
Entah kenapa Wulan merasa jika perkataan Bi Siti terdengar melau, ia seakan tak lama lagi akan pergi dari kehidupan Wulan, padahal baru saja merasakan jika Daniel mempertahankannya.
0
"Bibi kenapa berbicara, seolah oleh besok akan pergi. " ucap Wulan, merasa sedih dengan perkataan Bi Siti.
Wanita tua itu, mengusap pelan rambut panjang Wulan lalu menjawab, " bibi ini sudah tua, umur bibi semakin mengurang, ada saatnya bibi juga tak bisa seperti sekarang."
Wulan merasa tempat ternyaman yang berada dalam hidupnya adalah Bi Siti.
"Bibi akan selalu ada di dekat Wulan. "
*******
Sarla masih menahan emosi, ia berusaha tetap tenang, walau hati dan pikirannya diambang tak karuan.
"Gara gara cctv mungil ini. "
Ingin rasanya Sarla melemparkan cctv pada raut wajah Daniel, ia kesal bukan main.
Memegang perut, Sarla merasakan hal yang tak biasa, ia berlari ke kamar mandi, lalu memuntahkan isi perutnya.
"Aduhh, ini kenapa perutku perasaan dari tadi enggak makan apa apa deh. "
Baru saja melangkahkan kaki keluar kamar mandi, perasaan mual itu datang lagi, membuat ia membalikkan badan dan mengeluarkan isi perutnya.
"Lemas."
Pembantu di rumah, melihat sang majikan bolak-balik ke kamar mandi, membuat ia khawatir.
Menghampiri lalu bertanya, " apa nyonya baik baik saja, saya lihat dari tadi, nyonya bulak balik terus."
"Iya bi, perasaan perutku gak enak banget, kaya enek pengen muntah terus. "
Baru saja mengatakan hal itu, Sarla berlari lagi ke kamar mandi, pembantu di rumah mulai menyiapkan air hangat dan beberapa makanan.
"Takutnya, asam lambung naik. "
Sarla berjalan dengan langkah gontainya, dia mulai menghampiri meja makan, terlihat makanan hangat sudah tersedia.
Duduk dan kini meminum air hangat, dan, " Mmm. Baunya. "
Sarla berlari lagi ke kamar mandi, seperti biasa ia memuntahkan isi dari dalam perutnya, perasaan lidahnya terasa hambar.
"Sebaiknya nyonya periksa ke dokter. Takut kalau kenapa kenapa?"
"Males bi, aku pengen tiduran aja!"
"Atu pake alat tespek aja, takut nyonya hamil, gimana?"
Pembantu di rumah membuat Sarla terkejut, " Hamil?"
__ADS_1
"Iya, takutnya Nyonya itu sedang hamil, ada baiknya dicek aja pakai tespek."
" Bisa jadi sih."
Sarla mulai merogoh saku bajunya, ia memberikan uang pada pembantunya itu," Ya sudah bi, minta tolong belikan tespeknya. "
"Baik nyonya."
Pembantu itu membantu sebentar Sarla untuk duduk di sofa, setelah itu ia pergi ke Apotek untuk membeli barang yang biasa untuk mengecek kehamilan.
menunggu dua puluh menit, pembantu di rumah akhirnya datang, terlihat Sarla berdiri dan tak sabar ingin mengecek kehamilannya.
"Mana bi. "
Sarla mengambil tespek itu, lalu menyimpannya. Setelah bangun tidur baru ia akan mengecek air kencingnya.
"Apa nyonya tidak mau di perikasa ke dokter. "
"Nggak usah bi, biar aku istirahatkan saja dulu. "
"Baik kalau begitu, oh ya, bibi ambilkan buah buahan saja ya, agar perut nyonya terisi. "
"Ya sudah bi. "
Wanita tua itu berjalan tergopoh gopoh, ia mulai mengambilkan buah buahan untuk sang nyonya.
Dimana suara ponselntya bersuara.
Sarla menengok sekilas, ia lalu menyuruh pembantunya itu menganggkat panggilan Daniel.
"Angkat saja bi, gak papa. "
Pembantu di rumah menuruti perintahnya, ia langsung menganggkat panggilan telepon dari sang majikan.
"Halo, Tuan?"
"Bi, bibi sedang apa. Oh ya bi, Sarla baik baik saja kan!"
Wanita tua itu sengaja mengeraskan suara pada ponselnya agar terdengar oleh Sarla, " Halo bi. "
Sarla membuat kode bisikan, agar pembantunya itu berkata bahwa Sarla baik baik saja.
"Nyonya Sarla baik baik saja Tuan. Baru saja saya mengecek dia, tengah menonton televisi sendirian. "
"Syukurlah bi, kalau begitu. "
Karena rasa penasaran, Daniel lalu bertanya pada pembantunya itu.
"Bi, saya mau tanya sama bibi?"
Daniel mulai melayangkan pertanyaan yang tentunya membuat, pembantu di rumah Sarla sedikit gugup.
__ADS_1
"Bi."
"Ahk, iya Tuan. Saya tanya loh bi, malah diam saja. Jangan sampai saya berpikir yang tidak tidak. "
Menarik napas mengeluarkan secara pelahan, Sarla menuliskan sebuah perkataan pada ponselnya agar pembantunya itu menuruti perkataan yang ditulis Sarla.
"Tanya apa?"
"Soal cctv mungil yang saya sengaja selipkan pada kamar mandi dan juga ranjang tempat tidur. Kenapa Sarla bisa tahu, apa bibi sengaja memberi tahu Sarla!"
Deg ....
Sarla berusaha menenangkan hati dan pikiran pembantunya itu agar tidak gugup, mendekat dan membisikan perkataan, " bibi tenang, jangan gelisah. "
Wanita tua itu, menganggukkan kepala lalu memberanikan diri berbicara. " Saya tidak tahu masalah itu, Tuan. "
Daniel terdiam sejenak ia memikirkan siapa sebenarnya orang yang sudah berani mengatakan rekaman cctv tersembunyi itu, karena yang ia tahu hanyalah pembantu di rumahnya.
"Bibi jangan bohong. "
Sarla yang mendengar Daniel terus menekan pembantunya itu, membuat ia kasihan, pada akhirnya Sarla berpura pura batuk.
"Maaf Tuan, ada Nyonya. "
"Baiklah."
Daniel terpaksa mematikkan panggilan telepon yang masih terhubung, ia tak mau jika Sarla mengetahui dirinya sering menelpon pembantu menanyakan kabar.
Setelah panggilan terputus, pembantu di rumah mengusap pelan dadanya, " Syukurlah, tidak ditekan terus oleh Tuan Daniel. "
Sarla hanya menggelengkan kepala, merasa kasihan dengan pembantunya itu, " bibi tenang ya, Sarla akan membantu bibi. "
"Makasih ya nyonya. "
Sarla kini melangkahkan kakinya untuk pergi masuk ke dalam kamar, ia ingin beristirahat untuk segera merebahkan tubuhnya.
******
Sedangkan Daniel masih memikirkan orang yang sudah mengatakan keberadaan CCTV yang sengaja ia simpan di ranjang tempat tidur dan juga di kamar mandi.
Mengacak rambut dengan begitu kasar, Daniel selalu mengirim pesan kepada istri keduanya itu,( Aku ingin tanya kepada kamu, Siapa yang sudah memberitahu kamu tentang rekaman CCTV.)
Baru saja menutup kedua mata untuk segera terlelap, Sarla dikejutkan lagi dengan pesan Daniel yang datang. (Kenapa kamu bertanya seperti itu? Aku yang sudah menemukan rekaman cctv mungil itu. Apa sih tujuan kamu melakukan hal gila ini, apa kamu mau menjatuhkan harga diriku setelah kita berpisah.)
(Sarla, aku hanya ingin mempertahankan kamu.)
Pada akhirnya kejujuran itu, terlontar dari isi pesan yang dibalas oleh Daniel, sontak Sarla yang membaca pesan itu tentunya terkejut, dari sebuah perjanjian kontrak ada kata ingin mempertahankan.
(Maksud kamu apa, mempetahankan aku dengan cara kotor seperti itu. Apa kamu ini gila. Ayolah, perjajian tetap perjanjian tidak bisa di ganggu gugat, tidak ada pertahanan ataupun saling memiliki.)
Ada rasa sakit pada lubuk hati Daniel yang paling dalam, ia mengira apa yang dirasakannya, sama dengan Sarla, namun pada kenyataannya cinta Daniel bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
(Memang awalnya aku mengira seperti itu, tapi ternyata aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku terlalu nyaman denganmu Sarla.)