
Entah bisa apa tidaknya perubahan itu dilakukan oleh Wulan, di mana ia malah menanyakan bayi Sarla, " Bagaimana keadaan bayi Sarla sekarang?"
Wulan seperti orang yang tak yakin dengan dirinya sendiri, sampai ia mengalihkan pembicaraan suaminya sendiri.
" Sekarang keadaan bayi itu baik-baik saja," ucap Daniel membalas perkataan istrinya.
Bi Siti memegang bahu Wulan dengan begitu lembut, " Apa yang sebenarnya anda pikirkan Nyonya Wulan," tidak terasa air mata itu jatuh perlahan demi perlahan, membuat Wulan mengusap kasar air matanya sendiri.
" Aku tak yakin dengan diriku sendiri jika aku bisa berubah, karena terkadang aku selalu melihat kebencian dari orang-orang yang pernah menyakitiku, sampai sifatku berubah-ubah. "
Wulan mengeluh, ya ketakutan sendiri, takut jika emosinya tak terkontrol.
" Mungkin yang terbaik untukku saat ini adalah masuk ke dalam penjara, aku akan mengakui kesalahanku di pengadilan, dan kamu Daniel aku ingin melihat kamu bebas dan menjadi dirimu sendiri. "
Wulan menyadari dirinya sendiri, jika ia salah dan mengambil keputusan untuk menggantikan suaminya masuk ke dalam penjara.
Wulan memegang tangan suaminya, memperlihatkan raut wajah bersalah," Aku tak mau jika reputasi kamu hancur, kalau kamu masuk ke dalam penjara, karena siapa nanti yang akan mengurus ibumu kalau bukan dirimu kamu sendiri, karena ibumu lebih dekat dengan anaknya daripada aku sebagai menantunya. "
Alenta memandangi Wulan yang terlihat berusaha ikhlas menerima kenyataan hidup," Wul-an. Jangan buat dirimu tersiksa. "
Sang menantu mendengar ucapan dari ibu mertuanya sendiri, di mana Wulan menggelengkan kepala di hadapan Alenta," aku tidak menyiksa diriku sendiri Bu. Aku ikhlas jika aku harus di penjara, karena kesalahan yang terjadi semua murni ulahku. "
Wulan menatap kembali ke arah Daniel, memegang bahu suaminya," aku juga sudah ikhlas jika memang kamu ingin kembali lagi bersama dengan Sarla, aku tidak akan menekan kamu lagi Daniel. Jadi silakan kamu Ceraikan aku sekarang juga."
Daniel melepaskan genggaman erat tangan istrinya," Aku tidak akan kembali lagi dengan orang yang tidak mencintaiku, aku akan tetap bersamamu Wulan. "
Wulan tersenyum hatinya merasa senang, " Daniel, aku mohon jangan pernah katakan hal itu, Karena aku tahu, kamu pasti mencintai Sarla. "
Daniel berusaha berbohong agar tidak melukai hati istrinya itu," Tidak ada cinta yang lebih besar dalam hatiku ini, kecuali mencintai kamu seorang Wulan. "
Mengusap kasar air mata yang terus berjatuhhan, Wulan berusaha tersenyum lebar di hadapan suaminya. Wulan tahu jika perkataan Daniel Itu adalah sebuah kebohongan, " Sudahlah Daniel, jangan pernah mengatakan kata cinta lagi di hadapanku, aku sudah tahu jika hatimu itu tidak benar-benar mencintaiku. "
Menarik napas mengeluarkan secara perlahan, Daniel, kini pergi dari hadapan Wulan yang mengatakan segala isi hatinya.
__ADS_1
Wulan hanya bisa diam, melihat kepergian Daniel yang sudah jauh dari hadapan. Bi Siti merasakan apa yang dirasakan Wulan saat ini.
"Bi Siti. Apa bisa aku meminjam ponsel Bi Siti untuk menelepon Sarla, " keinginan Wulan membuat Bi Siti langsung merogoh tasnya, iya kini meminjamkan ponselnya kepada Wulan.
"Tentu saja nyonya, silahkan, " ucap Bi Siti, menyodorkan ponselnya kepada Wulan.
Perlahan Wulan mencari nomor kontak Sarla, terlihat ia memberanikan diri untuk mengobrol Sarla, berharap jika Sarla mau mengabulkan keinginannya.
Alenta hanya bisa menonton apa yang dilakukan oleh Wulan, ia tak berdaya dan tak bisa mencegah Wulan untuk tidak menelepon.
"Halo, Wulan?"
Suara Sarla kini terdengar begitu jelas pada kedua telinga Wulan," Sarla, apa kamu sedang sibuk sekarang?"
Sarla kini menjawab dengan nada lembutnya, " tidak, Kebetulan aku tengah bersantai. Memangnya ada apa!?"
Wulan akhirnya memberanikan diri dengan apa yang ia ingin katakan, pada sambungan telepon.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu? Apa tidak salah aku dengar, apa alasannya?"
"Sarla, aku benar benar mengatakan hal ini. Aku mohon pada kamu, tolong kabulkan keinginanku ini, demi kebaikan Daniel, apa kamu bisa!"
Sarla hanya terdiam, ia berusaha mencerna perkataan Wulan, " Halo, Sarla bagaimana?"
"Akh, sudahlah. Untuk apa kamu membela suamimu sendiri? Jelas jelas aku tidak akan memberikan peluang suamimu bebas. "
"Sarla, pleas jangan seperti itu, aku ingin karir Daniel tak hancur. Biarkan saja aku yang masuk ke dalam penjara. "
" Biarkan aku berpikir sejenak sebelum memutuskan sesuatu,"
"Sarla, bayi mau masuk ke rumah sakit adalah ulahku. Aku mengakui semuanya, aku minta maaf kepada kamu. Aku benar-benar menyesal. "
" Kenapa saat aku beri kamu kesempatan, tapi kamu mengabaikan begitu saja, lalu sekarang kamu malah memohon memohon kepadaku setelah aku melaporkan suami kamu kepada polisi."
__ADS_1
"Sarla, kemarin itu aku masih dibutakan dengan rasa ego, sekarang aku menyadari semua kesalahanku. Aku tidak mau orang yang tidak bersalah harus menanggung kesalahanku sendiri."
Wulan berharap jika perkataannya, mampu membuat Sarla berubah pikiran, Ia ingin melihat Daniel bahagia tanpa dirinya yang selalu membuat beban.
"Sarla?"
"Iya Wulan!"
"Pleas. Apa kamu mau menuruti keinginanku."
Sebenarnya Sarla begitu ragu, ya bingung dengan apa yang harus ia lakukan." Sarla, aku mohon. "
Karena Laporan sudah terlanjur dibuat oleh Sarla, pada akhirnya ia menyetujui semuanya." Baiklah. "
Wulan terlihat tenang setelah ia mengeluarkan semua keinginannya. Menutup panggilan telepon dari Sarla, Wulan kini memberikan ponsel Bi Siti, iya tersenyum lebar di hadapan wanita tua itu.
"Bagaimana Nyonya Wulan?"
Wulan menganggukkan kepala, menjawab perkataan Bi Siti, " sudah, Sarla menyetujui keinginanku, sekarang aku bisa menebus kesalahanku terhadap Daniel dan juga Sarla. Aku berharap, saat aku di dalam penjara, aku bisa merenungi nasib dan kesalahanku sendiri. "
Alenta tak menyangka jika Wulan menaruhkan kehidupannya di dalam penjara karena Daniel, padahal dari dulu Wulan begitu egois, sifatnya tak pernah berubah, sampai ia mengalami kecelakaan, membuat dirinya kini sadar dan mengakui semua kesalahannya sendiri.
"Wulan, apa kam-u b-aik -b-a-i-k saja?"
pertanyaan sang mertua membuat Wulan hanya menganggukkan kepala.
Wulan berusaha bangkit dari ranjang tempat tidur, ia kini mendekat ke arah Alenta yang tengah duduk di kursi roda, terlihat wanita tua itu terkejut dengan menantunya yang memaksakan diri berjalan ke arahnya.
"Nyonya Wulan, untuk berjalan, keadaan anda sedang tidak baik baik saja. "
Wulan terlihat tak memperdulikan perkataan pembantu yang selalu perhatian kepadanya, bulan kini memaksakan diri untuk berjalan, ia terlihat menangis dihadapan Alenta. Betapa terkejutnya wanita tua yang duduk di kursi roda itu, melihat Wulan bersimpuh pada kakinya.
"W-u-l-an, berdir-i jang-an lakukan hal ini, " Alenta mencegah Wulan untuk tidak bersujud di kakinya.
__ADS_1