Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bba 117


__ADS_3

Bi Siti kini melayangkan aksinya, Daniel mulai masuk lagi ke dalam kamar Wulan dimana ia berkata," kenapa kamu lihat lihat aku begitu."


"Daniel, bukannya tadi aku bilang apa?"


"Bilang apa, Hah!"


Daniel tampak tak suka dengan nada bicara istrinya yang semakin meninggi.


"Bisa tidak nada bicaramu itu tidak meninggi seperti itu," ucap Daniel, membentak istrinya.


Dari dulu Daniel dan juga Wulan memang seperti kucing dan juga ajing, mereka selalu bersiteru.


Namun ada kalanya Wulan lemah, saat Daniel mengungkapkan perselingkuhannya dengan Angga.


Wulan depresi berat, takut dan menyesal karena kondisinya yang tengah hamil. Berbeda dengan sekarang, Wulan tumbuh lagi menjadi dirinya sendiri.


Walau dalam percakapan kemarin dengan Sarla, ada perkataan tak menyenangkan ia dengar.


Sarla menasehatinya kalau Wulan memang sepenuhnya salah, dia terlalu terbelengu akan rasa kesal hingga berselingkuh dan berbuat zina bersama laki laki lain.


Wulan menyadari hal itu, makanya ia bertobat dan meminta ampun, hanya saja Daniel malah tak menerima dirinya. Makanya itu Wulan tak bisa mengakui kesalahnya sendiri.


Jika Daniel bisa menerima mungkin biduk rumah tangga tidak akan sehancur seperti sekarang.


"Daniel, bukannya ada kamar mandi tamu."


"Aku tidak mau, aku hanya ingin mandi di sini, jadi jangan larang aku."


"Oke."


Daniel melangkahkan kaki, dimana Wulan tersenyum senang, seperti akan ada sesuatu yang terjadi. Bibir Wulan mulai berhitung. Satu, dua, tiga.


Ahkkkkkkk.


Jelas teriakan itu, membuat Wulan semakin senang, ia kini bangkit dari tempat tidurnya.


Brakkk.


"Bi Siti kemana dia?"


"Kenapa kamu cari Bi Siti!" Wulan menjawab dengan mendekat ke arah suaminya, melihat badan merah, karena cipratan air hangat.

__ADS_1


"Uups, sayang kenapa dengan badan kamu."


Daniel menghempaskan tangan Wulan yang begitu peduli padanya, " singkirkan tanganmu itu, badanku luka."


"Karena air panas?"


Saat berteriak memanggil pembantunya, Daniel kini menatap ke arah Wulan, " Jadi air panas itu?"


Wulan menutup mulutnya menahan tawa," kenapa? Mengerikan bukan?"


"Kamu sengaja Wulan!"


"Ya, aku sengaja menyuruh Bi Siti."


Plakkk ....


Tamparan mendarat mengenai pipi Wulan, dimana wanita itu malah tersenyum ceria, lalu berkata," tamparan, bisa tidak kamu tidak memukul atau menamparku."


Daniel menunjuk-nunjuk kepala Wulan," jika aku tidak melakukan hal ini, kamu akan semena-menaku padaku."


Mengepalkan tangan, Daniel tampak kesal dan ingin menghajar istrinya sendiri. Setiap kali Daniel berhadapan dengan Wulan, Ya seperti menganggap istrinya itu musuhnya sendiri.


Padahal jelas sekali jika Wulan tengah hamil, Daniel seperti tak mempunyai rasa kasihan sedikit pun pada Wulan.


Seperti disambar petir di siang bolong, hati Wulan terasa begitu sakit, saat Daniel melayangkan sebuah ancaman untuk dirinya.


"Kenapa kamu tega Daniel, apa perlakuan kamu seperti ini ketika bersama Sarla."


Daniel mendelik kesal, tersenyum sinis, lalu menjawab," perlakuanku kepada Salra, jelas berbeda tidak seperti kepada kamu. Aku berani memukulmu meninjumu apalagi membunuhku, kamu ingin tahu alasannya kenapa?"


Wulan memegang pipinya yang masih terasa sakit akibat tamparan dari suaminya sendiri, " Kenapa kamu perbedakan aku dengan Sarla, jelas-jelas kita semua sama-sama wanita dan juga istri kamu sendiri?"


Daniel tertawa dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut istri pertamanya itu, " Wah, kamu ingin tahu kenapa alasannya. Jelas karena aku tak suka dengan wanita yang sudah menghianatiku dan berselingkuh di belakangku."


Menelan ludah, Wulan hanya diam tak mampu berkata-kata, menundukkan wajah setelah mendengar kata selingkuh.


"Jika aku berselingkuh, bukannya kamu juga menikah lagi, sudah jelaskan?"


Wulan berusaha menyadarkan Daniel, bahwa dia itu sudah salah karena menikah lagi dengan wanita bernama Sarla itu.


"Jadi kenapa kamu malah berniat balas dendam padaku. Justu kesalahanku sudah terbalas dengan pernikahanmu itu."

__ADS_1


"Sudahlah, Wulan. Pernikahanku itu sah dan hanya kontrak sementara setelah mempunyai anak, sedangkan kamu berselingkuh diam-diam menghianatiku dari belakang."


Jika berdebat dengan Daniel, Wulan pasti akan kalah, karena lelaki yang berada di hadapan yaitu bukanlah lelaki yang selalu mengalah dan menghargai seorang wanita.


" Sudahlah jangan terus mengajak aku berdebat, aku tidak suka jika berdebat terus-menerus denganmu, karena hanya membuang-buang tenaga dan juga waktu begitupun pikiranku saat ini."


Daniel pergi dari hadapanku Ya berusaha mencari Bi Siti. Tapi Wulan menahan suaminya itu." kamu mau ke mana."


"Aku mau mencari Bi Siti memberi pelajaran kepada dia. Siapa suruh dia menuruti perkataanmu. "


Wulan berusaha menahan tangan suaminya itu agar tidak mencari Bi Siti," Cukup, jangan cari Bi Siti, apalagi sampai memarahi dia."


Daniel kini menghempaskan tangan Wulan yang terus memegang tangannya." Kenapa kamu begitu suka menahanku."


" Aku peringatkan lagi kepada kamu, aku tidak suka jika kamu memarahi orang yang selalu berada di sampingku setiap kali."


"Owh, jadi kamu begitu dekat dengan Bi Siti, pantas saja wanita tua itu mau melaksanakan perintah."


Kedua mata Wulan berkaca kaca." Bukannya kamu tahu sendiri aku ini hanyalah seorang anak yatim, makanya aku bergantung sekali dengan Bi Siti, karena di rumah seluas ini, hanya dia orang yang menggerti aku."


Daniel terlihat berpura-pura terharu dengan cerita yang terlontar dari mulut istri pertamanya itu.


"Houh, so sweet."


Daniel memeluk istrinya dimana ia tertawa terbahak bahak," Wulan, Wulan, walaupun kamu itu anak yatim tetap saja kesalahanmu itu begitu fatal dalam keluargaku. Aku tidak suka jika ada wanita yang menghianatiku apalagi sampai berselingkuh dan memiliki anak dalam kandungan."


seperti itulah yang selalu dibahas oleh Daniel, ketika mereka tengah berdebat dan saling menyalahkan satu sama lain.


Wulan yang tak bisa menahan kesedihannya kini menjawab," kenapa perlakuan kamu seperti itu kepadaku, hanya karena kesalahan yang baru aku perbuat kamu tega menghancurkan kehidupanku dan juga rasa percaya diriku, kamu tahu apa yang kamu lakukan, sangat menyakitkan aku.


Meminta cerai kepadamu tapi kenapa kamu tidak menceraikan aku, jelas kamu malah ingin membalaskan dendam atas kesalahanku itu. "


Bi Siti berlari menghampiri perdebatan keduanya, ia takut jika Daniel sampai melukai Wulan kembali. " sudah cukup kalian jangan bertengkar lagi..Tuan Daniel kenapa anda memanggil saya ada apa?"


" Baguslah kalau kamu peka terhadap teriakan saya, saya ingin bertanya kepada kamu?"


Bi Siti menundukkan wajah, berusaha tetap tenang menghadapi Daniel, yang terlihat begitu marah besar kepadanya.


Wulan mendekat ke arah Wulan, " Ngapain kamu berada di dekat Bi Siti, cepat minggir. "


" Aku tidak akan rela jika kamu sampai memarahi Bi Siti, karena ia sudah aku anggap sebagai orang tuaku sendiri."

__ADS_1


Daniel tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan istrinya, jika Wulan sudah menganggap seorang pembantu adalah orang tuanya.


__ADS_2