunawan. Lelaki tua itu mulai menuruti perkataan Sarla.


(Dera, jika kamu tidak mengantarkan Lilia kembali, aku pastikan akan melaporkan kamu ke polisi.)


Deg ....


Dera menatap kembali layar ponselnya bersuara, dia melihat pesan datang lalu membaca pesan yang ternyata sebuah acaman dari suaminya.


"Kenapa mah?" Tanya Lani, mereka sedang menunggu angkutan umum.


Dera langsung saja memperlihatkan isi pesan yang datang dari suaminya kepada Lani. " coba kamu lihat ini. "


Membulatkan kedua mata, " Papah kok tega banget ya, sampai mengancam Mama seperti itu."


Dera membalas pesan dari suaminya. ( Silahkan, kalau memang kamu mau melaporkan aku ke polisi. Aku tidak akan takut sama sekali, yang ada anak keduamu itu Lilia mati di tanganku, dan aku tidak peduli jika aku masuk ke dalam penjara. karena telah membunuh anak tiriku sendiri.)


Dera malah tersenyum tipis, ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas, wanita tua itu tidak ingin dibodohi oleh suaminya sendiri, dia juga bisa mengancam balik Gunawan agar bisa menyerahkan kekayaan yang ia punya.


"Berengs*k." pekik Gunawan di samping anaknya, Sarla yang melihat kemarahan sang Papa kini bertanya. " kenapa pah?"


Dengan spontan Gunawan langsung memperlihatkan balasan dari istrinya, Sarla yang membaca pesan itu menggelengkan kepala," wanita tua ini memang benar-benar tidak tahu malu, bisa-bisanya ia mengancam balik papah, Sarla sebenarnya penasaran sekali, apa tujuan mama menculik Lilia."


Sarla mengambil ponsel Gunawan, ia mulai membalas pesan dari Dera. ( Apa yang sebenarnya mama inginkan dari papa?)


Dera tersenyum, ia melihat balasan pesan dari suaminya yang ternyata dibalas oleh Sarla.


"Ternyata biangnya adalah Sarla, berani dia melawanku. "


(Aku ingin harta kalian.)


Sarla melihat balasan sang ibu tiri hanya tersenyum sinis, "papah lihat, ternyata mama hanya memanfaatkan kita lewat Lilia. "


"Kurang ajar sekali si Dera itu, yang ia pikirkan hanyalah harta, apa dia tidak pernah berpikir dengan jerni. Untuk bisa merubah diri dari kesalahnya."


(Jadi gimana, aku akan berikan Lilia dalam keadaan utuh jika kalian memberikan harta.)


"Sarla mempunyai ide, pah. "

__ADS_1


Lelaki tua itu mengerutkan dahi, "Ide apa?"


Sarla mulai membisikan tentang rencana yang ia susun dimana sang papah setuju.


"Baiklah jika itu yang terbaik untuk kita dan juga Lilia. "


********


Gunawan sampai di rumah begitupun dengan Sarla, mereka masuk dengan sambutan hangat dari Tari.


Sedangkan Wina hanya duduk dalam kegelisahaan, ia datang menghampiri Sarla.


"Sarla, dimana anakmu?"


Pertayaan Wina membuat Sarla hanya diam tak menjawab satu patah katapun.


Gunawan mulai menyuruh Sarla segera masuk ke dalam rumah.


"Kamu masuk saja nak!"


"Baik , pah. "


Langkah kaki Sarla terlihat tak bersemangat, begitu loyo, kesedihan tengah melanda hatinya.


Wina penasaran sampai ia bertanya. " kenapa? Dengan Sarla, kemana bayinya. "


"Kemana Lilia. "


Memegang tangan Gunawan, membuat lelaki tua itu menghempaskan tangannya seketika. Telunjuk tangan menunjuk pada wajah Wina, " semua gara gara kamu. "


Wina menjawab perkataan Gunawan, " kenapa kamu malah menyalahkanku?"


"Andai saja kamu tidak menekanku untuk berkata jujur waktu itu, mungkin Lilia tidak akan membenciku dan sekarang dia hilang!"


"Apa, Lilia hilang."


"Kenapa, kamu terkejut mendengar hal itu dari mulutku, hah. Seharusnya kamu itu jangan egois, jika memang ingin menyelesaikan masa lalu kita selesaikan berdua jangan di depan anak anakku, yang dimana mereka akan terluka. "


Ada raut penyesalan pada diri Wina, ia tak tahu jika resikonya malah membuat Lilia hilang.


"Lantas kamu sudah menelepon polisi?" tanya kebali Wina, berharap jika Lilia cepat ditemukan.


"Sudah, jangan banyak bertanya. Aku pusing dengan pertanyaan kamu itu, semua tak ada guna. Jika kamu tahupun, Lilia tidak akan kembali!" balas Gunawan, pergi dari hadapan Wina.

__ADS_1


Wanita tua itu duduk dan mengusap kasar wajahnya, " sebenarnya apa yang terjadi saat mereka ada di rumah sakit, kenapa Lilia sampai hilang. "


Tring.


Pesan datang dari ponsel Wina.


(Hai. Wina, suruhanku yang belum aku bayar, kamu pasti kebingungan dengan majikanmu.)


"Dera apa maksud dia mengirim pesan kepadaku seperti ini. "


(Aku tanya sama kamu, siapa sebenarnya kamu itu.)


Dera baru mencurigai tentang Wina, sang suruhan. Dimana Wina kini mengirim poto Lilia.


(Lihat anak malang ini, kasihan bukan. Pasti kamu sedih melihat anak malang ini bukan.)


Mengepalkan kedua tangan, Wina baru tahu, jika penyebab hilangnya Lilia adalah Dera.


"kenapa dia malah menculik Lilia. "


(Wina, kenapa kamu tidak mau membalas pesan dariku. Apa yang sedang kamu pikirkan.)


(Wina, apa dugaanku benar, kamu juga bersekongkol dengan Gunawan dan siapa sebenarnya dirimu.)


Wina tersenyum tipis lalu membalas pesan dari Dera. (Kenapa kamu harus tahu siapa diriku. Bukannya aku hanya seorang mata mata dan juga suruhanmu, aku begini karena kamu tidak membayarku.)


Dera kesal dengan balasan dari Wina, " sialan dia malah tak terpancing dengan perkataanku, padahal aku masih membutuhkan dia, dan lagi aku juga belum tahu jelas siapa dia sebenarnya. Karena gelagatnya seperti orang yang aku kenal. Tapi siapa?"


Lani masih asik dengan belanjaannya, ia terus memilih milih baju yang ia suka. " Mama. "


Dera yang sibuk dengan poselnya, mengabaikan perkataan Lani. " Mama. "


"Ahk, iya sayang kenapa?"


"Mama, kok malah diam saja, ayo belanja dong. Bukannya kita ini datang ke sini buat senang senang, bukan malah memikirkan masalah. "


Apa yang dikatakan Lani ada benarnya, semenjak Sarla dan Gunawan mengancamnya. Dera terlihat gelisah, padahal ia berulang kali mengancam balik Sarla, tetapi tetap saja perasaannya tak tenang.


Lani mulai menarik tangan sang mama untuk mengajaknya bersenang senang, hingga dimana Dera melihat polisi yang tengah bertugas.


Dera berlari kencang, dimana Lani terus berteriak memanggil sang mama. " kemana mama, kenapa mama begitu kencang berlari. "


Dengan tongkat yang ia gunakan membuat Lani susah sekali mengejar sang mama.

__ADS_1


Mencari kemana mana, tetap tidak ditemukan. Akhirnya Lani menggunakan ponselnya untuk segera menghubungi sang mama.


Beberapa kali sang mama, tetap saja, Dera tak mengangkat panggilan telepon dari anaknya, ia terlihat begitu ketakutan jadi juga gelisah, hanya karena melihat polisi yang tengah bertugas.


__ADS_2