Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 244


__ADS_3

"Ahk, sialan rencanaku tidak berhasil. Tapi aku harus berusaha. " Ucap Lani, bersembunyi dibalik semak semak. Ia melihat para pereman sedang dibawa paksa oleh polisi.


Sampai, suara napas terengah engah terdengar dari samping kirinya, ternyata ada Pereman yang ikut bersembunyi dengan Lani saat itu.


Pereman itu membukangkam mulut Lani agar tidak mengeluarkan suara, ia kini berbisik, " jangan sampai polisi itu mengetahui keberadaan kita di sini, kalau mereka tahu. Kamu akan mati di tanganku sekarang juga. "


Lani berusaha bersikap tenang, tidak terpicu akan rasa takut, sampai dimana ia menggigit tangan pereman yang membekam mulutnya.


"Ahk, sakit. " Berusaha menahan rasa sakit, Lani kini berbisik, " kamu berkata seperti itu, sama saja kamu membuat dirimu mengaku pada polisi. "


"Apa maksud kamu?"


"Jika kamu ingin bebas dari penjara, akuilah semua penyebabnya adalah Lilia, anak tiri dari wanita yang kamu perkosa!"


Pereman itu semakin kebingungan dengan alur bicara gadis yang ada di sampingnya, membuat ia mengaruk belakang kepala.


Lani yang semakin berani dengan melawan rasa takutnya, kini menendang bokong lelaki itu.


Brukk ....


Pereman itu meringis kesakitan, dimana ia terdorong keluar dari semak semak, polisi yang sudah jauh, kini berlari menghampiri pereman itu.


"Pak, jangan. Pak. "


Menarik dan menyered paksa Pereman itu.


Lani tersenyum manis melihat pemandangan yang ia tunggu tunggu.


"Kasihan sekali Pereman itu, tapi lumayan juga buat teguran kesalahannya sendiri. "


Lani bergegas keluar dari semak semak, saat para polisi pergi, ia menatap jarum jam pada tangannya, " sudah pukul tiga sore aku harus segera pulang, takut jika orang rumah curiga. "


Amir terlihat menunggu kedatangan Lani, ia merasa gelisa jika Nona kecil belum pulang ke rumah.


"Kemana Nona Lani, kenapa dia belum pulang. "


Setelah mengatakan hal itu, Lani tersenyum di hadapan Amir satpam penjaga rumah.


"Pak Amir. "


Melihat kedatang Lani, membuat Amir bernapas lega. Membuka pintu gerbang, " Akhirnya Nona Lani pulang juga, Pak Amir kuatir sekali dengan keadaan Nyonya. " Lani tersenyum tipis ia kini memberikan amplop berwarna coklat yang berhasil ia ambil dari saku celana pereman itu.

__ADS_1


Amir menerima amplop berwarna coklat itu, ia berucap, " apa ini, Non. "


"Liat saja. "


Amir membulatkan kedua matanya, mulutnya mengagah. Ia terkejut dengan apa yang ia lihat didepan matanya, " ini beneran duit non?"


Lani menganggukkan kepala, " ya Pak, itu semua buat bapak, saya mau masuk lewat jendela lagi. "


Tangan lelaki tua itu tampak bergetar ketakutan, terlihat ia merasa senang dan juga bingung karena mendapatkan uang yang lumayan sangat besar nominalnya.


"Nona, makasih. "


Lani terburu buru masuk ke dalam kamar, melalui jendela luar, ia berharap jika orang lain tidak melihat aksinya itu.


Sampai ketukan pintu berulang kali tedengar, pembantu bernama Tari itu terus memanggil nama Lani, membuat Lani mengusap kasar telinganya.


"Dasar, pembantu cerewed, bisa bisanya ia teriak teriak, ganggu orang saja. "


Lani berusaha menganti pakaiannya, agar tak dicurigai Tari, mengacak rambut, terlihat jika Lani baru saja bangun dari tidurnya.


Tari yang terlihat gelisah kini terpaska memakai kunci ganda untuk membuka pintu kamar Lani.


Saat pintu kamar itu terbuka, mengeluarkan suara. Ceklek.


Mendengar hal itu, membuat Lani mengerutkan dahi, menatap kesal ke arah Tari, " ada apa sih. Hah. Ganggu saja, bisa tidak kamu ini tidak bawel. "


Amarah menggebu-gebu diperlihatkan oleh Lani untuk Tari, " maaf Nona, saya seperti ini kan menurut diperintah Nyonya Sarla. "


Lani malas menjawab perkataan Lani, ia membuang wajah duduk tegap.


"Nona Lani, apa mau saya siapkan makanan?"


Lani mengerutkan bibirnya saat pertanyaan terus dilayangkan oleh Tari.


"Nona Lani. "


Panggilan Tari, membuat Lani menatap tajam kembali ke arah pembantu yang ada di hadapannya.


Dimana Tari tengah membereskan, bekas piring kotor Lani.


"Heh, apa bisa kamu bertanya kepadaku hanya sekali saja. Kamu itu sebagai pembantu terlalu cerewet, aku benar-benar tidak suka saat dilayani kamu."

__ADS_1


Perkataan ketus Lani membuat Tari geram, pembantu itu berusaha tetap sabar menghadapi Lani. Awal sebenarnya hatinya begitu panas ingin sekali memukul kepala anak yang ada di hadapannya.


"Ngapain kamu masih berdiri di hadapanku, cepat bikinkan aku makanan dan minuman yang segar. Aku haus sekali. "


"Baik Nona. "


Dengan rasa kesal yang menunpuk pada hati Tari, pembantu itu terburu-buru pergi keluar dari kamar Lani, dalam perjalanan menuju ke dapur, Tari menggerutu kesal dalam hatinya," Sudah aku duga, anak itu begitu menyebalkan, bisanya ia berbicara tak sopan kepadaku. Walau pun aku seorang pembantu tetap saja aku juga lebih tua dari dirinya. "


Tari mulai membuatkan makanan untuk Lani, ia merasa heran dengan keringat yang keluar pada tubuh Lani, karena ruangan di dalam kamar Nona kecil itu begitu dingin oleh AC.


"Kenapa tadi dia seperti kelelahan, kaya orang yang habis berlari jauh," ucap Tari dalam hati.


"Tari."


Terkejut dengan panggilan Gunawan, membuat pembantu itu terburu-buru membalikkan badannya," iya tuan ada apa?"


Gunawan mendekat dan mengingatkan Tari saat itu juga. " apa bisa kamu lebih hati-hati menjaga gudang itu? Aku tidak mau jika Sarla mengetahui tentang keberadaan Wina yang aku kurung sengaja di dalam gudang. "


"Baik Tuan. "


Tari hanya menundukkan pandangan, rasa takutnya di hadapan sang majikan. "Sekali lagi kamu ceroboh, aku bisa saja membuat kamu sama seperti Wina. "


"Maafkan saya Tuan, saya akan lebih berhati-hati lagi mengawasi gudang itu. "


"Ada apa ini, kok serius sekali. " Sarla datang, membuat keduanya terkejut.


"Papah, kok tumben ada di dapur. Sedang apa?" Pertanyaan Sarla membuat Gunawan ragu menjawab sampai akhirnya Tari mempunyai ide agar Sarla percaya. " Kebetulan sekali Tuan ingin di sediakan makanan sekarang juga. Benar kah tuan."


"Ahk, iya, Kebetulan sekali Papa sangat lapar, jadi Papa ingin makan saat ini juga. "


Sarla mengangkat kedua alisnya, dengan melipatkan kedua tangan," pantas saja Papa ada di dapur. "


Gunawan tersenyum lalu bertanya lagi pada anaknya, " oh ya ada apa? Kamu seperti ingin berbicar dengan papah?"


"Tadi Sarla mendapatkan informasi, bahwa preman yang sudah memperkosa Mamah Dera, ini sudah dibekuk di kantor polisi, jadi kita disarankan untuk datang ke sana."


Gunawan melihat jarum jam pada tangannya, gimana waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 sore," sepertinya. Besok saja kita datang ke sana, sekarang sudah mau sore dan juga waktu Papa begitu mepet."


"Sarla gimana papah saja. "


"Oke kalau begitu. "

__ADS_1


Gunawan kini menatap ke arah Tari, " tolong sediakan makanannya secepat mungkin ya Tari. "


"Baik Tuan. "


__ADS_2