Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 157


__ADS_3

" Apa tadi maksud paman?" tanya Rafa, merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Ya kata dia, paman suaminya, lalu pas paman tanya lagi katakanya salah sambung! Anehkan dia." ucap sang paman kepada keponakannya, dimana Rafa berusaha bersikap seolah olah jika Sarla tak pernah ada dikehidupan Daniel.


"Aneh, iya mungkin. Salah telepon orang, sudahlah jangan terlalu dipikirkan," balas Rafa.


Daniel sudah menduga jika keponakannya itu tak ingin salah saing, mereka berusaha menutupi semuanya, dari sinilah Daniel tahu mana keluarga yang bermuka dua.


Dan lagi Daniel sudah merencanakan sesuatu dikemudian hari.


Suara pintu dibuka, Alenta datang ke ruangan Daniel, terlihat raut wajah wanita tua itu begitu kelelahan.


"Omah baru pulang. "


Alenta mulai duduk di atas sofa, menyandarkan punggungnya lalu berkata kepada Daniel, " pekerjaan kamu Daniel, ternyata melelakan juga. "


"Ibu ngapain coba datang ke kantor, bukannya sudah ada Varel yang menghandle semuanya?"


Pertanyaan Daniel membuat sang ibunda mendelik kesal, " Varel kemarin bukannya sudah izin kepada kamu selama seminggu untuk tidak masuk ke kantor. "


"Benarkah itu?"


Alenta langsung menutup mulutnya dia lupa jika anaknya mengalami Amnesia," Sudahlah tak usah dibahas mungkin kamu sudah lupa. "


"Rafa, kamu datang lagi ke sini untuk menjaga pamanmu? kalau tahu gitu Omah mending pulang saja langsung ke rumah istirahat, " keluh Alenta kepada Rafa.


"Rafa juga baru datang ke sini mendadak dipanggil paman, " balas Rafa sedikit enggan menjaga pamannya itu, perselisihan dan juga pertarungan merebutkan Sarla, membuat Rafa menjadi sosok yang cuek di hadapan pamannya sendiri.


"Tumben sekali kamu Daniel ingin ditemani biasanya kamu berani sendirian?" tanya Alenta kepada anaknya sendiri.


"Ya lagi ingin saja. Soalnya bete kalau lagi di rumah sakit itu sendirian!" jawab Daniel memberi alasan.


"Ya sudah kalau begitu ibu mau tidur di sini, kalian lanjutkan saja obrolan kalian berdua," ucap Alenta mulai merebahkan tubuhnya untuk segera tertidur. karena hari esok adalah hari yang sangat sibuk untuk mengurusi pekerjaan kantor.


" kasihan Oma Alenta gara-gara paman di rumah sakit dia jadi kelelahan mengurus perusahaan," Sindir sang keponakan di hadapan Daniel.


Daniel hanya tersenyum kecil lalu berkata, " apa boleh buat aku juga tidak menginginkan berdiam diri di rumah sakit seperti ini."


Mereka mulai menutup kedua mata untuk segera tertidur.


*******

__ADS_1


Sedangkan di dalam kamar Sarla masih dengan rasa sesalnya, ia selalu mengandalkan emosi sampai ceroboh menelepon suaminya yang tak ingat lagi kepada dirinya.


"Aku harus tenang, semua akan baik-baik saja kok."


Sarla mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur menutup kedua mata lalu tertidur.


Berharap hari esok akan menyenangkan baginya.


Sampai menjelang pagi, Alenta menelepon sang menantu.


"Halo bu. "


"Sarla hari ini Daniel pulang. Apa kamu mau menemani kita ke rumah?"


pertanyaan Alenta tentu saja ditolak mentah-mentah oleh sarla, bagaimanapun ia harus pada pendiriannya, untuk tidak ikut campur lagi akan keluarga Daniel.


Karena tugasnya adalah fokus membesarkan anak dalam kandungannya itu, ya harus sebisa mungkin menjaga dengan baik-baik bayi yang diinginkan Daniel.


"Tidak."


Alenta tentu saja terkejut dengan perkataan menantu keduanya," Kenapa kamu tidak mau ikut?"


" kebetulan Sarla lagi tak enak badan!" jawab Sarla dengan penuh alasan berharap jika wanita tua itu akan mengerti perkataannya.


"Terima kasih, bu. "


Alenta mematikan panggilan telepon, ya tak mengerti kenapa dengan menantu keduanya itu, padahal sebagai seorang mertua ia begitu mengharapkan Alenta menjadi istri Daniel selama-lamanya.


"Bu, katanya kita pulang hari ini," ucap Daniel kepada sang ibunda.


"Iya, kebetulan tadi ibu menelpon dulu istri keduamu." balas Alenta tak sadar dengan apa yang ia katakan.


"Istri kedua? Apa maksud ibu mengatakan hal itu?" tanya Daniel, berpura-pura tak paham.


Alenta begitu menyayangi Sarla, sampai ia selalu ceroboh mengatakan bahwa Sarla adalah istri kedua Daniel.


"Aduhh, Ibu salah ngomong, soalnya Ibu sangat suka sekali dengan sahabat ibu itu, sampai Ibu berniat ingin menjodohkan kamu dengan dia."


Mencari alasan dengan harapan jika Daniel tak banyak bertanya lagi.


"Ya sudah, ayo kita bergegas untuk segera pulang ke rumah. "

__ADS_1


"Daniel juga tak sabar ini segera bertemu dengan Wulan."


"Wulan kan ...."


Alenta hampir saja keceplosan tentang keadaan menantu pertamanya, semenjak Daniel amnesia dan hanya mengingat Wulan saja, membuat Alenta kerepotan untuk mencari alasan dan berbohong kepada anaknya.


"Oh ya, ibu mau pergi dulu ke toilet ya."


"Oke."


Alenta dengan begitu sibuk ya, berjalan begitu cepat menuju ke kamar mandi, iya langsung menghubungi Bi Siti, berharap jika wanita tua itu sudah pulang bersama dengan Wulan ke rumah.


"Ayo angkat Bi Siti. "


Berulang kali menelepon pembantu bernama Bi Siti, ia begitu kerepotan, karena wanita tua itu tidak mengangkat mengangkat panggilan telepon dari Alenta.


"Ini Bi Siti kemana sih, dari tadi aku telepon tidak diangkat-angkat terus. "


20 menit berlalu tetap saja tidak diangkat angkat, Alenta merasa kesal, ingin sekali ia membantingkan ponselnya saat itu juga.


Sampai dimana, Bi Siti kini mengangkat panggilan telepon dari Alenta.


"Bibi ini dari mana saja sih, saya telepon Bibi terus menerus tapi kenapa Bibi tidak mengangkat panggilan telepon dari saya, " gerutu Alenta memarahi Bi Siti habis-habisan.


Wanita tua itu berusaha meminta maaf," Maafkan saya nyonya, saya tadi sibuk mengurus rumah dan juga Nyonya Wulan. "


" Jadi kalian sudah pulang ke rumah?"


Tanya Alenta tegas.


" kami baru saja pulang kemarin, sekarang saya lagi mengajarkan Nyonya Wulan untuk berjalan!" jawab Bi Siti. Berusaha menjelaskan semuanya agar Alenta tidak marah-marah terus-menerus.


"Ya sudah kalau begitu, saat saya dan juga Daniel pulang nanti kalian sudah mempersiapkan semuanya, jangan ada yang membeberkan bahwa Wulan habis pulang dari rumah sakit."


Mendengar perkataan Alenta Bi Siti langsung mengerti," Baiklah kalau begitu Nyonya. Saya akan memberitahu semua pelayan di sini begitupun dengan Nyonya Wulan Saya akan memberitahu dia untuk mempersiapkan diri bertemu dengan Tuan Daniel."


"Bagus kalau begitu. Ya sudah saya mau siap-siap dulu untuk segera pulang ke rumah sekarang juga. "


Alenta mulai mematikan panggilan telepon, ya bersiap-siap menghadapi Daniel, membawa anak semata wayangnya untuk segera pulang menemui Wulan.


"Oke, semua sudah dipersiapkan. "

__ADS_1


Daniel masih menunggu sang Ibunda, Iya ingin tahu apa jadinya nanti setelah ia pulang ke rumah, berharap jika Wulan bisa merubah dirinya menjadi sosok istri yang menurut.


__ADS_2