
Sarla tak memperdulikan panggilan sang papa yang begitu mengkhawatirkan keadaannya. Iya terus berlari, yang sekarang dipikirkan Sarla hanyalah bayinya.
"Sarla."
Sarla berhasil menemukan ruangan bayi yang sudah ia lahirkan, terlihat bayi mungil itu ada di ruangan sendirian, tanpa seseorangpun yang menemani.
Telapak tangan menempel pada jendela, ingin sekali tangan Sarla memegang, memangku anak semata wayangnya.
Namun apadaya, suster tak mengizinkan Sarla masuk ke dalam ruangan.
Bi Siti baru saja menyadari, ibu dari bayi yang sudah iya rawat selama dua hari itu. Sedang menangis menatap dari jendal luar.
Ingin rasanya Bi Siti menyapa, ibu dari bayi yang sedang di rawat di dalam ruangan. Namun ia urungkan niatnya, hanya bisa duduk dengan posisi menundukkan pandangan.
Isak tangis terdengar dari telinga Bi Siti, hati dan perasaan wanita tua itu tak karuan," Bi Siti. "
Panggilan Sarla memanggil wanita tua itu, membuat Bi Siti berat mejawab, karena dirinya merasa bersalah, karena bayi Sarla masuk ke rumah sakit karena gara gara Bi Siti sendiri.
Perlahan wanita tua yang menjadi pembantu di rumah Daniel, mengangkat wajahnya, menatap ke arah Sarla dengan tatapan sayu dan juga merasa menyesal.
"Nyonya Sarla. "
Kedua mata Sarla berkaca-kaca, cadar yang menempel pada wajahnya sudah basah karena air mata. " Kenapa dengan anak saya?"
Pertanyaan Sarla membuat Bi Siti terdiam, sedangkan Sarla berusaha memendam amarahnya.
"Bi Siti, saya tanya sama bibi, " ucap Sarla kembali, dengan harapan jika wanita tua itu, mau mengatakan sejujur sejujurnya sebenarnya apa yang terjadi pada bayi mungil itu.
Langkah kaki seorang dokter yang tengah mengobrol dengan lelaki yang tak asing bagi Sarla, membuat Sarla menatap kearah lelaki itu.
"Daniel."
Dada terasa bergemuruh hebat, amarah semakin memuncak, Sarla tak bisa mengontrol dirinya, ia melangkahkan kaki mendekat ke arah lelaki yang sudah tidak lagi menjadi suaminya.
__ADS_1
"Sarla."
Sontak Daniel terkejut dengan wanita bercadar yang menatap ke arahnya. Tatapan penuh kebencian itu mengisaratkan pertanyaan yang harus siap Daniel jawab.
Daniel masih berpura pura menjadi sosok lelaki yang tak mengigat Sarla, " Kamu, ada apa?"
Pertanyaan dengan nada ketus Daniel, membuat Sarla menahan kesal." kenapa kamu tidak becus mengurus bayiku. Apa yang sebenarnya kamu lakukan terhadap bayi yang baru aku lahirkan?"
Dokter tak ingin ikut campur, masalah keluarga sang pasien, ia kini berpamitan pergi untuk menjalankan tugasnya, setelah Daniel menandatangani persetujuan surat rawat jalan bayi mungilnya.
"Kenapa diam, saat aku tanya pembantumu itu dia diam. Dan saat aku tanya pada kamu Daniel, kamu juga ikut diam?" Dada bergemuruh hebat, terlihat naik turun, karena hampir tak terkontrol.
"Biar aku jelaskan, nanti!" balas Daniel, pergi dari hadapan Sarla.
"Jika bayiku kenapa napa, aku pastikan akan membawanya kepangkuanku, " ucap Sarla, memberi sebuah ancaman yang dimana Daniel merasa tak tenang.
"Jaga perkataan kamu, bayi itu milikku, karena dia darah dangingku sendiri." balas Daniel menunjuk pada wajah Sarla yang tertutup rapat oleh cadar
Jantung berpacu begitu cepat, Sarla terkejut dengan balasan yang terlontar dari mulut Daniel. Ia mengerutkan dahi yang tertutup, " Apa maksud kamu. "
Dengan terpaksa Daniel mulai membuka kebohongannya di depan Sarla, " dia darah dangingku. "
Sarla mendekat ke arah lelaki yang menjadi mantan suaminya itu, " apa, jadi selama ini. Kamu membohongiku, bahwa kamu itu hilang ingatan. "
"Iya, aku memang berbohong padamu, bahwa aku hilang ingatan, dan hanya kamu yang aku bohongi, " Jawaban Daniel membuat hati Sarla sakit, perlahan telapak tangan memegang dada bidangnya.
Sarla terdiam terpaku, ia masih tak percaya, kini tubuhnya lemah dan tak berdaya. Terjatuh ke atas lantai dengan posisi duduk, Gunawan yang baru saja sampai melihat anak pertamanya itu terlihat menangis di atas lantai.
"Sarla." Mendekat dan memegang kedua bahu anaknya, berusaha membantu Sarla untuk berdiri.
Tangisan Sarla masih terdengar oleh Gunawan walau pelan. Bisikan sang papah membuat kata semangat dalam diri Sarla, " kamu harus kuat, menghadapi lelaki yang sekarang menjadi mantan suamimu itu. Jangan lemah. "
Daniel berusaha tetap tegar, menjadi sosok lelaki yang keras dan juga egois. Agar Sarla tak menganggapnya lemah.
__ADS_1
"Jadi sekarang apa mau kamu? Kenapa kamu malah datang ke rumah sakit, bukannya dalam surat perjanjian kita, kamu sudah tidak ada hak lagi untuk bayi ini, jadi semua terserah aku. "
Sergah Daniel, mempelihatkan raut wajah merahnya. Terlihat ia berusaha membuat Sarla sadar bahwa dia sudah tak punya hak untuk bayinya sendiri.
"Aku bukan ingin mengambil bayiku, tapi aku ingin memastikan bayi itu aman di tangan kalian, bayiku tidak kenapa kenapa? Karena naluri seorang ibu sangatlah kuat, makannya aku datang ke sini seakan merasa ada sesuatu yang tak beres. " Jelas Sarla, ia tak mau jika Daniel seenaknya mengasuh bayi yang ia lahirkan susah payah.
Ada rasa sesal dalam diri Daniel, karena ia sudah salah menitipkan dan mempecayai Wulan untuk mengurus bayi Sarla, karena Wulan sudah merasakan bagaimana kehilangan bayinya. Yang pastinya dalam pikiran Daniel Wulan akan menyayangi bayi Sarla.
Namun pada kenyataanya berbanding balik, apa yang dipikirkan Daniel tak sesuai kenyataan.
" Apa salah seorang ibu khuatir pada anaknya, walau aku sudah tak ada hak dari bayi itu, tetap saja aku seorang ibu yang berjuang melahirkan. Darah anak itu mengalir darahku."
Perkataan Sarla, membuat Daniel tak bisa berkata kata, ia hanya diam membisu, karena memang ia yang salah dalam hal ini.
"Kenapa kamu malah diam saja Daniel?" tanya Sarla, berharap jika mantan suaminya itu bisa bersikap tegas, agar bayi Sarla tetap terjaga dengan baik.
Gunawan mencoba menenangkan hati dan perasaan anak semata wayangnya itu dengan berbisik pada telingan Sarla. " Sudah Sarla, sekarang tenangkan hatimu, mereka tak berani melawan karena merasa salah. "
Dokter datang kembali, ia memberi tahu jika ke adaan bayinya dalam keadaan kritis.
Sontak hati dan pikiran Sarla dan Daniel semakin kacau. " Dokter, lakukan yang terbaik untuk bayi saya. " Sarla menangis memohon mohon, berharap jika bayi yang ia lahirkan selamat.
"Kami akan berusaha, jadi ibu tenang dulu. Ya. Kami sekarang hanya minta ibu berdoa, dan setalah kejadian ini, ibu mau menyusui anak ibu. Dan tak memberikan susu sembarang. " Jelas sang dokter membuat Sarla terkejut.
Sedangkan Daniel tak bisa menimpal atau menghentikan perkataan dokter karena darinya yang masih syok mendengar keadaan bayi yang menjadi darah dangingnyan sendiri.
"Susu sembarangan?"
Sarla masih bingung dengan perkataan dokter.
"Masalah ini bisa anda bicarakan dengan suami anda sendiri!" jawab dokter pergi dari hadapan Sarla dan juga Daniel.
Kepergian dokter, membuat Sarla menanyakan, penjelasan dokter ketika membahas tentang susu yang diminum bayinya.
__ADS_1